|
|
 |

Nama :
Kemala Motik Abdul Gafur
Lahir :
Jakarta, 6 Oktober 1944
Agama :
Islam
Suami :
Dr. Abdul Gafur
Putra/Putri & Menantu :
1. Ir. Arief Kusuma, MBA & Suryanti Takarinawati, SH, MBA
2. Riza Jaya, SE, MM & Ir. Elsa Martini, MM
3. Dra. Sherry Anggraini, MM & Ir. Akbarsyah Saad, M.Sc.
4. Vica Pumama & Jason Luk
5. Abduh Reza & Imelda, SH
6. Gamal Surya
Cucu-cucu :
1. Arya
2. Arsya
3. Astarina
4. Rizky
5. Shasha
6. Aziz
7. Karim
8. Syafitri
9. Medina
10. Mecca
Pendidikan :
1962 : SMU Negeri III Teladan Setiabudi, Jakarta
1963 : Culver City High School, Culver City, California, USA
1972 : Doktoranda Ekonomi - S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
1975 : International Marketing Institute, Cambridge Mass, USA
1984 : KRA XVII (Kursus RegulerAngkatan XVII) Lembaga Pertahanan Nasional
1997 : Magister Management - S2 Universitas INDONUSA Esa Unggul
2002 : Doktor - S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta
2003 : Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas INDONUSA Esa Unggul
Pekerjaan :
1993 - sekarang : Rektor Universitas INDONUSA Esa Unggul
1986 - 1993 : Presiden IEU Institute Of Management
1972 - 1979 : Presiden Direktur PT. Rulan Jaya / Export, Import Trading
1979 - 1985 : Presiden Direktur PT. Arrish Rulan Garment / Fashion
Industry
Organisasi :
1995 - 1999 : Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Badan Musyawarah Perguruan
Tinggi Swasta Indonesia (BM-PTSI)
1987 - 1997 : Ketua Presidium Forum Komunikasi Program BBA-MBA dan PPM
1983 - 1993 : Ketua Yayasan Pendidikan Dan Latihan Indonesia-Canada untuk
Pemuda
1983 - 1994 : Ketua Umum Pendidikan Yayasan Kadin Indonesia
1982 - 1985 : Ketua Kompartemen Pendidikan Kadin Indonesia
1975 - 1983 : Pendiri I Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
Organisasi Politik :
1992 - sekarang : Ketua Umum Wanita Pembangunan Indonesia (WPI)
1982 - 1987 : Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat
1997 - 1999 : Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat
Alamat Kantor :
Kampus Emas : Jl. Terusan Arjuna, Tol Tomang, Kebon Jeruk Jakarta 11510
Telp. 6221-5674223, 5682780, Fax. 6221-5682503
Alamat :
JI. Teuku Umar No.56 Menteng Jakarta Pusat
|
|
Prof. Dr. Kemala Motik, SE, MM
Obsesi Perempuan Pejuang
Kini telah bermunculan beberapa perempuan yang pantas disimbolkan sebagai
perempuan pejuang. Salah satu di antaranya adalah Prof. Dr. Kemala Motik
Abdul Gafur, SE, MM. Kini ia salah seorang calon presiden lewat konvensi
Partai Golkar. Ia perempuan yang telah mengukir berbagai karya nyata,
laksana Kemala (sebangsa batu yang mengandung banyak khasiat dan kesaktian)
demi Motik (Majukan Olehmu Tanah air Indonesia Kita).
Pendiri IWAPI dan
Rektor Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU), ini sungguh seorang
perempuan pejuang, politisi, pengusaha dan guru besar pencetak kader
bangsa.
Kartini telah menjadi simbol utama pejuang perempuan di negeri ini.
Kendati bukan berarti Kartini adalah perempuan terbaik negeri ini. Sejalan
dengan detak-detik sejarah perkembangan bangsa, kaum perempuan negeri ini
makin menunjukkan kualitas kepejuangannya. Mereka-mereka adalah perempuan
terbaik pada zamannya.
Sosok Kemala Motik, kini sudah terbilang menjadi sebuah simbol kepejuangan
perempuan. Ia seorang perempuan, seorang ibu, seorang pengusaha, seorang
politisi, seorang inovator, seorang cedekiawan dan guru besar.
Sebagai
seorang perempuan dan seorang ibu, ia memancarkan kelembutan, kecantikan
alamiah, kecantikan yang sesungguhnya dan kehangatan yang keibuaan.
Kendati aktif dalam berbagai bidang usaha, organisasi sosial dan politik,
perempuan yang selalu cantik dan lebih muda dari usianya ini, tetap juga
membagi perhatian dan waktunya untuk suami, anak dan cucu-cucunya.
Sukses membina keluarga bagi seorang wanita mungkin bisa dinilai suatu
kewajaran. Tetapi bila bekerja dan mencapai karier yang sangat tinggi
adalah suatu hal yang luar biasa. Ibu Kemala, panggilan akrabnya, juga
dikenal sebagai seorang pengusaha. Karena kecermelangan otak, kemauan, dan
kemampuan berusaha, ia dapat menangkap berbagai peluang yang ada pada
dunia usaha.
Ia tokoh pendiri IWAPI, Ketua IWAPI yang pertama (1975-1982),
yang terus berjuang untuk memajukan kehidupan dan meningkatkan mertabat
kaumnya terutama dibidang ekonomi dan bisnis. Wanita karir kelahiran
Jakarta, 6 Oktober 1944, ini pada usia 28 tahun sudah menjabat Presiden
Direktur PT. Rulan Jaya (1972 – 1979). Kemudian menjabat Presiden Direktur
PT. Arrish Rulan (1979 – 1985).
Sebagai seorang politisi, ia telah dua kali menjadi anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1982 - 1987 dan 1997 – 1999. Sejak
1992, ia menjabat Ketua Umum Wanita Pembangunan Indonesia (WPI). Kini,
dalam era reformasi, ia salah seorang yang gigih memperjuangkan kuota 30
persen kursi untuk perempuan di lembaga legislatif. Bahkan berbagai
kalangan mendorong dan menginginkannya untuk ikut tampil dalam pentas
politik Pemilu 2004.
Ia pun tampil sebagai seorang calon presiden melalui Konvensi Partai
Golkar. Keikutsertaannya dalam konvensi Partai Golkar ini semata-mata
tidak hanya bertujuan meraih kekuasaan sebagai presiden, melainkan juga
sebagai pembelajaran politik. Memberikan pembelajaran dan inspirasi
kususnya kepada kaum perempuan tentang partisipasi politik.
Sebagai seorang inovator, cedekiawan dan guru besar, sampai sekarang pun
dia terus berinovasi. Pemikirannya mamandang jauh ke depan. Sebelum isu
globalisasi merebak, ia sudah ingin membuka pendidikan yang bersifat
global. Tahun 1986 ia mendirikan IEU Of Management. Kemudian mendirikan
Universitas Indonusa Esa Unggul, sebuah universitas nasional yang
berstandar internasional.
Keluarga Motik
Ia memang berasal dari keluarga mapan dan berjiwa pejuang. Ayahandanya
Baharuddin Rahman, seorang keturunan keluarga pangeran di Palembang.
Ibunya juga seorang putri pangeran yang tidak merasa betah tinggal di
Palembang dan kemudian bersekolah di Jakarta.
Sejak tahun 1930 ayahnya
merantau ke pulau Jawa dan bekerja sebagai seorang guru di Taman Siswa.
Ayahya ikut dalam gerakan sumpah pemuda dari awalnya. Karena kebanggaan
dan kecintaan Sang Ayah terhadap cita-cita terbentuknya sebuah bangsa dan
negara yang pada waktu itu belum ada nama Indonesia, Sang Ayah mengubah
nama dari Baharuddin Rahman menjadi Motik yang artinya “Majukan Olehmu
Tanah air Indonesia Kita”.
Nama itu melekat dan menyatu dalam jiwa dan semangat Sang Ayah dan semua
anak-anaknya. Mereka menyepuh diri menjadi manusia-manusia 'Motik', manusia
yang berjuang memajukan tanah air Indonesia.
Sebagai anak tertua dari delapan bersaudara, Kemala Motik sejak kecil
sudah dididik agar menjadi pemimpin dan teladan bagi adik-adiknya.
Kehidupan masa kecilnya, tinggal di daerah Menteng yang berkecukupan,
tidak membuat keluarga ini menjadi sombong dan hanya memikirkan diri
sendiri. “Mungkin karena nama ayah saya, itu yang membuat kami sekeluarga
tidak mau hanya memikirkan diri sendiri,” katanya dalam percakapan dengan
Wartawan Tokoh Indonesia DotCom.
“Salah satu hal yang menarik dalam perjalanan kehidupan kami sekeluarga,
saya berserta 7 saudara, kami dibimbing oleh ayah untuk menjadi
manusia kompetitif yang sehat, tidak mudah menyerah dan tidak pernah
membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan,” tutur ibu bijaksana
yang berupaya menjadi teladan bagi adik-adinya ini. Ia memberi contoh,
jika ia mendapat gelar doktor, adiknya juga berusaha untuk demikian.
Selain itu, ayahnya tidak pernah berhenti menanamkan kepada mereka bukan
saja berhasil dalam kehidupan pribadi tetapi terutama demi bangsa dan
negara.
“Itu yang saya tidak lihat lagi di jaman yang disebut reformasi ini.
Padahal ketika saya bertemu dengan calon-calon mahasiswa, anak-anak SMU,
saya melihat masih ada harapan untuk mau menjadi orang-orang terbaik untuk
bangsa ini. Ada yang mengatakan ingin menjadi hakim yang jujur, dokter
yang baik dan sebagainya. Tetapi dengan keadaan masyarakat yang seperti
ini, dimana setiap orang hanya mencari untuk dirinya sendiri. Suatu
kondisi yang tidak mendukung ke arah sana,” katanya mengungkap kegelisahan.
Padahal, menurutnya, ketika kita menjadi orang yang melayani orang lain,
secara langsung biasnya akan datang kepada kita. “Itulah yang diajarkan
ayah saya kepada anak-anaknya, yaitu menjadi Majukanlah Olehmu Tanah air
Indonesia Kita (Motik).” Untuk dapat menjadi seperti itu, ia belajar dari
Sang Ayah, bahwa kita perlu mendorong anak-anak untuk berani tampil ke
depan dan mempuyai cita-cita dan menangkap visi membangun negara ini.
Bukan sekedar menjadi seorang pejabat tetapi kerjanya hanya sebagai
“perampok” dan “preman”.
Pendiri IWAPI
Ia mengecap pendidikan SMU di Jakarta dan Amerika Serikat. Setelah setahun
duduk di bangku SMU III Teladan, Jakarta, kemudian tahun 1963 ia
dipindahkan ke Culver City High School di Amerika Serikat. Kemudian ia
kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1972.
Selepas menyelesaikan studi dari UI, ia masuk dalam dunia usaha, ikut
bersama ayahnya. Jabatannya yang pertama sebagai Presiden Direktur PT.
Rulan Jaya yang bergerak di bidang ekpor, impor dan trading.
Sejalan dengan perkembangan usaha yang dipimpinnya, pada tahun 1975 ia
mendirikan IWAPI. Di tahun-tahun itu Indonesia baru sedang dalam tahap
memulai pergerakan ekonominya yang sebelumnya banyak dipegang oleh
masyarakat non-pribumi.
Pada waktu itu, ia melihat potensi yang besar di tengah-tengah wanita
Indonesia sebagai penggerak ekonomi nasional. “Saya saksikan ketika pergi
ke pasar, di mana-mana di seluruh pelosok nusantara ini terlihat pelaku
ekonomi di garis paling bawah adalah perempuan,” katanya mengenang
bagaimana ide mendirikan IWAPI itu muncul. Sehingga itulah yang
mendorongnya bersama 10 orang termasuk adiknya Dewi Motik, untuk
mendirikan kelompok pengusaha UKM Indonesia dalam wadah IWAPI.
Organisasi
ini berkembang pesat hingga mencakup seluruh Indonesia. Kehadiran
organisasi ini pula yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota MPR
(1982) mewakili pegusaha perempuan Indonesia yang saat itu masih sangat
langka.
Ia memperhatikan bahwa pengusaha perempuan di Indonesia itu, muncul oleh
karena insting dan kebutuhan hidup. Karena suami tidak dapat mencari
nafkah sehingga isteri yang berinisiatif mencari nafkah. Kebanyakan
perempuan yang berusaha ini tidak bersekolah. Dari kondisi tersebut, ia
tahu kelemahan pengusaha perempuan Indonesia adalah pendidikan.
Sehingga
ia tergerak mendirikan pusat pelatihan dan pendidikan. Di pusat pelatihan
itu, perempuan-perempuan dilatih dalam mengembangkan keterampilannya dalam
menciptakan usaha mandiri. Seperti mendidik dalam keterampilan memasak,
menjahit, konsultan, interior dan berbagai keterampilan lainnya. “Dengan
upaya tersebut kami dapat melatih dan membangkitkan sepuluh ribu pengusaha
wanita di Indonesia pada tahun 1985,” kata mantan Ketua Kompartemen
Pendidikan Kadin Indonesia (1982-1985) ini.
Pendidikan dan Golobalisasi
Tetapi sejalan dengan berdetaknya waktu, ia juga menyadari bahwa pria-pria
Indonesia juga perlu dididik dalam metalitas kerjanya. “Karena kebanyakan
dari masyarakat kita bekerja hanya untuk diperkerjakan saja, menjadi
seorang pegawai atau pegawai negeri. Tidak mempunyai metalitas wirausaha,”
ujar alumni KRA XVII (Kursus RegulerAngkatan XVII) Lembaga Pertahanan
Nasional 1984 ini. Sehingga sejak tahun 1983, ia mendirikan pusat
pendidikan Kadin Indonesia. Kemudian pada tahun 1986 mendirikan IEU Of
Management bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan luar negeri.
Padahal pada waktu itu, tahun 1985, isu globalisasi belum terdengar. Namun,
ia sudah mempuyai visi untuk membawa Indonesia ke era globalisasi itu.
Bahwa suatu saat nanti suluruh negara-negara di dunia akan mengalami
global. Maka ia ingin mendirikan program BBA-MBA pertama di Indonesia.
Namun keinginan ini tidak bisa segera terwujud. Karena Depdiknas belum
siap, dan mengharuskannya untuk mendirikan universitas terlebih dahulu.
Sebenarnya pada awalnya, ia tidak punya niat untuk mendirikan sebuah
universitas. Namun karena diharuskan sebagai persyaratan memnuka program
BBA-MBA, akhirnya ia mendirikan Universitas Indonusa Esa Unggul. Program
BBA-MBA di UIEU ini sampai sekarang terus berkembang dan bahkan telah
memiliki 23 perwakilan kebangsaan dari seluruh dunia.
Ketika pertama kali masuk di dalam dunia pendidikan, ia sudah bertekad
bahwa lulusan Indonesia harus mampu bersaing di dunia global. Maka untuk
dapat mencapai hal itu, ia berupaya mengembangkan UIEU, yang disebutnya
sebagai Kampus Emas, setara dengan universitas di luar negeri. Ia
menerapkan untuk setiap lulusan dari berbagai fakultas harus mengikuti
ujian TOEFL dan harus mencapai 550 poin. Sehingga ia berharap lulusan dari
Kampus Emas ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru, membuka usaha
baru dan mandiri.
Pemikirannya tentang dunia pendidikan memang terbilang inovatif. Ketika
dunia perguruan tinggi nasional sedang oleng dan nyaris kehilangan arah,
dia menyerukan kepada jajaran perguruan tinggi nasional agar merubah
paradigmanya. Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan, ujarnya, sudah
sepatutnya mengganti paradigma yang selama ini dipakai, dari teaching
university menjadi research university.
“Hanya dengan perubahan itulah, sebuah perguruan tinggi tetap eksis dan
mampu mempertahankan eksistensinya,” ujar doktor Manajemen Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta (2002) yang sudah 10 tahun menjabat Rektor UIEU
ini. Pemikiran ini diutarakannya ketika menyampaikan pidato ilmiah
pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia
Esa Unggul, 25 Pebruari 2003 lalu.
Menurut pandangannya, peran perguruan tinggi secara global adalah
memberikan ilmu pendidikan kepada mahasiswa. Tapi, ini saja tidak cukup,
baik untuk mahasiswa maupun untuk perguruannya. Sebab, bila berkutat pada
pemberian ilmu saja, bekal yang didapat mahasiswa tidak beranjak dari
tahun ke tahun. Berkutat di situ-situ saja. Wacana inilah yang perlu
dirombak.
Kegiatan perguruan tinggi, katanya, bukan hanya memberikan pendidikan.
Lebih dari itu melakukan berbagai riset yang menyangkut segala aspek
kehidupan masyarakat. Hal itu bukan saja berguna bagi mahasiswa, tapi
memberi manfaat yang cukup besar terhadap kelangsungan proses pendidikan
di perguruan tinggi. Di sinilah dituntut kemampuan manajemen sebuah
perguruan tinggi untuk menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan
multinasional. Tentunya, kerjasama yang saling menguntungkan.
Banyak manfaat yang diperoleh dari kerjasama itu. Paling tidak, perguruan
tinggi bersangkutan mendapat suntikan dana untuk membiayai berbagai riset.
Yang tidak kalah pentingnya, kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Badan
Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BM-PTSI) periode 1995 –
1999, ini diperlukan kemampuan manajemen perguruan tinggi dalam menenej
keuangan, sehingga tidak terjadi stagnasi. Di samping kemampuan menerapkan
strategi dalam menarik calon mahasiswa. Karena perguruan tinggi yang
diminati mahasiswa, merupakan indikator eksistensi sebuah perguruan tinggi.
Selaian itu, menejemen perguruan tinggi dituntut untuk memberikan kepuasan
atau kebahagiaan kepada seluruh jajarannya. Dengan demikian seluruh
peserta, mahasiswa, dosen dan karyawan dapat meningkatkan kualitas. Alumni
yang merasa puas dapat juga menjadi donatur bagi almamaternya. Dalam
menawarkan program studi yang baik, kalau perlu dengan memberi bantuan
keuangan bagi mereka yang berprestasi dan mencarikannya pekerjaan setelah
lulus.
Menurutnaya, sudah keharusan bagi sebuah perguruan tinggi mempunyai
keunggulan dalam setiap program studi di fakultas. Apalagi di era otonomi
daerah, terbuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk menyesuaikan
keunggulan program studi dengan potensi daerah masing-masing. Sehingga
suatu saat, calon mahasiswa yang berminat mendalami teknologi kelautan,
misalnya, akan mencari perguruan tinggi di daerah yang punya keunggulan
dalam bidang tersebut. Demikian keunggulan dalam bidang pertanian dan
kehutanan, akan menarik minat calon mahasiswa dari seluruh tanah air untuk
kuliah di sana.
Mahasiswa dapat kuliah di daerah-daerah yang berbeda-beda di tanah air,
sehingga penyebaran dalam demografi intelektual muda Indonesia yang akan
mengabdi ke daerah akan merata.
Ia menggaris bawawahi, perguruan tinggi saat ini sedang memasuki era
globalisasi. Dalam kondisi seperti ini diperlukan seorang pemimpin
perguruan tinggi yang memiliki kemampuan dan dapat melihat perkembangan ke
depan. Dia harus dengan cepat menyesuaikan program akademisnya dengan
kebutuhan masyarakat.
Itu jugalah yang mendasari pemikirannya untuk mengembangkan program studi
Fisioterapi di Fakultas Fisioterapi Universitas Indonusa Esa Unggul yang
dipimpinnya. Ini adalah Fakultas Fisioterapi pertama di Indonesia. Tak
berhenti di sini, di bawah kepemimpinannya, Indonusa membuka Akademi
Gerakan Kesehatan.
Obsesi
Setelah menjabat sebagai Rektor UIEU selama hampir sepuluh tahun, ia
merasa sudah saatnya berhenti. Niat ini akan diwujudkannya tahun depan
(2004). Ia ingin kembali ke dunia politik. Ia berobsesi untuk ikut membela
kaum perempuan, sehingga 30 persen kursi di DPR RI dan DPD sungguh
diduduki perempuan.
Ia melihat perempuan Indonesia memiliki potensi yang besar. Penduduk
perempuan di Indonesia terbesar keempat setelah Cina, India dan Amerika.
Jumlahnya sekitar 100 juta lebih. Dari jumlah itu hanya baru sekitar 5-10
persen yang sudah empowerment dan mandiri.
Tentang perjuangan perempuan, menurutnya, harus dikerjakan terus apa yang
patut dikerjakan. Salah satu hasil yang cukup baik adalah disahkannya 30
persen kuota perempuan dalam legislatif. Semua itu, menurutnya, tidak bisa
diberi, tetapi harus diperjuangkan.
Ia kini sedang mempertimbangkan secara cermat, apakah akan masuk ke dalam
partai politik (Parpol). Parpol yang mana? Atau mencalonkan diri menjadi
anggota Dewan Perwakilan Daerah. Dulu ia menjadi anggota MPR melalui
perwakilan golongan dari Kadin. Pada periode berikutnya ia menjadi anggota
MPR melalui Golkar. Tetapi, saat ini ia ingin masuk di DPR atau DPD
sebagai perempuan pejuang. Untuk mempejuangkan perempuan, bukan hanya di
legislatif tetapi juga di eksekutif.
Menurutnya, kondisi Parpol saat ini sangat menyedihkan. Negara kita
satu-satunya di dunia yag memiliki lebih dari 100 Parpol. Negara besar
seperti Amerika saja hanya memiliki dua partai dan Inggris hanya tiga.
Kita di sini berlomba-lomba untuk mendirikan partai. Semua orang ingin
menjadi Presiden. Semua orang ingin menjadi penguasa. Akhirnya, lama-kelamaan
tidak satu orangpun yang memikirkan bangsa ini, hanya memikirkan
kepentingan diri dan kelompoknya.
Kondisi ini pula yang ikut mendorongnya untuk terjun dalam dunia politik.
Dengan obsesi menghadirkan wajah politik keibuan, yang cerdas dan memiliki
kepedulian yang tinggi bagi kepentingan masyarakat banyak, terutama kaum
perempuan yang masih sering kurang ditempatkan pada posisi yang selayaknya,
sepadan dengan laki-laki.
Dalam dunia politik, ia ingin memperjuangkan hak-hak dan martabat kaum
perempuan dari semua aspek. Itu yang pertama. Kedua, ia akan menyuarakan
perbaikan pendidikan nasional yang selama ini terbaikan. Sebab, menurutnya,
salah satu faktor yang menyebabkan bangsa ini tidak dapat bersaing dengan
bangsa-bangsa lain, karena keadaan pendidikan nasional amburadul. Sistem
pendidikan nasional, terutama perguruan tinggi, tidak berorientasi
meluluskan sarjana yang siap pakai. Tetapi hanya membentuk lulusan yang
hanya mau jadi pegawai atau karyawan, sehingga tidak heran ada mahasiswa
fakultas teknik bekerja sebagai karyawan bank.
Ia melihat pisahnya Timor-timur dari Indonesia dimulai karena sistem
pendidikan nasional yang salah. Ketika rakyat Timtim mendapat pendidikan
di luar Timtim setelah lama dijajah oleh Portugis, kembali mereka dari
pendidikan di Jawa, mereka sadar bahwa rakyatnya terbelakang dan menjadi
tidak puas. Kemudian para orang-orang terdidik itulah yang akhirnya
menjadi pemimpin pemisahan Timtim dari Indonesia. “Yang salah bukan
kurikulumnya, namun perlu memberikan mata kuliah tambahan yaitu manajemen
untuk semua fakultas,” ujarnya.
Dampak lain dari amburadulnya sistem pendidikan nasional, menurutnya, bisa
juga dilihat dari kondisi para birokrasi yang belum memiliki karakter
sebagai enterprenir, yaitu menggunakan input yang sekecil-kecilnya dan
menghasilkan output yang sebesar-besarnya. Padahal, Singapura, negara yang
jauh lebih kecil, mampu mendapat kepercayaan dari banyak negara, karena
bisa memberikan keamanan dan kenyamanan serta memiliki karakter sebagai
enterprenir.
Bahkan, ia berpikir, jika ia dapat menjadi Presiden, akan berupaya
memberdayakan (empowerment) semua aspek bangsa. Contohnya, kekayaan laut,
yang selama ini lebih dari ribuan ton ikan dicuri oleh negara lain. “Saya
melihat sendiri ketika saya berunjung ke IDT. Kapal asing dari Tailand,
Taiwan dan Hongkong berada di perairan kita dengan bebas,” ungkapnya.
Begitu juga ketika berkunjung ke Biak, ia melihat produksi ikan tongkol
dan udang yang dikalengkan dengan harga 8 dolar AS untuk dijual ke Amerika
dan Eropa. Untuk mengatasi hal ini, seharusnya, Pemda setempat memberikan
modal kepada nelayan dalam penyedian kapal-kapal penangkap ikan.
Begitu juga dengan pertanian. Dahulu kita dikenal sebagai negara pertanian.
Sekarang negara-negara tetangga kita lebih unggul. Contohnya, dulu Tailand
tidak memiliki durian, namun setelah mereka belajar dari kita, durian
mereka lebih baik dari kita.
“Saya bersama Pak Gafur pernah berkunjung ke Taiwan, kami tinggal di
sebuah hotel di sana. Saya temukan sebuah buah yang asing bagi saya,
bentuknya bulat besar, manis dan berwarna oranye. Saya tanyakan kepada
pegawai hotel, ternyata buah tersebut berasal dari Indonesia yaitu buah
kecapi. Kalau di Indonesia bentuknya lebih kecil dan asam. Sebenarnya,
Indonesia harus lebih dari itu. lalu saya berpikir, Jika bangsa lain bisa,
kenapa kita tidak bisa? Itu semua dimulai dari kemauan yang keras dari
pemimpin bangsa,” ujar isteri Dr Abdul Gafur ini.
Maka untuk mengatasi kompleksnya persoalan bangsa ini, menurutnya, salah
satu hal yang juga saat ini sedang ia kerjakan adalah mengubah paradigma
Perguruan Tinggi. Pendidikan Tinggi bukan hanya sekedar pendidikan, tetapi
juga penelitian. Ia memulai dari UIEU. Perlu lebih memperbanyak penelitian
terhadap kekayaan bangsa kita. Seperti, masalah Otonomi Daerah, ia melihat
hal ini sebenarnya perlu penelitian lebih lanjut. Jika ada pemekaran
daerah, dalam rangka pemekaran apa?
Kemudian penelitian akan potensi-potensi setiap daerah, juga harus
dikerjakan. Contohnya Bali, daerah ini memiliki objek parawisata. Kemudian
Lombok, mungkin dengan perikanan dan sumber lautnya, walaupun berdekatan
dengan Bali. Lalu Kupang, mungkin unggul dalam perternakan dan hasil hewan
dan sebagainya. Dengan ini ada namanya spesifikasi hasil daerah. “Ini yang
sampai sekarang belum saya lihat. Menghubungkan antara sumber daya alam (SDA)
dengan sumber daya manusia (SDM) yang ada, antara penelitian dan
pendidikan, maka kita akan memiliki SDM yang unggul,” ujarnya.
Menyinggung soal kondisi bangsa saat ini, ia mengemukakan rasa paling
kesalnya melihat banyak orang mengidentifikasikan dirinya sebagai orang
politik atau orang partai, bahkan sektarian. Bukannya berpikir sebagai
satu bangsa yang besar, bahkan hanya berpikir bagaimana mendapatkan suara
terbanyak. “Itu membuat saya sangat kesal. Hingga saya pernah mengatakan
kepada rekan-rekan lulusan Lemhanas, jika seperti ini terus, bangsa ini
bisa hancur,” kata lulusan International Marketing Institute, Cambridge
Mass, USA (1975) ini.
Maka, menurutnya, siapapun yang akan terpilih menjadi presiden pada Pemilu
mendatang, dia harus melepaskan jabatannya sebagai ketua atau keanggotaan
partainya. Tidak bisa ada dwifungsi. Ketika seseorang masuk jajaran
birokrasi lepas semua atribut partai. Karena sekarang kita harus berpikir
sebagai bangsa, bukan kelompok apalagi pribadi.
Lalu ia pun bertekad akan memulainya ketika nanti masuk dalam dunia
politik. Ia ingin jadi teladan dengan melepaskan atributnya terhadap
kepentingan apapun, selain kepentingan bangsa dan negara. Karena dengan
berpikir sempit dan sektarian, hanya akan membawa sebuah partai atau
kelompok menjadi besar tetapi menghancurkan bangsa ini. Sehingga, harus
lahir seorang pemimpin yang mau menjadi teladan. Baginya, seorang pemimpin
adalah seseorang yang mampu memiliki visi dan misi yang besar. Mampu
melihat ke depan dan mengerjakan apa yang dia lihat ke depan dengan
sungguh-sungguh.
Kendati sibuk dengan berbagai aktifitasnya, ia selalu punya kesempatan
untuk menjaga kesehatan agar tetap fit dan segar. Untuk itu ia tetap
melakukan kegiatan olah raga dan menyalurkan hobbynya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Atur/Yusak.
|
|