| |
C © updated 27052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Kristiya Kartika, M.Si
Lahir:
Probolinggo, Jawa Timur, 7 November 1956
Agama:
Islam
Nama Istri:
Rr. Iriani Windkusumastuty, SH
Nama Anak:
1. Devi Kristiani
2. Bima Iriantika
Pendidikan:
1. Sekolah Dasar SD Katholik St. Pius, Kraksan, Probolinggi (1968)
2. SMP Negeri Kraksan, Probolinggo (1974)
3. SMA Negeri Probolinggo (1975)
4. Sarjana (S-1), Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), Jember (1980)
5. Program Studi Ilmu Komunikasi Pemasaran, Program Pasca Sarjana,
Universitas Indonesia (1996)
Pendidikan Non Formal:
1. Manajemen Pemasaran (Jakarta, 1989)
2. International Leadership Program in USA (USA, 1987-1988)
3. Manajemen Pengembangan Sumberdaya Manusia di Daerah (Jakarta, 1987)
Pengalaman Kerja:
1. Direktur Utama PT Hamas Aeba (2002 – Sekarang)
2. Komisaris Utama PT Hamas Aeba Manajemen (2002 - Sekarang)
3. Direktur Utama PT Hamas Aeba Manajemen (1996-2002)
4. Wakil Koordinator Tim Konsultansi Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kantor
Menteri Muda Pengembangan Kawasan Timur Indonesia Republik Indonesia
(2000-2001)
5. Direktur Utama PT Wisudha Patria Tamtama (developer) Ustraindo Group
(1988-1994)
6. Asisten Direksi PT Dharma Kencana Sakti Unit Pembangunan (kontraktor)
(1980-1984)
7. Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) (1999)
8. Direktur PT Swadeshi (Penerbitan) (1990-1997)
9. Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Nasional (Pengkajian) (1980-1998)
Pengalaman Organisasi Profesi:
1. Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Nasional
Konsultan Indonesia (Inkindo) (2002 – Sekarang)
2. Sekretaris Jenderal DPN Inkindo (1998-2002)
3. Wakil Ketua Umum DPP Inkindo (1994-1998)
4. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994)
5. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1988-1991)
6. Ketua Komite DPD Inkindo DKI Jakarta (1987-1988)
7. Wakil Ketua Badan Sertifikasi Nasional Usaha Jasa Konsultansi (2000 –
Sekarang)
8. Pemimpin Redaksi Majalah “Konsultan” (1994-19988)
Pengalaman Organisasi Kemasyarakatan:
1. Sekretaris Jenderal Partai MKGR (1999-2001)
2. Sekretaris Jenderal MKGR (1998-2000)
3. Anggota Presidium GMNI (1978-1992)
4. Ketua Presidium GMNI (1986-1989) dan (1989-1992)
5. Anggota Majelis Pemuda Indonesia (MPI-KNPI) (1993-1996)
6. Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia (1987-1990)
7. Ketua DPP KNPI (1990-1993)
8. Anggota Forum Indonesia Muda (1990-1993)
9. Anggota Kelompok Kerja Pemuda DPD Golkar DKI Jakarta (1989-1990)
10. Ketua Asosiasi Pasca Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia
(1994—1996)
11. Pengurus Yayasan Marinda (1988-1992)
12. Pengurus Yayasan Kebangsaan (1988-1992)
13. Kompartemen Organisasi Kadin Indonesia (1995-1998)
Kegiatan Publikasi:
1. Menulis artikel sejak 1979 dimuat di harian Kompas, Suara
Pembaruan, Merdeka, Swadesi, Jayakarta, Terbit, Simponi, Buletin Kargama,
Majalah Konsultan, Infokindo, dan lain-lain
2. Buku “Dimensi-dimensi Strategis Peran Konsultan”, sebagai editor, 1995
3. Buku “Menguak Mitos Pemuda dalam Pembangunan”, sebagai penulis, 1993
4. Buku “Pemuda dalam Simpul-simpul Praktikal”, sebagai editor, 1993
5. Buku “Aktualisasi Pancasila dalam Kritik Pembangunan”, sebagai editor,
1989
6. Buku “Dasar-dasar Tata Hukum di Indonesia”, sebagai penulis, 1984
Alamat Rumah:
Jalan Bumi Daya VII No. 150, Blok D, Cinere, Jakarta Selatan 16514
Alamat Kantor:
DPN Inkindo
Jalan Bendungan Hilir Raya No. 29, Jakarta Pusat 10210
Telp, (021) 573.8577, Faks. (021) 573.3474
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3
4 ==
Kristiya Kartika, Msi (1)
Simbol Nasionalisme Baru
Dia salah satu pilar utama Mega Center, lembaga think tank
yang semakin mendekatkan Megawati dengan rakyat. Dia mempunyai hubungan
emosional yang sangat dalam dengan Megawati. Semenjak kecil dia sudah
sangat akrab dengan beragam pikiran dan ajaran Bung Karno lewat buku-buku
milik ayahnya yang rajin dia baca. Belasan tahun dia anggota Presidium
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menjadikannya bagian dari
simbol gerakan nasionalisme baru. Sebagaimana alumni GMNI dia kritis
bersikap dan memimpin organisasi profesi jasa konsultan Inkindo.
Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 7 November 19956 dari seorang ayah
penganut agama Kristen Protestan yang taat asal kota Yogyakarta, dan dari
seorang ibu Muslim asal Nganjuk, Jawa Timur. Kristiya Kartika yang memilih
ikut ibu menjadi Muslim sejak kecil hidup dalam lingkungan yang beragam.
Menjalani masa pendidikan Sekolah Dasar di sebuah sekolah
Katolik yang banyak dihuni kaum Chinese Katolik. Karenanya kehidupan dia
dari pagi hingga siang hari berada di lingkungan sekolah Katolik itu.
Namun tatkala siang hari dia sudah langsung akrab bergaul sesama Muslim
bahkan seringkali tertidur di mesjid Muhammadiyah yang berada persis di
depan rumahnya. Sore hingga malam lain lagi, dia ada di sekitar pondok
pesantren milik NU yang terletak di belakang rumahnya.
Dia hidup sungguh-sungguh di lingkungan yang sangat plural dan toleran
akan perbedaan. Ayahnya yang birokrat, tokoh masyarakat, dan ketua partai
PSI ketika meninggal dunia di tahun 1960-an oleh masyarakat sekitar
diminta untuk tidak dimakamkan di pemakaman Kristen. Melainkan, “harus” di
lingkungan pemakaman muslim agar dekat dengan komunitas masyarakat
setempat. Jadilah, hingga kini di gundukan tanah makam ayahnya itu tetap
berdiri teguh sebuah palang salib perlambang hubungan manusia dengan
sesama manusia secara horisontal, dan hubungan manusia dengan Tuhan secara
vertikal yang telah diperdamaikan lewat kematian Yesus Kristus.
Kristiya Kartika semenjak kecil sudah terbiasa membaca buku-buku politik
koleksi ayahnya yang seorang birokrat, anggota DPRD, sekaligus ketua
partai PSI (Partai Sosialis Indonesia). Antara lain buku-buku karangan Tan
Malaka, Karl Marx, Trotsky, dan lain-lain. Bung Karno dan Fidel Castro
sudah menjadi tokoh idola politiknya sejak kecil. Dia paham betul akan
sisi-sisi kehidupan seorang Bung Karno, demikian pula tentang Fidel
Castro.
Di masa-masa pengenalan pertamanya akan dunia politik melalui buku itulah
sedang berlangsung proses pembusukan terhadap nama besar Bung Karno yang
dipojokkan oleh lawan-lawan politiknya di tahun 1960-an. Demikian pula
terhadap partai PNI. Berbagai tulisan di buku-buku yang mencemoohkan Bung
Karno bermunculan. Namun anehnya justru dari situlah timbul sikap baru
dalam diri Kristiya sekaligus niatan untuk suatu ketika harus masuk ke
Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk membela sekaligus melaksanakan
ajaran-ajaran Bung Karno tentang paham kebangsaan. Paham yang telah
merasuk dalam diri seorang Kristiya muda. Kristiya Kartika muda tidak
menyadari, berdasarkan sikap berbeda dalam dirinya yang menentang arus
besar ketika itu secara alamiah mulai timbul tersemai bibit-bibit untuk
selalu gemar memberikan antitesa baru terhadap semua sintesa yang sudah
mapan. Juga tersemai keinginan mencoba berbagai hal sebagai exercise yang
menantang, tidak betah hidup dan diam berlama-lama dalam sebuah komunitas
jika tidak mempunyai peran yang signifikan dalam komunitas itu.
Karenanya, ketika memasuki sekolah Kristiya segera masuk dalam lingkungan
organisasi Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), yang merupakan
organisasi siswa underbouw PNI. Kristiya menyelesaikan pendidikan SMP dan
SMA milik pemerintah keduanya di Probolinggo, Jawa Timur. Meningkat masa
kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), berlokasi di Jember,
Jawa Timur, dia juga menyegerakan diri terjun sebagai aktivis Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), juga di bawah PNI.
Berbekal pengetahuan dan sikap politik nasionalisme sesuai ajaran Bung
Karno yang sudah mendarah daging padanya, pada usia relatif sangat muda 22
tahun di tahun 1978 Kristiya Kartika sudah langsung masuk dalam jajaran
elit nasional sebagai anggota Presidium GMNI berkedudukan di Jakarta.
Setelah pernah lama menjadi Anggota dan Sekjen Presidium, Kristiya Kartika
akhirnya terpilih menjadi Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GMNI) sebanyak dua kali berturut-turut terpilih secara
demokratis melalui kongres nasional. Yaitu, pada periode 1986-1989 dan
1989-1992, sebuah prestasi yang hanya dia pernah mencatatnya di lingkungan
GMNI.
GMNI yang memiliki jargon “Pemikir-Pejuang, Pejuang-Pemikir” biasa dihiasi
aneka dialektika dan exercise politik internal yang intens dan sengit.
Karenanya, kepercayaan kongres nasional memilih Kristiya Kartika dua kali
berturut-turut menjadi ketua presidium adalah sebuah prestasi fenomenal
yang belum ada tandingannya. Dia tidak pernah goyah walau digoyang aksi
demonstrasi sekalipun, sebab posisi politisnya di lingkungan intern kuat
berkat kebiasaannya aktif terjun dan turun ke cabang-cabang. GMNI sejak
awal didesain khusus sebagai wadah pembentukan kader-kader terbaik bangsa
di bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya sesuai ajaran dan
cita-cita kebangsaan dari Bapak Pendiri Bangsa Bung Karno.
GMNI adalah organisasi mahasiswa ekstra universiter beraliran nasionalisme
yang didirikan pertamakali oleh Ir Soekarno dan kawan-kawan, sebagai
underbouw dari Partai Nasionalisme Indonesia (PNI). PNI menjelang dan di
masa awal kemerdekaan terkenal sebagai salah satu batu penjuru partai
politik rakyat untuk menuju kemerdekaan Indonesia yang hakiki yakni
Indonesia yang berdikari. PNI yang didirikan 4 Juli 1927, itu butuh waktu
18 tahun untuk memperoleh kemerdekaan dimaksud yakni pada tanggal 17
Agustus 1945.
Simbol nasionalisme baru
Sikap rejim Orde Baru yang tidak memberi ruang dan waktu yang bebas kepada
kaum nasionalis untuk lebih jauh berkiprah di bidang politik, tidak
Kristiya hiraukan. Proses de-Sukarnoisasi yang sedang gencar terjadi
dengan dukungan kuat militer dia hadapi dengan bersikap tiarap politik
praktis. Dia terima itu sebagai sebuah unfurding revolusioner, sebuah
kenyataan yang sangat tidak disukai namun harus diterima dahulu untuk
sementara waktu hingga tiba waktunya kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Masa-masa sebagai aktivis gerakan mahasiswa lebih kondusif baginya
mengasah dan menyemai kemampuan seni berpolitik. Bergerak di lingkungan
kemahasiswaan minimal mengurangi kecurigaan orang akan sikap pilitik
seorang Kristiya.
Tak kurang pernah 15 tahun Kristiya berkiprah sebagai presidium GMNI
membuat nama dia sangat identik dengan GMNI. Demikian pula, sejarah
panjang perjalanan GMNI kontemporer tak pernah lepas selalu melekat dengan
nama Kristiya. Sebuah kelebihan dan kekurangan. Kekurangan sebab menjadi
tidak bebas berpolitik karena “warna” politiknya mudah dikenali lawan
maupun kawan politik, terutama oleh rejim yang tak menginginkan bangkitnya
ajaran Bung Karno. Namun kelebihan sebab menjadi simbol dan rujukan baru
sebagai penerus ajaran Bung Karno, terutama setelah rejim Orde Baru
tumbang dan kelompok nasionalis mendapatkan angin baru dalam pentas
politik nasional. Termasuk oleh Presiden Megawati Soekarnoputri yang putri
sulung Bung Karno, meminta bantuan Kristiya agar bersedia duduk dalam Tim
Mega Center sebagai anggota kelompok pemikir untuk memberikan
masukan-masukan berharga dalam merumuskan setiap kebijakan publik.
Ternyata bukan hanya memberi masukan. Kristiya berhasil mengubahkan
Megawati menjadi sosok populis yang semakin dekat dengan rakyat. Karenanya
Pemerintahan Megawati harus selalu membela kepentingan rakyat. Masukan
dari Kristiya selalu berkenan di hati Megawati sebab referensinya adalah
ajaran ayahnya sendiri, marhaenisme.
Sebagai orang yang pernah menjadi figur sentral di lingkungan GMNI
Kristiya adalah simbol warna nasionalisme baru sebagai aliran politik yang
tetap dikreasi sedemikian rupa sehingga modern dan tampak elok. Kristiya
menjadi simbol perjuangan mewujudkan ekspektasi politik para kader GMNI.
Untuk menampung dan menempatkan akselerasi politik kader yang semakin
memuncak Kristiya membangun jalur baru “GMNI Connection”. Jalur itu
menjadi sangat relevan tatkala perebutan kekuasaan pemilu kepresidenan
2004 berlangsung secara langsung presiden dipilih oleh rakyat.
Relevansi lain adalah kemunculan dua kandidat calon presiden dan calon
wakil presiden 2004-2009 merupakan alumni GMNI, yakni Siswono Yudo Husodo
yang ketika kuliah di ITB Bandung tercatat sebagai anggota GMNI tingkat
Komisariat ITB Bandung. Satu lagi adalah Megawati Soekarnoputri, Ketua
Umum DPP PDI Perjuangan yang sedang menjabat sebagai Presiden R.I.
Megawati, adalah anggota GMNI ketika kuliah di Universitas Pajajaran
antara tahun 1965-1967. Warna GMNI tampak dominan dan menonjol di antara
beberapa calon presiden dan wakil presiden 2004-2009.
Sebagai misal Mas Sis, demikian Siswono Yudo Husodo biasa dipanggil di
lingkungan internal GMNI, ketika hendak dipinang oleh Amien Rais sebagai
pasangan calon wakil presiden dari Partai Amanat Nasional (PAN) sempat
dipertanyakan bahkan ditentang oleh lingkungan internal PAN karena dia
adalah seorang anggota GMNI. Resistensi Siswono hanyalah karena dia GMNI.
Adalah turunnya perolehan suara PDI-P pada pemilu legislatif 5 April 2004
yang “memaksa” Kristiya Kartika mau “turun gunung” membantu Megawati
membangun “GMNI Connection”, sekaligus bersentuhan kembali dengan politik
praktis guna memberikan dukungan politik baru kepada Megawati. Penurunan
yang sesungguhnya sudah dia prediksi sebelumnya bakal terjadi. Padahal,
pasca Pemilu 1999 lalu Kristiya telah mengambil sikap untuk surut kembali
menjalani masa tiarap politik. Langkah mundur ditempuh bukan hanya karena
bendera yang diusungnya Partai MKGR gagal melewati batas electoral
threshold. Melainkan, misi besarnya “menggagalkan” kemenangan Partai
Golkar telah tercapai.
Sebagaimana biasa terjadi, sebagai mesin politik di era Orde Baru Golkar
selalu memenangkan Pemilu bahkan sebelum Pemilu itu sendiri dilangsungkan.
Kristiya, bermodalkan kendaraan Partai MKGR pimpinan Mien Sugandhi
bersama-sama kawan-kawan, mempunyai komitmmen kuat bahwa keterlibatannya
dalam politik praktis hanya untuk mengganjal kemenangan Partai Golkar
dengan cara apa saja. Termasuk, mengundang mantan Mendagri Rudini mau
terlibat sebagai penasehat Partai MKGR. Rudini yang juga mantan KSAD
pendiri dan pemimpin Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI), itu
mereka usung sebagai wakil Partai MKGR duduk di Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Dan setelahnya, Kristiya bersama kawan-kawan berjuang agar kehadiran figur
Rudini dapat diterima sebagai Ketua KPU dan terbukti berhasil. Posisi
Rudini sebagai Ketua tentu akan semakin memudahkan langkah penghadangan
Partai Golkar dan itu terbukti berhasil.
Walau birokrasi hingga ke akar-akarnya masih didominasi Partai Golkar
namun kekalahannya begitu telak pada Pemilu 1999, hanya memperoleh 20
persen suara jauh di bawah PDI Perjuangan yang meraih 35 persen suara
pemilih. Sebagai langkah execise dan antitesa politik praktis semata, usai
menggagalkan kemenangan Golkar Kristiya segera meninggalkan partai
kemudian surut dan tiarap dari politik praktis untuk kembali menggeluti
profesi lama sebagai konsultan jasa konstruksi. Termasuk memimpin beberapa
perusahaan miliknya. Masa tiarap itu berlangsung lama hingga dia
dibangunkan kembali untuk membantu Mega yang mengalami keterpurukan suara
di Pemilu 5 April 2004. Kristiya kali ini tak bisa menolak permintaan Mega
sebab dia pernah terbantu berkat kesediaan Mega menerima permohonan
audiensi jajaran pengurus baru Inkindo (Ikatan Nasional Konsultan
Indonesia), yang pada pelaksanaan kongres tahun 2002 berhasil memilih
Kristiya Kartika sebagai Ketua Umum Inkindo periode tahun 2002-2006.
Adalah tradisi baik pimpinan nasional setiap organisasi profesi maupun
organisasi massa tingkat nasional usai terpilih segera berkenalan dan
bersilaturahmi dengan Presiden selaku Kepala Negara dan Pemerintahan untuk
menjabarkan program-program organisasi sesuai amanat kongres. Termasuk
Inkindo. Antara Megawati dan Kristiya Kartika sebelumnya sudah saling
kenal dan sama-sama mafhum sebagai sesama anggota GMNI. Namun karena lama
tak pernah melakukan silaturahmi komunikasi personal tak berjalan ada
sedikit kekhawatiran pada diri Kristiya jangan-jangan Mega sudah lupa dan
tak bersedia menerima. Jika itu terjadi pada era Orde Baru Kristiya bisa
memaklumi mengingat posisi politik keduanya yang saling berseberangan.
Karena kali ini presidennya adalah Megawati dan sesama alumni GMNI jika
ternyata dia menolak permohonan audiensi pasti akan ada rasa malu hati.
Karenanya Kristiya segera bermanuver mencari jalur cepat agar dapat
kepastian bisa diterima. Mega akhirnya bersedia menerima namun dengan satu
konsekuensi, bahwa Kristiya juga harus mau kelak membantu Megawati. Dan
komitmen itulah yang dipenuhi oleh Kristiya sehingga mau bergabung dalam
Tim Mega Center.
Uniknya, walau diminta membantu Kristiya tetap memposisikan diri sebagai
seorang independen dan non partisan. Kesediaan dia membantu Mega
dipersyaratkannya sebagai non partisan. Kristiya Kartika adalah think tank
pemenangan Megawati pada Pemilu Presiden 2004 yang tidak bertanggungjawab
kepada partai, melainkan langsung kepada Megawati Soekarnoputri. Markas
merekapun dipilih di Jalan Teuku Umar Nomor 27-A, Menteng, Jakarta Pusat
tempat kediaman resmi Megawati.
Kristiya bergabung dalam kelompok Tim Mega Center yang beranggotakan para
pemikir dan ilmuwan maupun praktisi politik, ekonomi, sosial, media, dan
budaya. Seperti, pengamat politik internasional dan militer Kusnanto
Anggoro yang sehari-hari peneliti senior di CSIS, yang terkenal tajam dan
selalu tepat menganalisa persoalan aktual. Kusnanto dikenal sudah lama
aktif membantu Megawati termasuk menyusun pidato politik di berbagai
kesempatan, seperti pada Kongres PDI Perjuangan di Bali tahu 1998 yang
mencengangkan.
Demikian pula, ikut bergabung pakar ekonomi Sri Adiningsih, Sri Mulyani
Indrawati yang kini menjabat Direktur Eksekutif IMF bermarkas di
Washington DC, Amerika Serikat, pakar politik Riswanda Imawan, pakar
sosiologi Cornelis Lay, praktisi media massa August Parengkuan, peneliti
LIPI Hari Sulistyo, pakar hukum pidana Prof JE Sahetapy, dan lain-lain.
Kehadiran Sri Mulyani dalam tim ekonomi, utamanya dimaksudkan untuk
memberikan penjelasan kepada rakyat tentang berbagai indikator
keberhasilan ekonomi makro Indonesia dalam pandangan kacamata dan opini
yang berkembang di kalangan internasional seperti IMF dan negara Amerika
Serikat.
Kristiya Kartika menempa diri menjadi kader politik bangsa terbaik bukan
hanya di jalur GMNI. Selain di GMNI, Kristiya aktif di forum-forum
kepemudaan dan mahasiswa di tingkat regional Asean, Asia dan dunia, dan di
organisasi terbatas lainnya di tanah air termasuk Kelompok Cipayung, KNPI,
dan lain-lain. Kahadiran Kristiya di semua organisasi itu adalah atas nama
dan mewakili GMNI. Maklum, GMNI adalah satu-satunya ormas mahasiswa ekstra
universiter yang menjadi simbol korban pemasungan politik rejim Orde Baru
sehingga memberinya ruang dan waktu yang sangat terbatas. Dalam setiap
kegiatannya, dahulu misalnya, GMNI tak pernah luput dari kecurigaan aparat
keamanan. Termasuk personel kader-kader secara pribadi bukan tidak jarang
diinterogasi dan dicuci otaknya di lingkungan Kodam, Korem, dan Kodim
hingga Koramil untuk setiap aktivitas politik yang dijalankan. Apakah itu
terkait atau tidak terkait dengan GMNI, atau berupa pembelaan terhadap
kepentingan rakyat kecil yang tertindas, atau yang lainnya.
Seringkali kegiatan organisasi GMNI harus terhalang karena ijin yang tak
keluar-keluar dari aparat keamanan. Berbeda dengan ormas mahasiswa lain
yang sangat dekat dengan elit penguasa pemerintah, seperti HMI, PMII,
PMKRI, dan GMKI, apalagi ormas pemuda lain yang nota bene dibina bahkan
dibentuk oleh rejim Orde Baru sebagai “pemadam” jika terjadi “kebakaran”
dari kalangan ormas mahasiswa dan pemuda. Selain dicurigai juga
“diinjak-injak” hak politik para kader GMNI. Dalam ruang dan waktu
pengkaderan yang sesempit itulah GMNI bisa tetap eksis dengan Kristiya
sebagai lokomotif organisasi walau dengan sumberdaya yang sangat terbatas.
Bersama Kelompok Cipayung kumpulan berisi lima ormas mahasiswa GMNI, GMKI,
PMKRI, PMII, dan HMI, tiap tahun Kristiya menyampaikan analisa kritis
terhadap setahun perjalanan bangsa. Pada setiap pernyataan politik yang
selalu disampaikan di akhir tahun Kristiya tak pernah lupa menyatakan
bahwa generasi muda tidak bertanggungjawab atas hutang-hutang luar negeri
yang diselewengkan. Begawan ekonom ketika itu Prof Soemitro
Djojohadikusumo menyebutkan tingkat korupsi di Indonesia mencapai 30
persen setiap tahun dari APBN yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Bentuk TOPP
Di jaman Orde Baru kader GMNI seakan tidak boleh naik menjadi pemimpin di
tingkat nasional. Tanpa restu dan persetujuan petinggi militer adalah
sulit memimpin organisasi apapun di tingkat nasional sekalipun kaliber
seorang kader sudah diakui dan teruji. Pada kongres pemuda tahun 1990,
misalnya, sekelompok pihak pemuda pernah mendorong Kristiya untuk maju
sebagai kandidat ketua umum baru KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia).
KNPI waktu itu adalah salah satu “lumbung” terbesar dan dominan sebagai
sumber rekrutmen pimpinan politik nasional. Sadar akan kondisi riil dan
jebakan-jebakan politik yang disebar Kristiya mengiyakan dan maju dengan
catatan dalam hati, ‘hanya untuk menjalankan sebuah proses exercise
politik kelas tinggi’.
Ketika kekuatan calon ketua sudah mengkristal pada sekelompok kecil nama
dan Kristiya masuk sebagai terbesar ketiga, maka, untuk mengecoh rencana
besar aparat militer Krisitiya secara tiba-tiba menyatakan diri mundur
dari pencalonan dan lalu melimpahkan suara pendukungnya kepada calon nomor
dua yang notabene tidak direstui aparat. Maka, jadilah Tjahjo Kumolo yang
tidak direstui itu terpilih sebagai ketua umum, dan, kini dia berkiprah di
PDI-P setelah sebelumnya melompat dari Golkar. Usai mengelabui rencana
militer Kristiya segera menyatakan diri meninggalkan organisasi KNPI walau
namanya tetap dicatut resmi sebagai salah seorang ketua.
Seakan bermaksud menentang arus sekaligus secara halus menyatakan sikap
berhadapan langsung dengan kekuasaan, pada 9 April 1996 Kristiya Kartika
bersama sembilan orang kawannya dari berbagai unsur membentuk Tim Objektif
Pemantau Pemilu (TOPP). Selain Kristiya, mereka adalah Ruhut Sitompul (Ketua
Pemuda Pancasila), Suryo Susilo (Sekjen Himpunan Pengusaha Muda
Indonesia), Doni Antares Irawan (dosen Universitas Krisnadwipayana),
Petrus Bala Pattyona (pengacara), Usmar Aprianto (Pengurus FKPPI), Sophar
M Hutagalung (pengurus F-KPPI), Jeffry Dompas (pengusaha), dan M Umar
Wiranata (paranormal muda dari Banten). TOPP terkesan sebagai antitesa
langsung terhadap kehadiran Komite Independen Pematau Pemilu (KIPP) yang
diprakarsai salah satunya oleh Mulyana W. Kusumah. TOPP juga bentuk
perlawanan terhadap Panitia Pengawas Pelaksanaan Pemilu (Panwaslu)
bentukan pemerintah.
Namun lebih dari itu pendirian TOPP dianggap banyak pengamat dan praktisi
politik sebagai langkah berani berbentuk perlawanan lain. Sebab, tak jauh
hitungan hari sebelumnya Pak Harto menyatakan diri sebagai seorang yang
sudah tua, ompong, pikun, dan peot yang jika diakronimkan adalah sama TOPP.
Retorika Pak Harto menyatakan diri TOPP untuk menjawab keinginan banyak
pihak terutama Harmoko yang tetap mencalonkannya kembali sebagai presiden
pada Pemilu 1997 pada usia yang sudah mendekati 80 tahun. Dan benar Pak
Harto sungguh-sungguh sudah TOPP sebab kekuasaan dia hanya bisa bertahan
beberapa bulan. Sebab usai terpilih dan dilantik kembali sebagai presiden
pada11 Maret 1998, persis pada 21 Mei 1998 dia terpaksa harus menyerahkan
kekuasaan kepada Wakil Presiden BJ Habibie atas desakan mahasiswa yang
mengusung isu reformasi.
Ketika proses reformasi berlangsung Kristiya tidak berhenti melakukan
exercise politik baru. Organisasi massa MKGR (Musyawarah Kekeluargaan
Gotong Royong), berdiri tahun 1960, salah satu kelompok induk nasional
organisasi (KINO) yang ikut membidani pendirian Golkar di tahun 1964,
berada pada posisi melihat Golkar sudah jauh melenceng dari cita-cita
pendirian Golkar. Kristiya menyatakan diri masuk ke MKGR namun berkata
tidak untuk Golkarnya. Bersama teman-temannya Kristiya menjadikan MKGR
sebagai kendaraan politik baru untuk sementara waktu. Begitu sistem multi
partai diberlakukan MKGR melepaskan diri dari Golkar, berjuang sendiri
bersama-sama dengan rakyat dan berganti baju menjadi Partai MKGR, yang
dideklarasikan 27 Mei 1998 dan menempatkan Kristiya sebagai Sekjen dan
Ketua Umum Ny. Hj. Mien Sugandhi.
Target mereka sederhana, mengupayakan agar partai yang selama 32 tahun
Orde Baru selalu menang pemilu tidak lagi bisa menang. Kristiya juga
berupaya menarik Rudini, mantan Menteri Dalam Negeri dan Ketua Lembaga
Pengkajian Strategis Indonseia (LPSI), untuk mau bergabung dan masuk
sebagai penasehat Partai MKGR. Nama Rudini juga diusung mewakili Partai
MKGR untuk duduk di Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara
Pemilu 1999. Berbagai manuver politik Kristiya jalankan agar Rudini bukan
hanya mewakili namun tampil memimpin KPU sehingga niatan mengalahkan
Partai Golkar bisa terlaksana dengan mudah.
Ketika reformasi bergulir tertiup kencang isu loss generation atau
pemotongan satu generasi kepemimpinan nasional. Sumbernya, siapa lagi
kalau bukan kalangan muda mahasiswa yang menganggap semua elit politik
yang ada sudah terkontaminasi sistem dan bangunan politik Orde Baru.
Kontaminasi semua elit termasuk yang mengusung isu reformasi tak
terkecuali tak bisa lagi dimurnikan, kecuali menyerahkan tongkat estafet
kepemimpinan kepada generasi baru usia dibawah 40 tahun. Sayang isu ini
tak bisa ditangkap para mantan pemimpin mahasiswa yang sedang berusia
sekitar 40 tahun termasuk oleh Kristiya Kartika dan kawan-kawan dahulu.
Pimpinan nasional kembali jatuh ke tangan elit berusia sekitar 60 tahun
atau satu generasi di atas Kristiya. Ketidakmampuan menangkap isu loss
generation, salah satu sebabnya menurut Kristiya adalah masa 32 tahun Orde
Baru adalah masa-masa yang abnormal dalam hal pengkaderan politik. Dia,
bersama kawan-kawan merasakan sudah kehabisan energi bergerilnya di bawah
tanah menyiasati pengekangan rejim politik yang otoritarian sehingga pas
di ujung perjuangan berhembus angin segar reformasi mereka sudah kehabisan
nafas praktis tersengal-sengal. Terbukti, beberapa kawannya yang dahulu
terhimpun dalam konfederasi organisasi pemuda KNPI, misalnya angkatan
kepemimpinan Tjahjo Kumolo di KNPI periode 1990-1993, hingga sekarang
masih berada di lapisan yang kesekian elit politik nasional tanpa
seorangpun yang mampu menunjukkan keberhasilan sebagai pemimpin. Sebab
selama 32 tahun Orde Baru pemuda dan mahasiswa tidak pernah diberi peluang
mengembangkan prakarsa dan kreativitas di bidang politik sebagai anak
bangsa kecuali selalu dimobilisasi untuk kepentingan penguasa.
Daftar panjang pengurus DPP KNPI 1990-1993 yang dipimpin Tjahjo Kumolo,
sebagai contoh kasus, membuktikan betapa pemuda dan mahasiswa dijadikan
pajangan etalase politik semata. Tjahjo, ketika itu dibantu ketua-ketua
Harris Ali Moerfi, MU. Fathomy Asaari, Asep Ruchimat Soedjana, Herman
Widyananda, Suryo Susilo, Ariady Achmad, Kristiya Kartika, Patmono, SK,
STh, AH Mujib Rohmat, Tubagus Haryono, Patrialis Akbar, Francisco Kalbuadi,
Edwin Henawan Sukowati, Gaudens Wodar, Candri Maharani Puspitasari K,
Yorris Th. Raweyai, Indra ZA Pagaralam, Manahan AR Nasution, Darul Siska,
Ruhut PHP Sitompul, Dicky M. Mailoa, M. Yamin Tawary, Muzayyin Mahbub,
Syamsul Bachri, H. Rusfian, M. Muchsin Said, H. Kaharuddin Syah, Djoko
Purwongemboro, Dwie Riaweny S. Nasution, Hj. Effy Rusfian.
Sekretaris Jenderal yang dijabat Bambang Sumedi dibantu oleh para wakil
sekjen yakni M. Ali Lubis, Nelson Eddy, Dra. Tri Iriastuti, Ramli HM Yusuf,
SH, Hamid N. Karana, Toto Mulyanto, Agus Purnomo, Henry M. Rajagukguk.
Bendahara yang dijabat Alip Wigoena dibantu para wakil Hendri Dwiwantara,
Hj. Anna Sentot, Krisno Abianto Soekarno, dan Erwin Ardiyanto. Beberapa
nama lain tercatat sebagai pengurus pusat, yakni M. Nur Latuconsina, Togar
Manahan Nero, Karsani Akbar, Hamka Yandhu YR, Abdul Kholik, Abdi Sahido,
Parulian Sitorus, Akhmad Muqowam, H. Syariefuddin Soeltan, Takala GM
Hutasoit, Didi Supriadi, Faisal Saleh, Iskandar Sembiring, Marhani Usman,
Lesmana Sari RH, Renny Hazrayani, Yetni Murni, Bambang H. Samuel, Nurwendo
Haricahyadi, Jajang Wijaya, Alex Tjandra, Syaiful Ichsan, Marzuki Daud,
Ronny Rivani, Raden Yusuf, Ady Miftah, I.G. Wardhana, dan Aslim Munik. ►ht
==> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|