| |
C © updated 24052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Dr Koentjaraningrat
Lahir:
Yogyakarta, 15 Juni 1923
Meninggal:
Jakarta, 23 Maret 1999
Agama:
Islam
Isteri:
Kustiani (Stien)
Anak:
= Sita Damayanti, Rina Tamara, dan Inu Dewanto
Ayah:
RM Emawan Brotokoesoemo
Ibu:
RA Pratisi Tirtotenojo
Pendidikan:
= Europeesche School, SD, Yogyakarta, 1936
= MULO (SMP) Yogyakarta, 1939
= AMS (SMA) Yogyakarta, 1942
= Sarjana Muda Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Gajah Mada, 1950
= Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952
= MA Antropologi dari Yale University, AS, 1956
= Doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958
= Doktor HC dari Universitas Utrecht, Negeri Belanda, 1976
Karir:
= Asisten Perpustakaan Museum Jakarta dan Guru Taman Siswa,
Jakarta, 1943-1945
= Guru Taman Siswa, Yogyakarta, 1946-1950
= Anggota Korps Mahasiswa, 1946-1948
= Guru SMA Budi Utomo, Jakarta, 1950-1954
= Dosen Antropologi Fakultas Sastra UI, 1956-1961
= Dosen Luar Biasa UGM, 1958-1961
= Research Associate Universitas Pittsburgh, AS, 1961-1962
= Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia, 1962-1999
= Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Gadjah Mada, 1962-1999
= Guru Besar di Akademi Hukum Militer di Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian, 1962- 1999
= Guru Besar Tamu pada Universitas Utrecht, Negeri Belanda, 1966-1968
= Deputi Ketua LIPI, 1968-1978
= Dosen Tamu pada Universitas Wisconsin, AS, 1980
= Guru Besar tamu di Universitas Utrecht, Belanda, Universitas Columbia,
Universitas Illinois, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin,
Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en Sciences Sociales di
Paris dan Center for South East dan Asian Studies di Kyoto.
Buku:
= Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia
= Pengantar Antropologi (Aksara Baru, 1979)
= Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia (Bhratara,
1969)
= Keseragaman Aneka Warna Masyarakat Irian Barat (1970)
= Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jambatan 1970)
= Petani Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973)
= Sejarah Teori Antropologi (UI, 1980)
= Kebudayaan Jawa (Balai Pustaka, 1984)
= Masyarakat Desa di Indoensia (1984)
= Kebudayaan Jawa (1984)
= Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Gramedia 1974)
= Masyarakat Terasing di Indonesia (1993)
Penghargaan:
= Penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas
Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price, 1995
= Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981)
Alamat Rumah Kel:
Komplek Perumahan UI, Jl. Daksinapati Timur IV/C2 Rawamangun -
Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
Prof Dr Koentjaraningrat (1923-1999)
Bapak Antropologi Indonesia
Pak Koen, panggilan akrabnya, seorang ilmuwan yang berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu
antropologi di Indonesia. Sehingga ia diberi kehormatan sebagai Bapak
Antropologi Indonesia. Hampir sepanjang hidupnya disumbangkan untuk
pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek
kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesukubangsaan di
Indonesia.
Prof Dr Koentjaraningrat tertarik bidang ilmu antropologi sejak menjadi
asisten Prof GJ Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia,
yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952,
ini meraih gelar
MA Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan Doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
Pak Koen merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas
di Indonesia. Ilmuwan yang mahir berbahasa Belanda dan Inggris ini juga
tekun menulis. Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen
dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan
antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan
puluhan buku serta ratusan artikel.
Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan
budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku
kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan
masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.
Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya
adalah Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, yang diterbitkan pada
tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat
dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam
perkembangan antropologi.
Selain itu, bukunya Pengantar Antropologi yang diterbitkan pada tahun 1996
telah menjadi buku pegangan para mahasiswa di berbagai universitas dan
berbagai jurusan yang ada di Indonesia.
Buku lainnya yang pernah diterbitkannya adalah hasil penelitian lapangan
ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Minangkabau, daerah Batak hingga
pelosok Irian Jaya. Buku itu berjudul Keseragaman Aneka Warna Masyarakat
Irian Barat (1970), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971), Petani
Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973), Masyarakat Desa di Indoensia
(1984), Kebudayaan Jawa (1984), Masyarakat Terasing di Indonesia (1993),
dan sebagainya.
Selain itu, ia juga pernah mengadakan penelitian di negara lain seperti
Belanda dan Belgia.
Kepribadiannya yang khas, meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan para
mahasiswanya. Kesan dan pandangan para mahasiswa, kerabat, sahabat dan
koleganya, sepertinya dapat mengungkapkan jati diri seorang tokoh dalam
berbagai aspek kehidupannya di kelas, di rumah, dan di dalam kehidupan
sehari-hari.
Pada mulanya ia pernah ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan dan
penelitian dalam antropologi. Dia menyiapkan dan menyediakan bahan untuk
pengajaran. Dalam rangka pemenuhan tugas-tugas itu, ia tidak hanya
produktif menulis buku-buku acuan pendidikan antropologi, melainkan dia
juga menulis buku-buku dan artikel ilmiah lainnya berkenaan dengan
kebudayaan, suku bangsa, dan pembangunan nasional di Indonesia.
Profesor bernama lengkap Koentjoroningrat ini dilahirkan di Yogyakarta, 15
Juni 1923, sebagai anak tunggal. Ayahnya, RM Emawan Brotokoesoemo, adalah
seorang pamong praja di lingkungan Pakualaman. Sementara ibunya, RA
Pratisi Tirtotenojo, sering diundang sebagai penerjemah bahasa Belanda
oleh keluarga Sri Paku Alam. Walaupun anak tunggal, didikan ala Belanda
yang diterapkan ibunya membuatnya menjadi pribadi yang disiplin dan
mandiri sejak kecil.
Pada usia delapan tahun, ia mulai bersekolah di Europeesche School. Pada
masa-masa itu, ia sering menghabiskan waktu bermain di lingkungan keraton.
Kedekatannya dengan lingkup keraton yang kental dengan seni dan kebudayaan
Jawa, sedikit banyak memengaruhi pembentukan kepribadiannya sebagai
antropologi di kemudian hari.
Selepas dari Europeesche School, remaja yang juga punya bakat melukis ini
meneruskan sekolah ke AMS dan mulai mempelajari seni tari di Tejakesuman.
Bersama dua sahabatnya, yaitu Koesnadi (fotografer) dan Rosihan Anwar (tokoh
pers), Koentjaraningrat rajin menyambangi rumah seorang dokter keturunan
Tionghoa untuk membaca, di antaranya disertasi tentang antropologi milik
para pakar kenamaan.
Kemudian, ia pun meraih gelar sarjana sastra bahasa Indonesia dari
Universitas Indonesia, pada 1952. Selanjutnya, pada tahun 1956, ia
mendapat gelar MA dalam antropologi dari Yale University, AS. Kemudian
meraih gelar doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
Karier yang pernah dijabatnya yakni menjadi Guru Besar Antropologi pada
Universitas Indonesia. Kemudian menjadi Guru Besar Luar Biasa pada
Universitas Gadjah Mada, dan juga Guru Besar di Akademi Hukum Militer di
Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.
Begawan antropologi Indonesia ini juga pernah diundang sebagai guru besar tamu di Universitas Utrecht,
Belanda, Universitas Columbia, Universitas Illinois, Universitas Ohio,
Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en
Sciences Sociales di Paris dan Center for South East dan Asian Studies di
Kyoto.
Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam
pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar
doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian
Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan
Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).
Tutup Usia
Antropolog pertama Indonesia ini meninggal dunia dalam usia 75
tahun, Selasa 23 Maret 1999 sekitar pukul 16.25, di RS Kramat 128,
Jakarta Pusat. Dia telah terkena stroke sejak 1989. Dimakamkan di TPU
Karet Bivak, Rabu 24 Maret 1999 sekitar pukul 13.00.
Sebelumnya disemayamkan di rumah duka di Jl Daksinapati Timur IV/C2,
Kompleks IKIP Rawamangun. Hadir melayat antara lain ahli filsafat dan
budayawan Prof Dr Toeti Herati Nuradi, mantan Mendikbud Prof Dr Fuad
Hassan, Direktur Sejarah dan Nilai Tradisional Dr Anhar Gonggong, dan
sosiolog Prof Dr Sardjono Jatiman.
Menurut keterangan putri ketiganya, Ny Rina "Maya" Tamara, perintis
berdirinya Jurusan Antropologi UI dan sejumlah universitas negeri
lainnya ini, memang sudah sejak lama menderita stroke dan terkena
serangan mendadak beberapa kali. Serangan stroke pertama kali terjadi
selang setahun setelah ia resmi mengakhiri masa dinasnya sebagai pegawai
negeri, 15 Juni 1988. Menurut Maya, mendiang ayahnya Senin malam 22
Maret 1999 sekitar pukul 22.10 secara mendadak tak sadarkan diri setelah
sebelumnya sempat muntah-muntah, dan segera dilarikan ke RS Kramat 128.
Pak Koen meninggalkan seorang istri, Kustiani yang dikenal sejak kuliah
di UI, tiga anak, Sita Damayanti, Rina Tamara, dan Inu Dewanto, dan
empat cucu. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|