| |
C © updated 17082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Kho Ping Hoo
Nama Lengkap:
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Lahir:
Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926
Meninggal:
Solo, 22 Juli 1994
Profesi:
Pengarang
|
|
| |
|
|
|
|
| KHO PING HOO HOME |
|
|
 |
Kho Ping Hoo (1926-1994)
Legenda Cerita Silat
Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina
kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa
membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa.
Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul
serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.
Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar,
yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak
pernah kehabisan bahan.
Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994
dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih
dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang
penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.
Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan,
disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia
meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi
sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih
terus dicetak.
Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo,
pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam
ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma
Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng
Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial
paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum.
Dia juga banyak
mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah,
meski yang melakukannya kerabat sendiri.
Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo.
Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu
Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.
Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka
sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga
usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat
gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita
tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi
karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.
Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17
Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat
menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS).
Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal
kemahirannya menulis.
Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya
dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat
majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk
mengembangkan bakat menulisnya.
Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang
yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal
yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri
itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan
pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu.
Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat
secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama
beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja
sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun
meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan
fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam
bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris.
Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun
mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita
berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau
sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna
filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita
silatnya.
Seperti kisah dalam cerita Sepetak Tanah Sejengkal Darah. Dia
menyajikan cerita yang sangat membumi, akrab dengan keseharian. Juga
melintasi batas agama, suku dan ras.
Kepopulerannya makin memuncak manakala merilis serial silat
terpanjangnya Kisah Keluarga Pulau Es, yang mencapai 17 judul cerita,
dengan ukuran panjang antara 18 sampai 62 jilid. Dimulai dari
kisah Bu
Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.
Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain
Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut
Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan.
►e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|