| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Laksamana Sukardi
Lahir :
Jakarta,1 Oktober 1956
Agama :
Islam
Isteri:
Rethy Aleksanadra Wulur
Anak:
Noorani Handra, Indraprajna Wardhani, dan Galuh Swarna
Pendidikan :
- Fakultas Teknik, Institut Teknologi Bandung (1979); - EDP
Citibank di Athena, Yunani (1981)
Karier :
- Citibank (1981- 1987); Assistant Manager Bagian Audit (1981),
Vice President Bidang Operasional (1985-1987); Direktur Bank Umum Asia
(1987); Wakil Managing Director Lippobank, Mengepalai Bidang Consumer
Banking Marketing, dan Promotion (1988); Managing Director Lippobank
(1988-1993); Chief Erecutive Officer (I 994-1999) Menteri Negara Investasi
dan Pemberdayaan BUMN Kabinet Persatuan & Kabinet Gotong Toyong (1999-2001
& 2001-2004)
Kegiatan lain:
Anggota MPR-RI dari Fraksi PDI (1992-1997);
Bendahara DPP PDI (1993)
Ketua Umum IA-ITB (2002-2007)
Alamat rumah:
Jl. Birah IV No. 1, Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta |
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 ==
Laksamana Sukardi
Tokoh Pasar Modal Asia 2003
Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi menerima penghargaan sebagai
Tokoh Pasar Modal Asia 2003 dari Finance Asia di Hongkong. Ini pertama kali
penghargaan itu diberikan kepada seorang menteri, sebelumnya diberikan
kepada para pemimpin bisnis di berbagai negara Asia.
Menurut siaran pers majalah keuangan tersebut, Selasa 2 Maret 2004,
penghargaan itu diserahkan oleh Lord Haseltine, Ketua Haymarket
Publication dan mantan Wakil Perdana Menteri Inggris, sebagai wujud
apresiasi pada upaya Pemerintah Indonesia dengan program privatisasi dan
divestasinya menggairahkan pasar modal di tanah air.
Laksamana Sukardi
Manajer Profesional yang Jadi Politisi
Seorang insinyur sipil yang menjadi banker. Dan, saat karirnya sebagai
banker begitu cemerlang -- mendapat penghargaan sebagai Banker of the Year
dari Majalah SWA (1993) – dia malah beralih menjadi politisi di PDI
pimpinan Megawati yang ketika itu masih berada di bawah tekanan pemerintah
orde baru. Banyak orang menganggapnya keliru.
Ternyata enam tahun
berikutnya, pilihan ini telah mengantarnya menjabat Menteri Negara BUMN
pada pemerintahan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Ia pun berupaya
melakukan privatisasi beberapa BUMN. Sehingga ia banyak mendapat kritik,
salah satu dari Amien Rais. Ia pun diadukan anggota Fraksi Reformasi ke
polisi. Sebaliknya, ia melayangkan somasi ke Amien Rais.
Saat menjabat Menteri Negara BUMN, Laksama Sukardi, yang biasa
dipanggil Laks, menghadapi berbagai tantangan, di antaranya tentang
tuduhan KKN. Presiden Abdurrahman Wahid tiba-tiba memberhentikannya
sebagai Meneg BUMN (Rabu 26/4/2000) dengan tuduhan KKN dalam pengangkatan
deputinya serta pengangkatan komisaris dan direksi BUMN. Dia diberhentikan
bersama Menperindag Jusuf Kalla. Pemberhentian ini sama sekali tidak
pernah dibicarakan dengan Megawati Soekarnoputri selaku Wakil Presiden
saat itu.
Laksamana mengadakan konperensi pers membantah tuduhan KKN terhadap
dirinya. Megawati pun -- yang tampaknya merasa dilecehkan Gus Dur -- sejak
saat itu, mulai mengambil sikap tidak sejalan dengan Gus Dur. Seiring
dengan itu, PDIP juga mengadakan perlawanan terhadap kebijakan Gus Dur
yang memecat Laksamana secara sewenang-wenang dengan tuduhan KKN yang
tidak berdasar.
Kemudian, Gus Dur jatuh dari singgasana presiden, digantikan oleh Megawati
Soekarnoputri dalam Sidang Istimewa MPR Juli 2001. Megawati mengangkat
kembali Laksamana Sukardi sebagai Meneg BUMN dalam Kabinet Gotong Royong
(2001-2004) dengan kewenangan yang lebih luas.
Tak lama kemudian, Laksamana Sukardi diterpa tuduhan KKN, saat abang
kandungnya, Samudra Sukardi dijagokan sebagai kandidat Dirut Garuda
Indonesia. Padahal Samudra adalah seorang manajer profesional yang sudah
lama mengabdi di Garuda Indonesia. Laksamana dihadapkan pilihan yang sulit.
Akhirnya dia mengorbankan karir abang kandungnya itu, untuk menghindari
tuduhan terjadinya KKN.
Saat baru diangkat kembali menjabat Meneg BUMN, Laksamana mengatakan untuk
memanfaatkan BUMN diperlukan waktu. "Buahnya baru bisa dipetik dua tahun.
Privatisasi BUMN yang dilakukan bukan untuk menutup defisit anggaran saja.
Akan tetapi, juga sekaligus untuk meningkatkan manfaat BUMN, yaitu
pendapatan bagi negara dan manajemennya. Kita menginginkan ditingkatkannya
profesionalisme. Selain dapat meningkatkan capital in flow, juga harus
meningkatkan transparansi.”
Selama dua tahun ini, kata Laksamana, kepercayaan pasar terhadap Indonesia
sampai ke titik nadir. Jadi, meskipun BUMN-nya bagus, namun tidak ada yang
mau membeli. Jadi, ini sangat ironis. Ibaratnya kita menjual barang bagus,
namun tidak bakal laku. Kita jual diamond di hutan belantara. Siapa yang
mau beli diamond di situ. Dengan susunan kabinet, mudah-mudahan sentimen
pasar itu mulai pulih kembali sehingga asas manfaat itu bisa dikedepankan.
Siapa Laksamana yang kini menjadi pengendali BUMN itu? Dia putera Gandi
Samudra, seorang wartawan Antara. Tumbuh dewasa tanpa ibu di sampingnya.
Sebab Sang Ibu sudah terlebih dahulu dipanggil Sang Maha Pencipta. Ketika
itu, Laks pun sempat terguncang. Aktivitas membacanya turun drastis. Namun
dia masih bisa menyelesaikan SMA-nya dan masuk Teknik Sipil ITB, di
Bandung.
Lulus dari ITB pada tahun 1979, ia bergerilya mencari kerja. Harapannya
bahwa insinyur teknik sipil selalu dibutuhkan, ternyata tidak tepat.
Lamarannya ke beberapa perusahaan tidak mendapat jawaban. Itu sebabnya ia
tak menyia-nyiakan tawaran mengikuti program training dari Citibank.
Ternyata ia juga ditawari mengikuti program lanjutan, Executive
Development Program, yang dirampungkannya pada tahun 1981. Sejak itu,
Laksamana resmi menjadi bankir muda pada Citibank.
Pada usia yang sangat muda dan baru menginjak 29 tahun, Laks dipercaya
menduduki jabatan Vice President Bidang Operasional Citibank. Tapi, tiga
tahun kemudian, akhir 1987, ia memilih mundur. Laks tidak puas dengan
prestasi kerjanya. Di samping itu, ia memang ditawari Mochtar Riyadi,
waktu itu pemilik Bank Umum Asia. Maka Laks pun ikut membidani lahirnya
Lippobank. Ia ikut mempersiapkan merger Bank Umum Asia dengan Bank
Perniagaan Indonesia menjadi Lippobank. Kemudian, Laks dipercaya menjadi
Managing Director bank baru tersebut.
Tapi, beberapa tahun kemudian, persisinya Mei 1993, tak lama setelah Laks
mendapat penghargaan sebagai Banker of the Year dari Majalah SWA, ia
mundur dari Lippobank. Banyak orang heran, sebab prestasi Laks jelas,
misalnya, mengantarkan Bank Lippo listing di pasar modal.
Agaknya bapak tiga anak ini ingin mandiri. Setahun kemudian ia mendirikan
sebuah perusahaan konsultan, Reform, bergerak di bidang perbankan dan
keuangan. Di Lembaga Konsultan Reform itu ia menjadi Chief Executive
Officer. Selain itu, bersama rekan-rekannya sesama ekonom, Rizal Ramli dan
Arief Arryman, Laks turut menyumbangkan pemikiran kritis tentang
persoalan-persoalan ekonomi di Econit, sebuah lembaga independen yang
menganalisa ekonomi, industri, perbankan, dan keuangan.
Pada tahun 1993 ia bergabung dengan PDI sebagai bendahara umum. "Yang
namanya demokrasi harus ada perimbangan kekuatan. Dan untuk itulah saya
memilih PDI karena ingin membesarkannya," ujar suami Rethy Aleksanadra
Wulur ini. Ia menjadi anggota DPR periode 1999-2004, mewakili PDI-P untuk
daerah pemilihan Jawa Barat. Pilihan masuk partai politik ini telah
mengantarkannya menjabat Menteri Negara Investasi dan Pembinaan BUMN pada
Kabinet Persatuan dan Kebinet Gotong Royong.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari
Kompas, Tempo dan berbagai sumber)
Berita Terbaru
Laksamana Sukardi
Jakarta 21/12/02: Menneg BUMN Laksamana Sukardi, melalui tim penasihat
hukumnya, Sabtu (21/12), menyomasi Ketua MPR Amien Rais atas sejumlah
pernyataannya, di antaranya menyangkut privatisasi BUMN dan kebijakan
pemberian jaminan pembebasan dari proses dan tuntutan hukum (release and
discharge atau R&D) bagi para obligor. Menurut Amir Syamsuddin, salah
seorang Tim Penasehat Hukum Laksamana, jika dalam waktu tiga hari sejak
somasi tersebut diterima, Amien Rais tidak bisa membuktikan ucapannya,
maka mereka akan mengajukan upaya hukum.
Fraksi Reformasi
Adukan Menneg BUMN ke Polisi
Jakarta 20/12/02: Pertama kali terjadi. Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Laksamana Sukardi diadukan tiga anggota Fraksi Reformasi DPR ke
Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Jumat (20/12), dengan tuduhan
membohongi publik dalam proses tender penjualan saham milik pemerintah di
Indosat sebesar 41,94 persen. =
lanjut
Laksamana Sukardi, Ketua Umum IA-ITB
Laksamana Sukardi terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni -Institut
Teknologi Bandung (IA-ITB) periode 2002-2007, menggantikan Cacuk
Sudaryanto. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu terpilih
dalam Kongres VI IA-ITB, Sabtu 21/9/02 di Bandung dengan meraih suara
mutlak 1.108 suara mengungguli empat kandidat lainnya, yaitu Amir Sambodo
(Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi) meraih 694 suara, Jusman SD (mantan
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia) 365 suara, Martiono Hadianto (mantan
Direktur Utama Pertamina) 58 suara dan Justiani (Ketua Indonesia Bangkit
University) 34 suara.
Untuk menampung suara alumnus ITB yang tersebar di kota-kota lain, selain
di Bandung, pemungutuan suara diadakan pula di 10 daerah lain dengan
menggunakan remote voting. Kesepuluh daerah tersebut adalah Jakarta,
Pekanbaru, Serang/ Cilegon, Balikpapan, Bontang, Batam, Aceh, Surabaya,
Denpasar, dan Padang di kota-kota. Dengan menggunakan teleconference
jumlah pemilih meningkat dari sekitar 1.200 dalam Kongres V/1997 menjadi
2.476 pemilih dalam kongres tahun ini. eti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|