A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Link
 ► Bankir
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 03032008  
   
  ► e-ti/sh  
  Nama:
Kodradi
Lahir,
Boyolali, 18 Juli 1944
Jabatan:
Direktur Utama Bank Tabungan Negara



BERITA TERKAIT:
= BTN Tidak Merger

= Bekerja Kerah Mengubah Citra

 
 
  Kinerja BTN 2006

Aktiva  Rp32,58 triliun
Laba sebelum pajak Rp540 miliar
Laba setelah pajak Rp355 miliar
Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp21,59 triliun
Kredit Rp18,09 triliun
Loan to deposit ratio (LDR) 83,7%
Non-performing loan (NPL) 3,9%
Capital adequacy ratio (CAR) 18%
 
 
BERITA
Kodradi

Kami Susah Biayai Perumahan


Gaung rencana privatisasi PT Bank Tabungan Negara (BTN) bergema sejak enam tahun lalu. Namun, hingga kini, realisasinya masih menjadi tanda tanya. Padahal, dari segi kinerja, bank yang berusia lebih dari setengah abad ini tergolong paling sehat. Semua indikator kesehatan perusahaan - CAR, NPL, LDR, dan profitabilitas -mengindikasikan BTN layak masuk bursa.

 

Lalu, kapan? Padahal, menurut Kodradi, dirut BTN, rencana pemerintah membangun 1.000 rumah susun (rusun) membuat kebutuhan dana untuk ekspansi ini menjadi makin mendesak. Jumat (20/4) lalu, selepas mengikuti sebuah seminar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Prayogo P. Harto dari Warta Ekonomi mewawancarai bankir senior ini untuk menggali lebih jauh rencana privatisasi BTN. Petikannya:

Bagaimana kelanjutan rencana IPO (initial public offering) BTN?

Sebenarnya yang ingin kami lakukan adalah privatisasi. Ini sesuai dengan hasil RUPS BTN. Pilihannya sendiri banyak. Di antaranya, IPO atau strategic partner. Nah, mereka yang di Senayan (anggota DPR―Red.) inginnya IPO.

Apakah ada kemungkinan privatisasi akan batal?

Tidak akan ada pembatalan, hanya tertunda sementara. Ini cuma masalah prosedur. Proses menuju IPO banyak tahapannya. Ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kalaupun pemegang saham sudah menyetujui untuk IPO pada April, prosesnya tidak akan selesai dalam tempo enam bulan.

Berapa besaran saham yang akan dijual ke publik?

Rencananya, BTN akan melepas sekitar 30% sahamnya ke publik. Jadi, pemerintah tetap menjadi pemegang saham mayoritas. Dari pelepasan saham itu, saya berharap BTN akan memperoleh tambahan modal Rp1,5–2 triliun.

Apakah penundaan IPO berpengaruh terhadap rencana ekspansi BTN?

Jelas ada. Terutama kalau pemerintah meminta BTN mendukung pembiayaan proyek pembangunan 1.000 rusun. Andai kebutuhan dana uang untuk proyek tersebut Rp40 triliun, setidaknya BTN butuh tambahan dana Rp2 triliun.

Mengapa hanya Rp2 triliun?

Sebab, kemampuan leverage BTN memungkinkan untuk mendapatkan pinjaman 20 kali dari modal. Bank lain tak ada yang memiliki kemampuan sebesar itu. Nah, dengan modal Rp2 triliun, berarti BTN bisa mencari tambahan modal dari pihak ketiga sampai Rp40 triliun. Caranya, mungkin dengan menerbitkan obligasi. Namun, meski belum tentu mendapat tambahan modal, sebagai pemegang amanah, kami harus tetap berusaha untuk mencapai target penyaluran kredit 2007, yaitu Rp22,06 triliun dengan kredit baru Rp7,86 triliun.

Berarti ada rencana menerbitkan obligasi?

Itu hanya berandai-andai. Untuk menerbitkan obligasi, tetap harus atas persetujuan pemegang saham. Sementara saya belum dapat izin untuk melakukan itu. Waktu itu pilihan kami adalah privatisasi. Setidaknya sampai saat ini belum ada pengajuan soal obligasi.

Sebelum memimpin BTN, Kodradi sudah malang melintang selama lebih dari 35 tahun sebagai bankir di sejumlah bank. Pria kelahiran Boyolali, 18 Juli 1944 ini, di antaranya, terlibat membidani kelahiran Bank Mandiri dan sempat menjabat sebagai executive vice president. Sebelumnya, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, ini sempat juga menjabat sebagai direktur Bank Ekspor Impor Indonesia, lalu menjadi dirutnya, kemudian dirut Bank Bumi Daya. Meski kariernya terhitung gemilang, eksekutif yang menganut prinsip AFTA (Action First Talk After) ini tetap dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan rendah hati. Kodradi juga tetap menjalankan puasa Daud, yaitu sehari puasa, sehari tidak, yang sudah dilakoninya selama delapan tahun.

Bagaimana proporsi penyaluran kredit BTN?

Hingga saat ini, porsi terbesar penyaluran kredit BTN masih untuk UKM (usaha kecil dan menengah―Red.). Besarnya, di atas 90%. Namun, bukan hanya BTN, semua bank juga melakukan hal yang sama, yaitu memberi porsi terbesar kepada UKM. Rata-rata kredit BTN untuk UKM di bawah Rp20 miliar. Kredit terbesar yang ada di BTN nilainya cuma Rp53 miliar. Itu pun kredit sindikasi dari tahun 1996.

Apakah ada pembagian peran antar-bank BUMN dalam menyalurkan kredit?

Masing-masing bank menjalankan fungsi sebagai lead yang berbeda. Misalnya, Bank Mandiri menjadi lead untuk sektor jalan tol. Sementara BNI lead di sektor energi. Lantas, BRI di sektor biodiesel atau perkebunan. Adapun BTN di sektor perumahan.

Apakah berarti ada pembatasan agar bank BUMN tak berekspansi ke sektor bank lain?

Sebenarnya boleh saja. Semua tergantung pada kemampuan likuiditas masing-masing bank. Kalau BTN, berat. Wong untuk membiayai rumah saja sudah susah kok... hahaha.

Bagaimana kondisi NPL (non-performing loan) BTN?

Pada triwulan pertama 2007 ini agak naik. Tahun lalu NPL gross kami 3,91%, tetapi kini meningkat jadi 5,09%. Ini pengaruh dari musibah banjir di Jakarta dan bencana lumpur (Lapindo Brantas di Porong, Jawa Timur―Red.). Ternyata, bencana itu tak hanya merugikan masyarakat. Perbankan juga terkena dampaknya. Banyak rumah warga di sana yang rusak merupakan nasabah KPR BTN. Akibatnya, ini meningkatkan kredit bermasalah kami.

Berapa kerugian BTN akibat bencana Lapindo?

Outstanding kredit BTN di sana mencapai 4.000–6.000 debitur. (Data BTN mencatat ada 6.085 rumah nasabah KPR BTN yang rusak akibat terendam lumpur Lapindo. Total kerugian yang diderita ditaksir senilai Rp486 miliar―Red.) Sekarang kami sedang mencari cara mengatasinya. Saya mengharapkan para korban itu mendapat bantuan ganti rugi. Dengan demikian, mereka akan lebih cepat pulih dan menyelesaikan angsurannya kembali. Terus terang saja, kalau sektor riil tidak bergerak, saya juga bingung. Ini karena mayoritas debitur BTN adalah UKM. Jadi, kami harus membantu mereka agar segera pulih. Dengan begitu, mereka bisa membayar angsuran utangnya.

Kodradi memimpin BTN sejak 16 Mei 2000. Ia berhasil membawa BTN mencapai kinerja yang cemerlang, bahkan disebut sebagai bank BUMN terbaik. Tampaknya, itu juga yang jadi alasan pemerintah mengukuhkan kembali “pendekar tua” yang sebenarnya ingin pensiun ini di kursi dirut BTN. Kendati demikian, Kodradi menolak dianggap sebagai sosok yang mengilapkan bank itu. Di usia senjanya, ayah dua anak ini cuma berharap dapat melewatinya tanpa harus terjerat hukum.

Apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja perbankan?

Mudah ngomong-nya, sulit menjalankannya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Forum BUMN tempo hari meminta kami agar bisa meningkatkan daya saing. Tujuannya, supaya bisa menjadi world company. Jadi, jangan hanya jago kandang. Untuk itu, pada prinsipnya kita bisa menjalankan apa yang dikenal sebagai “5Si”, yaitu globalisasi, kompetisi, efisiensi, spesialisasi, dan kompetensi. Si pertama adalah globalisasi. Nah, untuk memenangkan globalisasi, berarti kita butuh kompetisi. Untuk memenangkan kompetisi, kita harus bisa efisiensi. Agar bisa menjalankan efisiensi, kita butuh spesialisasi dan kompetensi.

Apa kiat Anda hingga bisa bertahan selama ini sebagai bankir?

Saya memakai lima pendekatan, yaitu agama, budaya, sistem, kekeluargaan, dan kearifan. Namun, landasan agama tetap yang terutama. Sedari kecil saya sudah dididik, hidup di dunia ini hanya persinggahan sementara. Persinggahan akhirnya adalah akhirat. Untuk mencapai ke sana, kita harus bersih dari perbuatan yang melanggar ajaran agama, seperti berbuat curang. Prinsip jujur ini yang selalu saya tekankan kepada karyawan BTN. Asal Anda tahu saja, sejak saya di BTN, sudah lebih dari 75 orang yang saya pecat karena melanggar etika. Mulai dari kepala divisi sampai kepala cabang. Sampai-sampai ada yang menyindir saya, susah mencari makan di BTN. Tetapi, saya katakan, yang susah itu jika mereka ingin mencari makan sambil “makan” BTN... hahaha.

Di BTN, saya selalu menekankan pentingnya meningkatkan pelayanan kepada customer dan melakukan efisiensi. Di ruang tamu saya ada koran dan majalah. Tetapi, itu bukan untuk saya, melainkan layanan customer. Kemudian, untuk efisiensi. Dulu, tanaman hias di BTN memakai tumbuhan hidup. Kini, kami memilih tanaman imitasi. Hasilnya, selama tujuh tahun tak perlu ganti yang baru...hahaha. Intinya, bagaimana kita harus berusaha meningkatkan pelayanan, sekaligus menekan biaya. Kita harus berpikir: dari setiap sen yang kita keluarkan, bisa meningkatkan apa.

Anda sempat mengatakan ingin pensiun, tetapi mengapa tetap mau menerima jabatan dirut BTN?

Ini adalah amanah. Saya tak punya pamrih apa-apa. Selama masih dipercaya, saya merasa memiliki kewajiban untuk memberikan yang saya bisa. Ini karena saya merasa berutang kepada negara. Sebab, sedari kelas 3 SD hingga kuliah, saya tinggal di panti sosial milik negara. Jadi, boleh dikatakan saya ini anak negara...hahaha. (Kamis, 21 Juni 2007 11:21 WIB - warta ekonomi.com) e-ti/atur
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)