| |
C © updated 27052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Kristiya Kartika, M.Si
Lahir:
Probolinggo, Jawa Timur, 7 November 1956
Agama:
Islam
Nama Istri:
Rr. Iriani Windkusumastuty, SH
Nama Anak:
1. Devi Kristiani
2. Bima Iriantika
Pendidikan:
1. Sekolah Dasar SD Katholik St. Pius, Kraksan, Probolinggi (1968)
2. SMP Negeri Kraksan, Probolinggo (1974)
3. SMA Negeri Probolinggo (1975)
4. Sarjana (S-1), Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), Jember (1980)
5. Program Studi Ilmu Komunikasi Pemasaran, Program Pasca Sarjana,
Universitas Indonesia (1996)
Pendidikan Non Formal:
1. Manajemen Pemasaran (Jakarta, 1989)
2. International Leadership Program in USA (USA, 1987-1988)
3. Manajemen Pengembangan Sumberdaya Manusia di Daerah (Jakarta, 1987)
Pengalaman Kerja:
1. Direktur Utama PT Hamas Aeba (2002 – Sekarang)
2. Komisaris Utama PT Hamas Aeba Manajemen (2002 - Sekarang)
3. Direktur Utama PT Hamas Aeba Manajemen (1996-2002)
4. Wakil Koordinator Tim Konsultansi Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kantor
Menteri Muda Pengembangan Kawasan Timur Indonesia Republik Indonesia
(2000-2001)
5. Direktur Utama PT Wisudha Patria Tamtama (developer) Ustraindo Group
(1988-1994)
6. Asisten Direksi PT Dharma Kencana Sakti Unit Pembangunan (kontraktor)
(1980-1984)
7. Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) (1999)
8. Direktur PT Swadeshi (Penerbitan) (1990-1997)
9. Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Nasional (Pengkajian) (1980-1998)
Pengalaman Organisasi Profesi:
1. Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Nasional
Konsultan Indonesia (Inkindo) (2002 – Sekarang)
2. Sekretaris Jenderal DPN Inkindo (1998-2002)
3. Wakil Ketua Umum DPP Inkindo (1994-1998)
4. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994)
5. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1988-1991)
6. Ketua Komite DPD Inkindo DKI Jakarta (1987-1988)
7. Wakil Ketua Badan Sertifikasi Nasional Usaha Jasa Konsultansi (2000 –
Sekarang)
8. Pemimpin Redaksi Majalah “Konsultan” (1994-19988)
Pengalaman Organisasi Kemasyarakatan:
1. Sekretaris Jenderal Partai MKGR (1999-2001)
2. Sekretaris Jenderal MKGR (1998-2000)
3. Anggota Presidium GMNI (1978-1992)
4. Ketua Presidium GMNI (1986-1989) dan (1989-1992)
5. Anggota Majelis Pemuda Indonesia (MPI-KNPI) (1993-1996)
6. Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia (1987-1990)
7. Ketua DPP KNPI (1990-1993)
8. Anggota Forum Indonesia Muda (1990-1993)
9. Anggota Kelompok Kerja Pemuda DPD Golkar DKI Jakarta (1989-1990)
10. Ketua Asosiasi Pasca Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia
(1994—1996)
11. Pengurus Yayasan Marinda (1988-1992)
12. Pengurus Yayasan Kebangsaan (1988-1992)
13. Kompartemen Organisasi Kadin Indonesia (1995-1998)
Kegiatan Publikasi:
1. Menulis artikel sejak 1979 dimuat di harian Kompas, Suara
Pembaruan, Merdeka, Swadesi, Jayakarta, Terbit, Simponi, Buletin Kargama,
Majalah Konsultan, Infokindo, dan lain-lain
2. Buku “Dimensi-dimensi Strategis Peran Konsultan”, sebagai editor, 1995
3. Buku “Menguak Mitos Pemuda dalam Pembangunan”, sebagai penulis, 1993
4. Buku “Pemuda dalam Simpul-simpul Praktikal”, sebagai editor, 1993
5. Buku “Aktualisasi Pancasila dalam Kritik Pembangunan”, sebagai editor,
1989
6. Buku “Dasar-dasar Tata Hukum di Indonesia”, sebagai penulis, 1984
Alamat Rumah:
Jalan Bumi Daya VII No. 150, Blok D, Cinere, Jakarta Selatan 16514
Alamat Kantor:
DPN Inkindo
Jalan Bendungan Hilir Raya No. 29, Jakarta Pusat 10210
Telp, (021) 573.8577, Faks. (021) 573.3474
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3
4 ==
Kristiya Kartika, Msi (2)
Tak Lupa Rahim Nasionalisme
Pada Pemilu 1999 Partai MKGR hanyalah partai gurem dan tidak lolos
electoral threshold. Namun misi menghadang laju kemenangan Golkar ketika
itu berhasil dia lakukan. Kristiya lalu kembali tiarap politik. Dia lebih
banyak berkiprah di organisasi profesi Inkindo (Ikatan Nasional Konsultan
Indonesia), yang sudah dia akrabi sejak tahun 1988. Mulai dari anggota,
pengurus cabang DKI Jakarta, Wakil Sekjen, Wakil Ketua, Sekjen, hingga
mencapai puncak tertinggi sebagai Ketua Umum atau Presiden DPN Inkindo
sejak tahun 2002 untuk periode tahun 2002-2006.
Hingga Desember 2003, Inkindo yang resmi berdiri sejak 20 Juni 1975
menjelang usia sepermpat abad tercatat memiliki anggota Inkindo 5.248
perusahaan jasa konsultan terutama jasa konsultan konstruksi. Mereka
terdiri 1.672 perusahaan kelas atas, 1.379 perusahaan kelas menengah, dan
2.197 kelas bawah yang tersebar di 29 propinsi.
Undang-undang baru tentang Jasa Konstruksi tahun 1999, yang salah satu
butirnya berisi tentang aturan keharusan pembentukan Lembaga Pengembangan
Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN), menempatkan LPJKN sebagai satu-satunya
lembaga yang berhak memberikan sertifikasi kepada semua perusahaan jasa
konstruksi. LPJKN beranggotakan 24 orang yang mewakili berbagai institusi
jasa konstruksi, termasuk Inkindo yang dipimpin Kristiya Kartika mewakili
asosiasi perusahaan jasa konsultan. Sebagai anggota LPJKN Inkindo diserahi
tugas sebagai satu-satunya lembaga yang berhak memberikan sertifikat
Daftar Rekanan Mampu (DRM) kepada setiap perusahaan jasa konsultan.
Melalui Munas LPJKN pada Januari 2003 yang berlangsung secara fair,
demokratis, dan terbuka, Kristiya Kartika terpilih sebagai Sekretaris
Jenderal LPJKN yang baru periode tahun 2003-2007. Sedangkan Ir. Sulistijo
S. M., M.T. terpilih sebagai ketua menggantikan Ir. Agus G. Kartasasmita,
M.Sc., M.T.
Susunan lengkap Dewan Pengurus LPJK Nasional Periode 2003-2007 adalah,
Ketua Umum Ir. Sulistijo S. M., M.T. dibantu empat Ketua yakni Ir. Agus G.
Kartasasmita, M.Sc., M.T., Ir. A. Sutjpto, M.M., M.T., Ir. Ghandi Harahap,
dan Ir. Suntana S. Djatnika, S.E., M.B.A. Sekretaris Umum Kristiya Kartika,
M.Si. dibantu dua wakil yakni Dr. Ir. Chaidir A. Makarim dan Ir. Istantoe
Oerip. Enam belas orang anggota LPJKN adalah Ir. Moelyadi Oetji, H. M.
Malkan Amin, Ir. Amran Nur, Ir. Pandri Prabono, M.B.A., Dr. Ir. Indreswari
Guritno, Ir. Drs. Asrizal Tatang, Dr. Ir. Amos Neolaka, Ir. A. Moelia
Aida, Tjuk Sudarsono, Ir. Subagya Sastrosoegito, Ir. Suprayitno, Ir.
Handradjadi, M.Eng, Ir. Sumaryanto, Ir. Prasetyoadi Warsono, Ir. Idi
Rasyidin, M.Si., dan Ir. Nugraha Sukmawidjaya.
Duduk sebagai Sekjen LPJKN semakin menyita kesibukan Kristiya Kartika.
Perputaran uang yang harus dia sentuh di lingkungan pembangunan
infrastruktur tahun 2003 mencapai Rp 106,63 triliun, naik dari tahun
sebelumnya Rp 87,77 triliun. Tahun 2004 kenaikan diperkirakan akan
mencapai Rp 140 triliun. Dari perputaran itu 25 persen diantaranya adalah
kue jasa konsultan.
Sebagai ketua asosiasi yang mantan aktivis gerakan mahasiswa sosok
Kristiya tampak selalu kritis dalam menyikapi berbagai hal. Tentang
laporan dugaan tender fiktif atas proyek pembuatan rencana umum tata ruang
sebuah wilayah senilai Rp 75 milyar, yang terjadi di lingkungan Direktorat
Jenderal Penataan Ruang, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah tahun
2003, misalnya, Kristiya Kartika mewakili Inkindo dipercaya Menkimpraswil
Soenarno untuk bekerjasama dengan Sekretaris Jenderal dan Kepala Bapekin
mengusutnya.
Ketika itu, berdasarkan hasil pengamatannya Kristiya
menyimpulkan, pelaksanaan tender di jajaran Departemen Kimpraswil
seringkali berupa tender fiktif dan terjadi praktik swakelola. Padahal,
demikian Kristiya, di era reformasi semestinya pelaksanaan tender bisa
dilakukan secara transparan sehingga kualitas sebuah proyek betul-betul
bisa dipertanggungjawabkan.
Kristiya juga kristis menyikapi sikap pemerintah yang tidak mendidik sebab
membiarkan praktik swakelola merajalela yang membuat dunia usaha jasa
konsultan semakin tidak berada dalam posisi yang kondusif. Disatu pihak
pemerintah membiarkan kesulitan yang dialami konsultan, sementara di lain
pihak melalui pola-pola praktik swakelola proyek pemerintah semakin ikut
memperkeruh dunia usaha jasa konsultansi.
Akibat praktik swakelola bukan saja konsultan nasional terancam
keberadaannya tetapi kemungkinan terjadi "pemakaian bendera" konsultan
oleh pejabat pengelola proyek akan semakin besar. Padahal, itu adalah
sesuatu yang sebenarnya menyalahi kode etik profesionalisme jasa
konsultansi. Dampak lain praktik swakelola tetap merebaknya mitos bahwa
konsultan hanya kerja sambilan bahkan hanya pekerjaan pensiunan. "Yang
menyedihkan lagi adalah anggapan bahwa pekerjaan konsultan itu bukan
bisnis," gugat Kristiya kritis.
Dalam penglihatan Kristiya konsultan adalah murni pekerjaan bisnis yang
dilakukan para kaum pemikir. Kristiya lalu meminta para konsultan agar
ikut membantu memperbaiki citra jasa konsultan melalui penajaman visi
bisnis dengan memperhatikan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku. Penajaman
itu tak cukup dengan cara konvensional melainkan harus berangkat dari
gagasan yang visioner sehingga lebih besar peluangnya dijual dengan harga
mahal. Dan untuk dapat menangkap harga itu diperlukan kepekaan akan
kondisi sekitar sebagai peluang bisnis.
Sebagai langkah konkrit kekritisannya, melalui Inkindo Kristiya pernah
mendesak pemerintah agar segera menyusun studi yang mengkaji sistem
transportasi negara maritim secara komprehensif. Inkindo juga mendorong
segera terbentuk konsorsium nasional perusahaan konsultan untuk membantu
segera terealisirnya jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura,
di Jawa Timur.
Alasan desakan pembentukan konsorsium nasional, bukan hanya
karena selama ini pemerintah masih menganaktirikan konsultan nasional.
Melainkan, jembatan Suramadu memang berpotensi membantu memecahkan
permasalahan ketenagakerjaan, mengangkat potensi wilayah, dan mengangkat
citra konsultan nasional di mata internasional.
Ketika berlangsung Konferensi Technical Consultancy Development Programme
for Asia and the Pacific (TCDPAP), yang diikuti sembilan negara anggota
dari kawasan Asia Pasifik, di Bali, Oktober 2003, kekritisan sikap
Kristiya Kartika semakin memuncak. Kepada pers saat menyampaikan
hasil-hasil konferensi TCDPAP, Kristiya mendesak pemerintah dan lembaga
donor internasional seperti ADB dan World Bank agar memberikan peran yang
lebih besar kepada perusahaan swasta nasional Indonesia yang bergerak
dalam bidang konsultan dalam setiap pembangunan infrastruktur.
Desakan itu dia lontarkan sebab selama ini pemerintah dan
lembaga donor tidak pernah memberikan distribusi pinjaman yang merata
untuk memfasilitasi pendanaan pembangunan infrastruktur. Bahkan, "Kita
mampu mewakili kepentingan peminjam uang dan pemakai," tegas Kristiya
Kartika.
Terkait dengan perlawanan terhadap kepentingan negara dan lembaga donor,
Kristiya menyoroti pula kuatnya tekanan untuk memasukkan konsultan asing
dalam setiap proyek yang didanai oleh negara dan lembaga donor tersebut.
Dengan tegas Kristiya menyebutkan bahwa konsultan nasional wajib
memperoleh perlakuan yang sama dibandingkan dengan konsultan asing yang
dibawa oleh donor.
Dia menggariskan bahwa kemampuan konsultan nasional Indonesia
sudah memadai, sambil masih harus terus-menerus meningkatkan kualitasnya.
Namun mengingat kemampuan konsultan Indonesia di bidang-bidang tertentu
yang justru lebih unggul dibanding konsultan asing, maka kata Kristiya
seyogyanya hal ini menjadi pertimbangan konsultan asing bermitra dengan
konsultan nasional.
Kristiya dengan tegas meminta pemerintah agar juga memiliki political will
mengatasi ketimpangan penghargaan terhadap konsultan lokal dengan
konsultan asing. Menurut catatan Inkindo, kata Kristiya billing rate
seorang konsultan asing dalam proyek-proyek Bank Pembangunan Asia (ADB)
dan Bank Dunia rata-rata US$ 17.000 sampai US$ 20.000/bulan. Sementara
untuk konsultan lokal hanya Rp 10 juta/bulan. JBIC malah memberikan
insentif yang lebih besar lagi, yakni US$ 40.000/bulan untuk setiap
konsultan yang mereka bawa. ''Ini berarti dana yang mereka hibahkan atau
pinjamkan ke Indonesia sebagian besar kembali lagi ke negara mereka,''
kata Kristiya seolah menohok sinyalemen lama kelicikan negara donor.
Begitulah Kristiya Kartika yang nasionalis tulen ini mempunyai spektrum
dan sudut pandang yang berbeda ketika menganalisa dan memecahkan setiap
persoalan strategis bangsa. Kepentingan bangsa selalu dia utamakan.
Ketajaman dan kekokohan visi Kristiya membangun iklim bisnis jasa
konsultan yang kondusif juga terkait dengan peran sentral sektor jasa
konstruksi sebagai salah satu andalan menggerakkan perekonomian di masa
pemulihan.
“Sektor ini memiliki arti penting karena mampu menyerap tenaga kerja dalam
jumlah yang besar karena memang sifatnya padat karya. Sektor ini juga
mampu memberikan stimulus, khususnya pembangunan infrastruktur, bagi
pengembangan sektor-sektor lainnya,” nilai Kristiya. Dia menegaskan,
pemerintah harus mendukung perkembangan sektor konstruksi agar pelaku
bisnis sektor ini, termasuk jasa konsultan, mampu berkarya dengan baik
tanpa diganggu oleh ketentuan-ketentuan yang justru akan mengarah ke
kemunduran.
Kristiya mencatat tahun 2003 sektor konstruksi menyerap tenaga kerja
sebanyak 380.835 orang, dan tahun 2004 diperkirakan akan naik menjadi
457.000 orang. Efek berantai yang ditimbulkan sektor konstruksi bagi
pembangunan sektor lain memungkinkan akan lebih banyak lagi tenaga kerja
yang terserap.
Masuk Mega Center
Kesibukan Kristiya di organisasi profesi asosiasi jasa konsultan seakan
membuatnya lupa akan rahim nasionalisme yang pernah melahirkannya. Dia
baru ingat akan rahim itu justru setelah terpilih menjadi Ketua Umum
Inkindo tahun 2002. Adalah tradisi dan kebiasaan baik setiap pimpinan
organisasi tingkat nasional untuk melaporkan kegiatan sekaligus mengadakan
silaturahmi memperkenalkan kepengurusan baru kepada kepala negara, dalam
hal ini Presiden RI. Namun karena kepala negara sekarang itu adalah
Megawati Soekarnoputri, seorang kader GMNI yang dikenal dan mengenalnya,
Kristiya Kartika awalnya malu hati mengajukan permohonan audiensi sebab
takut permohonannya ditolak.
Karenanya, sebelum surat permohonan dilayangkan terlebih dahulu dia
bermanuver menemui orang terdekat Mega. Gerilya itu berlangsung hingga ke
Bali mengikuti Mega yang saat itu memngikuti acara Bali Recovery pasca
peledakan bom Bali. Begitu kepastian diperoleh, hanya berselang dua hari
kepengurusan lengkap Inkindo sudah berada di Istana Negara.
Antara Megawati dan Kristiya banyak bercanda dan bernostalgia
mengenang masa-masa perjuangan berat di GMNI. Di situlah Megawati berhasil
“menangkap” Kristiya untuk kembali ke rahim nasionalisme. Wacana
permintaan agar Kristiya membantu Mega muncul dan diiyakan namun tidak
dalam konteks kepartaian. Anjloknya perolehan suara PDI Perjuangan padan
Pemilu 5 April 2004, yang sesungguhnya sudah dia prediksi sebelumnya,
mengharuskan Kristiya mengakhiri masa tiarap politik.
Dan dalam tempo singkat saja hasil polesan Kristiya terhadap Megawati
mulai langsung terasa walau tak tampak kasat mata. Berbagai kebijakan
publik yang populer di masyarakat bawah mulai sering terangkat ke
permukaan. Seperti ketegasannya menghancurkan gula impor ilegal. Atau,
mengadakan panen raya tebu bersama para petani tebu rakyat yang tergabung
dalam organisasi APTR (Asosiasi Petani Tebu Takyat), di Lumajang, Jawa
Timur, pertengahan Mei 2004. Atau, menurunkan status darurat militer di
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi darurat sipil.
Megawati pun mulai berani berdebat serta adu argumentasi dengan wartawan,
seperti diperlihatkannya saat mendaftarkan diri sebagai calon presiden
bersama calon wakil presiden KH Hasyim Muzadi ke KPU, Rabu 12 Mei 2004.
Sebuah hal yang nyaris tak pernah Megawati lakukan. Megawati bukan hanya
bersedia menerima kedatangan silaturahmi sejumlah artis seperti Agnes
Monica dan kawan-kawan, ke kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng,
Jakarta sekaligus mengadakan wawancara esklusif dengan “wartawan dadakan”
Agnes Monica untuk dimuat di tabloid inforia “Mahardika”.
Megawati juga menyegerakan pertemuan pribadi dan istimewa di Istana Negara
dengan Ferry Santoro, kamerawan RCTI yang selama 11 bulan hidup sebagai
sandera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menyebutkan dirinya gembira Ferry
telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan keluarga, Megawati dalam
pertemuan selama 15 menit itu mengharapkan Ferry dapat segera bertugas
kembali sebagai kamerawan, terutama untuk membuat berita eksklusif tentang
pengalaman pribadi disandera selama 11 bulan.
Megawati juga bersedia hadir di tengah-tengah komunitas umat Kristiani
yang tergabung dalam Partai Damai Sejahtera (PDS) pimpinan Ruyandi
Hutasoit, di Balai Sarbini, Jakarta, Selasa 17 Mei 2004 bersama pasangan
capres KH Hasyim Muzadi. PDS secara bulat telah menyatakan dukungannya
terhadap pencalonan Mega-Hasyim yang ditandai penandatanganan Deklarasi
Dukungan PDS untuk Pasangan Capres dan Cawapres, Megawati-Hasyim, oleh
Sekjen PDI-P Sutjipto dan Sekjen PDS ML Denny Tewu. Bentuk lain dukungan
PDS, hari itu resmi diluncurkan situs website Mega-Hasyim.com yang bisa
diakses di seluruh dunia terdiri tujuh bahasa, yakni bahasa Perancis,
Jerman, Italia, Spanyol, Portugis, Inggris, dan Jepang.
Megawati walau seorang presiden yang sedang berkuasa dan berniat
mencalonkan diri kembali pada Pemilu Presiden 2004, tampak tidak
sedikitpun memanfaatkan posisinya itu untuk mengobral penampilannya di
muka publik untuk menaikkan popularitas. Berbeda dengan rejim Orde Baru,
dimana mulai dari Pak Harto hingga seluruh menteri dan pejabat negara lain
selalu dimobilisasi turun ke masyarakat meresmikan proyek-proyek
pembangunan yang dimampatkan waktunya berdekatan dengan Pemilu untuk
menarik simpati rakyat instan semata dan artifisial.
Megawati juga berbeda dengan kandidat presiden lain yang
mengobral penampilannya di muka publik melalui penanyangan iklan di media
cetak dan elektronik hingga menimbulkan kesan over expose bahkan mengarah
ke penurunan nilai ekonomis ke titik nadir sebab kampanye yang
sesungguhnya belumlah dimulai. Sesuatu yang memang tidak melanggar aturan
kampanye namun masyarakat pasti akan menilainya sebagai sebuah fatsun
politik yang kurang santun.
Megawati tampil di hadapan publik seperlunya saja membuat kawan maupun
lawan politik menjadi penasaran, sebagaimana selama ini dia lakukan. Di
hadapan umat Kristiani yang massa PDS itu, misalnya, Megawati mengaku
lebih banyak lamban mengambil keputusan. Hal itu dilakukannya sebab
sebelum mengambil keputusan Mega harus lebih banyak berkomunikasi dengan
Tuhan agar putusan yang diambilnya tidak salah. “Saya lebih banyak
berkomunikasi dengan yang di atas,” kata Mega.
Masih banyak hasil polesan Kristiya Kartika yang mampu mengubahkan
Megawati Soekarnoputri menjadi sosok manusia baru dengan harapan baru,
terlebih setelah berpasangan dengan Ketua Umum PB NU (non aktif) KH Drs.
A. Hasyim Muzadi. Memiliki kematangan dan pengalaman politik segudang
namun Kristiya agaknya enggan berlama-lama di dunia politik praktis. Dia
ingin menjadi pengajar politik saja, sebagai dosen misalnya, agar lebih
bebas mengekspresikan independensi politiknya.
Kalau pun harus terlibat di politik praktis dia ingin agar
keterlibatannya itu adalah untuk membawa sesuatu ke lingkungan politik,
bukan untuk mengambil sesuatu. Karenanya Kristiya merasa sangat beruntung
jasa konsultan banyak memberinya kehidupan lebih dari cukup. Konsultan
adalah dunia yang sangat digemarinya sebab ada ruang bebas mengekspresikan
keinginan hati dalam bentuk gambar-gambar atau hasil-hasil studi.
Keinginan menjadi pengajar politik akan segera dia wujudkan begitu
menyelesaikan program doktoral pendidikan S-3 bidang manajemen di
Universitas Indonesia, tempat yang sama pernah memberinya gelar S-2 M.Si
juga bidang manajemen. ►ht ==>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|