| |
C © updated 25052005-12032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Kristiono
Lahir:
Solo, 12 Februari 1954
Status Perkawinan:
Menikah dengan 3 (tiga) orang anak
Hobby:
Membaca - Olahraga ( Sepak Bola, Bulu Tangkis, dan Golf )
Pengalaman Kerja:
1. Direktur Utama, PT Telkom 10 Maret 2004– 24 Juni 2005
2. Direktur Perencanaan dan Teknologi, PT Telkom April 2000 – Juni 2002
3. Kepala Divisi Regional V Jawa Timur , PT Telkom 1995 – April 2000
4. Kepala Proyek Telekomuniksi IV, PT Telkom 1993 – 1994
5. Kepala Subdit Bina Program Perlengkapan, PERUMTEL 1990 – 1992
6. Wakil Kepala Wilayah Usaha Tekomunikasai VIII Denpasar, PERUMTEL 1989
7. Kepala Urusan Teknik Sentral Telepon, PERUMTEL 1982 - 1988
Pendidikan:
Sarjana Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November (ITS),
Surabaya lulus tahun 1978
Pelatihan:
1. Electronic Data Processing Concepts, NCR Corporation, tahun 1979
2. Telephone Switching Engineering, Kokusai Dheshin Denwa Co, LTD, tahun
1982
3. Project Planner, SIEMENS, tahun 1983
4. Pemeriksaan Operational, PPA STAN, tahun 1985
5. Cellular Radio, ITU, tahun 1988
6. Kursus Staf dan Pimpinan III, PT Telkom, tahun 1990
7. Kursus Staf dan Pimpinan Gabungan BUMN, Lemhannas, tahun 1992
8. Kursus Manajemen TOP 50, tahun 1996
9. Kursus Reguler, Lemhannas KRA XXXII, tahun 1999
Penghargaan dan Tanda Jasa:
1. Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI, 13 September 1999
2. Best CEO in Indonesia for the 2003 in Investor Relation Category dari
IIRG (institutional Investor Relation Group) di New York & Kantor Berita
Reuters, Agustus 2003
3. Penghargaan masa Bakti 20 tahun, dari PT Telkom, pada 1 September 1998
4. Penghargaan Masa bakti 15 Tahun, dari PT Telkom, pada 1 September 1993
Alamat Kantor:
1. Gedung Kantor Perusahan TELKOM Jl. Japati No. 1 Bandung Telepon
: 022 – 4527101, Fax. :021 – 5203322
2. Gedung Graha Citra Caraka TELKOM Jl. Gatot Subroto No. 52 Jakarta
Telepon : 021 5209821, Fax. : 021 – 5203322
Alamat Rumah:
Jl. Wastukencana No. 45, Bandung Telepon : 022 – 4210404
|
|
| |
|
|
|
|
Kristiono
Dia Murni Biru Telkom
Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (2002-2005) ini meniti
karir dari Telkom ke Telkom. Dia Murni Biru Telkom! Pertama kali menjabat
Dirut pada Juni 2002, Kemudian dalam RUPS-LB 10 Maret 2004 sempat diisukan
akan diganti namun dikukuhkan kembali, karena kinerjanya baik. Lalu
dalam RUPS 24 Juni 2005, dijagokan akan tetap menduduki jabatan itu,
namun secara mengejutkan dia digantikan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid.
Pada 2004, sempat diisukan akan diganti akibat masalah laporan
keuangan tahun 2002 yang ditolak oleh Badan Pengawas Pasar Modal Amerika
Serikat (US SEC), serta adanya gejala ketidakkompakan di lingkungan sesama
direksi. Namun RUPS-LB PT Telkom di Jakarta, 10 Maret 2004 menetapkan
kembali lulusan ITS Surabaya (1978) kelahiran Solo 12 Februari 1954 ini
sebagai direktur utama.
Padahal sebelumnya santer terdengar nama orang nomor satu di PT Indosat
Tbk Widya Purnama akan diplot ke Telkom. Isu lain berbunyi Menneg BUMN
Laksamana Sukardi yang juga Bendahara DPP PDI Perjuangan sebagai wakil
pemerintah yang pemegang saham terbesar telah mengantongi lima nama
kandidat baru tanpa menyelipkan nama Kristiono. Kesimpulam kelima nama
Laksamana peroleh setelah mengadakan uji kepatutan dan kelayakan (fit and
propher test) terhadap 30 nama calon baik yang berasal dari dalam maupun
luar Telkom. Kelima nama itu adalah Adeng Achmad, Bambang Riadi Umar,
Sudiro Usno, Bajoe Narbito, dan Woeryanto Soeradji.
Nama Kristiono Ketua Ikatan Keluarga Alumni Institut Teknologi Sepuluh
November (IKA-ITS) Surabaya periode tahun 2004-2007 hanya selintas saja
terdengar masih memperoleh kepercayaan dari pemegang saham. Suara kecil
sayup-sayup ini pun dianggap berbagai kalangan sebagai formalitas dan
penghargaan belaka saja terhadap dirinya sebagai orang lama yang bakal “digusur”.
Pasalnya pergantian direksi dan komisaris PT Telkom secara prematur
diintroduksi adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban bersama atas masalah
laporan keuangan tahun buku 2002 yang ditolak oleh Badan Pengawas Pasar
Modal Amerika Serikat (US SEC), serta adanya gejala ketidakkompakan di
lingkungan sesama direksi.
Nama Suryatin Setiawan juga tetap dipercaya sebagai direksi hanya saja
mengalami rotasi menjadi Direktur Bisnis Jasa menempati posisi yang
sebelumnya diisi Garuda Sugardo. Anggota direksi baru adalah Abdul haris
sebagai Direktur Bisnis Jaringan menempati posisi yang ditinggalkan
Suryatin Setiawan, Rinaldi Firmansyah Direktur Keuangan mengantikan Guntur
Siregar, serta Woeryanto Soeradji Direktur SDM dan Bisnis Pendukung
menggantikan Agus Utoyo. Di jajaran komisaris “si Manajer Satu Miliar”
Tanri Abeng dipilih menjadi Komisaris Utama menggantikan Bacelius Ruru.
Anggota komisaris lain adalah P Sartono, Arif Arryman, Anggito Abimanyu,
dan Gatot Trihargo.
Masa jabatan direksi baru berlaku sejak 10 Maret 2004 hingga RUPST tahun
2005 sedangkan komisaris berlaku hingga tiga tahun sampai RUPST ketiga
mendatang. Padahal masa jabatan komisaris lama yang baru diganti
sesungguhnya masih berlaku hingga pelaksanaan RUPST 2004 yang direncanakan
Mei 2004, dan direksi lama seharusnya baru akan berakhir pada RUPST tahun
2005. Walau demikian masyarakat sudah banyak mafhum bahwa di lingkungan PT
Telkom pergantian direksi selalu dilakukan sebelum masa bakti berakhir
lima tahun.
Berkarir dari bawah
Ayah tiga orang anak alumni ITS Surabaya jurusan Teknik Elektro tahun 1978
ini pertamakali memasuki Telkom persis begitu lulus kuliah sebagai
maintenance engineer. Kemudian selama enam tahun dia dipercaya sebagai
kepala urusan teknik sentral telepon antara tahun 1982-1988. Dari situ dia
dikirim selama dua tahun ke Denpasar sebagai Deputi Kawitel VII Denpasar
antara tahun 1989-1990. Kemudian dia diangkat selama tiga tahun menjadi
kepala subdit bina program perlengkapan, setelah itu sebagai Kepala Proyek
Telkom IV antara tahun 1992-1994.
Dia kemudian “dikembalikan” ke Surabaya untuk memangku jabatan Kepala
Divisi Regionel V Jawa Timur selama enam tahun, antara tahun 1995-2000.
Dari Surabaya itulah dia langsung dipromosikan ke jajaran direksi sebagai
direktur perencanaan dan teknologi antara tahun 2000 hingga Juni 2002 di
bawah kepemimpinan Mohammad Nazif. Bulan Juni 2002 adalah masa terpenting
bagi dia saat terpilih sebagai direktur utama menggantikan bosnya sendiri,
Mohamad Nazif.
Kristiono peminat hobi membaca dan olahraga khususnya sepakbola, bulu
tangkis dan golf itu adalah Ketua IKA-ITS dengan mengalahkan dua nama
besar Ir Muchayat seorang pengusaha dan mantan ketua KADIN Jatim alumni
teknik kimia, serta Ir Sutjipto Sekjen DPP PDI Perjuangan yang alumni
teknik sipil. Kedua saingan itu pada akhirnya memang mengundurkan diri
secara elegan dengan alasan masing-masing sehingga ketiganya tidak sempat
berbenturan kepentingan. Sutjipto misalnya, beralasan mempunyai kesibukan
sebagai pengurus partai.
Kesediaan Kritiono mengikuti bursa pemilihan IKA-ITS di awal Januari 2004
itu sesungguhnya cukup mengagetkan banyak kalangan. Sebab sebelumnya tidak
banyak alumni yang peduli atau ingin merebut kursi itu sebelum mendengar
nama besar Kristiono Dirut Telkom ikut meramaikan bursa kandidat. Para
alumni tiba-tiba merasa peduli tentang calon ketua sambil mulai
menduga-duga sekaligus memunculkan beragam kecurigaan, misalnya
keikutsertaan Kristiono dikaitkan dengan pelaksanaan Pemilu 2004. Isu yang
lebih ramai terdengar adalah terdapat garansi dari sebuah kekuatan politik
besar siapapun ketua IKA-ITS terpilih akan berpeluang besar duduk di kursi
kabinet hasil Pemilu 2004.
Kristiono sendiri usai terpilih secara terbuka mengaku di hadapan wartawan
bahwa dia diisukan membawa kepentingan politik. “Maklum, saat ini banyak
ketua IKA PTN-PTN besar yang berada di bawah Pak Laks," ujar dia merujuk
nama Laksamana Sukardi pemegang kuasa pemerintah di semua BUMN.
Dalam pandangan sesama alumni lain Cahyana Ahmadjayadi yang mantan
direktur utama PT Pos Indonesia dan kini menjabat Deputi Menkominfo,
menyebutkan, niat Kristiono menjadi ketua bukan karena ambisi melainkan
sebagai salah satu bentuk keterpanggilan sebagai seorang putra ITS. Semasa
kuliah, menurut Cahyana Kristiono tidak begitu aktif di organisasi
mengikuti mahasiswa seusianya yang banyak berorganisasi di luar kampus
termasuk turun ke jalan bersamaan dengan peristiwa Malari tahun 1974.
Usman, teman lain seangkatan Kristiono menyebutkan mantan Kepala Divre V
Jawa Timur itu benar-benar biru murni orang ITS padahal mahasiswa sedang
gencar-gencarnya menentang Malari.
Kristiono sendiri menyebutkan kesediaan dirinya memimpin IKA-ITS lebih
dikarenakan keprihatinan melihat eksistensi alumni ITS. Disebutkannya,
sebagai PTN terbesar berbasis teknologi di wilayah timur Indonesia peran
alumni masih jauh dari harapan bahkan belum sehebat alumni ITB, UI, maupun
UGM yang dikenal solid dan penuh percaya diri. "Alumni kita itu low
profile bahkan cenderung merasa tidak percaya diri di ruang gerak lokal
maupun regional," kritik Kristiono penerima penghargaan Satya Lencana
Pembangunan dari Presiden RI di tahun 1999.
Di lingkungan Telkom sendiri Kristiono tercatat pernah menerima
“Penghargaan Masa Bakti 15 Tahun” pada 1 September 1993, dan lima tahun
kemudian berubah menjadi “Penghargaan Masa Bakti 20 Tahun” pada 1
September 1998. Yang terbaru di tahun 2003 dia menerima penghargaan
sebagai “Best CEO in Indonesia for the 2003 in Investor Relation Category”
dari Institutional Investor Relation Group (IIRG) di New York, dan Kantor
Berita Reuters Agustus 2003.
Selain penerima penghargaan satya lencana dan masa bakti serta posisi
Ketua IKA-ITS beberapa pelatihan serta kursus-kursus yang diikuti telah
membentuk Kristiono menjadi semakin matang dan siap secara manajerial
profesional maupun secara leadership untuk memimpin sebuah perusahaan
telekomunikasi berkelas dunia yang sukses mencatatkan penjualan saham di
bursa New York Stock Exchange. Masa pelatihan kaderisasi manajerial Telkom
itu sudah dia ikuti semenjak tahun 1979 saat pertamakali mengikuti
pelatihan Electronic Data Processing Concepts di NCR Corporation, tahun
1979.
Kemudian dia mengikuti pelatihan Telephone Switching Engineering di
Kokusai Dheshin Denwa Co, LTD tahun 1982, Project Planner di Siemens tahun
1983, Pemeriksaan Operational PPA STAN tahun 1985, Cellular Radio di ITU
tahun 1988, Kursus Staf dan Pimpinan III Telkom tahun 1990, Kursus Staf
dan Pimpinan Gabungan BUMN, Lemhannas tahun 1992, Kursus Manajemen TOP 50
1996, serta Kursus Reguler Lemhannas KRA XXXII 1999.
Berbagai catatan emas itulah yang antara lain turut membuat resistensi dia
praktis tidak ada saat diangkat mengantikan Muhammad Nazif sebagai orang
tertinggi Telkom. Selain karena merupakan orang dalam dia sudah pernah
menduduki berbagai jabatan strategis di lingkungan PT Telkom. Dengan penuh
rasa percaya diri berpenampilan tenang sekaligus berwibawa di usia 48
tahun pada Juni 2002 itu dia memulai tugas dengan melakukan sejumlah
pembenahan baru di lingkungan perusahaan yang sudah mencatat jumlah
pelanggan telepon tetap sebanyak delapan juta pelanggan.
Jabatan sebagai orang tertinggi di sebuah perusahaan berkelas dunia yang
ingin mendominasi permainan bisnis jasa telekomunikasi di lingkungan
regional Asia Pasifik sesungguhnya adalah sebuah tugas yang berat bagi dia.
Terlebih jika mengingat persaingan bisnis telekomunikasi yang sudah
semakin ketat. Tetapi dengan latar belakang segudang pengalaman di dunia
telekomunikasi dia menerima amanah itu dengan tetap tenang. ”Pijakan saya
dalam menjalankan tugas hanya satu yakni melaksanakan tugas dengan
sebaik-baiknya apa pun bidangnya,” kata Kristiono.
Kehilangan kesempatan
PT Telkom awalnya mempunyai hak eksklusif sebagai penyelenggara jasa
telepon lokal hingga tahun 2010 dan monopoli sambungan langsung jarak jauh
(SLJJ) hingga tahun 2005. Namun semua hak itu harus berakhir sejak 1
Agustus 2002 hanya dua bulan setelah terpilih sebagai dirut mengikuti
arahan dan semangat kebebasan berusaha yang dikandung Undang-undang
Telekomunikasi baru. Bersamaan itu kepada Telkom mulai pula dibuka pintu
sebagai penyelenggara jasa sambungan langsung internasional (SLI) yang
sebelumnya diduopoli oleh PT Indosat Tbk dan PT Satelindo.
Kendati rasanya berimbang tapi dalam pengakuannya, ”Telkom mengalami
opportunity lost karena hak eksklusif yang semula diberikan hingga tahun
2010 untuk fixed line dan 2005 untuk jasa SLJJ diterminasi menjadi 2002
dan 2003,” terang Kristiono. Kebijakan baru UU Telekomuniasi mengarahkan
operator menjadi penyedia jasa dan jaringan secara penuh atau full network
and service provider.
Karena itu tanpa mau kehilangan akal atas penghapusan hak eklusifitas dia
justru merasa tercambuk untuk segera melakukan perubahan di lingkungan
Telkom. Dia mengajak seluruh karyawan siap menghadapi perubahan di bisnis
jasa telekomunikasi. Ke depan, sebut dia, masyarakat pada akhirnya akan
memilih perusahaan jasa telekomunikasi yang mampu memberikan pelayanan
terbaik.
Untuk antisipasi penghapusan hak monopoli dan menjelang era globalisasi
Kristiono mulai menggerakkan Telkom yang semula cenderung bergelut di jasa
fixed line saja diperluas untuk mulai mendefinisikan bisnis informasi dan
komunikasi (infokom). Dia merumuskannya sebagai PMVIS atau phone, mobile,
view, internet, and service.
”Ke depan kami ingin menjadi perusahaan Infokom berpengaruh di kawasan
Asia Tenggara, Asia, bahkan Asia Pasifik,” ujar dia sambil memulai
kampanye visi dan misi baru Telkom yang berhasil ditelurkan oleh RUPS Luar
Biasa Juni 2002 dari yang lama "To Become a Leading InfoCom Company in the
Region" menjadi baru "To Become a dominant InfoCom player in the Region".
Istilah Infokom berarti layanan telekomunikasi yang mencakup jasa-jasa
yang terkait dengan teknologi tinggi mulai dari telepon tetap, telepon
seluler, TV Kabel, komunikasi data, sampai jasa-jasa berbasis internet
protokol.
Jasa TelkomFlexi yang dibidani oleh Garuda Sugardo seorang “dewa” selular
Indonesia saat menjabat direktur jasa bisnis adalah cikal bakal yang
diproyeksikan akan menjadi sebuah megaproyek baru menuju era generasi
ketiga telepon seluler. Menurut Kristiono TelkoFlexi sudah akan mampu
memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pendapatan Telkom
mulai tahun buku 2004.
Dia mentargetkan TelkomFlexi akan memperoleh satu juta pelanggan baru di
tahun 2004. Hingga Januari 2004 saja TelkomFlexi sudah berhasil
mengantongi 550 ribu nomor pelanggan dan di akhir tahun 2005 diprediksi
sudah mencapai 1,6 juta pelanggan. ''Telkom Flexi akan menjadi sumber
pendapatan Telkom. Selain karena pertumbuhannya pesat Telkom Flexi sudah
menjadi telepon pertama dan bukan lagi menjadi telepon kedua,'' ujar
Kristiono.
Ke pundak Kristiono sejak Juni 2002 telah mulai dibebankan tekad agar
Telkom mampu menjadi penyelenggara jasa Informasi dan Komunikasi atau
Infokom baru. Dengan menyederhanakan bahasa Kristino menyebutkan bahwa
setiap sambungan yang sampai ke pelanggan akan memberikan multi bundling
service yang mampu menyalurkan jasa multimedia dengan kecepatan tinggi.
Caranya adalah melakukan konsolidasi sinergi dengan perusahaan afiliasi
Telkom yang tergabung dalam TELKOM-Group untuk mengemas paketisasi layanan.
Untuk itu Kristiono giat melakukan perubahan antara lain dengan menawarkan
pelayanan bersifat one stop infocom berkualitas prima dengan harga
kompetitif, mengelola usaha dengan cara yang terbaik dengan mengoptimalkan
sumberdaya manusia (SDM) yang unggul dengan teknologi yang kompetitif,
serta membangun business partner yang sinergis.
RUPSLB Juni 2002 menetapkan visi dan misi baru Telkom berdasar konsep
value creation yang mencakup aspek pertumbuhan, profitability (aspek
keuntungan) dan sustainability (kesinambungan). Kristiono sadar untuk
merealisasikan visi dan mendukung pelaksanaan misi korporasi tersebut
dibutuhkan budaya korporasi yang kuat mencakup tiga hal. Pertama adalah
asumsi dasar yakni anggapan atau pandangan dasar yang menentukan bagaimana
insan Telkom mempersepsi, berpikir, dan merasakan sesuatu harus bisa
diterima tanpa perlu mempertanyakan lagi kebenarannya sebab esensi budaya
Telkom terletak pada asumsi dasar.
Kedua adalah nilai-nilai yakni apa yang dianggap penting, apa yang
sebaiknya, atau apa yang berharga. Ketiga adalah aspek perilaku yakni
mencakup simbol, upacara, seremoni, dan tingkah laku. Kristiono
melanjutkan asumsi dasar adalah komponen yang terdalam dari budaya,
sedangkan nilai dan perilaku merupakan menifestasi yang lebih konkret dari
asumsi dasar tersebut.
Menurut Kristiono keikhlasan dan kejujuran adalah inti dari pelayanan yang
paling dinantikan oleh setiap pelanggan dan pengguna jasa infokom di
setiap perusahaan jasa telekomunikasi. Karena itulah Telkom memunculkan
motto baru ”Telkom, committed to you”.
”Kini kami berada dalam paradigma baru di mana persahabatan yang erat
dengan para konsumen dan masyarakat pada umumnya adalah suatu keharusan.
Perusahaan ini menjadi lebih berarti karena adanya konsumen. Oleh sebab
itu sudah menjadi kewajiban kami untuk memberikan layanan yang lebih baik
,” kata Kristiono.
Perubahan komposisi jaringan
Walau Telkom mulai meninggalkan paradigma lama unggul berdasarkan
teknologi namun Kristiono justru melakukan banyak lompatan baru secara
teknologis. Misalnya melakukan perubahan komposisi jaringan telekomunikasi.
Telkom telah meningkatkan jumlah jaringan serat optik, jaringan berbasis
internet protocol (IP), dan jaringan fixed wireless. Dia berharap dalam
waktu singkat jaringan serat optik sudah dapat menjangkau 20 persen
pelanggan korporasi bisnis sedangkan jaringan fixed wireless mampu
mewakili 40 persen saluran last mile.
Peran teknologi wireless akan ditingkatkan. Jaringan last mile yang
sebelumnya 10 persen berupa kabel (wireline) ke depan akan diubah menjadi
hanya 60 persen wireline. Perubahan komposisi jaringan itu dimaksudkan
untuk mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pelanggan.
”Sebanyak 40 persen last mile nantinya akan berupa jaringan wireless
dengan memakai teknologi CDMA (code division multiple access) 2000-1X yang
bisa dikatakan sebagai generasi dua setengah atau 2,5G,” terang Kristiono
siap menyongsong teknologi terbaru. Sepanjang tahun 2004 Kristiono
menyebutkan Telkom akan menganggarkan dana belanja investasi (capital
expenditure/Capex) sebesar Rp 8 triliun separuhnya adalah untuk
restrukturisasi anak perusahaan. ►e-ti/ht, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|