| |
C © updated 29102006-23092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/panwaslu |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Istri:
-
Anak:
=
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu 2004
Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University,
Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS,
selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)
Pengalaman Kerja:
= Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta (2001-sekarang)
= Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina (1996-2000)
= Associate Trainer/Consultant bidang HRD pada Vita Niaga Colsultant
(1999-sekarang)
= Dosen Tetap Institut Bankir Indonesia (2000-sekarang)
= Dosen Pascasarjana Universitas Gajah Mada (2003-sekarang)
= Advisory Board Member of Common Ground Indonesia (2001-sekarang)
= Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat (2003-2004)
= Chairman pada Indonesia Procurement Watch (2002-sekarang)
= Direktur Eksekutif Pendidikan Madania (2001-sekarang)
= Dewan Pertimbangan Pendidikan DKI Jakarta (2004-sekarang)
= Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
(2005-sekarang)
= Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan RI (2005-sekarang)
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu, 2004
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
Karya Tulis
= Memahami Bahasa Agama (1996)
= Masa Depan Agama (1995)
= Tragedi Raja Midas (1998)
= Tuhan Begitu Dekat (2000)
= Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi (2002)
= Menafsirkan Kehendak Tuhan (2003)
= Psikologi Kematian (2005)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 03
=
Prof Dr Komaruddin Hidayat
Kualifikasi Seorang Kiai Prof. Dr. Komaruddin Hidayat ,
nama yang tidak asing lagi di dunia dakwah Islam, khususnya dakwah
dengan pendekatan sufistik. Sejak menyelesaikan S3nya dalam bidang
filsafat di Universitas Ankara, Turki pada 1990, pria yang biasa
dipanggil Mas Komar ini bergabung dengan Yayasan Wakaf Paramadina di
Jakarta. Dari Paramadina inilah ia mulai mengguratkan namanya sebagai
cendekiawan Muslim yang cukup diperhitungkan.
Memulai karirnya sebagai dosen dan kemudian Direktur Eksekutif
Paramadina, ia lalu dipercaya menjadi Ketua Yayasan yang didirikan
cendekiawan Nurcholish Madjid tersebut. Penguasaan ilmu-ilmu agamanya
yang sangat mumpuni, ditambah reputasi publik yang disandangnya sebagai
intelektual kelas wahid di negeri ini, membuatnya begitu sibuk memenuhi
undangan diskusi, ceramah dan acara unjuk wicara (talkshow) baik di
televisi maupun radio. Sejak Januari 2005, Mas Komar resmi diangkat
sebagai Direktur Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pandangan-pandangan kesufian Mas Komar sudah banyak dikenal, lantaran ia
termasuk rajin berceramah tasawuf di berbagai forum. Kekuatan ceramah
tasawuf pria penggemar olah raga tenis ini terletak pada metafor-metafor
yang dinukil dari kisah-kisah sufi klasik kemudian direfleksikan ke
dalam kehidupan aktual saat ini. Inilah yang menyebabkan ceramahnya
begitu hidup dan memikat siapa saja yang mendengarkannya. Bukan hanya
ceramahnya, tulisan-tulisannya pun mengalir dan enak dibaca. Mungkin
karena tulisan-tulisannya itu lebih merupakan refleksi ketimbang
analisis ilmiah yang kaku.
Tentang kepiawaannya dalam menulis, Mas Komar mengaku karena memang
sejak remaja (di pesantren) sudah membiasakan diri berlatih menulis.
Bekal keterampilan menulis itu ia asah terus hingga kuliah. Ketika
menjadi mahasiswa sampai lulus S1, ia pernah menjadi wartawan majalah
Panji Masyarakat selama 4 tahun (1978-1982). Mas Komar adalah orang yang
percaya bahwa masa kecil seseorang menentukan akan menjadi apa orang
tersebut kelak. Dan ia merasa beruntung karena sejak kecil orangtuanya
telah mengarahkannya ke jalan yang kini ia yakini sebagai "benar".
Kualifikasi Seorang Kiai
Komar lahir di Magelang Jawa Tengah pada 18 Oktober 1953 di lingkungan
keluarga yang taat beragama. Dari namanya saja tampak bahwa keluarganya
adalah keluarga santri. Begitu juga riwayat pendidikannya. Ia lulus
pesantren Pabelan, Magelang pada 1969; kemudian melanjutkan ke Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sarjana
S1 pada 1981. Cendekiawan Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo pernah menilai
Komaruddin Hidayat sebagai cendekiawan yang unik, lantaran penguasaannya
pada bidang kajian Bahasa Agamasuatu bidang yang jarang digeluti orang
lain. Keahliannya di bidang bahasa agama ini dituangkannya dalam sebuah
buku berjudul Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, yang
diterbitkan Paramadina pada 1996.
Bagi Dawam Rahardjo, Komaruddin Hidayat merupakan fenomena dari sebuah
proses mobilisasi keluarga santri pedesaan yang kemudian mampu menembus
batas-batas lokal dan kemudian mengikatkan diri ke dalam jaringan
intelektual secara global. Namun sebagai intelektual berlatar belakang
pendidikan agama, Komar tetaplah seorang guru ngaji yang setia pada
tradisi Islamnya. "Komaruddin Hidayat itu sebenarnya memiliki
kualifikasi seorang kiai, sebagaimana Cak Nur, seorang cendekiawan yang
memiliki kualifikasi seorang ulama," demikian tulis M. Dawam Rahardjo
dalam kata pengantar untuk buku Komaruddin Hidayat berjudul Tragedi Raja
Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme (Paramadina, 1998).
Minat Mas Komar terhadap tasawuf bukanlah sebuah kebetulan. Sebab,
sebagai pengkaji filsafat dan guru besar filsafat Islam ia pasti sangat
dekat dengan kajian-kajian mistisisme Islam. Sudah menjadi tradisi di
lingkungan akademik IAIN untuk mengkaji bidang-bidang ilmu tradisional
Islam secara komprehensif. Filsafat dan mistisisme adalah dua di antara
disiplin tersebut. Bekal disiplin ilmu itulah kelak yang mengantarkan
Mas Komar menjadi analis yang tajam dalam bidang sosial keagamaan, juga
penutur tasawuf yang cukup memukau. Corak tasawuf Mas Komar, sebagaimana
dituturkan oleh Dawam, adalah tasawuf yang digandengkan dengan gagasan
transformasi sosial sebagaimana juga menjadi concern dari cendekiawan
seperti Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo.
Menjadi Guru Besar Filsafat Agama
Suami dari Ait Choeriyah dan bapak dari dua anak ini dikukuhkan sebagai
guru besar filsafat agama oleh almamaternya Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta pada Desember 2001. Obsesinya untuk
membumikan ajaran-ajaran Islam ia tuangkan dalam pidato pengukuhannya
yang ia beri judul "Ketika Agama Menyejarah". Di situ ia mengemukakan
bahwa Islam pada awal pertumbuhannya menunjukkan visi, potensi, dan
prestasi yang sangat menakjubkan dalam membangun peradaban unggul dengan
cara damai, intelektual, dan beradab. Namun, masa-masa produktif Islam
menjadi terganggu ketika umat Islam terjebak dalam sengketa politik,
baik sesama Muslim maupun dengan pihak Yahudi dan Nasrani.
Umat Islam, kata Komar, juga tidak mampu membangun institusi riset yang
independen, yang mengabdi pada pengembangan ilmu terapan. Kuatnya
peradaban teks dan kekuasaan ulama-umara, yang lebih mementingkan ritual
dan kekuasaan politik ketimbang membangun peradaban, telah
menyia-nyiakan aset intelektual yang dimiliki dunia Islam. "Toby E Huff
secara karikatural menunjukkan ketidakmampuan dunia Islam memanfaatkan
aset intelektualnya, di mana kompas hanya dipergunakan untuk menunjukkan
kiblat, sementara oleh orang Eropa dipakai untuk bisa berkeliling dunia.
Ilmu astronomi hanya dipakai untuk menentukan kapan datangnya bulan
Ramadhan, sementara di Eropa dijadikan modal petualangan angkasa. Lalu
dinamit oleh dunia Islam digunakan untuk berperang menghancurkan musuh,
di Eropa dijadikan tenaga untuk menggerakkan industri berat dan kapal
besar," tandas mantan dosen Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara Jakarta itu.
Kitab suci al-Quran, menurut Mas Komar, seharusnya menjadi sumber
pencerahan yang tak pernah kering bagi umat Islam. Namun, itu harus
disertai iklim kebebasan berekspresi dan bereksperimentasi dengan
dukungan institusi yang profesional dan dana yang cukup. Di tengah
krisis multidimensi, bangsa Indonesia mempunyai kesempatan untuk
melakukan rekonstruksi ulang guna menemukan format Indonesia baru. Bagi
umat Islam, kesempatan ini merupakan panggilan sejarah untuk memberikan
kontribusi bagi bangsa dan peradaban dunia untuk membangun sebuah model
negara demokrasi yang dimotivasi oleh komitmen keislaman. Umat Islam
yang merupakan mayoritas di negeri ini, tambah Mas Komar, harus paling
merasa terpanggil memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, dan demokrasi.
Bukannya malah kembali ke alam pikiran mitologis dan komunalistik.
Pandangan Kesufian
Mas Komar membedakan dengan tegas antara mitologi dengan mistik.
Mitologi merupakan kepercayaan yang tanpa dasar, sementara ajaran mistik
bersandar pada petunjuk Tuhan mengenai iman kepada yang gaib sebagaimana
diisyaratkan dalam ayat-ayat pertama surat al-Baqarah. Dimensi mistik
dari Islam inilah menurut Mas Komar yang harus ditampilkan pada masa
sekarang yang penuh dengan krisis. Sebagaimana terbaca dalam tulisannya,
"Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern" (2000), agama baginya adalah
sumber spiritualitas. Oleh karena itu, kekayaan spiritualitas agama ini
harus ditampilkan sebagai sumbangan untuk menyelesaikan krisis
spiritualitas manusia dan masyarakat modern.
Malapetaka akibat kekosongan spiritualitas, kata Mas Komar yang juga
pernah mengajar di Pasca Sarjana Filsafat UI ini, akan mudah menimpa
manakala manusia menjauh dari Tuhannya. Sebab, manusia terikat
perjanjian dengan Tuhan sebelum manusia lahir ke dunia ini. Allah
berfirman: "(Ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?") Mereka menjawab:
Benar (Engkau Rabb kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian
ini) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Nya). (Q
al-A`raf, 7:172).
Dalam pandangan Mas Komar, bila ridha Tuhan tidak lagi menjadi pusat
orientasi manusia, kualitas kehidupan menjadi rendah. Dengan menjadikan
Tuhan sebagai tujuan akhirnya, manusia akan terbebaskan dari derita
kehampaan spiritual, karena Tuhan adalah Pesona yang Maha Hadir
(Omnipresent) dan Maha Mutlak. Eksistensi yang relatif akan lenyap ke
dalam eksistensi yang absolut. Keyakinan dan perasaan akan kemahahadiran
Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan, pengendalian dan sekaligus
kedamaian hati seseorang, sehingga yang bersangkutan senantiasa berada
di dalam orbit Tuhan, bukannya putaran dunia yang tak jelas lagi ujung
pangkalnya.
Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan, menurut
Mas Komar, pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri
manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern yang memiliki fasilitas
transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah
melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin
dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia
adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat
manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi
terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut
situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba
kebendaan di zaman modern yang menyebabkan manusia sulit menemukan
dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.
Dalam tulisannya yang berjudul "Hegemoni Budaya Benda" (2000), Mas Komar
secara jelas menunjukkan pandangan kesufiannya. Menurut mantan ketua
Panwaslu Pusat yang sangat dekat dengan anak-anaknya ini, ada banyak
cara untuk meningkatkan kesucian jiwa manusia sehingga dengan begitu
manusia kembali ke natur bawaan atau kecenderungan primordialnya yaitu
selalu rindu untuk dekat kepada Tuhan. Salah satunya ialah dengan
berupaya membangun pola hidup yang mengorientasikan diri pasa aspek
ruhani atau spiritual, dan melepaskan pandangan keduniaan yang serba
benda ini. Dalam tradisi sufisme atau mistisisme pola hidup yang
demikian dinamakan pola hidup zuhud. "Dan Islam secara teoritis amat
kaya dengan dimensi sufisme atau mistik ini, dan barangkali merupakan
paket yang bisa disumbangkan kepada masyarakat modern yang terkepung
oleh hegemoni benda-benda," tegas Komar.
Pola hidup zuhud itulah yang sering disampaikan Mas Komar dalam
forum-forum pengajian dimana ia berkesempatan menjadi narasumbernya.
Dalam pengamatan Mas Komar, antusiasme masyarakat perkotaan terhadap
tasawuf begitu tinggi. "Tidak sedikit dari kalangan elit kota yang
kemudian, setelah memahami dan mendalami tasawuf, mengalami perubahan
sikap hidup menjadi lebih bersahaja, kalau tidak bisa dikatakan zuhud.
Sikap hidup zuhud ternyata lebih memberikan ketenangan, jauh dari stres,
dibandingkan dengan sikap hidup ngoyo dan ngotot mengejar kekayaan
materi yang tak pernah terpuaskan."
Pandangan kesufian Mas Komar memiliki spektrum dan cakupan yang amat
luas. Ia bahkan juga bicara soal-soal yang berkaitan dengan gejala alam
raya dari perspektif sufistik. Ketika bencana alam berupa gempa dan
gelombang tsunami menerjang bumi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera
Utara, Mas Komar menulis artikel di harian Kompas edisi 11 Januari 2005
untuk melihat pesan mistis dari bencana yang amat dahsyat tersebut.
Dalam artikelnya yang berjudul "Kosmosentrisme Religius", Mas Komar
menekankan perlunya kearifan dalam memperlakukan alam raya sebagai
himpunan Asma Tuhan. Manusia adalah bagian integral dari alam, bukan
penguasa alam. Kearifan kuno mengajarkan keserasian antara habit,
habitus, dan habitat. Ketika manusia sebagai habitus mengambil sikap
eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya, maka manusia pasti
kalah. Bukti kekalahan manusia ketika konfrontasi terhadap alam semakin
banyak. "Kini saatnya kita merenung dan menyadari betapa rapuhnya
sesungguhnya posisi kita di hadapan semesta," tegasnya.
Menurut mantan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Diperta) Depag
ini, alam disebut kosmos karena indah dan teratur. Begitulah Tuhan
menciptakan. Hanyalah manusia yang memiliki potensi untuk merusak
keteraturan alam, bukan makhluk lain. Namun, sehebat apa pun kekuatan
manusia untuk melawan alam, tidak mungkin manusia akan bisa
memenangkannya. Apa yang bisa diraih dan ditaklukkan manusia, terlalu
kecil di hadapan semesta yang tak terbatas. Lalu, di mana kebesaran
manusia? Kata kitab suci di samping karena akalnya, dalam diri manusia
terdapat ruh ilahi. Jika ruh ilahi ini yang mengendalikan kehidupan,
seseorang akan bisa merasakan nikmatnya bernyanyi dan bertawaf bersama
tarian dan gerakan tawaf jagat raya.
Bahkan bumi, laut, dan planet di sekitar kita, semuanya senantiasa
melayani manusia. Matahari diperintah Tuhan untuk menciptakan penguapan
air laut. Giliran angin membawa ke daratan agar menjadi mendung dan
hujan. Lalu Bumi dengan gembira menampungnya dan menyuruh benih tanaman
tumbuh untuk melayani kebutuhan manusia. Demikianlah, ketika seharian
manusia telah lelah bekerja, malam dipanggil untuk menyelimuti agar
tidurnya lelap. Begitu pemurahnya Bumi sehingga ia disebut Ibu Pertiwi,
sosok yang senantiasa mencintai, memberi, danmelayani, tetapi tak pernah
mengharap balas budi.
Bencana tsunami di Aceh dan Nias, bagi Mas Komar, merupakan peringatan
dan panggilan terhadap kesadaran kosmosentrisme religius, sebuah kritik
terhadap
paradigma antroposentrisme sekuler yang menjadikan intelektualitas
manusia sebagai puncak ukuran kebenaran sehingga secara sistemik
masyarakat modern telah menghancurkan habitatnya sendiri. Kita, katanya,
dituntut untuk berkawan, santun, dan mencintai alam tanpa terjatuh untuk
menyembahnya sebagai Tuhan karena alam adalah jejak-jejak kebesaran dan
kasihNya. Jika kita berkawan dengan alam, katanya, maka kita bernyanyi
dan menari bersama tarian alam semesta. Ia pun mengutip kata-kata indah
dari Gary Zukav, penulis The Dancing Wu Li Masters: "Mata hatinya tidak
lagi mampu melihat dan menikmati tarian alam yang begitu indah yang
merupakan rumah kita."
Pengamat Urban Sufism
Dalam diskursus kesufian, khususnya yang berkembang di perkotaan, tak
jarang Mas Komar menempatkan dirinya sebagai pengamat, kalau bukan
kritikus. Ia, misalnya, pernah menyindir gejala pengajian di kota-kota
besar yang diklaim sebagai gejala tasawuf padahal sebenarnya menurut dia
hanya pengajian biasa saja. Di pengajian semacam itu yang diajarkan
adalah tauhid Islam, praktek ibadah seperti shalat, puasa, haji, zakat,
dan persoalan-persoalan elementer yang memang dibutuhkan oleh
orang-orang kaya di kota besar yang sangat buta terhadap agama Islam.
Lalu para pengamat menyebut fenomena semacam itu sebagai urban sufism.
Padahal, "Tasawuf terlalu tinggi untuk mereka yang masih belum tahu
bagaimana berwudhu dengan benar," sindir Mas Komar dalam Kata Pengantar
untuk buku karya Sudirman Tebba yang berjudul Hidup Bahagia Cara Sufi
terbitan kerjasama Paramadina dan Gugus Lintas Wacana (Januari, 2005).
Dalam Kata Pengantar itu pria yang pernah menjadi Fellow Researcher di
McGill University, Montreal, Canada pada 1995 ini memang menempatkan
dirinya sebagai pengamat urban sufism. Lahirnya kelompok-kelompok
tarekat di kota besar seperti Jakarta saat ini, lalu munculnya fenomena
zikir akbar ala Muhammad Arifin Ilham atau Ustadz Haryono, serta laris
manisnya buku-buku bertema tasawuf dalam beberapa tahun terakhir, bagi
Mas Komar belumlah cukup dikategorikan sebagai urban sufism. Itu
menurutnya adalah semangat jatuh cinta pada agama. Bahkan tidak jarang
masih berada pada tahap "cinta monyet". Merekakalangan elit kota,
pengusaha, selebritis, profesional, para CEO, dan lain-lainantusias
mendatangi pengajian, bukan bertasawuf dalam pengertian klasik. "Adakah
ini gejala kebangkitan tasawuf yang sejati, fenomena sesaat, atau bahkan
komersialisasi spiritualitas? Lagi-lagi, semuanya masih harus diteliti
lebih jauh," ungkap Mas Komar.
Ini bukan berarti Mas Komar pesimis dengan perkembangan tasawuf kota
atau urban sufism. Ia hanya ingin mengajak kita melihat fenomena
kebangkitan spiritualitas di kota-kota besar itu dalam kaitannya dengan
dimensi ruang dan waktu yang saling terkait. Jadi, bukan fenomena
tunggal yang berdiri sendiri. Bagi Mas Komar, yang juga pernah menjadi
Fellow Researcher di Harfort Seminary, Connecticut, USA pada 1997,
semaraknya forum-forum pengajian di kota besar seperti Jakarta
akhir-akhir ini berkorelasi kuat dengan krisis ekonomi di tanah air.
Ini, katanya, pertanda bahwa orang-orang kaya mulai melihat "dunia lain"
di luar kelimpahan materi yang selama ini mengelilingi mereka. Dunia
lain itu adalah dunia batin, dunia rohani, yang selama ini mereka
abaikan. Dan kelimpahan materi ternyata tidak bisa membawa mereka
memasuki dunia rohani yang sesungguhnya bersemayam di dalam diri mereka
sendiri. Mereka membutuhkan penuntun untuk mengenal diri sendiri. Dan
yang mereka datangi bukan konsultan atau psikolog. Mereka mendatangi
forum-forum pengajian, bertanya kepada para ustadz, mubaligh, atau
mursyid (guru tasawuf).
Dengan kata lain, Mas Komar melihat gejala urban sufism sebagai bagian
dari proses masyarakat yang sedang berada di dalam situasi krisis.
Apakah dengan begitu berarti gejala urban sufism itu buruk belaka,
karena lebih merupakan sebuah eskapisme? Tidak juga. Bagi Mas Komar,
gerakan yang mengajak orang untuk kembali ke agama bukan hanya oleh
tasawuf, tapi juga oleh gerakan semacam fundamentalisme, gerakan kultus,
gerakan tabligh, gerakan salafi, dan lain-lain. Justru dia memuji
gerakan tasawuf yang menurutnya lebih bersahabat ketimbang gerakan
fundamentalisme Islam.
Gerakan tasawuf, kata Mas Komar, memiliki daya pikat karena ia mewakili
satu dimensi keagamaan, yakni dimensi esoteris (dimensi dalam) agama.
Tasawuf menjanjikan pengalaman keruhanian manusia yang rindu untuk
selalu dekat pada dan bersama dengan Tuhan. Pengalaman mukasyafah, yakni
tersingkapnya jarak antara manusia dengan Tuhan, tidak akan terjadi
selama manusia masih dibungkus oleh pakaian materi. Tuhan bersifat
rohani maka untuk bertemu dengan-Nya manusia haruslah berpakaian rohani.
Di masa lalu, tambahnya, salah satu bentuk pakaian rohani ini adalah
kehidupan zuhud, yakni melepaskan cinta pada kehidupan duniawi dan lebih
mendekatkan diri pada Allah. Abu Dzar al-Ghifari (w. 652 M), salah
seorang Sahabat Nabi Muhammad, adalah contoh yang sering disebut sebagai
seorang zahid (pelaku kehidupan zuhud). Pola hidup seperti ini pula yang
kelak dijalani oleh Rabiah al-Adawiyah (713-801 M). Bagi Rabiah,
kehidupan duniawi merupakan rintangan menuju Allah. Itulah sebabnya,
sufi wanita berparas cantik ini meninggalkan istana majikannya yang
mewah untuk menjalani kehidupan zuhud. "Apakah semangat seperti yang
dimiliki Abu Dzar al-Ghifari dan Rabiah al-Adawiyah ini pula yang saat
ini menginspirasikan orang-orang, terutama di kota-kota besar seperti
Jakarta, untuk mendalami tasawuf?", tanya Mas Komar.
Tentu saja spektrum pemikiran dan pandangan tasawuf Mas Komar jauh lebih
luas dan kaya dibanding yang bisa dijelaskan di sini. Namun satu hal
yang pasti, bagi ayah dua anak yang keduanya perempuan ini, tasawuf
adalah kehidupan yang riil itu sendiri. Dalam bukunya yang bertajuk
Tuhan Begitu Dekat: Menangkap Makna-Makna Tersembunyi di Balik Perintah
Beribadah, yang diterbitkan Paramadina pada 2000, Mas Komar menegaskan
bahwa jalan sufi bukanlah jalan berbalik untuk membangun mahligai di
langit, melainkan jalan turun dari kesadaran langit untuk memenangkan
perjuangan di bumi. Oleh sebab itu, katanya, tokoh sufi yang paling
ideal tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Muhammad saw. Muhammad
adalah seorang spiritualis tapi sekaligus juga seorang pekerja keras di
muka bumi.
Bagi Mas Komar, tasawuf mengajarkan kita untuk tidak perlu ngoyo dalam
mengejar hidup yang serba sementara ini. Bersyukur dan merasa qana'ah
dengan apa yang diberikan oleh Allah, katanya, menjadikan hidup ini
lebih rileks dan nyaman. Jauh dari stress, cemas, dan penyakit-penyakit
hati lainnya. Dan bersyukur, katanya lagi, bukan hanya kepada Tuhan
tetapi juga kepada sesama manusia, lebih-lebih kepada mereka yang pernah
berjasa kepada kita. Itulah sebabnya, penulis buku Wahyu Di Langit Wahyu
di Bumi (Paramadina, 2003) ini punya kebiasaan setiap kali menerima gaji
atau upah dari hasil kerjanya, ia selalu memejamkan mata sambil berdoa
dan mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan para guru yang
telah berjasa menjadikannya seperti sekarang ini. (Source: Centre For
Spirituality and Leadership,
http://www.csl.or.id/) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|