| |
C © updated 17032009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama:
Kris Biantoro
Nama Lengkap:
Christophorus Soebiantoro
Nama Lahir:
Rahmat Riyadi
Lahir:
Kedu, Jawa Tengah, 17 Maret 1938
Isteri:
Maria Nguyen Kim Dung (Nikah, 17 Desember 1966)
Anak-Menantu:
- Invianto-Henny
- Ceasefiarto-Adelina
Ayah:
Warsidi Sastrowiardjo
Ibu:
Soekarsih
Profesi:
Presenter (MC), Penyanyi dan Pencipta Lagu
Pendidikan:
- SMA de Britto, Yogyakarta
- ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia)
- Fakultas Sospol Universitas Jayabaya
- The Sydney Conservatory of Music, Australia
(semuanya tak selesai) 2)
Karya:
Diskografi:
- Mungkinkah
- Jangan Ditanya kemana kau pergi
- Angela
- Juwita Malam
- Answer me oh My love
- The Impossible dream
Filmografi:
- Last Tanggo In Jakarta 1973
- Si Manis Jembatan Ancol 1973
- Bulan Di Atas Kuburan 1973
- Paul Sontoloyo 1974
- Atheis 1974
- Pilih Menantu 1974
- Kuntianak 1974
- Bajingan Tengik 1974
- Bawang Putih 1974
- Tiga Sekawan 1975
- Akulah Vivian 1977
- Kuda Kuda Binal 1978
Buku:
Manisnya Ditolak cetak pertama November 2004.
cetak kedua Oktober 2006 dgn CD berisi rekaman lagu-lagunya.
|
|
| |
|
|
|
|
| KRIS BIANTORO HOME |
|
|
 |
Kris Biantoro
Presenter Empat Generasi
Presenter (master of ceremony) terkemuka dalam empat generasi, ini
lahir di kaki Gunung Merbabu, Kedu,
Jawa Tengah, 17 Maret 1938. Pemain film, penyanyi dan pencipta lagu ini
sangat piawai dan populer sebagai pembawa acara sampai usia 70-an. Suami
dari Maria Nguyen Kim Dung (puteri Vietnam), ini juga seorang pelawak
perorangan yang hebat.
Anak kedelapan dari sebelas bersaudara, putra dari Bapak
Warsidi Sastrowiardjo dan ibu Soekarsih, ini sering muncul di televisi,
terutama di TVRI, antara lain acara Kuis Aneka dan Dansa yo Dansa.
Pusat Data Tokoh Indonesia mencatat, Kris yang bernama lengkap Christophorus Soebiantoro dan bernama lahir
Rahmat Riyadi, ini lahir dan dibesarkan dalam era perjuangan
kemerdekaan. Ayah dan ibunya telah mendidiknya menjadi seorang nasionalis sejati.
Ia pun memegang teguh filosofi O Kuni No Tame Ni (Semangat, Demi Tanah Air).
Filosofi ini telah menempanya untuk terus berjuang pantang
menyerah menembus segala tantangan hidup. Mulai dari kerasnya zaman penjajahan,
kekejaman perang, kesulitan ekonomi dalam melanjutkan pendidikan dan
bertahan hidup di negeri orang hingga penghinaan, prasangka, bahkan
perlakuan tidak adil yang silih berganti dialaminya. Justru tantangan
itu semakin menyalakan perjuangan dan kecintaannya kepada Tanah Air.
Kris yang pada masa kecilnya ingin jadi
bintang radio itu sudah menunjukkan kebolehannya sebagai penyanyi ketika bersekolah di SMA de Britto, Yogyakarta, 1950-an.
Kemudian ia hijrah ke Jakarta. Pernah kuliah di ATNI (Akademi Teater
Nasional Indonesia) dan Fakultas Sospol Universitas Jayabaya, namun
tidak sampai selesai.
Ia pernah ikut
operasi Trikora, sebagai seorang pejuang. Kemudian merantau ke Australia,
sempat menjadi penjual roti dan kuliah di The Sydney Conservatory of
Music, Australia, namun juga tak selesa. Di negeri kanguru inilah dia
bertemu Maria Nguyen Kim Dung, puteri Vietnam, yang kemudian dinikahinya
17 Desember 1966.
Kris hidup bahagia dengan berbagai romantika kehidupan berkeluarga bersama Maria Nguyen Kim Dung,
dikaruniai dua anak. Keluarganya hidup rukun hingga hari tua dan telah
punya menantu dan cucu. Di usia senjanya, ia tinggal di rumah yang asri di pinggir danau di
kawasan Cibubur.
Sebagai ucapan syukur, ia bersama isteri tercinta, merayakan ulang tahun pernikahan
ke-40 dengan acara istimewa, di Hotel Darmawangsa, Minggu (17/12/2006).
Ia antara lain mengundang pasangan-pasangan selebritas yang pernikahnnya langgeng, seperti Sophan Sophiaan-Widyawati dan Mayong Laksono-Nurul Arifin.
Keistimewaan dan kekhususan perayaan ulang tahun pernikahan itu, menurut
Kris sebagai bagian dari respons terhadap berita kawin-cerai selebritas.
1)
Kris juga telah menulis buku otobiografinya, Manisnya Ditolak (Gramedia Pustaka Utama,
2006). Berkisah tentang perjalanan hidupnya yang diwarnai pergulatan
iman dan kehidupan sulit yang dialaminya sebagai master of ceremony
dalam empat generasi.
Kris menulis dalam bukunya Manisnya Ditolak (MD):
”Ketika rumah tangga artis banyak yang berantakan seperti kapal-kapal
karam yang menghantam karang, saya hidup dalam sebuah keluarga yang elok
dan hijau." Tentang perjalanan hidup dan kelanggengan rumah
tangganya, ia menuturkan seperti ada campur tangan Tuhan di
dalam hidupnya. “Tuhan beri saya kekuatan untuk jadi satria, satunya kata dan perbuatan,
saya malu bila jadi orang yang mengkhianati ucapan saya sendiri,"
katanya seperti dikutip Sinar Harapan (20/12/2006).
Dalam bukunya, Kris juga mengurai perjalanan masa kecilnya ketika dalam masa
pengungsian di zaman Jepang. Ia bahkan hapal mars Jalan Berbaris hingga
Aikosku Kooshsin Kyoku yang merupakan lagu perjuangan di masa Jepang
berkuasa. Di buku itu, ia melampirkan arsip-arsip yang lengkap dari
masa tahun 1970-an hingga 1990-an, termasuk perannya dalam film Bulan di
Atas Kuburan sutradara Asrul Sani (1975), Jagoan Tengik yang bersama Mak
Wok (1975).
Juga menulis tentang ketika ia mendapatkan kesempatan untuk mengasuh sebuah program
televisi swasta di usianya yang tidak muda lagi. Ia berusaha keras untuk
memanfaatkan kesempatan itu. “Saya minta mereka membeli
dan mengirim sebanyak mungkin buku mengenai Larry King (salah satu
presenter yang membawakan
program luar negeri yang sejenis). "Saya baca buku-buku itu. Wajah
saya juga mulai saya takar-takar sendiri. Ada bayang-bayang ketuaan di
situ. Saya merasa kacamata baru akan menjadi jalan keluar yang lumayan,”
tulisnya dalam Manisnya Ditolak. 3)
Album Emas
Pada ulang tahunnya ke-70, Kris meluncurkan "Album Emas Kris Biantoro"
sebagai penghormatan kepada para pencipta lagu Indonesia. Kris sangat
prihatin melihat para pencipta lagu seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet,
dan Soetedjo yang lagu maupun liriknya sangat indah ternyata dilupakan.
Karena itu, ia menyanyikan kembali lagu mereka sebagai bentuk perhatian
dan penghormatan.
Dalam sambutannya pada di acara yang dilaksanakan di Museum Perumusan
Naskah Proklamasi di Jakarta, Sabtu 29/3/2008, Kris memaparkan
keinginannya aga penyanyi muda juga mengerti sejarah musik Indonesia dan
sekaligus upaya memperkenalkan sejarah musik Indonesia pada generasi
muda.
Dalam acara itu, Kris mengenakan seragam tentara PETA warna hijau
lengkap dengan atributnya. Ia pun menyanyikan beberapa lagu menghibur
para tamu undangan. Dalam "Album Emas Kris Biantoro" terdapat 20 lagu
lama yang diaransemen ulang oleh Djanuar Iskak dan Didiek SSS.
Lagu tersebut diantaranya "Hanya Semalam" ciptaan Bing Slamet, "Persembahanku"
ciptaan Iskandar, "Tinggi Gunung Seribu Janji" dan "Pilih Menantu"
ciptaan Ismail Marzuki, "Tak Kan Lari Gunung Dikejar" ciptaan Surni
Warkiman, serta "Harum Bunga di Waktu Malam" ciptaan Soeharnoto. ►tsl
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Refrensi:
1. ”Di Balik” HUT Pernikahan Kris Biantoro, Sihar Ramses Simatupang,
Sinar Harapan, Rabu, 20 Desember 2006
2. Apa dan Siapa sejumlah orang Indonesia 1981-1982 / disusun oleh Tim
Redaksi Majalah Tempo, Jakarta: Grafiti, 1981
3. Kris Biantoro, Manisnya Ditolak (Gramedia Pustaka
Utama, 2006)
|
|