| |
C © updated 27052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Kristiya Kartika, M.Si
Lahir:
Probolinggo, Jawa Timur, 7 November 1956
Agama:
Islam
Nama Istri:
Rr. Iriani Windkusumastuty, SH
Nama Anak:
1. Devi Kristiani
2. Bima Iriantika
Pendidikan:
Sarjana (S-1), Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej),
Jember (1980)
Program Studi Ilmu Komunikasi Pemasaran, Program Pasca Sarjana,
Universitas Indonesia (1996)
Alamat Rumah:
Jalan Bumi Daya VII No. 150, Blok D, Cinere, Jakarta Selatan 16514
Alamat Kantor:
DPN Inkindo
Jalan Bendungan Hilir Raya No. 29, Jakarta Pusat 10210
Telp, (021) 573.8577, Faks. (021) 573.3474
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3
4 ==
Kristiya Kartika, Msi (4)
Pilar Utama Mega Center
Wawancara (2)
Dalam konteks pasca kejatuhan Pak Harto tidak terjadi loss generation
itu. Pemimpin politik lama keluar tidak digantikan generasi baru dari
kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda, seangkatan Anda?
Ada beberapa hal yang memang harus dipikirkan sebagai faktor, dan tidak
sederhana. Bayangkan saja, pada waktu itu saya menganggap, ini
contoh-contoh sesama kader GMNI, saya menganggap kawan-kawan saya yang
masuk partai bukan hanya partai Golkar termasuk partai PDI-nya Suryadi,
itu saya anggap sebagai Orde Baru. Kan, begitu, pandangannya pada waktu
itu. Nah, ketika terjadi pergeseran kemudian muncul partai-partai banyak.
Sebenarnya kita, pada waktu itu sudah terjadi ketegangan-ketegangan
politik.
Yang kita pikirkan adalah bagaimana menghancurkan infrastruktur politik
yang ada sejak jaman Orde Baru dengan membangun infrastruktur yang baru.
Tetapi kita sadar, bahwa infrastruktur politik Orde Baru itu pasti tidak
bisa sama sekali baru, sama sekali berbeda, tidak bisa. Coba sekarang,
yang muncul dari Pemilu 1999 kan politisi-politisi lama walaupun pakai
baju baru PDI-P. Seperti Jacob Tobing, Tjahjo Kumolo, Golkar kan dulunya?
Kalau kita tanya sekarang, Amien Rais itu siapa dulu, jaman Orde Baru kan
Ketua Muhammadiyah? Muhammadiyah itu dukung Golkar pada waktu itu. Dia
sekarang masuk dalam PAN. Jadi, itu-itu juga.
Nah, kita yang ingin menghancurkan itu terus terang saja ada ketegangan
politik pada waktu itu. Itu fakta, lo. Jadi nggak bisa. Itu, yang menurut
saya kemudian memang masih perlu proses transisi lagi.
Makanya pandai-pandainya Sarwono merubah diri tetap eksis, terus Hayono
Isman, Edi Sudrajat, persilatan politik yang sebenarnya ganti baju.
Sekarang ini bicara politik praktis senjatanya kan nggak macam-macam. Saya
berani bertaruh politik praktis itu akhirnya duit, amunisinya duit. Pada
saat jatuhnya Orde Baru ada tiga komunitas besar yang memegang kekuasaan
duit terbesar. Pertama adalah Soeharto and his family, yang kedua adalah
kroni Soeharto yaitu pengusaha-pengusaha yang diuntungkan oleh Soeharto,
dan yang ketiga adalah jenderal-jenderal. Tiga ini yang pegang duit kas.
Selepas dari GMNI kiprah politik apa yang Anda jalani? Dan, sudah
menjadi apa Anda sekarang?
Saya bukan siapa-siapa. Saya adalah diri saya yang berperan sebagai
individu. Saya mencoba atau sudah melaksanakan, meng-aplied apa yang
pernah menjadi keyakinan saya dalam sisi-sisi dimana sekarang saya bisa
lakukan. Jadi, misalnya, bagaimana konsep-konsep katakanlah WTO yang
membuka pasar global, itu akan saya tembak terus, akan saya persalahkan
terus. Karena itulah yang menjadi penyebab utama dari rusaknya ekonomi
kita.
Saya ingin mengatakan bahwa kedaulatan ekonomi kita harus kembali dulu.
Kedaulatan ekonomi kita itu mulai dibuka sejak tahun 1994. Saya bukan
sekedar mencari salah, tetapi mencari substansi persoalannya apa. Kalau
nggak ketemu, ibarat dokter tidak menemukan suatu diagnosa yang tuntas
penyakitnya apa, kan nggak bisa mengobati. Menurut saya, itulah salah satu
yang paling fundamental yang membuat kita terperosok.
Tentu, sebagai bagian dari masyarakat dan orang yang berada di pinggiran,
kan saya tidak dalam kekuasaan, ada perasaan-perasaan ingin membangun
masyarakat negara dan bangsa ini sesuai dengan yang saya yakini dan sampai
saat ini masih saya yakini. Oleh karena itu, saya membentuk komunitas,
atau terlibat dalam komunitas-komunitas yang lain, yang tidak harus
politis, tidak harus merupakan gerakan politik. Apakah di asosiasi atau
yang lain, itulah menurut pemahaman saya.
Kalau ada yang menanyakan, Anda kelihatannya anti tentara tapi Anda dulu
bersahabat dengan tentara. Sampai sekarang saya juga bersahabat dengan
tentara tapi secara pribadi. Tetapi militerisme itu tidak bisa diterima.
Di negara manapun nggak bisa, di negara yang pandangannya apapun. Dan itu
terbukti gagal. Karena itu, kalau saya melihat, sebagai manusia saya
melihat sebagai sesuatu relasi dalam hubungan yang dialektis saja. Jadi,
relasi yang dialektis itu membuat saya harus bergaul dengan siapapun juga.
Tetapi, saya juga harus melakukan pikiran-pikiran yang kritis terhadap
siapapun juga. Saya tidak mau menjadi bagian dari pikiran siapapun yang
itu salah, atau paling nggak itu tidak saya yakini. Bisa yang tidak saya
yakini benar, tetapi paling tidak yang tidak saya yakinilah.
Dan dalam pengalaman saya setelah agak lepas dari GMNI, ternyata
kemerdekaan berpikir itu nikmat luar biasa. Dulu, saya merasa di GMNI
bagian dari birokrasi. Karena apa, membawa gerbong GMNI kalau gerakannya
terlalu frontal GMNInya dihabisin, kita dianggap under… oleh senior
nginjak-nginjak kita. Terlalu baik dengan kekuasaan wuah…jual GMNI, kan
begitu. Begitu keluar dari GMNI saya merasa keluar dari birokrasi.
Kemerdekaan berpikir itu luar biasa nikmat. Bukan berarti saya tanpa
koridor, saya tahulah. Dan sebenarnya, anak-anak Indonesia, orang-orang
Indonesia, harus berpikir agar kemerdekaan berpikir itu ditumbuhkan dalam
sistem pendidikan kita sekarang ini.
Pasca GMNI? Saya termasuk orang yang suka bergaul dengan banyak orang yang
berbeda-beda, yang bervariasi dengan spektrum yang luas, tapi dalam
konteks pengorganisasian yang benar. Dan saya ingin, dan ini mungkin ciri
saya yang kurang baik, kalau bisa saya ingin tidak hidup dari politik.
Artinya, kalau saya terjun di politik sedapat-dapatnya saya malah membawa
sesuatu untuk politik. Tapi katanya itu jadi politisi amatir, saya nggak
tahu.
Jadi, posisi politis Anda sekarang ini berjuang sebagai seorang
teknokrat pemikir, atau praktisi politik, dimana kecenderungan anda?
Saya tidak ingin memisahkan. Tapi masyarakat atau paling tidak Andalah
yang menilai. Bagi saya, sebenarnya saya mengidolakan pemimpin kalau di
Indonesia itu kaya Bung Karno, kalau di dunia kaya Fidel Castro. Jadi,
orang yang punya sikap, tapi dia benar-benar bukanlah menara gading, tidak
steril. Dengan kekuasaannya yang tidak steril akan menyebabkan pemimpinnya
juga tidak steril. Tapi kalau kekuasaan dibentuk berdasarkan sterilisasi
masyarakat, pemimpinnya juga akan steril.
Dimana-mana, di negara manapun, sebenarnya tools yang digunakan untuk
membangun memperbaiki keadaan bangsa dari segala sisi adalah partai. Di
sistem komunis atau kapitalis semua partai. Nah, partai yang mesti
dibenahi. Partai yang benar-benar menjadi alat untuk menyuarakan
kepentingan masyarakat. Tapi, kalau partainya sudah terkooptasi dengan
kekuasaan, partainya menjadi alat dari sebuah rezim, itu juga nggak benar.
Karena itu saya sangat kagum dengan pikiran-pikiran atau perilaku beberapa
orang di tempo dulu. PNI di jaman itu ada ketentuan, bahwa ketua umum
partai, waktu itu, dan pengurus pimpinan pusat partai, tidak boleh masuk
DPR. DPR nggak boleh karena partai ngontrol. Itu salah satu. Paling nggak,
substansi yang saya katakan bahwa partai itu harus menjadi alat kontrol
yang kuat. Terserah caranya bagaimana. Jadi yang mesti dibenahin itu
partai, diperkuat, dan diletakkan pada porsi yang benar.
Tetapi kenyataan, realitas politik di Indonesia belum bisa seperti itu,
lebih dominan tarik-menarik kepentingan?
Saya, sekarang ini berfikir, kalau memungkinkan saya akan masuk dan
memperbaiki partai. Soal partainya, nggak tahu saya partai apa. Karena itu
saya dulu memaksakan diri, ketika Orde Baru tumbang, walaupun tugasnya
bukanlah untuk memenangkan. Target kita adalah untuk membuat partai
pemenang tidak menang lagi.
Sejak menjadi Ketua Presidium GMNI Anda sudah dikenal sangat dekat dengan
Jenderal (Purn) Rudini, mantan KSAD, Menteri Dalam Negeri, dan terakhir
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU). Rudini sepertinya bisa menerima
pikiran-pikiran nasionalis disamping dia cukup memberikan pencerahan
kepada bangsa. Sebegitu dekatkah Anda dengan dia?
Betul. Ketika saya mendirikan Partai MKGR Pak Rudini saya tarik menjadi
dewan pertimbangan. Terus, ketika pembentukan KPU kita berjuang agar
Rudini bisa menjadi ketua. Jadi Rudini waktu itu mewakili MKGR.
Bukankah MKGR itu sendiri bagian dari Golkar?
Tadinya, iya. Kita kan ingin meretakkan. Ketika saya masuk MKGR, MKGR ini
sudah mulai nggak cocok dengan Golkar. Itu benar-benar terjadi. Karena itu
saya langsung diangkat jadi Sekjen. Rudini kita bawa dan dia komit sebagai
lambang perlawanan Orde Baru.
Anda kelihatannya berpolitik namun tidak punya ambisi. Padahal sebagai
politisi harusnya Anda berambisi walau tidak baik ambisius?
Saya ambisi ada. Dalam pengertian ketua umum sebuah partai, ada. Tapi
sudah trauma betapa keadaan seperti ini. Jadi, saya itu merasa agak rendah
kalau mengharapkan hidup dari politik. Karena pasti korup, dalam sistem
yang seperti ini. Kalau nanti sistemnya diperbaiki, mungkin nggak. Saya
bergaul dengan penguasa-penguasa berpuluh-puluh tahun, walau kita merasa
tertindas, semua korup. Jadi trauma saya. Terus terang saya trauma hidup
dengan hidup dari politik.
Itu mungkin penyebab anda berpolitik selalu tidak tuntas?
Mungkin juga. Tapi saya punya prinsip tidak akan pernah berhenti di
politik walaupun ada masa-masa up ada masa down, up and down. Jadi,
sebetulnya saya juga nggak tahu itu kelemahan atau kelebihan. Kalau saya
bisa meyakini diri saya bahwa sesuatu itu benar, sesuatu yang menurut saya
wajar, saya akan kerjakan. Sebab di Tim Mega saya tidak pernah berpikir,
habis ini saya akan menjadi anggota DPR, nggak.
Saya tidak munafik. Kalau saya, misalnya, ditugasi untuk apa yang tidak
langsung berhubungan dengan politik, itu penugasan bagi saya. Bahkan
cita-cita saya, saya kan sekarang sedang memproses S-3 bidang manajemen,
S-2 kemarin saya ambil di UI juga bidang manajemen, sudah sejak 10 tahun
yang lalu saya kepengen ngajar. Saya tidak muluk-muluk berprinsip jadi
bapak guru bangsa. Independensi seorang dosen lebih bisa diwujudkan jika
saya menjadi dosen, daripada menjadi yang lain.
Jadi, secara politis Anda sesungguhnya bukan ambivalen atau peragu
seperti yang lain?
Mudah-mudahan nggak. Saya bukan peragu seperti orang yang Anda bilang.
Saya punya keyakinan perbaikan bangsa lewat partai. Artinya partai
dibetulin. Kalau partai dibuat betul, dibuat sehat, bangsa ini ada harapan.
Tapi, kalau partainya sudah nggak betul nggak bisa. Satu-satunya tools
yang paling demokratis atau dalam iklim yang demokratis, menggunakan tools
partai itu yang paling benar. Jangan di luar partai sebab menjadi liar
nanti, out of control. Saluran demokrasi itu partai yang paling berkuasa,
bahkan melebihi kekuasaan pemerintah.
Sebagai bagian inti dari Mega Center, apa yang bisa Anda sumbangkan
untuk menjagokan Mbak Mega?
Yang pertama, saya mendorong Mbak Mega untuk benar-benar, dan ini sudah
terbukti berjalan, untuk benar-benar membela kepentingan rakyat bawah.
Ketika kemarin APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat), itu protes keras
gulanya jatuh, saya bilang. mbok ya ngomong, ngadep ke Presiden apa yang
diinginkan. APTR ini terdapat 30 juta orang anggota keluarganya, basisnya
di Jawa Timur paling banyak, lalu Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung.
Mereka sangat well organized, luar biasa. Duit mereka punya. Seorang teman
kita, kader GMNI Brawijaya Malang, sekarang dia kepala dinas, itu
benar-benar menutup gula impor masuk Jawa Timur. Gubernur ikut dia, setuju.
Ngadep presiden difasilitasi oleh teman-teman, nama ketuanya Arum Sabil.
Terus ditanya oleh Mbak Mega, Pak Arum, kenapa sih sekarang kok gula
petani itu jatuh, yah karena banyak gula selundupan, lo, kenapa gula
selundupan tidak dibasmi. Ngomong petaninya, ibu jangan marah ya, boleh
saya ngomong, jangan tersinggung, nggak, nggak, karena, katanya, isunya
itu ada yang mem-backing, mem-back up. Siapa? Yang mem-back up itu namanya
Peti Kemas, maksudnya Bapak Taufiq Kiemas. Yang benar? Iya, benar. Tidak
benar, saya berani jamin tidak benar, itu hanya isu. Petaninya bilang,
saya terimakasih kalau tidak benar, berarti tidak ada kepentingan kan, ya
dimusnahkan saja gula-gula itu. Lebih dari 180 peti kemas gula impor itu
di Tanjung Priok. Makanya ditenggelamin. Oke, akhirnya pemerintah yang
menenggelamkannya.
Sekarang APTR itu Pro Mega. Sederhana, maunya petani, kok. Artinya, kalau
memang pemerintah atau presidennya berpihak dia akan dukung, siapa saja.
Sekarang kan Mega masih Presiden, punya wewenang untuk bakar gula impor
ilegal. Coba kalau presidennya tidak ingin ditenggelamin, kan nggak bisa
juga. Nah, sekarang APTR yang lakukan itu. Cari lagi, petani beras itu apa
butuhnya, tapi riil. Sebagai presiden kan dia bisa bikin Keppres. Saya
bilang, ibaratnya Mbak, menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan rakyat,
ndak apa-apa, saya bilang gitu. Tapi, kalau bisa jangan menyalahgunakan,
nanti urusan dengan DPR.
Jadi, saya mendekatkan saja, mengembalikan kepada substansi ajaran
marhaenisme. Saya hanya kembalikan kepada basic idea dimana bapaknya, Bung
Karno, juga mengajarkan seperti itu. Bela rakyatlah, bela wong cilik.
Besok dengan petani garam, misalnya, besok bikin kebijakan apa, gitu aja
terus, terus, kaum marhaenlah.
Tentang Tim Sukses Mega Center?
Yang saya tahu, saya ini dimasukkan di Tim Mega Center, think tank-nya lah.
Kebanyakan pastinya orang-orang non partai, non PDI-P, orang-orang ilmuwan
seperti Sri Adiningsih, Hermawan Sulistyo, Kusnanto Anggoro, Riswandha
Imawan, Cornelis Lay, Sri Mulyani yang sekarang masih berkantor di Amerika
sebagai Direktur Eksekutif IMF. Banyaklah.
Bagaimana cerita pemburuannya Anda bisa masuk dalam lingkaran dalam
Mbak Mega?
Saya, dua tahun lalu, sehabis Musyawarah Nasional ada kebutuhan Asosiasi
Inkindo harus menghadap Mbak Mega. Waduh, saya pikir, karuan jamannya Pak
Harto, nggak kenal. Kalau sekarang mengajukan permohonan terus ditolak,
kan malu, sebab orang-orang ngerti kalau saya GMNI. Saya bermanuver dulu
supaya begitu mengajukan ada jaminan diterima.
Dia kan GMNI dulu, sudah lama saya nggak ketemu dia. Saya telepon ke Guruh,
saya ceritain saya mau ketemu Mbak Mega. Oh iya, katanya, jadi kapan
datang, sekarang, katanya. Saya lalu ke Bali, bersama istri saya ditemanin
Laksamana Sukardi sebab waktu ada acara Bali Recovery pasca ledakan bom
Bali Oktober 2002. Ya udah, saya ke sana, jadi panjang ngobrolnya, sampai
lima jam.
Setelah itu, Guruh bilang, Mas Kris ngambek, sekarang, kata orang-orang
cuma nyari duit saja. Padahal nggak juga, dia nggak tahu saja. Mbok ya
Mbak Eganya dibantu, kata Guruh, di depan Laks itu, oh iya mas, cuma saya
bantunya nggak bisa di partai Mas, ya sudahlah, bantu saja. Terus, nggak
tahu setelah saya ngomong gitu, kapan mau menghadap Mbak Mega, ya kapan
mas, iya kapan maunya, Mega bisa besok lusa. Saya lalu bikin surat, heran
teman-teman di Inkindo bisa langsung diterima. Mereka nggak tahu jalur
GMNI. Pas diterima Mbak Mega ketawa-ketawalah, saya dulu di GMNI begini…begini…
cerita-ceritalah, menyenangkan sebab dia sebagai manusia juga.
Setelah itu saya diundangi terus. Terus teman-teman nanya, kapan mau bantu
Mbak Ega. Ya, nantilah, tunggu Tim Kepresidenan. Saya bilang begitu bukan
untuk bohong, sebenarnya, saya nggak mau ke timnya partai, kan nggak enak,
saya tahu dirilah, saya nggak maulah. Saya bantu nanti Mbak Mega di
kepresidenan sajalah di Tim Sukses. Dan begitu selesai Pemilu saya
langsung dipanggil, diundang, ya udah, saya mau posnya di sana, di rumah
dia di Teuku Umar.
Target Mega Center?
Kalau Mega Center memberikan masukan-masukan saja. Jadi ada tiga,
sebenarnya. Tim Sukses Partai mempertahankan suara yang sudah dicapai
partai kemarin dalam Pemilu 5 April. Mega Center itu think tank. Terus,
ada Tim Sukses Kepresidenan untuk menjaring pemilih baru yang kemarin
tidak memilih PDI-P. Nah, saya di Mega Center masuk, di Tim Sukses
Kepresidenan masuk sebagai non partai non struktural.
Anda sejak tahun 2002 terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Nasional
Konsultan Indonesia atau Inkindo. Bisa dijelaskan tentang kiprah Inkindo?
Inkindo adalah asosiasi perusahaan konsultan. Jadi anggotanya bukan
individu tapi perusahaan yang mayoritas bergerak di bidang jasa konstruksi.
Tapi, ada juga yang non konstruksi, yaitu jasa keuangan dan sebagainya.
Saat ini anggota kita 5.700 perusahaan di Indonesia. Dari segi organisasi
rapi, sebelum saya ketua juga sudah rapi.
Saya sudah berada di Inkindo sejak tahun 1988. Jadi, ketika saya di GMNI
pun saya sudah merangkap di sini sebagai wakil dari PT Hamas Aeba yang
anggota Inkindo. Nah, saya di sini sejak 1988 mulai dari anggota biasa
bersama Adi Sasono. Saya dan Adi anggota pengurus Tingkat DKI. Terus Munas
masuk menjadi anggota dewan pengurus pusat. Saya Wakil Sekjen dua kali,
terus Wakil Ketua Umum sekali, terus Sekjen sekali, sekarang baru Ketua
Umum periode tahun 2002-2006. Saya mulai dari bawah.
Pasar yang dikuasai anggota Inkindo mayoritas jasa konsultan. Yang bisa
mengeluarkan sertifikat jasa konsultan saat ini hanya Inkindo,
menggantikan posisi peran pemerintah yang dulu.
Program kita ada empat besar. Pertama, penciptaan iklim kondusif bisnis
konsultan. Yang kedua, peningkatan kualitas tenaga ahli dan perusahaan.
Ketiga, penguatan institusi keorganisasian. Dan keempat, memperluas pasar
jasa konsultan.
Kita sudah beberapa kali mengantisipasi globalisasi. Kita sudah mengadakan
beberapa perjanjian dengan asosiasi negara lain. Kemarin, Oktober 2003 di
Bali kita jadi tuan rumah TCDPAP, Technical Consultant to Development and
Progress for the Asia and the Pasific, sebuah forum pertemuan tehnik
tahunan asosiasi konsultan se Asia Pasifik. Sebelumnya berlangsung di
Vietnam, waktu itu saya datang dan berusaha agar pertemuan selanjutnya
bisa diadakan di Indonesia. Di Bali berlangsunglah perjanjian-perjanjian
pengakuan. Jadi, kualitas tenaga ahli Indonesia diakui di sana, Vietnam,
Malaysia. Target kita negara Asean dulu.
Terus, tentang kerjasama untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia
kita kerjasama dengan beberapa lembaga dan perguruan tinggi. Di Indonesia
sudah ada enam atau tujuh perguruan tinggi, dengan luarnegeri terdapat dua
perguruan tinggi di Malaysia. Kita kembangkan program-program karena
bisnis konsultan menjual knowledge, bukan menjual fisik bahan bangunan.
Kalau studi ya studi, kalau gambar ya gambar, dan sebagainya.
Bisnis ini agak cocok dengan kita. Banyak teman-teman GMNI agak cocok
dengan bisnis ini. Jadi, mereka bermimpi, dituangkan dalam bentuk studi.
Kalau dulu studinya dibikin tapi nggak dibayar, sekarang bikin studi
dibaca orang dan dibayar pula jadi enak. Itu, tadi saya bilang
kelihatannya asyik juga berpikir bebas walau tetap ada koridor berpikir,
bebas menuangkan gagasan, dibayar lagi. Senanglah. Kalau menurut saya agak
cocok dengan kebiasaan dulu. Sampai sekarang, lumayan eksistensi Inkindo,
lebih baik, program-program kita di tingkat internasional juga sudah
lumayan mendapat respon yang baik.
Eksistensi Inkindo, kan, semakin diperkuat oleh pemerintah berdasarkan
UU Jasa Konstruksi yang baru?
Ya. Jadi, menurut UU No. 18 tahun 1999 dan didukung PP No. 28, 29, 30
tahun 2000, Inkindo merupakan satu-satunya asosiasi yang bisa mengeluarkan
sertifikat. Dulu pemerintah mengeluarjkan TDR (Tanda Daftar Rekanan),
sekarang hanya oleh Inkindo namanya sertifikat DRM (Daftar Rekanan Mampu).
Dulu administratif sifatnya sekarang melihat kompetensi. Ketika
sertifikasi programnya kita buat, konsepnya kita buat, kita jual di Bali
untuk dipakai se Asia Pasifik, mereka lalu minta ditranskrip ke dalam
bahasa Inggris untuk distandarkan se Asia Pasifik. Ya, lumayanlah, kerjaan
teman-teman semua ini.
Kalau kita lihat ekonomi Indonesia sempat terpuruk jauh, dan belakangan
ini kelihatannya mulai naik lagi, sektor konstruksi pasti akan ikut
melambung. Bagaimana Inkindo mengantisipasinya?
Kalau kita mau jujur, bukan karena saya bantu Mbak Mega, kalau mau jujur
keadaan memang mendukung. Nilai tukar dolar normal, suku bunga perbankan
sekarang terendah, sebelum krisis pun terendah yang sekarang ini, terus
cadangan devisa tinggi sekali. Nggak tahu saya, tapi kebetulan saja waktu
Mbak Mega pegang ekonomi kondusif sekarang.
Jadi, dengan kondisi kondusif semacam itu kita malah memprediksi pasar
kita meningkat keras. Untuk tahun 2004 saja pasar untuk jasa konstruksi
sekitar Rp 154 triliun. Pada konstruksi ada jasa kontraktor, konsultan,
dan pemasok. Nah, pangsa konsultan biasanya mencapai 25 persen berarti
hampir Rp 40 triliun. Jadi, terus naik setiap tahun. Itu dikerjakan oleh
konsultan nasional anggota Inkindo.
Nah, itu tidak bisa jalan kalau kita, atau kami, tidak mempersiapkan
peningkatan kualitas tenaga ahlinya. Kita akan terus lakukan upaya-upaya
bekerjasama dengan lembaga-lembaga apapun baik dalam maupun luar negeri.
Kelemahan kita selama ini kemampuan bahasa Inggris. Persoalan klasik itu.
Kita akan memfasilitasi kerjasama antara perguruan tinggi swasta di
Jakarta dengan perguruan tinggi negeri di Malaysia, membuka Program S-2 di
Jakarta dengan twin degree. Jadi, gelar dobel dari sini dapat dari sana
Universiti Teknologi Malaysia (UTM) juga dapat.
Persoalan terbesar yang kita hadapi memang bukan hanya pasar tapi yang
juga penting adalah tumbuhnya iklim bisnis yang kondusif di jasa konsultan.
Jadi sebanyak apapun, sehebat apapun proyek yang tersedia, kalau konsultan
tidak siap bukan hanya siap dalam arti keahlian, permodalan, dilihat dari
aspek profesi yang diantaranya adalah code of conduct, code of ethic, kode
etiklah khususnya, maka profesi ini tidak akan melakukan praktek
profesinya sesuai dengan kepentingan masyarakat. Malah, menjadi bagian
dari kroni kekuasaan yang asosial. Itu yang terjadi.
Konsultan gawat sekarang ini. Yang namanya proyek-proyek dari luar negeri,
terutama sejak tahun 1998 ketika krisis, tidak hanya bersifat fisik
misalnya infrastruktur jalan atau jembatan. Di dalamnya ada yang disebut
social empowerment, ada pemberdayaan masyarakatnya. Contohnya begini.
Misalnya pemerintah punya program jaringan saluran air drainase, ada unsur
pemberdayaan masyarakatnya. Kenapa, karena masyarakat internasional sadar
sesadar-sadarnya bahwa pembangunan selama 32 tahun dilaksanakan oleh
Soeharto dan Orde Baru itu salah. Artinya, berorientasi pada fisik semata
tetapi manusianya tidak dibangun mental, attitude, dan sebagainya.
Sekarang sehebat apapun, sebanyak apapun duit kita, sekaya apapun, kalau
attitude-nya tidak baik kan habis kita, tidak bisa mengelola pembangunan,
tidak bisa continuity seperti negara-negara Eropa. Bagaimana negara Eropa
yang bangunannya sudah 500 tahun masih aktual dan dipelihara. Indonesia,
gedung-gedung kuno malah dihancurin dijual untuk kepentingan investor.
Mudah-mudahan tercipta proses iklim bisnis jasa konsultan yang kondusif.
Sebab sebesar apapun kue yang tersedia kalau mental kita tidak bagus ya
cepat dilibas. Seperti terjadi tahun 1998 dollar naik sampai Rp 15.000.
Karena apa, basic ekonomi kita yang disebut dalam teori ekonomi neo klasik
trickle down effect itu keropos makanya tidak pernah down. Sekarang model
ekonomi yang trickle down effect harus diganti dengan ekonomi berdasarkan
berbasis ke bawah, yang saya sebut resource base economy atau resource
base development. Jadi, pembangunan yang berdasarkan pada sumberdaya alam
dan sumberdaya manusia Indonesia sendiri.
Konsultan, biasanya kan bisa dengan mudah diajak kongkalikong oleh
pelaksana proyek di lapangan?
Benar itu. Karena itu pernah saya katakan, krisis 1998 yang banyak kredit
macet konsultan harus ikut bertanggungjawab. Konsultan punya peluang
membuat ekonomi kredit macet. Karena apa, feasibility study yang dibuat di-mark
up sehingga ketika kebutuhan duit misalnya Rp 50 miliar, bank bisa
mengeluarkan Rp 75 miliar atas rekomendasi konsultan. Jadi apapun yang
terjadi, bertahun-tahun proyek itu tidak akan bisa mengembalikan pinjaman
yang Rp 75 miliar karena memang ukurannya Rp 50 miliar, ibaratnya begitu.
Setelah kita selidiki ternyata tidak semua konsultan demikian. Yang begitu
kebanyakan adalah perusahaan yang tergolong inhouse consultant. Jadi,
contoh seorang konglomerat terkemuka. Dia punya perusahaan kontraktor,
punya developer, juga punya perusahaan konsultan yang pemegang saham
mayoritas adalah dia. Dia sudah pernah kita pertemukan dengan dewan
kehormatan. Pada akhirnya, perusahaan dia itu sekarang sudah tidak lagi
beroperasi karena mungkin takut ditindak.
Saya tidak ingin mengatakan memberi garam di laut. Tapi, kalau bisa dicek
di lapangan, sebenarnya, dibandingkan dengan kualiti dalam penegakan code
of ethic dan code of conduct dengan teman-teman dari kontraktor mereka
lebih parah. Itulah sebabnya kita gelisah. Kalau begini terus, siapa yang
disebut kelas menengah dalam lapisan Indonesia ini. Padahal negara maju
dalam arti sebenarnya, ya kulturnya, politiknya, ekonominya, itu maju
kalau lapisan menengahnya kuat.
Anda bisa bercerita sedikit tentang keluarga Anda?
Ya, istri saya satu dan anak ada dua orang. Anak saya yang besar baru
lulus program D-3 dari UI. Sekarang dia mau melanjutkan lagi, namanya Devi
Cristiany, perempuan. Yang kedua namanya Bima Iriandika, kelas dua SMA,
lelaki. Mereka, di luar dugaan saya, agak sama kegemarannya dengan saya
yakni membaca-baca buku politik. Malah, mereka kemarin menantang saya, kok
nggak kampanye. Nggak tahu, mereka yah, buku-buku politik saya banyak
sekali mereka baca. Ditambah teman-teman saya juga datang dari komunitas
politik. Istri saya berasal dari Solo. Dulu dia bekerja, sekarang nggak
lagi. Anak saya tidak masuk GMNI tapi ikut lembaga studinya GMNI.
Tentang bentuk pengasuhan orang tua ketika masa kecil dahulu?
Bapak saya beragama Kristen Protestan. Hidup saya di Jawa Timur yang
mayoritas NU tapi pergaulan sejak dari kecil, TK, dan SD di sekolah
Katolik. Padahal di belakang rumah saya pondok pesantren NU, di depan
rumah saya mesjid Muhammadiyah. Jadi, sehari-hari kalau di sekolah ya
bergaul dengan teman-teman yang kebanyakan Chinese Katolik. Terus kalau
luar sekolah, saya kadang-kadang tidur siang di mesjid Muhammadiyah atau
di pondok pesantren NU. Jadi plural sekali. Kakak ipar saya Katolik ada,
Hindu juga ada. Kakak saya yang paling tua ikut ayah beragama Protestan.
Jadi plural, memang, sebuah kehidupan yang plural. Saya terbiasa bergaul
dengan siapa saja.
Dulu, konon kabarnya, karena di kampung saya itu markasnya NU, kakak saya
yang perempuan kan Islam, itu kalau pergi ngaji yang ngantar itu bapak
saya. Terus, agak malam kembali dijemput oleh bapak saya. Padahal, bapak
saya ini kalau sembahyangan, kebaktian maksudnya, itu di rumah.
Bapak saya sudah meninggal. Nah, ketika bapak meninggal di tahun 1960-an
oleh masyarakat tidak boleh dimakamkan di pemakaman Kristen. Diminta untuk
dimakamkan di makam Islam. Jadi, sampai sekarang salib diatas kuburan ayah
itu menjulang tinggi. Tempat saya itu basis NU, juga ada sebagian
Maduranya. Jadi ekstrim-ekstrim, gitu. Tapi karena bapak saya tokoh
masyarakat dan ketua partai PSI, bapa saya diminta agar tidak jauh-jauh
tidak usah dimakamkan di pemakaman Kristen, di makam Islam saja. Tapi
gimana, pasang salib, ndak apa-apa pasang saja salib, begitulah, plural
sekali. Artinya apa, tahun 1960-an toleransi agama jauh lebih bagus dari
jaman sekarang. ►ht ==>
Kembali
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|