| |
C © updated 29102006-23092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/panwaslu |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Istri:
-
Anak:
=
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu 2004
Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University,
Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS,
selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)
Pengalaman Kerja:
= Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta (2001-sekarang)
= Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina (1996-2000)
= Associate Trainer/Consultant bidang HRD pada Vita Niaga Colsultant
(1999-sekarang)
= Dosen Tetap Institut Bankir Indonesia (2000-sekarang)
= Dosen Pascasarjana Universitas Gajah Mada (2003-sekarang)
= Advisory Board Member of Common Ground Indonesia (2001-sekarang)
= Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat (2003-2004)
= Chairman pada Indonesia Procurement Watch (2002-sekarang)
= Direktur Eksekutif Pendidikan Madania (2001-sekarang)
= Dewan Pertimbangan Pendidikan DKI Jakarta (2004-sekarang)
= Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
(2005-sekarang)
= Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan RI (2005-sekarang)
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu, 2004
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
Karya Tulis
= Memahami Bahasa Agama (1996)
= Masa Depan Agama (1995)
= Tragedi Raja Midas (1998)
= Tuhan Begitu Dekat (2000)
= Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi (2002)
= Menafsirkan Kehendak Tuhan (2003)
= Psikologi Kematian (2005)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 03
=
Prof Dr Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Jakarta 2006-2010 Direktur Pasca Sarjana
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mantan
Ketua Panwaslu 2004 Prof Dr Komaruddin Hidayat terpilih dengan suara
muutlak (61 dari 80 suara senat) sebagai rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta untuk masa bakti 2006-2010. Dia menggantikan Prof Dr Azyumardi
Azra, MA, yang sudah dua kali menduduki jabatan tersebut.
Komaruddin terpilih dalam rapat Senat Universitas yang dipimpin
Azyumardi, di Auditorium Utama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa
(17/10/2006). Komaruddin menang mutlak dengan meraih 61 suara dari 80
suara anggota senat. Dia mengungguli dua calon lainnya, yaitu Prof. Dr.
Masykuri Abdillah yang memperoleh 16 suara dan Prof. Dr. Suwito mendapat
2 suara. Satu suara lainnya tidak sah..
Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953. Alumni pesantren modern
Pabelan, Magelang (1969) dan pesantren al-Iman, Muntilan (1971).
Menyelesaikan Sarjana Muda (BA) di bidang Pendidikan Islam (1977) dan
Sarjana Lengkap (Drs.) di bidang Pendidikan Islam (1981) di IAIN
Jakarta. Meraih doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Techical
University, Ankara, Turkey (1990).
Menulis di berbagai media massa. Dosen pada Fakultas Pasca Sarjana
IAIN Jakarta (sejak 1990); dosen pada Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Indonesia (sejak 1992); dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara
(sejak 1993). Selain sebagai dosen, ia juga sebagai Dewan Redaksi
majalah Ulumul Qur`an (sejak 1991); Dewan Redaksi jurnal Studia Islamika
(sejak 1994); Dewan Editor dalam penulisan Encylopedia of Islamic World;
dan Direktur pada Pusat Kajian Pengembangan Islam Kontemporer, IAIN
Jakarta (sejak 1995). Sejak tahun 1990, ia merupakan salah satu peneliti
dan dosen tetap Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta
Ketua Panwaslu 2004
Yang lebih penting Pemilu 2004 adalah mementum penting supaya semua
pihak memiliki kehidupan berpolitik sesuai etika dan beradab. "Tugas
Panwaslu adalah mengawasi semua pihak peserta Pemilu agar tetap di rel
etika dan beradab sesuai ketentuan hukum," tukas ketua Panwaslu Prof Dr
kommaruddin Hidayat.
Duduk sebagai nahoda di Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Pusat adalah
Prof Dr Komaruddin Hidayat. Cendekiawan muslim yang mengawali
pendidikannya di Pondok Pesantren Pabelan Magelang (1969) itu terpilih
menjadi Ketua Panwas Pusat.
Mengantongi gelar Master dan Philoshophy of Doctor (PhD) dari
Universitas Ankara, Turki (1990) bagi mantan birokrat ketika menjabat
Dirjen Dikti Departemen Agama, ini jabatan baru buat Komarudin. Betapa
tidak, ia juga harus bergelut sebagai staf pengajar pasca sarjana di
IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta.
Mengusik latarbelakangnya, agaknya terlalu dini untuk menyebut
Komaruddin yang Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina ini sebagai
pembawa label generasi pewaris Cak Nur, Sebab, menurutnya, bertugas di
Panwaslu adalah demi kepentingan semua pihak itu.
Komarudin, 40 tahun, menuturkan, salah satu motivasinya bertugas di
Panwaslu adalah berusaha untuk mengakhiri jargon "masa transisi" seperti
banyak dipergunjingkan dalam kehidupan berpolitik di negara ini. Memang
disebut-sebut, pelanggaran dalam proses pemilu adalah ciri khas bangsa
di masa transisi. Masa lalu lazimnya dituding karena pemerintah tidak
membuka keran penuh, tidak saja bagi edukasi berpolitik massa, juga di
sektor kehidupan lainnya.
Justru itu Pemilu 2004 harus berhasil, dalam arti target bahwa wakil
rakyat dan pemerintah sesuai dengan keinginan rakyat harus dicapai.
"Panwaslu bekerja untuk menjadikan Pemilu 2004 sebagi titik recovery.
Kita harus mengakhiri masa transisi. Jika gagal, negara ini akan semakin
rusak," kata Komarudin.
Di bagian lain, menurut catatan sementara yang diperoleh, sejak awal
Panwaslu terbentuk sudah ada puluhan kasus pelanggaran Pemilu yang
dilaporkan masyarakat dan sedang diproses di Panwaslu. Bahkan, sebagian
dari laporan masyarakat itu, karena memenuhi syarat, telah dilimpahkan
Panwaslu ke pihak penyidik dalam hal ini kepolisian.
Biasnya, indikasi ini bisa menepis sikap skeptis sementara pihak bahwa
Panwaslu-seperti pendahulunya-- tidak akan bisa berbuat banyak dalam
upaya penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran Pemilu. "Semua pihak
harus mendukung tugas Panwaslu. Masyarakat harus mau lapor jika ada
pelanggaran Pemilu," tukas ketua Panwaslu.
Tak tampak siksaan sibuk bagi Komaruddin ketika ada panggilan tugas
Panwaslu. Misalnya soal waktu berkumpul dengan keluarga, kapan? Justru,
di hari-hari libur tugas Panwaslu acap memanggil. "Tidak masalah. Dari
dahulu saya sering mengajak keluarga ikut dengan saya ke lapangan. Biar
mereka mengerti apa saja yang saya kerjakan sehari-hari," tuturnya.
(http://www.panwaspemilu.org/p_ang_hidayat.php)
Ke Jakarta untuk Menaklukan Kemiskinan
Indopos, Minggu, 22 Okt 2006: Puncak karir dunia akademik tergapai.
Meraih gelar doktor hingga profesor. Yang terbaru, Komaruddin Hidayat
dipercaya menjadi rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah, Jakarta. Apa filosofi hingga dia mencapai mahkota karirnya
itu?
Suatu saat Komar, demikian sapaan akrabnya, didaulat menjadi pembicara
di hadapan rektor dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus
UGM itu memang tidak jauh dari kampung Komar, Magelang. Kira-kira satu
jam perjalanan. Saat itu, Komar merenung, kok bisa dirinya berbicara di
hadapan para profesor di kampus bergengsi itu. Dia tertawa merefleksi
perjalanan hidupnya tersebut.
Sebagai seorang santri tulen, dulu Komar berpikir bahwa UGM itu menjadi
almamater yang tidak terjangkau. "Dulu saya mimpi untuk masuk saja tidak
berani, apalagi jadi dosen di sana karena memang tidak ada jalurnya bagi
orang miskin yang besar di pesantren," katanya. Jadi, kata Komar, dia
sering tertawa sendiri.
Kini, hal yang untuk dimpikan saja tak berani itu menjadi kenyatan.
Komar dipercaya menjadi dosen di program Pascasarjana UGM. Anehnya,
untuk menjadi pengajar di kampus yang terletak di sebelah tanah
kelahirannya tersebut, dia harus berputar-putar terlebih dahulu. "Hidup
ini memang sandiwara. Untuk bisa melakukan itu, saya harus
bertahun-tahun berputar melalui Jakarta, Amerika, Kanada, Turki, dan
lainnya," kata mantan ketua Panwaslu 2004 tersebut.
Untuk bisa seperti sekarang, Komar mengaku memiliki motivasi besar yang
dilatarbelakangi empat hal penting yang menjadi titik balik bagi
hidupnya. Pertama, kondisi kampung halaman yang menyedihkan. Kedua,
wafatnya ibu tercinta sejak kecil. Ketiga, sosok neneknya, Qomariyah,
yang arif dan menanamkan spirit kehidupan yang besar. Keempat, hadirnya
sosok Kiai Hamam Ja’far dan kondisi pesantren yang menjadi setting
sosial tempat dirinya tumbuh menjadi sosok yang dewasa.
Komar mengaku sangat trenyuh melihat realitas sosial yang timpang di
kampung halamannya. "Saya melihat toko-toko besar di sekitar kampung
saya itu menindas masyarakat saya. Ketika saya pulang dari studi,
kondisi tersebut tidak berubah. Banyak teman-teman masa kecil saya yang
nasibnya mengenaskan sebagai petani," ujarnya.
Pemerintah, jelas Komar, sama sekali tidak berhasil mengangkat harkat
dan martabat masyarakat petani. Di sisi lain, harta kekayaaan negara
dihabiskan untuk foya-foya oleh para pejabat korup. "Ini menjadi spirit
saya untuk gesit dalam bergerak. Saat itu saya bertekad untuk
meninggalkan kampung yang tidak memberikan harapan itu, no hope no
future," tegasnya. Komar berharap, suatu saat dirinya akan kembali untuk
memberikan sesuatu yang berarti kepada masyarakat di kampungnya.
Spirit itu dikuatkan kerinduannya akan sosok seorang ibu yang telah lama
meninggalkannya. Dengan semangat yang menggebu, Komar muda nekat
bertarung di ibu kota Jakarta. Dia ingin membuktikan keberhasilannya
kepada sang orang tua.
Akar motivasi perubahan tersebut diperkuat hadirnya seorang nenek dari
garis ibu, yang sejak kecil mengasuhnya. Sejak kecil, tanpa disadari,
sang nenek yang bernama Qomariyah itu memberikan hipnoterapi kepada
Komar. Dalam ilmu psikologi, 88 persen perilaku seseorang itu digerakkan
alam bawah sadarnya (Hipnoteraphy for Education: 2006).
Alam bawah sadar tersebut tersusun dari rekaman masa lalu berupa
keinginan yang terpendam. "Sejak kecil, saya akrab dengan nenek karena
sejak usia 9 tahun, ibu sudah meninggal. Setiap malam, antara tidur dan
tidak, saya melihat nenek salat tahajud. Beliau juga membaca Alquran.
Seusai melakukan itu, kepala saya diusap-usap, lalu ditiupkan
petuah-petuah orang tua," katanya.
Komar menceritakan, sembari mendendangkan salawat nabi, sang nenek
sering bertutur, "Komar, nanti kalau kamu besar, kamu akan mencangkul,
tapi tidak menggunakan cangkul, tetapi menggunakan pena dan bolpoin.
Komar, nanti kalau kamu besar, rumahmu terang benderang, tidak seperti
rumah ini yang diterangi lampu teplok. Komar, kelak kamu akan
jalan-jalan berkeliling dunia, naik pesawat terbang, nanti kamu banyak
temannya," ujar sang nenek yang hidup dalam kondisi sangat sederhana
itu.
Menurut Komar, apa yang dituturkan neneknya itu terekam dalam alam bawah
sadar dan menjadi sugesti positif, yang menggerakkan kesadaran dan otak
kanannya dalam meniti hidup. "Apa yang dilakukan nenek saya tersebut
telah mengondisikan saya untuk mengakrabi dunia filsafat. Waktu itu saya
tidak tahu itu filsafat," ujar mantan wartawan majalah Panji Masyarakat
tersebut.
Selain pentingnya sosok sang nenek, karakter personal Komar diperkuat
kehadiran Kiai Hamam Ja’far di Pesantren Pabelan, Magelang. Komar
menilai, sosok Kiai Hamam yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu
seperti sosok Nabi Musa. Yakni, figur pemimpin, panutan, dan pemberi
petunjuk yang selalu bersikap keras untuk menaklukkan ketimpangan dan
kemiskinan.
"Kiai Hamam mengajarkan kepada saya bahwa manusia punya hak untuk
merdeka, untuk hidup. ’Bumi ini untuk manusia, maka kamu berhak
menikmati hidup ini’ kata guru saya. Itulah ajaran Alquran untuk
menjunjung spirit dan etos hijrah dalam menjalani hidup," katanya. Sang
kiai juga berpesan, "Lihat air itu, kalau mandek, dia akan menjadi
penyakit dan kalau bergerak, dia akan bersih," kenangnya.
Karena desa miskin, ibu meninggal, nenek filosofis, dan sosok kiai serta
dunia pesantren yang memiliki kondisi sosial berbeda itu Komar memiliki
spirit "liar" untuk memperbaiki hidup dan masyarakat.
"Umur 18 tahun, saya bertekad mendatangi Jakarta. Prinsip saya, kalau di
Jakarta itu banyak gula, saya ibarat semut, masak saya tidak tidak akan
merasakan manisnya gula itu," ungkapnya. Saat itu, Komar tidak berpikir
kerasnya persaingan di ibu kota. "Saya yakin ibu kota memberi harapan
besar pada saya. Di sana ada ilmu, uang, informasi, dan sebagainya.
Waktu itu saya nekat bermodal dengkul," tegas Komar.
Komar memegang prinsip bahwa kalau kita ingin menolong orang lain,
tolonglah diri kita sendiri. "Berdiri pada kaki sendiri adalah pangkal
kesuksesan (al-I’timad ala an-nafsi asasu an-naja). Jangan pikir orang
lain dulu, tapi pikirkan dirimu sendiri lebih dahulu," tegasnya.
Di balik kesuksesannya itu, Komar melihat bahwa doa orang tua adalah
faktor yang sangat mustajab. "Saya kadang malu meminta-minta kepada
Allah. Sebab, kalau saya minta, saya merasa selalu dikabulkan. Saya
takut pada Allah untuk tidak bisa bersyukur. Maka, saya selalu berdoa
allahummaj’alni mina al-syakirin, jadi saya malu kalau tidak bersyukur,"
katanya.
Ke depan Komar mengaku ingin menjalani hidup dengan mengalir. "Saya
berprinsip yesterday is history, now is gift or present, tomorrow is
mystery. Jadi, let us celebrate the life. Hidup itu rekreasi, jadi harus
happy dengan cara berbuat baik dan beramal saleh," ujarnya. Kita
sekarang harus menanam benih di kebun, lanjut Komar, siapa tahu kafilah
berikutnya bisa memetik buahnya. Siapa tahu juga bisa dibuat berteduh
oleh orang yang berlalu. "Dengan cara itu, kelak kalau pulang kampung
(meninggalkan dunia yang fana ini, Red) kan bisa tenang," ujarnya. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|