| BERITA & OPINI |
|
|
 |
BERITA =
01
02 03
04
05 06 =
Prof.Dr. Laurence Adolf Manullang (02)
BUMN dan Pisau Analisa CONICS
Beberapa tahun silam, tepatnya tanggal 25 Maret 1987, Laurence pernah
mencetuskan opini yang diterbitkan oleh salah satu koran Ibukota (Merdeka)
bahwa sudah saatnya ada Menteri Urusan BUMN. Namun sekarang, Laurence
Manullang berpendapat agar BUMN dikembalikan pada Departemen Keuangan,
Kecuali Kementerian BUMN itu dipimpin seorang profesional yang bebas dari
kepentingan politik.
Perubahan pandangannya diletakkan pada argumentasi
bahwa setiap kebijakan diambil sesuai degan orientasi dan missi kemudian
menurunkan objective (sasaran) di mana untuk pencapaiannya didesian
strategi. Strategi ini merupakan arahan komprehensif dan integratif untuk
mengatasi rintangan, gangguan dan menjinakkan lingkungan yang kurang
bersahabat, atau mengkapitalisasikan peluang yang terbuka.
Pisau analisa untuk menganalisa lingkungan ini, oleh
banyak CEO memakai SWOT. Tapi, dalam percakapan dengan Tokoh Indonesia
DotCom, Laurence Manullang mengungkapkan malah menciptakan suatu instrumen
baru yang disebut CONICS, sebagai hasil ramuan dan solusi yang ikut
dipeloporinya tatkala duduk sebagai top executive perusahaan
multinational.
CONICS itu adalah: C singkatan Capitalize
opportunities, yakni peluang yang terbuka harus segera
dikapatalisasikan; O singkatan Overcome obstacles, yakni setiap
saat manajemen harus menanggulangi gangguan yang kebanyakan timbul dari
dalam tubuh badan usaha itu; N singkatan Neutralize Threat,
menetraliser ancaman yang datangnya dari luar (Terlalu mahal bilamana
manajemen ingin mengeliminasi ancaman itu, makanya cukup dinetraliser saja);
I singkatan Improve positive performance, jangan puas terhadap
kinerja positif yang digapai, namun harus ditingkatkan; C singkatan
correct weakness, memperbaiki kelemahan dengan mengadakan introspeksi
mana kelemahan yang harus diluruskan; dan S singkatan Solve problems,
jangan dibiarkan masalah berkembang tetapi harus diselesaikan segera
mungkin.
Sementara untuk mengatasi masalah, Laurence menyebut
3 (tiga) metode, yakni: a) Attack the problem - langsung menyerang
problem; b) to ask assistance - minta bantuan; dan c) to avoid
the problem - sejak dini telah menghindari problem.
Jika dulu BUMN sangat semraut dan dikelola dengan
setengah hati dan tidak cukup diserahkan pembinaannya kepada seorang
direktur atau eselon II di Departemen Keuangan tetapi harus ditangani oleh
pejabat negara yang lebih berbobot dan decisive. Maka, menurut
Laurence, orientasi pada saat itu adalah mengambil langkah-langkah
memasuki era profesionalisme dan mengejar teknologi.
Namun, katanya, saat ini orientasinya adalah good
governance, kecendrungan BUMN ini bisa digunakan sebagai revenue
center oleh menteri yang diserahi tugas demi kepentingan tertentu.
“Seorang Menteri sebagai operating and technical menagement
diserahi tanggung jawab sebagai Komisaris Utama salah satu BUMN adalah
bukti bahwa di dalam tubuh BUMN yang bersangkutan telah sarat dengan
conflict of interest,” jelas Manullang.
Maka untuk mempermudah pengawasan dan pengendalian
perlu dilakukan oleh Menteri Keuangan yang mewakili pemerintah. Namun,
kata Laurence, dapat juga mempertahankan Kementerian Negara BUMN bilamana
orang yang dihunjuk untuk posisi itu adalah eksekutif profesional yang
bebas dari pengaruh gurita politik.
Menurut, Ketua STIE IBEK ini, setiap BUMN harus
committed pada output sebagai mesin ekonomi untuk negara secara
luas dan mampu berperan sebagai multi effector dan income
generating machineries untuk pemerintah melalui pembayaran pajak dan
deviden. Alat-alat ukur bisnis dan keuangan dijadikan sebagai yardstick,
juga bilamana sampai mendetail, setiap COE harus tajam menganalisis posisi
leverage, liquitity,activity dan profitability, capital adequacy
ratio (CAR) untuk perbankan digunakan sebagai bench marking
mengukur kinerja business entities tersebut.
Kalau saya, kata Laurence, telah bertahun-tahun
memakai ROAE (Return of Asset Employed) sebagai yardstick,
sebab setiap asset yang dikapitalisasikan haruslah menghasilkan revenue
dan jangan ada asset itu yang idle.
Saat ini, jelas Laurence, beberapa konsep telah
berkembang seperti penggunaan EVA (Economical Added Value), balanced
scorecard yang memfokuskan pada 4 komponen seperti financial
persfective, customer persfective, internal persfective and learning
growth persfective.
Dalam hal ini, menurut Wakil Ketua Umum PERSADI, ini
boleh saja pemikiran berkembang, seperti dulunya MBO (Management By
Objective), TQC (Total Quality Control) sekarang balanced
scorecard, besok Market Model Event Studies seperti hasil
penelitian yang dilakukannya terhadap 51 event sosial politik dan ekonomi
untuk membuktikan apakah pasar modal di Indonesia efisien atau tidak.
“Asal apa yang disepakati harus dipatuhi dan ditaati oleh para operator
BUMN termasuk menterinya,” kata Laurence memberi syarat.
Menjawab petanyaan tentang bagaimana mendeteksi
performance BUMN itu secara cepat agar solusi dapat diambil sesegera
mungkin, Laurence mengatakan semuanya diperlukan cermin (looking glass)
dan pisau analisa. “Bagi CEO atau Top Executive yang telah berpengalaman
dan memiliki pendidikan bisnis apakah itu managemen atau akuntansi, hanya
membaca Balance Sheet dan Income Statement dapat segera
melihat operating unit mana yang bermasalah dan mana yang
menghasilkan prestasi gemilang,” urainya.
Direktur Keuangan setiap bulan menerbitkan
controller‘s report. Dengan memakai pendekatan responsibility
accounting dapat dilihat apakah Direktur Manufaktur, Direktur
Marketing, Direktur Personalia, bahkan Direktur Keuangan sekali pun, dan
Direktur Quality Control, telah melaksanakan komitmennya. “Melalui
variance analysis semua anomali dan variance dapat
diidentifikasikan dan langsung didesain corrective action untuk
menanggulanginya,” tegas Laurence.
Kalau masih terus memakai Menteri Negara BUMN,
menurut Laurence, kementerian ini harus bisa berperan sebagai manajemen
suatu holding company yang membawahi semua BUMN dengan peranan
menetapkan sasaran (objecitvie) oleh setiap BUMN serta mengawasi
melalui review, analis, test secara berkelanjutan.
Dia berpandangan, kementerian itu hendaknya
memperhatikan prinsip dasar manajemen, khususnya tiga pillar yaitu
responsibility, authority, dan accountability. Resposibility (tanggung
jawab) yang diberikan padanya tidak bisa didelegasikan, apa pun kinerja
BUMN tetap menjadi tanggung jawab menterinya.
Untuk melaksanakan tanggung jawab itu maka kepadanya
dilimpahkan authority (power) wewenang dari pengangkatan personalia
sampai pada kebijakan yang semuanya harus justifiable dan
mencerminkan good business practice.
Kemudian accountability (akuntabilitas)
hendaknya firm. Karena BUMN ini adalah milik negara di mana
pengelolaannya diserahkan pada pemerintah, maka pemerintah melalui
menterinya hendaknya dapat mepertanggungjawabkan kinerja dan komitmennya
pada negara melalui publikasi performance untuk bisa diketahui oleh
umum secara transparan.
Sistim Pengendalian
Mengenai audit yang diusulkan kembali pada Departmen
Keuangan, Laurence menjelaskan lembaga itu merupakan internal audit
(control). Walaupun sistim pengendalian (controllership) dan
pelaksanaannya dianggap baik, namun masih perlu dilakukan permeriksaan
(audit). Sebab audit itu dapat melihat apakah organisasi itu dari
setting up sampai hierarchy telah tersusun baik, SOP
(Standard Operating Procedure) telah bagus, dan dipatuhi dengan
religiously sesuai dengan fungsi dan keahliannya.
Dulunya, ungkap Laurence, Direktorat Jenderal
Akuntansi yang berada sebagai bagian dari Depertemen Keuangan dikeluarkan
dari departemen ini yang menjadi cikal bakal terbentuknya BPKP. Karena
BPKP langsung bertanggung jawab pada presiden, banyak hasil temuannya
dipetieskan, atau oknum BPKP memanfaatkan kelemahan ini untuk melakukan
bermacam praktek kolusi dengan objek pemeriksaan.
Untuk masa mendatang, usul Laurence, BPKP sebaiknya
dibubarkan saja dan digabung dengan BPK agar institusi yang berperan
sebagai external auditor ini jangan terjadi tumpang tindih.
Sehingga, fungsi audit ini mempersiapkan standar yang tinggi agar
menghasilkan opini yang tinggi pula dan perlu dipertahankan dari tahun ke
tahun.
Untuk BUMN, menurut Laurence, 4 opini auditor seperti
unqualified, qualified, disclaimer dan adverse tetap
diterapkan dan yang menerbit-kan opini dimaksud adalah BPK sebagai
eksternal auditor pemerin-tah. “Agar dijaga kehati-hatian, internal
auditor yang berwewenang di Departemen Keuangan harus senantiasa melakukan
internal control yang baik, bukan hanya mempersiapkan check list
untuk dipenuhi guna mendapat unqualified opinion, tetapi menjaga
melalui uji kepatuhan (compliance test) semua SOP diterapkan dengan
baik. Di semua operating unit malah harus rajin mengecek lebih
mendalam lagi dengan melakukan subtantive test,” demikian Laurence
Manullang. ►e-ti
=> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|