ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai
 ► Ormas
 ► OKP
 ► LSM-Aktivis
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 27052004  
   
  ►e-ti/ht  
  Nama:
Kristiya Kartika, M.Si
Lahir:
Probolinggo, Jawa Timur, 7 November 1956
Agama:
Islam
Nama Istri:
Rr. Iriani Windkusumastuty, SH
Nama Anak:
1. Devi Kristiani
2. Bima Iriantika

Pendidikan:
 Sarjana (S-1), Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), Jember (1980)
Program Studi Ilmu Komunikasi Pemasaran, Program Pasca Sarjana, Universitas Indonesia (1996)

Alamat Rumah:
Jalan Bumi Daya VII No. 150, Blok D, Cinere, Jakarta Selatan 16514

Alamat Kantor:
DPN Inkindo
Jalan Bendungan Hilir Raya No. 29, Jakarta Pusat 10210
Telp, (021) 573.8577, Faks. (021) 573.3474
 
 
     

==   1   2   3   4   ==

Kristiya Kartika, Msi (3)

Pilar Utama Mega Center

Wawancara (1)


Ketika reformasi bergulir tertiup kencang isu loss generation atau pemotongan satu generasi kepemimpinan nasional. Sumbernya, siapa lagi kalau bukan kalangan muda mahasiswa yang menganggap semua elit politik yang ada sudah terkontaminasi sistem dan bangunan politik Orde Baru. Kontaminasi semua elit termasuk yang mengusung isu reformasi tanpa terkecuali tak bisa lagi dimurnikan, kecuali menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi baru usia dibawah 40 tahun. Sayang isu ini tak bisa ditangkap para mantan pemimpin mahasiswa yang reformasi sedang berusia sekitar 40 tahun, terutama Kristiya Kartika dan kawan-kawan dahulu.

Pimpinan nasional kembali jatuh ke tangan elit berusia sekitar 60 tahun atau masih satu generasi di atas Kristiya. Ketidakmampuan menangkap isu loss generation, salah satu sebabnya menurut Kristiya adalah masa 32 tahun Orde Baru adalah masa-masa yang abnormal dalam hal pengkaderan politik. Dia, bersama kawan-kawan merasakan sudah kehabisan energi bergerilnya di bawah tanah menyiasati pengekangan rejim politik yang otoritarian sehingga pas di ujung perjuangan berhembus angin segar reformasi mereka sudah kehabisan nafas dan praktis tersengal-sengal.

Terbukti, beberapa kawannya yang dahulu terhimpun dalam konfederasi organisasi pemuda KNPI, misalnya angkatan kepemimpinan Tjahjo Kumolo di KNPI periode 1990-1993, hingga sekarang masih berada di lapisan yang kesekian elit politik nasional tanpa seorangpun yang mampu menunjukkan keberhasilan sebagai pemimpin. Sebab selama 32 tahun Orde Baru pemuda dan mahasiswa tidak pernah diberi peluang mengembangkan prakarsa dan kreativitas di bidang politik sebagai anak bangsa kecuali selalu dimobilisasi untuk kepentingan penguasa. Berikut petikan wawancara TokohIndonesiaDotCom dengan Kristiya Kartika, M.Si, berlangsung di Kantor Pusat DPN Inkindo, Jalan Bendungan Hilir Raya No. 29, Jakarta.

Beberapa tahun lalu, bahkan hingga sekarang masih mengemuka ide loss generation atau pemotongan satu generasi kepemimpinan nasional. Setelah era Orde Baru tumbang, kenapa generasi muda seangkatan Anda tidak segera muncul ke permukaan menggantikan pimpinan nasional?

Proses perpolitikan di Indonesia tidak normal. Masa 32 tahun Orde Baru itu tidak normal dan sangat… sehingga tidak bisa. Setiap orang sesungguhnya pasti berpretensi melahirkan sejarah, membuat sejarah, tapi sekuen waktunya tidak baik.

Anda sekarang masuk sebagai seorang anggota Mega Center, sebuah lembaga pemikir atau think tank yang memberikan masukan-masukan kepada Presiden Megawati dalam merumuskan kebijakan publik untuk memenangkan perebutan kursi kepresidenan 2004. Bagaimana prosesnya Anda menjadi seorang nasionalis?

Saya dilahirkan di Probolinggo, Jawa Timur, pada 5 November 1956. Bapak saya seorang birokrat tapi juga politisi. Dia tokoh PSI, Partai Sosialis Indonesia, pimpinan Syahrir. Bapak saya sosok orang Jawa yang tekun ke gereja, bapak saya Protestan, berasal dari Yogya. Terus, ibu saya dari Nganjuk, Jawa Timur sebelah barat. Dia muslim tapi budaya Jawanya lebih dominan. Ya, biasalah, kalau orang bilang Islam Abangan.

Saya bersaudara lima orang. Yang paling tua laki-laki dan yang paling kecil juga laki-laki, yaitu saya. Yang lainnya perempuan semua. Karena bapak saya seorang politisi, sebagai anggota DPRD, saya disuruh membaca tulisan-tulisan yang, tulisan-tulisan itu kebanyakan memojokkan Sukarno. Dari masa kecil itu justru pada diri saya sudah muncul rasa simpati dan empati terhadap Sukarno, mulai tahun 1960-an. Dan, saya tahu pada waktu itu dan terutama setelah tahun 1965 kondisi Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan seluruh keluarga besar front marhaenisme dihabiskan. Saya justru bersikap, saya harus ikut PNI. Pada saat semua orang menghabiskan PKI dan men-generalisir bahwa PNI itu sama dengan PKI, saya malah justru berpikir saya harus masuk PNI.

Lalu, apa yang segera Anda lakukan untuk menyemai bibit-bibit sebagai seorang nasionalis yang militan?

Mulai kelas tiga SMP saya sudah masuk GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia), sampai akhirnya menjadi seorang aktivis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Itu sejarah poilitik saya. Sebenarnya, dalam pemikiran politik saya muncul antitesa dari buku-buku yang memojokkan Bung Karno. Buku itu macam-macam. Jadi, dari kecil saya sudah dibiasakan membaca tulisan Trotsky, Marx, Syahrir, Tan Malaka, dan sebagainya sampai buku tentang sejarah Fidel Castro. Jadi, saya menyimpulkan Soekarno ideal menyatukan keanekaragaman Indonesia.

Anda menjadi lebih dikenal sebagai sosok mantan Ketua Presidium GMNI karena pernah menjabat selama dua periode dan belasan tahun sebagai anggota presidium pusat. Apa yang Anda lakukan selama menjabat?

Saya mengalami sesuatu yang tidak seindah yang saya bayangkan dalam dunia politik. Ketika beranjak dewasa dan berada di GMNI, saya, ternyata, mungkin termasuk tipologi orang yang tidak suka tenang. Ada saja gejolak. Saya, kalau sebagai anggota GMNI cuma begini saja apa artinya. Saya, di komunitas apapun, kalau tidak berperan aktif ngapain. Dari situ muncul pikiran-pikiran saya. Sebenarnya, pada saat semangat saya tinggi di organisasi dan politik situasi tidak mendukung dimana rezim Suharto sangat menindas. Menindas, termasuk yang saya tahu, menindas anak-anak muda yang kritis. Jadi, antara yang saya rindukan, saya idolakan suasananya, dengan realitas sosial, nggak cocok. Nah, konflik terus-menerus.

Jadi, saya pikir, selama saya di GMNI situasinya berat sekali. Sangat berat sekali, tidak kondusif. Makanya, kalau saya flash back ke belakang, sebenarnya, saat itu adalah masa yang paling cukup berat. Anggapan saya dan teman-teman seangkatan, pada waktu itu, sedikit banyak sudah harus berinteraksi dengan kondisi politik praktis yang ada. Maka, saya dan teman-teman berada dalam posisi yang sulit ketika reformasi akan berlangsung. Karena kita semua sudah menghimpun diri dengan, mau nggak mau, karena kita tidak hidup di alam yang hampa. Jadi, kita menghimpun kekuatan, menghimpun teman-teman, menghimpun gerombolan-gerombolan aktivis, ini sudah dalam kelompok masing-masing. Walaupun sebenarnya, jujur saja, pada waktu itu kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Ada yang masih saya pegang sampai sekarang. Pada waktu itu saya cuma punya prinsip, sebuah pertanyaan yang selalu muncul, saya benar nggak menjalankan GMNI. Karena kita tidak hidup dalam alam yang hampa. Saya berinteraksi, mau tidak mau, dengan kekuatan-kekuatan politik yang lain pada waktu itu yang suka tidak suka sudah terkontaminasi oleh situasi waktu itu. Bagaimana tidak, GMNI mau melakukan kegiatan saja harus minta ijin, belum bicara duitnya bagaimana. Jadi, tidak bisa mengurung diri sementara tekanan terhadap GMNI bertubi-tubi serta dicurigai macam-macam.

Nah, karena itu saya berpikir ini salah nggak. Lalu saya ingat pikiran Bung Karno. Pada jaman Jepang rakyat Indonesia tidak bisa pakai baju, pakai karung yang dijahit, terus rakyat merasakan kulit rusak macam-macam. Waktu itu Bung Karno menulis di salah satu tulisannya, yang mengatakan, silakan pakai. Pakai saja itu, tapi itu dalam konteks, strategi, atau taktik yang dia sebut unfarding revolusioner, penerimaan secara terpaksa.

Jadi kita menerima keadaan itu, kita memanfaatkan keadaan itu, tetapi tetap dalam hati kecil mengatakan saya nggak suka sebenarnya. Tapi suatu saat saya akan tinggalkan. Dengan pikiran-pikiran semacam itu saya terus jalan. Dan bukan pekerjaan yang mudah membawakan organisasi. Jangankan membawa organisasi, membawakan diri saja, seperti situasi ketemu orang yang menghujat Sukarno, menghujat nasionalisme, itu kan makan hati sendiri. Jangankan mengurus organisasi, meletakkan diri sendiri saja sangat keras.

Nah, karena itu, pada saat-saat terakhir, saat menjelang reformasi, lima tahun menjelang reformasi, saat saya sudah tidak lagi di GMNI, saya diajak oleh beberapa senior saya, Anda harus realistik, Anda harus masuk satu dari sekian organisasi yang saat ini diakui Orde Baru. Wah… apa, Orde Baru? GMNI juga Orde Baru secara formal tapi secara politis tidak diakui. Nah, terus dorong mendorong, tarik menarik, akhirnya sampailah saya ke MKGR. Karena apa, di MKGR itu pertama saya lihat asasnya, dasarnya, walaupun akhirnya saya tahu itu pun polesan saja.

Tapi saya sadar inilah dia unfarding revolusioner itu. Saya lihat anggaran dasarnya persis mirip dengan anggaran dasar PNI sebelum dibubarkan. Karena ternyata yang membuat itu adalah mantan-mantan nasionalis PNI yang kemudian masuk ke MKGR. Sudah, saya berinteraksi di sana. Kemudian saya mendorong, waktu ramai-ramai bikin partai, saya mendorong dengan segala cara saya dari dalam, agar ormas MKGR ini menjadi partai. Nah, berhasillah jadi Partai MKGR.

Target saya pada waktu itu, tapi ini tidak saya sampaikan kepada tokoh-tokohnya melainkan hanya pada hati kecil dan sekelompok kecil teman-teman GMNI yang akhirnya ikut ke sana. Dalam partai ini target kita satu saja, bagaimana kekuasaan partai yang berkuasa di jaman Orde Baru tidak lagi berkuasa. Itu, sebelum pemilihan umum berlangsung. Kita jangan bermimpi. Cukup bagaimana partai penguasa pada jaman itu tidak lagi berkuasa. Itu komitmen, katakanlah pada diri saya sendiri.

Saya lalu berkomunikasi dengan teman-teman lain. Sementara, teman-teman lain yang dari GMNI, karena situasi sedemikian rupa mereka tidak bisa masuk ke PDI-P karena sudah terlanjur masuk ke PDI-nya Suryadi. Jadi, yang masuk ketika itu ke MKGR kebanyakan ya mohon maaflah, kualitasnya seperti itu. Saya sendiri tidak ke PDI Suryadi, tidak ke Golkar, tapi saya milih ke Ormas sebab waktu itu saya sangat ragu-ragu. Dalam bahasa saya, tiarap saja berpolitik. Dalam perjalanan berikutnya saya menjadi pengamat yang baik, mencoba berinteraksi dengan kawan-kawan. Setelah itu berakhir banyak teman mendesak, nggak bisa kamu begitu, wah kamu cari duit saja, kenapa kamu nggak gabung kaum nasionalis, macam-macamlah.

Akhirnya saya berpikir, berpikir, memang habitat awal saya di situ. Akhirnya, saya berpendapat bahwa saya akan dukung Mbak Mega. Lalu, pengertiannya saya, apakah dukung Mbak Mega itu saya harus PDI-P apa nggak, kan tidak harus. Jadi, saya dukung Mbak Mega dan saya ngomong sama teman-teman saya akan dukung Mbak Mega sebagai presiden. Pencalonan Mbak Mega sebagai presiden saya akan ikut dukung. Pada saat sekarang, saya harus konsekuen, maka saya masuk di Tim Mega Center.

Pikiran saya begini. Indonesia selama 32 tahun anggap saja peristiwa yang sangat merisaukan dan membuat kita tidak punya nyali. Pahit sekali 32 tahun kita dibuat seolah-olah tidak bisa berbuat dan tidak bisa apa-apa kalau tidak terkait dengan “mereka”. Dan, itu saya bukan hanya ngomong. Saya sendiri hampir sering seolah-olah terpeleset, ‘ah, tidak bisa tanpa mereka’. Tapi, begitu saya yakin lagi baca-baca buku Sukarno, ‘ah, kita harus berdiri sendiri.’ Tapi tekanan dari aspek politik, sosial, ekonomi, habis memang, efektif, gaya politik orde baru.

Makanya, pada waktu itu banyak anak-anak muda yang sebenarnya berbakat yang bisa dikategorikan dan malah menjadi tokoh, tapi akhirnya tidak muncul. Karena, menurut yang saya alami, kawan-kawan saya sudah kehabisan energi ketika harus bersiasat atau apalah pada saat itu. Banyak sekali mereka. Saya pernah dicalonkan oleh teman-teman menjadi Ketua Umum KNPI tahun 1990. Ini exercise, saya sadar ini exercise. Semua dukung saya. Dalam hati kecil saya saya bilang, ini tergantung dari tentara. Dan benar, apa yang terjadi, saya ditekan. Saya terus maju sampai akhirnya saya bermanuver. Ketika masuk tiga besar saya mengundurkan diri, suara saya berikan kepada nomor dua yang tidak direstui oleh tentara haha… Saya bermanuver seperti itu dan saya tinggalkan itu KNPI.

Jadi, paling tidak, paling tidak, yang saya lakukan, saya tetap lakukan upaya-upaya yang seperti itu. Berat sekali. Bayangin saja, waktu itu anak-anak muda aktivis gerakan mahasiswa dimasukin kamar ditekan oleh Komandan Korem, oleh Kasdam, oleh Pangdam masing-masing. Itu, wah, kalau mengenang waktu itu gila-gilaan. Dan saya pikir, kok ya kuat ya, waktu itu, kenapa saya masih terus di situ, kenapa saya tidak escape, tidak meninggalkan dunia kampus, cari duit atau sekolah, gitu.

Harusnya, harusnya sekarang adek-adek saya itu berpeluang lebih besar untuk merealisir Indonesia yang dicita-citakan. Kalau dulu nggak ada yang dicita-citakan. Bercita-cita saja nggak boleh, kok, ibaratnya begitu. Kita, diskusi saja diawasi oleh aparat. Kita kehabisan energi untuk mensiasati keadaan pada waktu itu. Jadi, kawan-kawan sudah terengah-engah begitu sampai reformasi, ngah-ngah, momentnya sudah hilang. Tapi, saya tidak berpikir apa-apa. Ya, biarlah, kalau soal politik kapan pun bisa menjadi bagian. Tapi, menurut saya, negara ini tidak bisa dipegang oleh kekuasaan seperti kemarin ketika di jaman Orde Baru itu.

Begitu efektifkah pemasungan dan penghancuran proses kaderisasi politik di rezim Orde Baru, sehingga teman-teman seangkatan Anda belum berkesempatan tampil memimpin?

Bukan cuma itu. Sebenarnya, rusaknya ekonomi kita juga karena kita mempersilakan masuk kekuatan kapitalisme internasional tanpa filter apa-apa. Kita tidak membayangkan dunia yang seperti sekarang. Kita tidak bisa menutup diri total dari dunia global, tapi harus ada filter. Dan filter itu adalah ideologi, keyakinan kita. Jadi, di bidang ekonomi apa sih sebenarnya konsep kita. Ada tiga sokoguru ekonomi, koperasi, swasta, sama BUMN. Apa saja itu, kan perlu di-breakdown.

Lalu yang kedua, saya berpendapat selama masa 32 tahun itu adalah proses pengerusakan bangsa. Sekarang, saya tidak pro Mbak Mega, tidak pro Gus Dur, atau siapapun. Tapi, siapapun nanti yang akan menjadi presiden jangan dituntut untuk… Pemimpin-pemimpin sekarang ini ikut cuci piringnya saja tapi pestanya dia tidak ikut. Saya, sampai sempat bergurau sama teman-teman, kalau ada mobil, lebih cepat mana merusak atau memperbaiki mobil. Kan, pasti lebih lama memperbaiki. Rusaknya bangsa ini 32 tahun memperbaiki dikasih waktu lima tahun nggak bisa. Ini bukan sekedar excuse tapi memang nggak bisa, ada proses. Merusak itu lebih cepat dari ngedandanin.

Jadi, saya pikirkan, memang, hanya konsep-konsep nasionalismelah yang bisa merekatkan semua komunitas nasional atau sub komunitas nasional. Baik berdasarkan suku bangsa, agama. Karena itu, yang lebih berpeluang tampil menjadi konsep perbaikan bangsa ke depan adalah konsep nasionalisme. Dan, nasionalis di sini saya tidak setuju jika tanpa makna kerakyatan. Sekarang nasionalis mudah diplesetkan. Tentara yang koruptor nasionalis. Saya, terus terang tidak merasa paling eksklusif merasa nasionalis, tidak.

Tapi, nasionalis jangan asal orang yang cinta bangsa dan negara. Tidak sekedar itu. Nasionalis adalah orang yang menginginkan utuhnya bangsa tapi juga pro rakyat dan nasibnya. Kan, itu persoalannya. Lalu, orang yang korupsi apa itu pro rakyat, ya jelas nggak dong. Sekarang ini gawat. Gus Dur bilang, itu ada orang jenderal yang kemarin mukulin mahasiswa dicap nasionalis. Hebat juga Gus Dur membuat kamus baru. Saya pikir agak tidak bisa menerima. Nasionalis itu lain. Tidak sekedar bukan dari partai agama, bukan sekedar pemeluk atau pelaku agama yang baik, bukan itu. Jadi, nasionalisme sebenarnya ideologi dan kesadaran politik.

Nah, saya pikir Mbak Mega masih punya peluang untuk itu. Masih punya peluang. Setelah saya diskusi dengan beberapa pihak, dan saya dengar sendiri, Mbak Mega itu tidak ambisi. Dia pernah katakan pada saya, dan teman-teman, kalau saya jadi presiden udah biarlah saya presiden karena memang kehendak Tuhan, karena kehendak rakyat, karena keadaan. Jangan saya jadi presiden tapi lawan-lawan atau kompetitor saya kita tembak dengan black campaign. Jangan tembak dengan kampanye hitam. Jangan jelek-jelekkan. Nggak usah, itu tidak akan jadi, percuma. Dia bilang begitu. Dan, jangan sampai Tim Mega memojokkan apalagi yang terkait dengan masalah agama, dengan komunitas suku-suku bangsa.

Dari situ, saya melihat sebenarnya bak Mega ini yah… orang baiklah. Bahwasanya di sana sini ada kekurangan, okelah, itu manusiawi. Dan satu lagi, bagi saya, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk tidak sekedar mempelajari ajaran Bung Karno seperti dulu-dulu. Tapi, dalam batas-batas tertentu sepanjang kondisi memungkinkan, saya ingin meng-applied apa yang diajarkan oleh pikiran-pikiran Sukarno dalam konteks keindonesiaan.

Selain telah terjadi distorsi makna nasionalisme, kabarnya pada Pemilu 2004 ini ada sebuah grand design untuk menghabisi kaum nasionalis, benarkah?

Ya. Jadi begini. Sebenarnya kita ini tidak hidup sendiri. Tekanan bisa bersifat atau datang dari internal atau dan juga dari dunia eksternal. Nah, kita tahulah, nasionalisme untuk diterapkan pada saat globalisasi sedemikian rupa menggejala, itu menjadi sesuatu yang harus dianggap tidak populer oleh sang programmer globalisasi. Sebab kalau nasionalisme kuat berarti globalisasi tidak akan terjadi.

Jadi jelas, nasionalisme berhadapan dengan globalisasi, itu pasti. Dan itu menggunakan tools, menggunakan alat-alat yang efektif sehingga membentuk suatu sub kultur baru ‘saya adalah masyarakat global, saya produk dunia global’, dan sebagainya.

Tapi sebenarnya itu adalah lanjutan dari perang dua ideologi besar sosialisme dan kapitalisme. Yang kapitalisme tak bisa hidup sendiri tanpa mengadopsi sosialisme. Sosialisme juga merasa tidak bisa melaksanakan ajarannya kalau hanya terpaku pada ajaran Marxisme atau Leninisme. Nah, yang ingin saya sampaikan, pintu nasionalisme kalau tidak kita kreasi sedemikian rupa pasti akan jebol. Tidak bisa, ‘oh... saya akan tutup’, tidak bisa, sebab pasti jebol. Tapi, bagaimana meng-create pintu, keadaan, sehingga kultur yang ada bisa menjadi bagian dari grand design perjuangan nasional bangsa ini.

Misalnya satu contoh. Saya terjebak dalam satu tim WTO untuk konstruksi. Dalam setahun bisa ada 10 putaran pertemuan di berbagai negara. Misalnya pintu masuk di masing-masing negara kita asumsikan 100 cm. Yang namanya Malaysia membukanya pelan-pelan sekali, itupun baru kemarin, mungkin hanya 10 cm dari 100 cm yang ada. Cina yang lebih besar juga baru membuka tahun 2001 kemarin 15 cm. Indonesia sudah terbuka semenjak tahun 1994 dan sudah langsung 90 cm. Kesepakatan-kesepakatan dan deregulasi yang dibuat pemerintah di tahun 1994 sudah 90 cm dibuka padahal dunia usaha tidak siap. Saya, bicara ini di konteks dunia konstruksi dimana saya menekuni.

Nah, akhirnya apa, setiap kali pertemuan sepanjang tahun setiap negara dituntut untuk membuka diri semakin lebar. Indonesia tidak mau lagi membuka sebab baru sadar sekarang, pintu yang dibuka pemerintah tahun 1994 membuat kita habis. Karena itu lalu diusahakan, untuk dikurangi nggak bisa sebab harus disetujui oleh semua 110 negara anggota, yang memungkinkan adalah kita tetap atau stand still. Dari tahun ke tahun kita tidak buka tapi juga tidak tutup. Mengapa dan apa yang terjadi di tahun 1994, ini yang big question mark untuk saya.

Kejadian tahun 1994 dengan peristiwa tahun 1998 semua terkait. Jadi, apakah itu artinya nasionalisme sudah tidak relevan, ini kan pertanyaan besar. Membuka pintu 90 cm waktu itu kita tidak ada yang tahu. Dan pejabat eselon sekarang yang waktu itu pangkatnya belum tinggi, juga nggak ada yang tahu. Prosesnya sangat elitis. Jadi, peristiwa tahun 1994 dengan 1998 terkait semua.

Karena itu saya lalu berpikir, menghancurkan paham nasionalisme akan sangat relevan bagi orang yang berupaya mencari pembenaran atas dibukanya pasar mulai tahun 1994. Ini yang harus dijelaskan pada masyarakat. Karena masyarakat tidak tahu sampai sekarang. Artinya, kalau sejak jaman Gus Dur hingga Megawati ekonomi belum pulih, ini sudah dibobol sejak tahun 1994. Jadi, bagaimana bisa cepat memperbaiki keadaan? Dan sekarang, menang lagi kan, Golkar?

Saya, terus terang saja, begitu melihat kondisi sebelum Pemilu 5 April, begitu saya lihat keadaan, melihat pers bagaimana, saya kepada teman-teman yang kebetulan sudah senior di medianya, saya sms-in, ‘Kalau Golkar sampai menang pers bertanggungjawab!’, saya kasih tanda seru. Karena pers juga mendukung. Artinya, memfasilitasi berita-berita mengenai enakan jaman dulu, walaupun itu merujuk kepada omongan orang. Ya, pers memfasilitasi. Saya pikir wah, di sini teman-teman ngumpul kalau sudah sore hari, saya bicara, teman-teman yang beda partai nggak soallah kita boleh dimana-mana, tetapi kalau bisa, pada saat pemilihan presiden nanti, ayo deh kita bantu Mbak Mega. Dan memang, saya PDI-P bukan, caleg juga nggak, nggak ada. Cuma, agak teriris perasaan saya, waduh… kok anak Sukarno mau dijadikan seperti Sukarno lagi, proses menjatuhkan, ini sudah sejak tahun 1994.

Nasionalisme itu supaya lebih populis dan modernis harus dikreasi ulang. Bagaimana kreasinya?

Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan. Dan kita bisa bercermin pada negara tetangga untuk perbandingan. Satu contoh, misalnya, yang paling mudah yang saya geluti. Malaysia mengeluarkan apa yang disebut dengan Engineer-X. Artinya, investor yang mau masuk ke Malaysia silakan tapi harus menggunakan engineer, insinyur Malaysia lebih dari 50 persen.

Terus yang kedua, saya tidak tahu apakah ini proses pembusukan atau apa. Tapi, ketika saya tanyakan pada Mbak Mega dia sampai terbengong-bengong, kaget. Lima hari sebelum Pemilihan Umum 5 April 2004 tarif telepon naik. Yang ingin saya katakan, bahwa basic need, kebutuhan dasar rakyat, itu apa. Jadi, jangan kita ini, termasuk tokoh-tokoh PDI-P yang sekarang menjadi menteri atau pemikir yang katanya nasionalis, jangan tertarik dan terbawa oleh arus Orde Baru yang mengutamakan elit ekonomi. Jadi, prosesnya proses elitis begitu.

Padahal kita sebenarnya bukan begitu. Kalimatnya adalah untuk dan bersama-sama rakyat. Jadi untuk rakyat dan bersama-sama dengan rakyat. Artinya apa, setiap proses pengambilan keputusan harus mengutamakan kepentingan rakyat. Dan kalau bisa, prosesnya memang benar-benar menanyakan kepada rakyat, ya lewat DPR. Nah, sekarang kan nggak begitu. Jadi, konteks nasionalisme itu tidak harus dengan kekerasan tidak harus dengan kemuraman. Konsep nasionalisme tidak sekedar dimulai dari apa yang terjadi dahulu tapi harus dikreasi. Nasionalisme tidak harus compang camping tidak harus belet.

Untuk memperbaiki bangsa yang telah mengalami proses pembusukan selama 32 tahun, menurut Anda bagaimana?

Yang kemarin ini masih pembusukan, lo. Karena, kekuatan-kekuatan sisa-sisa Orde Baru masih menguasai birokrasi sampai ke bawah-bawah. Ini sebenarnya masih pembusukan. Jadi, 32+5 total 37 tahun pembusukan. Terlalu lama, jadi sistematis.

Kalau mau memperbaiki keadaan, pertama harus dilakukan strategi ekonomi secara komprehensif yang mengarah pada upaya-upaya melakukan pembangunan yang berdasar pada sumberdaya alam setempat. Jadi, resources base development, pembangunan berdasarkan pada sumberdaya yang ada. Baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam.

Kalau kita mengutamakan industri pesawat terbang yang tidak resources base development tidak akan memberikan added value yang jelas. Jadi, mari kita membangun industri yang resources-nya ada di Indonesia. Tidak gampang tapi mari coba kita lakukan. Singkat kata resource base development atau resource base economy. Negara lain seperti India pada mulanya seperti itu. Malaysia saja bisa. Malaysia itu protektif tapi ada hasilnya. Yang namanya Mahathir, orang bilang apapun atau otoriter, tapi rakyat ekonominya bagus.

Kalau perbaikan secara politis, bentuknya bagaimana?

Oh, itu pasti. Untuk bisa melaksanakan itu perbaikan secara politis harusnya. Tidak bisa militer. Tapi, mereka letakkan pada proporsi yang benar kembali back to barck atau apa, itu silakan. Tapi, memang, untuk bisa melaksanakan resources base economy atau resource base development butuh kepemimpinan sipil yang kuat. Yang punya kesadaran itu nggak banyak. Tentara? Ya, tentara itu pertama komando, kedua tentara kalau ditanya ada dua instruksi yang satu instruksi keluhan rakyat satu lagi instruksi atasan. Tentara pilih instruksi atasan, nggak bisa tidak. Kalau sipil paling nggak masih mikir rakyat gimana.

Belakangan ini mulai muncul negative campaign, atau black propaganda diantara sesama kandidat presiden. Dan tentara sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu. Misalnya, kekuatan sipil dianggap tidak mampu atau dikondisikan untuk tidak mampu. Komentar Anda?

Itu memang salah satu tools mereka. Tapi, bahasanya, apakah itu black propaganda atau black campaign, rakyat itu harus diberitahu apa adanya. Informasi kepada rakyat harus terbuka, open. Siswono adalah ini, Megawati kelebihan dan kekurangannya ini. Juga tentang peristiwa 27 Juli 1996 SBY dimana, pada peristiwa Trisakti dan Semanggi dimana Wiranto dan SBY apa, itu harus dibuka semua. Banyak masalah yang harus dibuka.

Jadi, kalau dulu di tahun 1999/2000 orang pernah bermimpi potong generasi, itu saya setuju. Semua orang yang terlibat pada waktu itu, tidak bisa, semua ikut, kok, semua dapat, kok, tapi semua didukung oleh rakyat. Makanya, saya pikir, bagus juga kita hidup ini. Apalagi sekarang, ya mohon maaf ini, ada data diantara calon-calon presiden itu ada yang didukung oleh konglomerat hitam, penjudi-penjudi besar, mereka mencari berbagai cara supaya eksis. Berat kondisi kita. Ini sangat kejadian, sampai kejadian militer yang jadi lagi, waduh, saya sudah bayangkan, yang terjadi tigapuluh tahunan yang lalu akan terjadi lagi. Loss generation, menurut saya, terpenggalnya satu sekuen sejarah perpolitikan. Katakanlah yang terjadi ibaratnya generasi yang di sini diambil lalu terjadi discontinuity. Nah, maka itu yang sebenarnya disebutkan loss generation dalam pengertian pengalaman saya. ►ht 

==> Lanjut

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero