|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Kodradi
Kerja Keras Mengubah Citra
Memimpin sebuah perusahaan tak cukup hanya mengandalkan kepintaran semata.
Ada modal lain yang justru paling penting yakni kejujuran, keikhlasan,
keseriusan dan komitmen. Aspek itu yang betul-betul diperhatikan oleh
Kodradi ketika dipercaya memimpin PT Bank Tabungan Negara (BTN) tahun 2000
silam.
”Dalam sebuah survei tentang kepemimpinan (leadership), pintar itu jatuh
di nomor tiga. Sedangkan, nomor satu adalah kejujuran dan keikhlasan.
Kedua, keseriusan dan komitmen. Setelah itu baru kecerdasan,” ujar Kodradi.
Dengan modal tersebut, Kodradi menyatakan siap membawa BTN melewati masa
restrukturisasi menjadi bank umum bersaing dengan bank-bank lain. Karena
itu, hal pertama yang dibenahinya waktu itu adalah kualitas sumber daya
manusia di BTN. Seiring dengan itu, visi dan misi baru perusahaan juga
dibuat untuk menyelamatkan BTN yang ketika itu nasibnya terancam.
Pascarestrukturisasi, BTN sebetulnya hampir sama dengan bank-bank umum
lainnya. Hanya saja BTN fokus bisnisnya lebih pada pinjaman tanpa subsidi
untuk pendanaan perumahan dan industri yang terkait dengan pembangunan
perumahan. Tak berlebihan jika bank ini bertekad menjadi bank terkemuka
dan menguntungkan dalam pembiayaan perumahan.
BTN secara perlahan kini tengah berubah dan berganti paradigma, termasuk
citra (image) orang yang tidak mengenal BTN, bahwa BTN identik dengan
rumah, padahal seperti lazimnya bank umum lain, BTN juga melakukan
pelayanan transaksi komersial lain, tabungan, giro maupun deposito.
”Orang yang tidak mengenal, BTN itu (identik) dengan rumah.
Kalau ada yang bertanya tinggal di mana? Kompleks BTN, konotasinya selalu
kecil, kumuh. Padahal BTN juga bisa memberikan kredit sampai Rp 1 miliar
dengan uang muka 20 persen. Bahkan untuk ruko bisa sampai Rp 2 miliar.
Jadi BTN sekarang memang lagi belajar menjadi bank,” tutur Kodradi.
Bukan pekerjaan gampang baginya untuk melakukan perubahan di BTN hingga
menjadi BTN seperti sekarang ini. Dulu ketika Kodradi masuk ke bank ini,
kondisi BTN masih jauh ketinggalan dengan bank-bank lain. Sekarang, dia
boleh tersenyum lega, BTN kini tidak kalah bersaing dengan bank umum lain.
”Bayangkan dulu saya masuk ke BTN, ibarat punya mobil Kijang, itu kijang
kotak. Jadi sudah ketinggalan beberapa tahun dibanding yang lain. Sekarang
ini mau ganti Mercy,” kata Kodradi mengibaratkan.
Berbasis Rumah
Meskipun sudah banyak berubah, tetapi Kodradi masih menyimpan obsesi
terhadap BTN. Dia bertekad menjadikan BTN sebagai bank keluarga berbasis
rumah yang sehat dan solid. Artinya, segala keperluan keluarga mulai dari
perumahan, tabungan keluarga, tabungan pendidikan dan yang lain, bisa
langsung dilayani BTN.
Dalam jangka panjang, bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadikan BTN
sebagai National Housing Bank, seperti halnya di Thailand. Untuk tujuan
ini memang diperlukan infrastruktur yang kuat seperti pendanaan jangka
panjang. ”Saya ingin menjadikan BTN sebagai bank keluarga berbasis rumah
yang sehat dan solid. Jadi bagi mereka yang belum punya rumah, dapat
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Sementara yang punya rumah, untuk
kebutuhan lain seperti pendidikan ada tabungan sekolah bekerja sama dengan
asuransi, dan pelayanan yang lain,” ujarnya.
Transformasi BTN menjadi bank umum memang masih menyimpan problematik,
karena dana pada bank umum seperti deposito, giro dan tabungan, notabene
jangkanya pendek, sementara BTN harus memberikan kredit jangka waktu yang
panjang antara 5 sampai 20 tahun yang sudah tentu biayanya mahal.
”Makanya yang namanya maturity miss match sampai kiamat pun tidak bisa
diatasi. Di samping itu, marginnya juga kecil, karena dana jangka panjang
di mana pun selalu lebih mahal,” ujarnya.
KPR
Dengan jumlah penduduk yang di atas 200 juta, kebutuhan rumah di Indonesia
sangat besar yakni sekitar 5 juta unit per tahun. Pembiayaan merupakan
faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan pengadaan perumahan bagi
masyarakat. Pembiayaan perumahan meliputi pembiayaan pembangunan perumahan
dan penyediaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi calon konsumen, serta
pembiayaan bagi industri pendukung dan ikutannya.
BTN yang selama ini dikenal sebagai bank dengan mayoritas kreditnya di
bidang perumahan, berperan secara aktif dalam pembiayaan perumahan baik
melalui KPR maupun kredit konstruksi yang diberikan. Mulai tahun 2002 BTN
juga menyediakan kredit bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam
industri pendukung dan ikutannya.
Sejak tahun 1974, BTN telah ditunjuk pemerintah untuk membantu masyarakat
berpenghasilan menengah ke bawah dalam menyalurkan KPR bersubsidi. Melalui
program KPR bersubsidi tersebut banyak masyarakat yang telah dibantu untuk
memiliki rumah. Sejak tahun 1976 sampai Desember 2002, KPR bersubsidi yang
telah disalurkan oleh BTN sudah mencapai 1,63 juta unit dengan nilai Rp
10,912 triliun.
Di samping KPR subsidi, BTN juga memberikan kredit perumahan lainnya,
antara lain KPR Griya Utama, KP Ruko, Swa Griya, Griya Sembada dan kredit
konstruksi. Dari tahun 1990 sampai Desember 2002, khususnya kredit untuk
perumahan, selain yang dengan KPR subsidi, yang berhasil disalurkan BTN
sebanyak 398.000 debitor dengan nilai Rp 14,198 triliun.
Dalam perkembangan untuk kebutuhan restrukturisasi, berdasarkan hasil
studi independen oleh Price Waterhouse Coopers (PWC), pemerintah melalui
surat Menteri BUMN No S-554/M-MBU/2002 tanggal 21 Agustus 2002 telah
menetapkan langkah strategis untuk BTN, dengan melakukan restrukturisasi
perusahaan menyeluruh sehingga BTN layak menjadi bank umum dengan fokus
pinjaman tanpa subsidi untuk perumahan.
Tetapi hal ini tidak berarti BTN tidak menyalurkan KPR bersubsidi lagi,
karena BTN tetap konsisten untuk mendukung program tersebut sesuai dengan
salah satu misi BTN yaitu ikut mendukung program pembangunan nasional.
”Kita tetap komitmen membantu rakyat kecil, tetapi kita melakukan
restrukturisasi bisnis. Kalau dulu KPR subsidi yang utama sekitar 75
persen, sekarang dibalik KPR nonsubsidi yang utama, porsinya 75 persen,
sedangkan KPR subsidi 25 persen,” kata Kodradi.
Pada tahun 2003, semula BTN akan menyalurkan kredit sebesar Rp 4,05
triliun, yang di antaranya untuk KPR bersubsidi, tetapi dalam
perkembangannya dilakukan revisi dan diturunkan menjadi Rp 2,14 triliun
dengan jumlah debitor 52.774. Penurunan proyeksi kredit ini karena BTN
tengah menjalani restrukturisasi sehingga kalau dilakukan ekspansi yang
besar dikhawatirkan akan mempengaruhi likuiditas BTN.
”Tahun 2003 saya mau ambil Rp 4,05 triliun untuk kredit, tetapi oleh
pemegang saham itu diralat, karena BTN harus melakukan restrukturisasi.
Tidak bisa sambil restrukturisasi terus mau ekspansi, nanti risiko
bagaimana? Jadi logis juga,” katanya.
Menghadapi persaingan dengan bank-bank lain yang juga mempunyai program
KPR, Kodradi mengatakan, tidak terlampau risau. Pasalnya BTN sebagai
pemain lama dalam bisnis ini sudah memiliki pasar tersendiri.
”Saya punya langganan sendiri, punya pasar sendiri. Mungkin bank lain
untuk kredit Rp 100 juta ke bawah tidak melayani, kalau BTN masih melayani,”
ujarnya.
Dengan kata lain, keikutsertaan bank-bank lain dalam program KPR makin
menjadi alternatif pendanaan murah untuk perumahan bagi masyarakat. Tidak
seperti selama ini semua dibebankan ke BTN, padahal kemampuan BTN terbatas.
Persaingan itu malah ada bagusnya untuk kepentingan konsumen.
”Karena itu kita senang, di luar BTN itu ada 20 bank yang ikut
menandatangani MoU untuk juga mendukung KPR. Justru saya bersyukur, karena
market space-nya masih luas. Kalau tidak salah ada 5 juta unit rumah yang
mestinya dibangun dalam satu tahun,” Kodradi menambahkan.
Kinerja
Mengenai kinerja BTN, sejauh ini menunjukkan perkembangan menggembirakan.
Proses restrukturisasi yang sudah dijalankan menjadi kunci meningkatnya
kinerja BTN. Hingga Maret 2003 rasio kecukupan modal (CAR) BTN sudah
mencapai 14,52 persen, meningkat dibanding Desember 2002 yang mencapai
11,39 persen.
Loan to Deposit Ratio (LDR) juga terus menunjukkan peningkatan. Kalau pada
tahun 2002 LDR BTN mencapai 51,31 persen, pada Maret 2003 sudah meningkat
menjadi 54,33 persen. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL)
juga sudah di bawah ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI). NPL
Gross pada Maret 2003 tercatat 4,39 persen.
BTN hingga Maret 2003 juga telah membukukan laba di luar pajak sebesar Rp
99 miliar. Pada tahun 2002 lalu, laba di luar pajak yang diperoleh
mencapai Rp 303 miliar. Sementara total dana pihak ketiga yang dihimpun
hingga Maret 2003 mencapai Rp 19,49 triliun.
BTN saat ini juga memiliki kantor cabang sebanyak 42 dengan kantor cabang
pembantu 40 dan kantor kas sebanyak 96. BTN juga dilengkapi Anjungan Tunai
Mandiri (ATM) sebanyak 93 buah. *Sinar Harapan 16 Juni 2003 |
|