| |
C © updated 23092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/panwaslu |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu
Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University,
Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS,
selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03
04
05
06
07 08
=
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Bulan Suci dengan Hati Suci BERITA 07: Setiap agama memiliki
doktrin kesucian tempat dan waktu. Diharapkan umat beragama saling
menghargai keyakinan serta ritual umat lainnya. Di antara doktrin yang
mencolok pada setiap agama adalah perintah bersembahyang dan berdoa
serta berpuasa meski dengan keyakinan dan cara berbeda-beda. Meski
perintah ibadah masuk wilayah agama, dalam pelaksanaannya unsur budaya
tidak bisa dipisahkan.
Pelaksanaan puasa dan Lebaran, misalnya, aspek budayanya amat kental
sehingga setiap negara memiliki kekhasan masing-masing. Dalam masyarakat
Jawa, misalnya, ada tradisi yang disebut nyekar sebelum datangnya
Ramadhan. Orang melakukan ziarah dan membersihkan kuburan. Ada lagi
tradisi padusan, yaitu mandi ramai-ramai sehari sebelum puasa untuk
menyucikan diri sebagai persiapan memasuki bulan suci. Belum lagi
berbagai jenis masakan yang hanya populer selama bulan Ramadhan. Ini
semua menunjukkan bahwa agama dan budaya begitu menyatu, berkaitan, dan
saling mengisi.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yaitu pendekatan
diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial.
Dengan ibadah puasa, seorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan
rohaninya lalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin.
Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah
proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri
seseorang diharapkan akan terjadi. You are what you think, kata orang
bijak.
Bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan akan
memengaruhi dan menggerakkan perilaku seseorang, jika hati dan pikiran
selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Mahakasih, maka kasih Allah
akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Tuhan
sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini
mensyaratkan kita untuk membuka diri, membersihkan, dan membuang
jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan
menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun (nuzul) ke dalam diri
kita.
Efek sosial puasa
Ada tiga aspek yang bisa diamati sebagai buah dari puasa, yaitu
kesehatan fisik dan mental serta kesalehan sosial. Ketiganya bisa
diamati dengan pendekatan medis dan psikologis, apakah efek yang
ditimbulkan puasa bagi seseorang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan,
dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental.
Namun, menyangkut aspek metafisik-spiritual, hal itu kita serahkan
sepenuhnya kepada Allah karena seseorang tidak punya kewenangan dan
kemampuan untuk mengukur keikhlasan dan ketakwaan seseorang. Tak ada
yang tahu kualitas dan kedalaman puasa seseorang kecuali Allah. Dan
sungguh, ketika menjalani puasa, seseorang merasakan betul kehadiran
Allah di mana pun ia berada sehingga ia senantiasa berlaku jujur,
senantiasa menyebarkan vibrasi kebaikan dan kedamaian. Efek
sosialpsikologis puasa mudah sekali kita amati dan rasakan terutama
selama bulan Ramadhan. Tibatiba kita menemukan aura spiritual yang
begitu kental dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat. Televisi
serta radio pun berlomba menyajikan acara keagamaan semenarik mungkin.
Tiba-tiba kita merasakan terjadinya perubahan amat drastis, mayoritas
masyarakat Indonesia berubah menjadi santun, mampu menahan diri, jujur,
dan tidak ingin menyakiti orang lain. Pendeknya, selama Ramadhan kita
menemukan masyarakat yang beradab dan religius.
Demikianlah, menurut Al Quran, salah satu hikmah puasa adalah untuk
mendidik jiwa agar mencapai derajat takwa, pribadi yang mampu menahan
diri dari berbagai godaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Namun, lagi-lagi, pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa—ibarat
baterai telepon seluler—daya setrumnya hanya bertahan sebulan? Bukankah
mestinya puasa sebulan memiliki daya setrum penyebar kebajikan
setidaknya selama setahun?
Salah alamat
Terhadap pertanyaan itu, ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya.
Pertama, kita menjalani puasa tidak sungguh-sungguh sehingga yang
didapat bisa jadi lebih pada hikmah fisikal, minimal badan menjadi lebih
sehat. Namun, target pembinaan pribadi unggul dengan berpuasa tidak
diraih. Kedua, jika aktivitas puasa diharapkan bisa memberantas korupsi
dan sekian kejahatan yang merebak dalam masyarakat dan birokrasi,
mungkin harapan itu salah alamat karena sebenarnya pemberantasan korupsi
sungguh naif jika diharapkan dari gerakan moral-spiritual saja.
Bagi sebagian orang, bulan suci Ramadhan merupakan bulan untuk meng-up
grade dan revitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu
kekuatan spiritual. Lewat puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani
untuk menjadi pemimpin kehidupan.
Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti
mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.
Puasa sosial
Sebaiknya pemerintah bisa dan mau menjadikan tradisi dan ibadah puasa
sebagai aset dan elemen pembangunan bangsa, karena ibadah puasa dan
tradisi Lebaran telah berakar kuat dalam masyarakat dan mengandung
kekuatan moral yang sangat besar. Salah satu pesan sosial ibadah puasa
adalah agar kita tidak konsumtif, ulet menghadapi tantangan, senantiasa
menaruh empati pada problem orang lain, mengedepankan moral dan nurani
sebagai panduan hidup, dan selalu merasa dekat dengan Tuhan.
Jika nilai-nilai ini menjadi karakter bangsa, keberagamaan kita akan
dirasakan sebagai rahmat, untuk menghapuskan kesan bahwa agama itu
sumber pertengkaran, keganasan, dan sekadar peleburan dosa.
Selamat memasuki bulan suci, dengan hati, pikiran, dan perilaku yang
juga suci! (Kompas, 23 September 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|