| |
C © updated 28102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok |
|
| |
BIODATA
Nama:
Prof. Dr. Laurence A. Manullang, MM, SE, SP
Lahir:
Porsea, 12 September 1941
Alamat :
Jl. Trimaran Indah I Blok J1 No.6, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara,
Telepon: (021)-5884256
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA & OPINI |
|
|
 |
BERITA =
01
02 03
04
05 06 =
WAWANCARA: Prof.Dr. Laurence Adolf Manullang (06)
Seputar Argumentasi BPK VS Pertamina
Laurence A. Manullang, Rektor STIE – IBEK, mengatakan kebijakan yang
salah akan lebih parah dari korupsi, sebab korupsi itu adalah buah dari
kebijakan yang salah. Hal itu dikatakannya dalam wawancara dengan Tokoh
Indonesia, tanggal 26 Oktober 2005, di Jakarta, seputar Argumentasi BPK
VS Pertamina mengenai Pertamina belum memiliki harga pokok setiap jenis
komoditi BBM dan soal pergantian beberapa menteri ekonomi KIB. Berikut
petikan wawancara tersebut:
TI (Tokoh Indonesia): Bagaimana tanggapan anda mengenai silang
pendapat Dirut Pertamina dengan BPK, tentang Pertamina tidak memiliki
harga pokok setiap jenis komoditi
LAM (Laurence A Manullang): Berbicara mengenai biaya pabrik
(manufactured cost) dan kalau ikut unsur lain dimasukkan biasa itu
disebut harga pokok (cost of goods sold), tentu kita berbicara
dalam wilayah akuntansi (accounting) dalam hal ini akuntansi
biaya (cost accounting).
BPK memberikan komentarnya, bahwa Pertamina belum mempunyai harga pokok.
Tapi di tempat lain dalam rekomendasi itu, disebut berdasarkan harga
pokok sementara. Dari pendekatan hukum pernyataan BPK itu sangat bisa
diperdebatkan (debatable), dan pendekatan itu yang dipakai oleh
Dirut Pertamina. Tapi dari segi akuntansinya, harga pokok itu adalah
bagian dari suatu sistem akuntansi, yang namanya cost of accounting.
Di dalam cost of accounting dapat dipilih salah satu metode dari
beberapa metode. Misalnya pembebanan biaya pada produk. Apakah sistim
biaya langsung atau biaya marginal (marginal cost) atau biaya
total (full cost system). Untuk mengevaluasi kinerja manajemen
sering digunakan marginal cost system yaitu hanya membebankan
semua biaya yang langsung digunakan ke dalam produk itu agar justifikasi
pada eksekutif fair karena biaya mandatory yang terbangun dalam
biaya itu di luar kontrol mereka. Sedang full costing, seluruh
biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung
(indirect cost) seperti biaya tidak langusng (overhead cost)
dialokasikan pada biaya produk.
Di sinilah biaya itu dianalisa dari setiap ingredients, materials
yang lain, direct labor, dan semua overhead. Analisa semua
komponen-komponen yang terbangun dalam biaya itu seperti delivery
insurance dan metode yang dipakai akan memberikan indikasi apakah
ada instrumen yang dipakai untuk efesiensi biaya misalnya memperpendek
umur lead times, dan dari situ muncullah just in time
management.
Cost itu direview dari waktu ke waktu, dianalisa variance dan
faktor yang mengakibatkan variance itu seperti efek harga
(price) atau efek volume (volume effect), serta akibat valas
dan lain-lain.
Jadi jelasnya kebijakan dan struktur (price structure dan policy)
berdasarkan cost calculation dan expenses analysis yang
lain, dan terus menerus (sustainable) ini dievaluasi. Walaupun
costing sudah di establish, melalui RAT (review, analyze,
and test) – review, analisa dan test masih bisa diidentifikasi
peluang memperoleh cost reduction plan (quasirent) yang disebut
income semu (shadow income) atau rencana proteksi
penghasilan (profit protection plan) Jadi kesimpulannya adalah
tidak ada istilah harga pokok sementara yang bisa disebut harga pokok.
Dengan demikian kata-kata BPK itu masih dalam wilayah kesistiman
akuntansi.
TI: Direktur Pertamina menyatakan bahwa subsidi BBM yang dianggap
kelebihan Rp. 3.6 trilliun, adalah berdasarkan perhitungan yang berbeda
dengan BPK?
LAM: Memang perhitungan yang berbeda itu menghasilkan informasi
yang berbeda dan keputusan yang berbeda. Kedua perhitungan BPK dan
Pertamina memang harus diuji, mana mendekati kewajaran yang masih dalam
wilayah sifat akuntansi itu yaitu kewajaran fairness. Pengujian
harus dimulai dari asumsi yang digunakan oleh Pertamina. Apabila
Pertamina memakai asumsi yang realistik yang mencerminkan CPI
(Consumer Price Index) – Indeks Harga Konsumen, (trend oil price),
nilai tukar dollar terhadap rupiah (dollar exchange rate) yang
tepat, tingkat inflasi (inflation rate) dipertimbangkan dalam
perhitungan itu dapat dipertanggungjawabkan. Juga asumsi BPK harus
ditest, sebab mungkin BPK menganut pendekatan over prudent
(sangat berhati-hati) itu semua debatable. Over prudent biasanya
mematikan bisnis.
Yang jelas adalah, setiap perhitungan itu akan dijadikan dasar untuk
mengambil keputusan. Kalau asumsi salah bangun cipta dan rekayasa cost
menjadi overcosting, atau undercosting, maka keputusan
salah, yang menanggung beban itu adalah consumer dalam hal ini rakyat.
Oleh sebab itu, kinerja para eksekutif ditentukan, oleh perhitungan yang
dihasilkan, yang mengantarkan pada strategi yang akan diambil. Eksekutif
yang paling berat pertanggungjawabannya terfokus pada kebijakannya.
Kebijakan yang salah akan lebih parah dari korupsi, sebab korupsi itu
adalah buah dari kebijakan yang salah.
Para Eksekutif tidak cukup diberhentikan atau mengundurkan diri bilamana
membuat kebijakan yang salah, tetapi dia harus membukakan pada publik
bahwa dia salah dan siap untuk digolongkan sebagai white crime.
Tanggung jawab para Eksekutif tidak main-main
Reshufel Kabinet
TI: Mengenai Reshufel Kabinet, TPA sudah hampir rampung
menyelesaikan tugasnya. Dimana menurut koran ada 8 orang Menteri minimal
harus diganti. Bagaimana pendapat anda?
LAM: TPA untuk Menteri langsung diketuai oleh Presiden dan Wakil
Ketua adalah Wakil Ketuanya, dan beberapa anggota kabinet sebagai
anggota tetap dan giliran berdasarkan field kementerian itu.
Biasanya TPA ini mempunyai tenaga-tenaga ahli, yang ahli dalam menilai
latar belakang, track record alur pikir dan kompentensi seseorang.
Apabila kepada mereka dipercayakan mengevaluasi tanpa pengaruh partai
politik terlalu banyak campur khususnya terhadap posisi yang menuntut
kenetralan seperti tim ekonomi, saya rasa mereka akan memperkenalkan
menteri yang pekerja, pemikir keras.
TI: Tapi, Pak, diisukan bahwa kelompok Barkeley merekomendasikan
Sri Muliani jadi Menteri Keuangan, padahal sebagai Ketua Bappenas
skornya sangat rendah, menurut Tim Indonesia Bangkit yaitu D. Bagaimana
pendapat anda?
LAM: Sebenarnya, Sri Muliani dengan latar belakang yang
dimilikinya, beliau yang paling tepat adalah mengembangkan Bappenas.
Lihat Widjojo, jika dulu sebelum beliau jadi Ketua Bappenas, lembaga ini
hampir tidak digubris orang. Tapi setelah beliau memegang Bappenas
bersama tim wakil ketua yang brillian, Bappenas menjadi sentra pengambil
keputusan pembangunan nasional. Sebab pembangunan negeri terletak pada
planning pembangunan itu sendiri.
Tapi kalau memang benar Sri Muliani gagal di Bappenas, tim Barkeley UI,
jangan memaksakannya rekomendasikanlah dari UI untuk Bappenas yang
better economical/development planner. Sri Muliani masih muda, bisa
dia kembali buat sementara jadi Guru sampai Guru Besar, dan nanti kalau
sudah lebih matang akan muncul lagi. Mundur selangkah untuk maju 10
langkah. Hanya saja saya tidak tahu persis kriteria yang digunakan
kenapa gradenya D.
TI: Bagaimana pendapat anda mengenai Ical yang akan terjengkal
dan akan diganti oleh Budiono sebagai Menko Ekuin, karena Nilai F
(Failure)?
LAM: Ical telah berbuat banyak sesuai dengan pandangan dan
kemampuannya. Tapi juga dia dinilai meraih nilai F (failure) oleh
TIB. Kalau posisinya digantikan oleh Budiono, saya rasa, Budiono telah
menggali pengalaman dalam bidang ekonomi moneter/keuangan yang paling
lengkap. Pernah di BI yang menggeluti masalah moneter, pernah di
keuangan yang mengelola administrasi dan kebijakan keuangan baik fiskal,
non-moneter, dan kalau tidak salah juga pernah di Bappenas (sebagai
economic planner). Lagi pula penampilannya sangat kalem, berarti
syarafnya lentur.
TI: Bagaimana mengenai MenKeu Dr. Jusuf Anwar, yang dinilai F
juga?
LAM: Sulit bagi saya menilai Jusuf Anwar ini sebab dia sangat
disiplin dan baik orangnya, seorang yang tumbuh dan besar sebagai
birokrat. Kalau bicara mengenai fungsi/dan scope eksekutif
keuangan, saya telah buatkan formulasi yaitu 8 aksioma yang telah saya
pernah praktikkan di multinational company yaitu, 1) Sebagai
Manager, 2) Sebagai Diagnotician, 3) Sebagai Planner, 4) Sebagai
Controller, 5) Sebagai Pemberi Directing, 6) sebagai Expert dalam MIS,
7) Sebagai Juru Bicara Keuangan (spokeman), 8) Sebagai Top Management,
saya rasa aksioma sudah beredar di beberapa situs. Memang saat ini
diperlukan strategist keuangan yang lincah.
TI: Bagaimana dengan Meneg BUMN yang juga sedang gencar-gencarnya
diisukan mau diganti, karena dinilai D?
LAM: Beliau adalah public relation yang baik. Hampir
setiap hari beliau tampak di media massa, dan setiap Kamis malam di TV.
Itu bagus, karena penyebaran informasi itu penting. Hanya saja, beliau
itu tampaknya lebih banyak berbicara mengenai perbankan, mungkin karena
lama sebagai komisaris salah satu bank dan baru memangku jabatan sebagai
menteri satu tahun, tapi manufacturing company, mining company,
dan jasa keuangan lainnya belum tersentuh secara signifikan.
Memang tidak semua menguasai segmen industri. Saya mengalami bagaimana
kompleksnya industri itu tapi bagi eksekutif yang pernah duduk sebagai
key position dalam perusahaan industri, akan lebih mudah mengerti
permasalahan segmen-segmen yang lain. Sebab industri akses kepada semua
economical elimate baik itu global, nasional maupun
internasional, atau sektorisasi kegiatan ekonomi lainnya.
Memang menetapkan beliau menjadi Meneg BUMN adalah loncatan besar.
Terbukti beliau adalah orang istimewa. Menurut executive career and
development path, dalam level internasional, seseorang yang lazim
diangkat jadi boss para Dirut adalah eksekutif yang telah terbukti
berhasil sebagai Dirut dalam suatu perusahaan yang besar atau jenderal
pensiunan seperti Jenderal Mc. Namara atau professor perguruan tinggi
seperti Paul Wolfowitz yang sekarang Presiden Bank Dunia. Karena
memimpin perusahaan sangat terkait pada pengelolaan risiko. Beliau
diangkat jadi Meneg BUMN dari Finance Director ke suatu
perusahaan nasional membawahi 156 Dirut BUMN, ini suatu peristiwa yang
istimewa.
TI: Bagaimana anda melihat persepsi SBY & JK khususnya dalam
mengadakan penilaian sosok tim ekonomi?
LAM: Mereka sejalan, mereka saling mengisi. SBY sangat toleransi
dan lentur. Tentu beliau sudah memiliki cerminan yang sangat jelas apa
sekarang yang sedang dialami bangsa ini. JK juga sangat mengerti jelas
mengenai faktor-faktor non-ekonomi yang mempengaruhi ekonomi itu
seperti, security, politik, sosial dan ketertiban. Lagipula
mereka telah membuka pintu pada anggota TPA lainnya yang kesemuanya
adalah orang yang berpengalaman dalam merekrut eksekutif, untuk
mengedepankan opininya. ►e-ti
=> Kembali
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|