| |
C © updated 12082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Lasiyah Sutanto, SH
Lahir:
Bantul, Yogyakarta, 13 Agustus 1924
Agama:
Islam
Suami:
R.M. Sutanto Reksopertomo
Pendidikan:
- HIS, Yogyakarta (1937) ; Gouvernments MULO, Yogyakarta (1940)
- B-I Bahasa Inggris, Yogyakarta (1951)
- Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta (1962)
- Diploma de Sorbonne Trois, Paris, Prancis (1973)
Karir:
- Guru Chirstelijke Schakel School, Wonogiri (1941-1942)
- Guru Neutrale School, Yogyakarta
-Guru SD
- SMP Puro Pakualaman
-Guru SGA
-SMA Stella Duce
- SMA BOPKRI Yogyakarta
-Asisten Dosen Riset Hukum Adat UGM (1962-1968)
- Dosen bahasa Prancis FKIP (1963-1966)
- Dosen di Fakultas Sastra UGM (1963-1967)
- Dosen Hukum Perdata Universitas Atma Jaya (1965-1967)
- Ketua Ikatan Wanita Kereta Api (IWKA) Pusat
- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kowani, Jakarta
- Anggota DPR/MPR RI
- Menteri Muda Urusan Peranan Wanita (1978-1983)
- Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (1983 -- 1988)
Kegiatan Lain:
- Bendahara Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi) Yogyakarta
- Wakil Ketua Persahi Pusat
- Sekretaris Yayasan Kanker
Alamat Rumah:
Jalan Manggarai Utara IV/D I, Jakarta Selatan
Sumber:
Berbagai sumber, di antaranya PDAT.co.id
|
|
| |
|
|
|
|
Lasiyah Sutanto
Guru Perempuan Indonesia
Mantan Menteri Muda Urusan Peranan Wanita (1978-1983) dan Menteri
Negara Urusan Peranan Wanita (1983 -1988), ini pantas dijuluki guru
perempuan Indonesia. Dengan keteladanan dia mendorong perempuan
Indonesia untuk berperan dalam berbagai profesi dan kegiatan pembangunan,
sekaligus tetap melaksanakan tugas utamanya sebagai seorang ibu sesuai
dengan kodratnya. Baginya, itulah makna emansipasi wanita, ala
Indonesia.
Keaktifan berorganisasi mengantarkan Lasiyah Sutanto, puteri bangsa
kelahiran Bantul, Yogyakarta, 13 Agustus 1924, ini dipercaya menjabat
menteri yang mengurusi peranan wanita dalam dua periode. Alumni Fakultas
Hukum UGM, Yogyakarta (1962, ini sebelum menjabat menteri sempat duduk
sebagai anggota MPR/DPR-RI, dari unsur Golkar. Kala itu, Lasiyah
menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kongres Wanita Indonesia (DPP
Kowani).
Lulusan HIS (1937), Gouvernments MULO (1940) dan B-I Bahasa Inggris
(1951), semuanya di Yogyakarta, ini memang sejak remaja aktif
berorganisasi. Putri kesepuluh dari 11 bersaudara ini aktif dalam
kepanduan di Yogyakarta. Dalam kegiatan organisasi itu, ia berkenalan
dengan RM Sutanto Reksopertomo, yang kemudian menjadi suaminya. Mereka
menikah pada 1950.
Kemudian sama-sama bekerja dan kuliah di Fakultas Hukum UGM, hingga
lulus hampir bersamaan (1962). Pertama kali bekerja sebagai guru
Christelijke Schakel School di Wonogiri, 1941. Kemudian menjadi guru
Neutral School, SMP Puro Pakualaman, SGA Stella Duce, dan SMA Bopkri di
kota yang sama Yogyakarta.
Setelah menamatkan kuliahnya dari Fakultas Hukum UGM, pengagum
Margaret Thatcher, Indira Gandhi, dan Imelda Marcos, ini pun dipercaya
menjadi asisten dosen riset hukum adat di almamaternya (1962). Kemudian
menjadi dosen bahasa Prancis FKIP, dosen Fakultas Sastra UGM, dan dosen
hukum perdata di Universitas Atmajaya. Tahun 1972, ia pun menggondol
Diploma de Sorbonne Trois, Paris.
Kala suaminya, menjabat Kepala Lalu Lintas PJKA Balai Besar Bandung,
Lasiyah sangat aktif menjabat Ketua Ikatan Wanita Kereta Api (IWKA).
Itulah kemudian yang mengantarkannya terpilih sebagai Ketua Umum DPP
Kowani. Kemudian menjadi anggota MPR/DPR-RI, dari unsur Golkar, sebelum
diangkat menjadi menteri muda urusan peranan wanita.
Selain itu, Lasiyah yang mahir empat bahasa asing, juga aktif di
organisasi Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi) Yogyakarta,
menjabat bendahara. Kemudian menjadi Wakil Ketua Persahi Pusat.
Dia juga menjabat Sekretaris Yayasan Kanker.
Selama dia menjabat Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, dia
berhasil menggelorakan peningkatan peran wanita dalam pembangunan. Dia
mendorong para perempuan melakukan peran ganda sebagai ibu rumah tangga
dan sebagai sumber daya manusia dalam gerak pembangunan nasional.
Dia mendorong wanita berpendidikan berhasil dalam karier dan tidak
mengesampingkan tugas utamanya sebagai seorang ibu sesuai dengan
kodratnya.
Dia pun memberi keteladanan, tidak hanya berwacana. Kendati dia menjabat
menteri, dengan segala kesinbukannya, dia selalu berusaha meluangkan
waktu bagi sang suami dan keluarganya. ► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|