| |
C © updated
29082004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Jenderal (Pur) Leonardus Benyamin Moerdani
Nama Terkenal:
LB Moerdani
Panggilan:
Benny
Lahir:
Cepu, Jateng, 2 Oktober 1932
Meninggal:
Jakarta, 29 Agustus 2004-08-29
Agama:
Kristen Katolik
Isteri:
Hartini
Anak:
Irene Ria Moerdani
Cucu:
Lima orang
Jabatan Penting:
Menhankan dan Panglima ABRI
Alamat Rumah:
Jalan Terusan Hang Lekir IV/43, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
LB Moerdani (1932-2004)
Militer dan Intelijen Sejati
Mantan Panglima ABRI Jenderal (Pur) Leonardus Benyamin Moerdani meninggal
dunia sekitar pukul 01.30 WIB Minggu 29 Agustus 2004 di RSPAD Gatot
Soebroto. Mantan Menhankam dan intelijen kawakan kelahiran Cepu 2 Oktober
1932 ini sudah dirawat di rumah sakit tersebut sejak 7 Juli 2004 karena
stroke dan infeksi paru-paru.
Jenazah disemayamkan rumah duka Jalan Terusan Hang Lekir
IV/43, Jakarta Selatan dan kemudian di Markas Besar TNI
Angkatan Darat. Upacara penghormatan jenazah di Mabes AD dipimpin oleh
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu. Dimakamkan hari itu
pula pukul 13.45 Wib di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dengan inspektur
upacara Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Sedangkan upacara
keagamaan dipimpin Pastur Suito Panito.
Penghormatan yang mengiringi kepergiannya sangat terasa khidmat.
Bendera Merah Putih yang dibentangkan setinggi dada serta tembakan salvo
mengiringi jrnazah Benny ke liang lahat.
Para pelayat, mulai dari kerabat, sejumlah pejabat dan mantan pejabat
negara, baik sipil maupun militer, berduyun-duyun mengantarkannya dari
kediaman di Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan, ke Mabes TNI Angkatan Darat
hingga ke TMP Kalibata.
Mantan Presiden Soeharto didamping putrinya, Siti Hardiyanti Rukmana,
serta enderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi istrinya,
Kristiani Herawati melayat ke kediaman almarhum.
Sementara Presiden Megawati Soekarnoputri beserta suami, Taufik Kiemas,
menghadiri upacara penghormatan terakhir dan serah terima jenazah mantan
Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Komando Operasi Keamanan dan
Ketertiban (Kopkamtib) itu saat almarhum disemayamkan di Mabes TNI AD.
Saat disemayamkan di Mabes TNI AD, hadir mantan Presiden KH Abdurrahman
Wahid, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad)
Letnan Jenderal Bibit Waluyo, sejumlah purnawirawan TNI, serta beberapa
pejabat pemerintahan era Orde Baru, seperti Harmoko, Ali Alatas, dan Fuad
Hassan.
Begitu pula di pemkaman, hadir sejumlah pejabat, mantan pejabat militer
dan tokoh-tokoh lainnya, antara lain mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn)
Try Sutrisno dan mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Edi Sudrajat, Des
Alwi, Frans Seda dan sejumlah pengamat dari Centre for Strategic and
International Studies (CSIS), seperti Harry Tjan Silalahi, Sofjan Wanandi,
dan Mari Pangestu.
Sebagai rasa hormat kepada almarhum, Panglima TNI memerintahkan seluruh
markas jajaran TNI di seluruh Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih
setengah tiang selama tujuh hari, terhitung mulai 29 Agustus 2004.
penghormatan itu diberikan mengingat jasa-jasa Benny kepada ABRI (Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia) dan negara.
Hari-hari sebelumnya sejumlah pejabat dan tokoh menjenguknya yang tengah
dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 4 kamar bernomor 408
RSPAD sejak hari Selasa (6/7). Dia antara tokoh yang menjenguknya:Panglima
TNI Jendral Endriartono Sutarto dan Taufik Kiemas.
L.B. Moerdani meninggalkan seorang istri, Hartini dan seorang putri,
Irene Ria Moerdani serta lima orang cucu). Semasa menjabat Menhankam/Pangab, jenderal bintang empat ini
sangat disegani di negeri ini. Pada saat menjabat Menhankam/Pangab, dia malah disebut-sebut sebagai orang nomor
dua terkuat setelah Presiden Soeharto. Dia memang dikenal seorang jenderal
yang tegas, sosoknya benar-benar militer sejati.
Prestasinya terukir sebagai penata organisasi intelijen di tubuh
militer. Benny, demikian panggilan akrabnya, merupakan penggagas Badan
Intelijen Strategis (Bais) pada 1983. Sebuah lembaga intelijen melengkapi
lembaga serupa yang sudah ada yakni Badan Koordinasi Intelijen Negara
(1969). Dia juga sukses mereorganisasi sejumlah komando daerah militer dan
memodernisir peralatan TNI semasa menjabat Pangab.
Mantan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban ini juga sukses
dalam sejumlah operasi militer. Di antaranya Operasi Seroja di Timor Timur
pada 1975 dan Operasi Woyla 1981.
Dia juga dikenal sebagai negarawan yang dijuluki kalangan diplomat
asing sebagai the only statesman in Indonesia.
Legendaris
Benny dikenang sebagai peletak modernitas ABRI. Banyak hal yang telah
diperbuat LB Moerdani semasa hidupnya. Bukan hanya menjadikan lembaga
intelijen berkembang secara profesional, tapi juga juga membangun
persenjataan yang lebih modern, pendidikan, latihan dan kerja sama dengan
negara lain di bidang pertahanan.
Dia figur berkepribadian kuat, memiliki profesionalitas militer yang
sangat kental, sedikit bicara, tegas, dan tidak bertele-tele jika
berbicara. Bahkan Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Departemen
Pertahanan Mayjen TNI Sudrajat menilai LB Moerdani sebagai jenderal
legendaris yang setara dengan Sudirman, Nasution, dan Simatupang.
Menurut Sudrajat, selain punya karisma luar biasa, Beliau bisa membawa
bangsa ini kepada suasana stabil, saling memahami, dan di tengah-tengah
itu memformulasikan nilai-nilai demokrasi.
Anggota Dewan Kehormatan Harry Tjan Silalahi menilai LB Moerdani sebagai
pahlawan, patriot sejati Indonesia. Sebab, ia selalu berjuang dan
melaksanakan tugasnya untuk negeri ini melampaui apa yang diwajibkan.
"Kita menamakannya Patriot 24 Karat," tuturnya kepada Kompas (30/8/2004)
Sofjan Wanandi berpendapat, LB Moerdani termasuk sosok militer yang berani
mengkritik Soeharto, tetapi tetap menunjukkan loyalitasnya. "Dia juga
menjadi korban ketika mulai tidak disukai Soeharto," ucapnya.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai mendiang sebagai seorang prajurit yang
berdedikasi tinggi dan tidak pernah memikirkan hal lain, selain negara dan
kesatuannya.
"Beliau seorang ksatria," kata Gus Dur sebagaimana ditulis dalam pengantar
biografi LB Moerdani.
Namun, Gus Dur juga menulis, ternyata seorang LB Moerdani yang sedemikian
perkasa masih mau diperintah untuk menjalankan kebijakan "petrus" (penembakan
misterius). Kebijakan tersebut dijadikan semacam terapi kejut oleh
pemerintahan Soeharto untuk mengurangi angka kejahatan.
"Muka Beliau setelah membaca tulisan saya seperti berubah jadi ’merah-biru’.
Tapi kemudian Beliau mengatakan, 'Baik, dimuat’. Saya kemudian
mendatanginya dan mengatakan, ’Saya paling senang berurusan dengan seorang
ksatria’," ujar Gus Dur tentang itu.
Sosok Benny juga terbilang kontroversial. Selain banyak yang mengenangnya
sebagai prajurit sejati, gagah dan prajurit negarawan, juga ada pihak yang
mengenangnya dalam sosok lain.
Dia memang seorang jenderal yang meninggalkan banyak jejak semasa Orde
Baru masih gagah perkasa. Pada masanya menjabat Panglima ABRI, dialah
jenderal yang banyak disebut paling berpengaruh setelah Pak Harto. Wajah
sangarnya sering hadir di banyak peristiwa yang menonjol. Bahkan setelah
Orde Baru tumbang, bayang-bayangnya masih banyak dalam pembicaraan politik.
Kebersamaannya dengan Pak Harto dimulai pada saat perebutan Irian Barat.
Pada perang yang dikomandani Mayor Jenderal Soeharto itu, Mayor
Benny yang memimpin Operasi Naga iberhasil memimpin penyusupan.
Setelah itu, 1967-1974 Benny bertugas di luar negeri (Kuala Lumpur dan
Seoul) sebagai diplomat. Di era akhir 1960-an hingga awal 1970-an itu,
nama yang membayangi Pak Harto adalah mendiang Jenderal Ali Moertopo, yang
juga salah satu mentor Benny di bidang intelijen.
Kemudian Benny diangkat sebagai pimpinan Satgas Intelijen Kopkamtib
(1974). Kemudian menjabat asisten intelijen Hankam, dan kepala pusat Badan
Intelijen Strategis (Bais) yang didirikannya. Hingga meraih posisi puncak
menjabat Panglima ABRI sekaligus Panglima Kopkamtib sampai 1988.
Pada saat Benny menjabat Pangab itulah, terjadi Peristiwa Priok 1984.
Benny kerap dianggap sebagai orang yang sengaja memojokkan golongan
tertentu. Namun, Benny membantahnya di hadapan para kiai Ponpes Lirboyo,
Kediri, "Saya ingin menegaskan, umat Islam Indonesia tidak dipojokkan. Dan
tidak akan pernah dipojokkan."
Kesetiaannya sebagai pembantu Presiden untuk menjaga "stabilitas nasional"
memang tidak hanya menggetarkan kalangan aktivis muslim. Banyak separatis
dan gerilyawan, seperti orang Timtim umumnya yang agamanya Katolik, juga
mendapat tindakan tegas pada masa itu.
Namun kesetiaannya kepada Pak Harto tidak harus membungkuk-bungkuk seperti
kebanyakan tokoh lain. Benny, konon, malah punya keberanian mengingatkan
Pak Harto agar putra-putri dikendalikan. Walaupun hal itu harus berakibat
hubungannya dengan sang jenderal besar tersebut merengggang.
Apalagi, seperti ditulis Kivlan Zen, Benny dianggap berambisi menduduki
kursi wakil presiden pada Sidang Umum MPR 1988. Berakibat Pak Harto marah
dan memberhentikan Benny dari Jabatan Panglima ABRI beberapa hari sebelum
SU MPR dimulai. Sehingga Benny pun kehilangan kendali terhadap Fraksi ABRI
di DPR/MPR. Hal ini disikapi Brigjen Ibrahim Saleh, dengan interupsi
menolak Sudharmono sebagai Wapres. Brigjen Ibrahim Saleh pun dipecat. Pada
masa itu, interupsi dianggap suatu keberanian luar biasa yang
dianggap penguasa ibarat ledakan bom dalam suasana 'stablilitas nasional'
yang tenang. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|