| |
C © updated 23092005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/panwaslu |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu
Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University,
Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS,
selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03
04
05
06
07 08
=
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Kematian Seperti Mudik BERITA 01: Indonesia saat ini membutuhkan orang-orang yang mau berkorban untuk
bangsanya. Ucapan itu datang dari Prof Dr Komaruddin Hidayat ketika
ditemui di Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia, Depok, Selasa (18/10).
Komaruddin mengatakan, keterpurukan dan kesengsaraan yang dihadapi warga
bangsa saat ini bukan sekadar akibat dari kebijakan yang kurang berpihak
kepada rakyat, tetapi sebagian merupakan kerak atau residu dari kisah
sukses semu yang terjadi di masa pemerintahan Orde Baru.
Keterpurukan yang dialami rakyat hari ini bisa dihentikan oleh pemimpin
yang mau berkorban untuk rakyat dan bangsanya. Apalagi, kita semua tahu
bahwa rela bekerja keras dan berkorban untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat juga menjadi bagian dari janji politik pemimpin pada masa
pemilihan umum yang lalu.
Apa yang terjadi hari ini sungguh memprihatinkan. Banyak pemimpin yang
tidak memerhatikan rakyat, dan lebih senang memupuk dan menumpuk
kemewahan. Memang tidak ada yang salah dengan keinginan menumpuk
kemewahan. Namun, itu akan menjadi salah dan tercela secara sosial jika
mereka mendapatkan itu semua dari cara yang ilegal. Padahal, di depan
matanya, di televisi yang ditontonnya, di koran yang dibacanya, di
belakang rumahnya, dan di pinggir jalan yang sering dilaluinya semua
memperlihatkan kesengsaraan rakyat.
Dalam buku terakhirnya yang berjudul Psikologi Kematian (2005),
Komaruddin mengatakan bahwa mati adalah tujuan yang pasti dari hidup.
Kematian itu seperti orang mudik, yang membutuhkan persiapan. Kalau
orang sadar hal ini, tidak mungkin dia korupsi karena tidak bisa dibawa
mudik.
Sayangnya, banyak orang lebih ingin mengisi kehidupannya dengan bekal
dunia yang tidak bisa dibawa mudik. Jabatan, rumah, dan mobil mewah
hasil korupsi dijadikan sandaran harga diri. Betapa menyedihkannya
melihat manusia meletakkan harga dirinya pada barang-barang itu.
Padahal, kalau jabatan, rumah, dan mobil itu dijadikan alat mencari
bekal mudik, bukan saja hidup pribadinya lebih baik, tetapi bangsa dan
negara ini juga akan selamat. Berikut petikan percakapan Kompas dengan
Komaruddin.
Apakah psikologi kematian itu bisa dipakai untuk menghadapi kondisi
bangsa hari ini?
Saya pikir relevan. Bangsa ini perlu diingatkan, apa yang dilakukannya
hari ini hanyalah mencari bekal bagi kematian karena dalam hidup ini
yang pasti adalah mati. Kalau sadar akan hal ini, tentu kita akan
mengisi hidup kita secara optimum.
Mengapa permainan sepak bola menarik, salah satunya karena permainan itu
dibatasi waktu, dan ada gawang yang menjadi sasaran dari tendangan bola.
Kita hidup juga dibatasi waktu. Itu sebabnya, kita harus punya target
dalam hidup agar bisa membuat hidup lebih indah. Untuk itu, kita juga
perlu mempersiapkan bekal hidup.
Pemerintah dan batas waktu
Pemerintah juga dibatasi masa jabatan. Namun, seperti orang kebanyakan,
pemerintah tampaknya enggan mempersiapkan bekal masa akhirnya karena
kebijakannya yang tidak populis. Komaruddin menilai, sebagai seorang
pemimpin, presiden memang harus berani mengambil risiko, termasuk
mengambil kebijakan tidak populer. Namun, pada saat yang sama presiden
harus punya program konkret yang dirasakan rakyat sebagai solusi bagi
persoalan yang dihadapi.
Apa yang Anda lihat setelah satu tahun pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) berjalan?
Memang sulit ya, kita tampaknya baru menyadari bahwa selama ini
dininabobokan sukses semu di masa lalu. Bagaimana mungkin sebuah negara
dengan alamnya yang begitu makmur, kok rakyatnya miskin, kas negara
kosong, sehingga pemerintah kebingungan memberikan subsidi bagi
rakyatnya. Saya bukan ekonom, tetapi bagi saya kondisi ini merupakan
tragedi karena kita memang hidup dengan utang. Kita seperti terjebak
mesin treadmill, mesin konsumtif yang terus berputar. Kalau mesin itu
mogok, berhenti, rakyat kita tidak siap.
Kita bisa melihat fakta, ternyata state building kita gagal. Begitu pula
dengan tiga pilar penting yang bisa mendukung kesuksesan pemerintahan
juga belum memperlihatkan kisah gembira. Bahkan, ketiga pilar yang
terdiri dari hukum, pendidikan, dan ekonomi malah cenderung
memperlihatkan kegagalan. Hukum rapuh, pendidikan juga tidak
menggembirakan, ekonomi kita terpuruk.
Problem konkret apa yang dihadapi pemerintah?
Yang saya sebutkan sebelumnya itu merupakan problem riil. Namun, kalau
boleh mengelompokkan, saya kira pemerintah sekarang dihadapkan pada tiga
tantangan. Pertama, bagaimana menerima dan memperbaiki warisan kerusakan
masa lalu. Kedua, dampak dari demokratisasi politik, SBY bisa duduk di
kursi presiden meskipun hanya didukung partai kecil. Implikasinya, SBY
tidak bisa mengelak dari shareholder yang ikut memenangkan dia. Walaupun
SBY dimenangkan dalam pemilihan langsung, mau tidak mau dia harus
berbagi kekuasaan, sementara partai yang ada tidak menyumbangkan putra
terbaik pada level legislatif maupun eksekutif. Ini jadi tantangan dan
persoalan besar yang menggelayuti sejarah pemerintah sekarang. Ketiga,
gerakan yang terjadi di luar negeri. Baik gerakan politik, ekonomi,
maupun budaya. Ketiga hal ini begitu berat menyerbu Indonesia.
Apa yang bisa dilakukan?
Sebenarnya, secara alami bangsa ini mampu menangkal. Namun, bangunan
bangsa ini tidak bisa lagi memanfaatkan cultural capital yang
dimilikinya. Etos dan nilai keagamaan serta local wisdom sudah hancur.
Tradisi ninik mamak di Sumatera Barat hilang, pela gandong di Ambon
hancur, begitu juga kearifan lokal lainnya yang ada di berbagai daerah
di Indonesia sudah berantakan.
Kita sangat rapuh, yang tersisa adalah serpihan budaya. Serpihan budaya
itu pun pada level atas sudah hampir sulit dicari jejaknya, di bidang
hukum yang terlihat hanyalah kepedihan, di pendidikan juga tidak
berkembang. Rasanya memang kesulitan yang dihadapi bangsa ini
bertumpuk-tumpuk. Bagi saya, solusi yang paling mungkin terletak pada
pemimpin, presiden yang berani mengambil keputusan untuk memperbaiki
kebobrokan bangsa ini.
Apakah pemerintahan ini punya visi dan agenda yang jelas?
Hemat saya kok tidak ya. Hal ini bisa dilihat sejak presiden dan wakil
presiden merekrut kabinet yang akan membantu menyelesaikan berbagai
problem yang dihadapi bangsa ini. Tampak sekali kalau pertimbangannya
hanyalah mengakomodasi partai politik yang menjadi pendukungnya. Lebih
celaka lagi, orang partai yang dipilih di eksekutif kualitasnya tidak
baik.
Jika tidak punya visi dan agenda yang jelas, apa yang harus kita
lakukan?
Saya kira, kita semua harus menjaga agar SBY-JK bisa sampai akhir
jabatan. Meskipun berat, kalau diputus di tengah jalan, saya khawatir
biaya sosial politiknya lebih besar lagi. Bagi saya sekarang, jika kita
bisa membawa pemerintahan ini sampai akhir, sudah prestasi. Kalau tidak
sampai akhir, maka political capital, moral capital, cultural capital,
kepercayaan pada pemilu dan semua sistem yang coba dibangun sekarang
akan habis. Kalau kepercayaan habis, rusak semua kita. Kultur Indonesia
tidak akan terbina, sementara pranata baru yang coba dibangun sekarang
akan hilang, tidak tahu apa jadinya nanti.
Kalau begitu, apa yang harus dilakukan pemerintah agar tidak dipaksa
putus di tengah jalan?
Pemerintah harus mengubah sikapnya, harus lebih memerhatikan rakyatnya
dan membuat kebijakan yang tepat. Bayangkan saja, problem yang dihadapi
kita itu ekonomi, tetapi pendekatannya politik. Krisis ekonomi, tetapi
dihadapi dengan mengakomodasi kelompok, atau partai politik. Mestinya
SBY berani mengangkat profesional untuk menyelesaikan problem ekonomi,
pendidikan, dan hukum. Kalau itu dilakukan, dan pemerintah diganggu
parlemen, rakyat tetap di belakang pemerintah. Sekarang ini dengan
gejolak dan krisis yang hebat, rakyat masih adem-ayem. Ini
memperlihatkan masih adanya kepercayaan kepada SBY meskipun sudah tipis.
Mumpung rakyat masih ada yang membela SBY, jangan kecewakan mereka.
Sebab, saat ini rakyat sudah hampir tidak percaya kepada partai politik,
tidak percaya kepada hukum, tetapi masih berharap kepada presiden. Kalau
kondisi ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh presiden, ya bangsa ini
memang harus siap karam. (Imam Prihadiyoko, Kompas, 22 Oktober 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|