| |
C © updated 23092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/panwaslu |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu
Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University,
Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS,
selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03
04
05
06
07 08
=
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri BERITA 05: Secara tegas
Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan
tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk
lainnya (QS. 95:4). Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa
kualitas kemanusiaannya, masih belum selesai atau setengah jadi,
sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS.
91:7-10).
Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya
manusia itu fithri, hanif dan berakal. Lebih dari itu bagi seorang
mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya
Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. 4:174).
Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa
nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia
(akan mudah) mengenal Tuhannya. Jadi, pengenalan diri adalah tangga yang
harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi
dalam rangka mengenal Tuhan.
Persoalan serius yang menghadang adalah, sebagaimana diakui kalangan
psikolog, filsuf, dan ahli pikir pada umumnya, kini manusia semakin
mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat
kemanusiaannya
Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan
berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau
konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi
kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit
dihadirkan secara utuh. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi,
sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi
dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian
materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang
berbeda.
Differensiasi metodologis setiap ilmu, meskipun obyek materialnya
sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai
siapa dan apa hakikat manusia itu. Demikianlah manusia senantiasa
mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini
telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri
ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk
mencoba berlomba menjawabnya. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu
sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik
lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman
komprehensif tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini
secara eksplisit dikemukakan, misalnya, oleh Ernst Cassirer, katanya:
Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual
instinct, Marx enthrones the economic instinct. Each theory becomes a
Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a
preconceived pattern. Owing to this development our modern theory of man
lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of
thought. (Ernst Cassier, 1978, p.21)
Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli
pikir Barat modern, melainkan juga di kalangan Islam. Terjadinya
ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama, secara sadar atau tidak, telah
menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan
hubungannya dengan Tuhan. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya, secara tak
langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha
Hakim, sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang
dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim
atau, sebaliknya, manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala
atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya.
Demikianlah, bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha
Hakim, maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha
Akal, sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih.
Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya
yang bertuhan adalah manusia, di mana manusia itu lahir, tumbuh dan
berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai
dalam realitas sejarah hidupnya. Jadi, bila langkah pertama untuk
mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara
benar, maka langkah pertama yang harus kita tempuh ialah bagaimana
mengenal diri kita secara benar.
Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri,
secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap
manusia, yaitu paradigma materialisme-atheistik dan
spiritualisme-theistik. Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua
realitas materi (downward causation), sebaliknya yang kedua berkeyakinan
bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat
imateri (upward causation).
Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir
empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna
penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di
kalangan pare sufi. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini
semakin gencar, dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi
keilmuan Barat
kontemporer dengan dalih, antara lain, faham ini telah mereduksi
keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious
being.
Ralph Ross, misalnya, memberikan contoh yang amat sederhana tetapi
gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan
yang penuh nuansa ini.
Progressive reductionism works as follows. An art object is only mass
and light waves; an act of love only chemiphysical, only electrical
charges; therefore, the art object or act of love is only a flow of
electricity. (Ralph ross, 1962, hal. 8).
Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh
al-Qur'an. Menurut doktrin al-Qur'an, manusia adalah wakil Tuhan di muka
bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di
bumi ini (QS. 2:3). Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan
yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan
penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya.
Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi
'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku
ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.
Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah, pada umumnya orang sufi
menerima hadits tersebut, namun dengan beberapa
penafsiran yang berbeda. Meski demikian, mereka cenderung sepakat bahwa
manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai
Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. 41:53). Dalam
QS. 15:29, misalnya, Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang
terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi." Pendek
kata, realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai
eksistensi. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality,
vegetality, animality, dan humanity.
Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia
masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu
menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the
primordial pair). Dalam konteks inilah yang dimaksud bahwa realitas yang
kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah
berkeping-keping. Makin berkembang ilmu pengetahuan, makin bertambah
kepingan gambaran realitas dunia, dan makin jauh pula manusia untuk
mampu mengenal dirinya secara utuh. Seperti dikemukakan Carel Alexis
bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing
himself.
Dalam kaitan definisi, tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal,
namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang
menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak
pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya,
sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci.
Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam
melainkan pada agama lain, bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan
mudah pula dijumpai. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila
ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan
kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan
universal. Pendeknya, pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya
suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam
kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan
kebahagiaan yang paling prima. Kalangan sufi yakin, dahaga dan kerinduan
mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur)
melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam, yang pertumbuhannya
sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani
yang melekat pada manusia.
Dengan kiasan lain, roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan
sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri
sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. Bila hal ini terjadi
maka terjadilah kerancuan standar nilai. "Keakuan" orang bukan lagi
difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan
konsumsi materi. Artinya, jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari
atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti:
cinta kasih, penuh damai, senang kesucian, selalu ingin dekat kepada
Yang Maha Suci dan Abstrak, lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih
rendah, yaitu dataran: minerality, vegetality, dan animality.
Jadi, tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana
caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya
sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal
muasalnya dengan damai pula (QS. 89:27).
Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas
jiwanya terdiri dari tiga maqam. Pertama, dzikir atau ta'alluq pada
Tuhan. Yaitu, berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan
pikiran kita kepada Allah. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak
boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. 3:191). Dari
dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Yaitu, secara sadar
meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat
mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses
internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini
kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi,
"Takhallaqu bi akhlaq-i Allah."
Maqam ketiga tahaqquq. Yaitu, suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan
kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya
sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam
perilakunya yang serba suci dan mulia. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan
Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi
seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan
intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya.
Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang
disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. Beberapa ayat
al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja,
sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya.
Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku
sang raja.
Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati
itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia, namun luasnya hati
Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia
sanggup menerima 'arsy Tuhan, sementara bumi langit tidak sanggup.
Menurut Ibn 'Arabi, kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata
taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Taqallub-nya hati
sang sufi, kata 'Arabi, adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. Tajalli
berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian
metafisik. Dan dari sekian makhluk Tuhan, hanya hati seorang Insan
Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam
perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam, XII; Hossein Nasr, 1977, p.138).
Dalam konteks inilah, menurut Ibn 'Arabi, yang dimaksudkan dengan
ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya, ia akan mengetahui Tuhannya
karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan
berada di situ, tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau
"ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa, melainkan Tuhan dalam
sifat-Nya yang Dhahir, bukannya Yang Bathin.
KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA
Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf, dan itu dilakukan
dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan, maka tasawuf bisa
dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim
semestinya berusaha untuk menjadi sufi.
Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh
kalangan terdekat. Namun begitu, bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an
maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah
mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku
insaniyahnya?
Melalui tahapan ta'alluq, takhalluq, dan tahaqquq, maka seorang mukmin
akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa
tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak
Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun
bayang-bayang surga di muka bumi ini. Bukankah Allah punya blue-print
dan proyek untuk memakmurkan bumi, dan bukankah hamba-hamba-Nya yang
saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi, secara karikatural,
seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan
berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan
kendaraan yang mewah pula. ►e-ti
DAFTAR KEPUSTAKAAN
= Arabi, Ibn, Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom), New York, 1980.
= Afifi, AE. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi,
Lahore, 1938
= Cassirer, Ernst., An Essay on Man, London, 1978.
= Izutsu, Toshihiko, The Concept of Perpetual Creation in Islamic
Mysticism and Zen Buddhism, Teheran, 1977.
= Massiggnon, Louis., The Passion of al-Hallaj, Jilid II dan III,
Princeton, 1982.
= Nasution, Prof. Dr. Harun, Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam, 1973
= Ross, Raiph., Symbols and Civilization, New York, 1962.
= Schimmel, Annemarie, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, 1976.
= Valiuddin, Dr. Mir., The Qur'anic Sufism, Lahore, 1978.
---------------------------------------------------
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah
Editor: Budhy Munawar-Rachman
Penerbit Yayasan Paramadina
Jln. Metro Pondok Indah
Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173
Fax. (021) 7507174
Sumber:
http://soni69.tripod.com/artikel/_penyempurnaan_diri.htm
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|