| |
C © updated 01112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/suara merdeka |
|
| |
Nama:
Kartika Affandi
Lahir:
Jakarta, 27 November 1934
Ayah:
Affandi
Ibu:
Maryati
Suami:
1. RM Saptohoedojo (nikah 1952 cerai 1972, delapan anak)
2. Gerhard Koberl, warga Austria (nikah 1985 cerai 2000)
Pendidikan:
SMP Taman Dewasa Taman Siswa Jakarta 1949
Universitas Tagore di Shantiniketan, India
Belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London
Belajar teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang
dilanjutkannya di Roma
Penghargaan:
- Doktor honoris causa dari Northern California Global University
- "The Best Indonesian Professional Award" dari Forum Wartawan Independen
Jawa Tengah (Forwija)
|
|
| |
|
|
|
|
Kartika Affandi
Bunga Matahari Tanpa Busana
Pelukis perempuan tanpa busana ini menggelar pameran
tunggal bertajuk Menengok Perjalanan Kehidupan. Sejumlah lukisan putri
maestro Affandi, ini merekam suasana kejiwaan dan perjalanan hidupnya. Mulai dari pemandangan tubuh perempuan tanpa busana, sampai
wajah yang teralingi kawat berduri dan "potret diri" berupa tanaman bunga
matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.
Tak mudah menjadi anak seorang Affandi. Gaya ungkap empu seni lukis
Indonesia itu, yang diakrabinya sejak usia dini, kelak membayangi
kanvas-kanvasnya sendiri. "Saya tak mau menjadi papi ke-2," tutur
Kartika menyebut ayahnya dengan panggilan "papi".
Dorongan Affandi yang mengatakan bahwa kekuatannya justru pada dirinya
yang perempuan telah membukakan jalan. Garis-garisnya kemudian lebih
lembut dan terbukti ia lebih teliti. Ia juga sering memilih obyek yang
khas seperti hewan menyusui.
"Ketika papi mengatakan: kamu telah menemukan diri sendiri, saya seperti
terlepas dari beban," tutur Kartika, di tengah ruang pamerannya di Galeri
Nasional di Jakarta, yang peresmiannya pada Kamis (28/10/2004) malam
begitu meriah.
Di dalam pameran lukisan untuk menyongsong usianya yang ke-70 itu, ia
menyajikan karya-karya penting sepanjang empat dekade kariernya. Boleh
dikata, itu juga versi visual dari cuplikan hidupnya yang penuh drama.
Kartika dua kali menikah. Pernikahannya yang pertama dengan RM
Saptohoedojo pada tahun 1952 berujung dengan perceraian pada tahun 1972
sesudah mendapat delapan anak. Ia menikah untuk kedua kalinya pada tahun
1985 dengan Gerhard Koberl, seorang warga Austria, namun bercerai tahun
2000.
Sejumlah lukisannya merekam suasana kejiwaan yang ia alami, sejak
pemandangan tubuh yang meruyak, sampai wajah yang teralingi kawat berduri.
Di dalam sebuah lukisan yang disebutnya "potret diri", ia menggambar
tanaman bunga matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.
"Itu memang saya. Saya senang bunga matahari karena batangnya bisa sangat
besar, tetap tegak walau agak doyong, dan bunganya selalu menantang,
menghadap matahari," kata Kartika. "Di sisi lain, itu ada bunga matahari
lain yang kecil, yang menjauh dari saya, itu Mas Sapto…."
Potret diri yang khas ini rupanya bagian akhir pernikahan pertamanya. Ia
menambahkan, "Saya tidak ada dendam lho, wong saya sampai sekarang yang
mengurus kuburan Mas Sapto."
Mungkin itu sebabnya ia memajang sebuah lukisan potret mantan suami
tersebut di dalam pameran. Katanya, ia mengoleksi barang tiga buah lukisan
tentang seniman yang kondang oleh kemampuan artistik sekaligus keahlian
dagangnya ini.
Sesudah bercerai, praktis Kartika mendapat dukungan penuh dari ayahnya. Ia
menuturkan, "Waktu itu enggak ada modal, ya cat, ya kanvas, jadi ikut papi.
Ke mana-mana saya ikut melukis."
Seperti ayahnya, Kartika menghabiskan waktu hanya di dalam hitungan jam,
terkadang kurang dari tiga jam, untuk membuat lukisan. Ia juga menggunakan
tangan dan jari-jarinya untuk menorehkan cat ke permukaan bidang gambar,
merasakan sentuhannya, dan tidak teraling oleh alat seperti kuas.
Ayah dan anak ini sangat suka melukis langsung di tempat, di luar rumah.
Kegiatan seperti ini, yaitu bepergian dan mendapatkan obyek menarik,
termasuk para model, terus dilakukannya. Ia melakukan perjalanan ke
berbagai daerah, juga ke berbagai negara untuk menemukan lingkungan dan
suasana yang khas, yang cocok dengan perasaannya. Sebagian dari hasilnya
ia pamerkan, seperti pemandangan sebuah warung kopi di Prambanan, potret
dirinya di tengah salju, Tembok Besar di China, sebuah kampung di Penang,
Malaysia, atau di Thailand.
Kartika lahir di Jakarta, 27 November 1934, sebagai anak tunggal dari
pasangan Affandi dan Maryati. Pada usia dini ia ikut hidup "menggelandang".
Konon ia sempat ikut tidur hanya beratapkan papan reklame. Di tengah tidur
lelap, keluarga ini harus selalu siap kalau tiba-tiba jatuh hujan dan
segera menggulung tikar. Tidur dilanjutkan kalau hujan sudah reda. Mereka
mandi dan buang air di WC sebuah gedung bioskop.
Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 1 SMP Taman Dewasa Taman Siswa
Jakarta pada tahun 1949. Ia kemudian belajar di Universitas Tagore di
Shantiniketan di India sebagai mahasiswa luar biasa berkat beasiswa dari
Pemerintah India. Ia juga pernah belajar seni patung di Polytechnic School
of Art di London. Tahun 1980 ia belajar teknik pengawetan dan restorasi
benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma. Kini ia memang
salah satu restorator lukisan di Indonesia.
Menjadi restorator lukisan sangat menghabiskan waktu. Kartika mengaku
menekuninya untuk membalas budi orangtuanya, untuk merawat
lukisan-lukisannya.
"Apa yang bisa saya berikan kepada mereka? Mobil punya, rumah punya lebih
hebat daripada saya," tutur peraih berbagai penghargaan dari sejumlah
negeri ini. Yang terbaru adalah gelar doktor honoris causa dari Northern
California Global University yang ia ceritakan dengan cukup bersemangat.
Hubungan dengan orangtuanya cukup dekat. Tak banyak dijumpai lukisannya
tentang Maryati, tetapi ia cukup sering menggambar Affandi, yang
dianggapnya selalu memberi dorongan untuk terus maju.
Katanya sang papi memberinya nama "Kartika" karena itu adalah nama bintang
yang tetap bersinar walaupun langit tengah mendung. Itu dianggapnya
sebagai harapan agar ia juga tetap bersinar menghadapi hidup yang sukar.
Semangat ayahnya ini ia rasakan terus mendorongnya bahkan sampai di usia
senja kini.
"Itu sebabnya wajah papi mengisi bulatan matahari di lukisan saya,
sedangkan saya bunga mataharinya. Papi terus memberi semangat agar saya
tetap kuat sesudah dua kali pernikahan saya gagal," kata Kartika, yang di
tengah percakapan didatangi oleh cucu-cucunya untuk sekadar memberi salam.
Seluruhnya, ia memiliki 19 cucu dan lima buyut.
Di usia senja ia masih bersemangat untuk terus melukis. Tahun ini ia sudah
menghasilkan sekitar 30 lukisan, yang ia siapkan untuk pameran berikut. Ia
juga merancang sebuah museum seni di kompleks rumahnya yang asri di tanah
seluas satu hektar di kawasan Pakem, Yogyakarta. Untuk pengisi museum itu,
kini ia sudah menyimpan sekitar 700 lukisannya, namun ia berpikir untuk
memberi tempat pada karya sejumlah pelukis wanita lain.
Kartika cukup sering terlibat di dalam kegiatan sosial. Ia antara lain
telah mendirikan Yayasan Karnamanohara yang mengelola sebuah sekolah
tunarungu. "Saya ingin berbagi...," katanya. ►e-ti/efix mulyadi {Kompas
Senin, 1 November 2004}
Jawa Pos Sabtu, 30 Okt 2004,
70 Tahun Kartika Affandi
Perempuan tanpa busana itu telentang santai di sebuah pembaringan. Tangan
kirinya menyilang di bawah bantal yang mengganjal kepalanya. Matannya
melirik sosok perempuan lain yang sedang duduk santai di depannya. Pada
tubuh perempuan yang tengah duduk ini juga tak terlihat sehelai benang
pun. Sepertinya kedua perempuan ini tengah tenggelam dalam obrolan santai.
Sosok dua perempuan ini muncul dalam lukisan karya Kartika Affandi yang
dipamerkan dalam pamern tunggalnya yang bertajuk Menengok Perjalanan
Kehidupan. Lukisan berjudul Dialogue berukuran 150 x 120 cm ini menjadi
salah satu dari 122 karya yang dipamerkan di Galeri Nasional hingga 6
November 2004. Pameran yang juga menjadi penanda usia 70 tahun Kartika ini
sekaligus menjadi semacam rekaman perjalanan seni lukis putri seorang
maestro Indonesia.
"Karya-karya yang ada dalam pameran ini saya buat sejak 1957 hingga 2003,"
terang Kartika. Putri Affandi ini yang kini telah memiliki 19 cucu dan
lima cicit ini menyatakan emosi menjadi pemompa semangatnya dalam melukis.
"Lukisan-lukisan saya selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekitar
saya."
Keterlibatan emosi ini menjadi syarat penting bagi Kartika saat berkarya.
Sesosok wajah sedih atau sebuah suasana di tengah pasar bisa saja menjadi
sumber inspirasinya asalkan melibatkan emosinya.
Selama terjun dalam dunia seni rupa, Kartika dikenal dengan gaya yang sama
dengan ayahnya, ekspresionisme. Bukan itu saja, teknik melukis khas
Affandi dengan cara langsung menorehkan cat dari tube-nya juga dilakukan
oleh Kartika. Hasilnya, muncullah lukisan-lukisan yang sangat mirip dengan
karya Affandi.
Kartika mengakui keterpengaruhan itu. Dia tak menganggapnya masalah.
Kendati begitu, Kartika mengaku masih terus berusaha bisa lepas dari
bayang-bayang ayahnya. Salah satu usaha untuk lepas dari bayang-bayang
Affandi ini adalah menggunakan warna hitam putih saja pada 1973. Namun,
cara ini akhirnya dia tinggalkan.
Pameran ini menyuguhkan karya-karya yang sangat beragam dan menarik. Mulai
dari lukisan-lukisan yang menyajikan pemandangan alam hingga yang lebih
bersifat retrospektif. Tengok saja salah satu karya Kartika yang berjudul
Rebirth. Lukisan berukuran 132 x 132 cm karya tahun 1981 ini tidak sekadar
menampilkan kematangan teknik "pencet tube". Dalam lukisan ini Kartika
menghadirkan sosok kepala manusia yang menyembul dari selangkangan seorang
perempuan. Kemunculan kepala dengan wajah murung ini sekilas mirip dengan
proses kelahiran seorang bayi.
"Lukisan ini adalah lambang dari apa yang tengah saya alami waktu itu.
Saat itu saya benar-benar merasa seperti telah dilahirkan kembali," terang
Kartika sembari berbagi cerita mengenai masa-masa sulit yang berhasil ia
lewati kala itu. Selain menampilkan karya lukisan, pameran ini juga
memajang karya litografi.
"Sebenarnya, saya banyak membuat karya litografi. Namun, dalam pameran ini
hanya satu yang dipamerkan," jelas Kartika. (tir)
Suara Merdeka Sabtu, 4 Januari 2003
Berobsesi Punya Galeri Pribadi
KETENARAN nama pelukis seperti Kartika Affandi agaknya tidak terlepas dari
nama besar ayahnya, maestro pelukis Affandi. Tetapi sebenarnya mungkin itu
cuma kebetulan, sebab sosok Kartika sejak muda pun sudah berprestasi. Pada
1968, misalnya, dia meraih penghargaan berupa beasiswa dari Pemerintah
Prancis.
Dua belas tahun kemudian, 1980, Konservator Museum Affandi ini mendapat
"Gold Medal" dari Academica Italia, dan 1983 mendapat AUREA Gold Medal
dari International Parliament for Security and Peace USA.
Pada 1984, putri pelukis Affandi ini memperoleh beasiswa dari ICCROM,
berikutnya tahun 1985 meraih Master of Painter dari Youth of Asian Artist
Workshop, pada 1991 mendapat penghargaan Outstanding Artist dari Mills
College at Oakland California.
Penghargaan terakhir, pada Desember 2002 memperoleh penghargaan "The Best
Indonesian Professional Award" dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah
(Forwija). Pada malam penganugerahan ini, lukisannya dibeli kolektor Budi
Setiawan seharga Rp 34 juta.
Usianya boleh merambat tua, tetapi untuk mewujudkan obsesinya memiliki
galeri pribadi, tidak pernah surut, meski sebetulnya tempat pameran atau
galeri yang sekarang ada (milik Affandi-Red) sudah sesuai dan pas untuk
disajikan kepada pengunjung atau kolektor.
"Saya ingin sebuah tempat untuk pameran secara pribadi, sebab tempat ini
kan milik Bapak. Saya punya tanah di Pakem. Kalau Tuhan menghendaki, pasti
ada jalan keluar," kata wanita pelukis yang pertama berpameran bersama
wanita pelukis lain di Yogyakarta pada 1957. (ant-29t)
***
Suara Pembaruan, 1 November 2004
Menengok Perjalanan 70 Tahun Pelukis Kartika Affandi
ME AND THE DANCER - Salah satu lukisan Kartika Affandi berjudul "Me and
the Dancer" menunjukkan kecenderungannya menggarap potret diri. Sekitar
100 karya lukis Kartika dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jl Medan
Merdeka Timur No 14 , Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004.
Tak banyak orang tahu, kapan seorang Kartika memutuskan menjadi pelukis.
Ide mengikuti jejak sang ayah, Affandi, nyaris tak terpikirkan. Tetapi
komentar sinis mantan suaminya, Saptohoedojo, justru melecut semangatnya.
Kini sudah hampir 50 tahun Kartika berkarya.
Itulah salah satu cerita di balik pameran tunggal Kartika Affandi. Pameran
yang diberi tema Menengok Perjalanan Hidup Kartika Affandi (Looking Back
Through Life) ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan
Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004. Acara ini digelar
sekaligus dalam rangka ulang tahun Kartika yang jatuh pada 27 November.
"Inilah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh kesempatan
melihat dan mengkaji lukisan-lukisan yang telah saya buat sekitar tahun
1957 sampai saat ini. Pameran ini merupakan sebuah perjalanan panjang
dalam kehidupan berkesenian saya dan tidak pernah terlepas dari pengaruh,
baik dari dalam maupun luar kehidupan keluarga. Satu tantangan besar bagi
saya untuk berada di bawah bayang-bayang nama besar Affandi yang merupakan
ayah, guru dan teman sejak awal karier saya," kata Kartika.
Dalam katalog pameran yang ditulis Ajip Rosidi, Kartika dikisahkan pernah
kecewa dengan komentar suami, Saptohoedojo. Lukisan Kartika diragukan
dapat menarik minat kolektor. Alih-alih, sang suami malah menyarankan
untuk berganti aliran, agar lebih bernilai komersial. Tetapi Kartika
menolak dan tetap melukis menurut kehendak hatinya.
Meskipun menulis cerita itu, Ajip pun juga tak begitu yakin siapakah yang
mengisahkan tentang awal karier Kartika sebagai pelukis. Tetapi Ajip
setidaknya menyebut cerita itu berasal dari Affandi atau Kartika sendiri.
Sekurangnya, sejak kejadian itu, Kartika akhirnya memutuskan untuk terus
menekuni seni lukis.
Menurut Ajip, Kartika memang nyaris identik dengan sang ayah, Affandi.
Dalam hal gaya, bepergian, dan melukis diri. Tetapi Kartika punya
kebebasan besar untuk berekspresi.
Affandi tampaknya memang tak pernah memaksakan Kartika untuk membuat
lukisan komersial. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa gaya Kartika
lebih dekat dengan Affandi daripada Saptohoedojo, mantan suaminya.
Beberapa kesamaan juga dikenali Ajip dari Kartika dan Affandi. Pasangan
anak dan bapak itu sama-sama gemar bepergian dan mengunjungi tempat baru.
Keduanya gemar melukis di lapangan dan berhadapan muka dengan objek.
Tetapi lukisan Kartika tak memunculkan penderitaan kemanusiaan seperti
lukisan Affandi. Soal potret diri yang juga menjadi kemiripan, Kartika
tampak lebih menonjolkan pengalaman batinnya. Sementara Affandi lebih suka
melukis dirinya saat sedang beraktivitas tertentu.
Kartika juga tak sungkan menumpahkan perasaan hatinya di atas kanvas. Tak
heran, muncullah lukisan-lukisan bertema sentimental dan personal. Hal itu
tergambar dari sejumlah judul lukisan seperti, Self Potrait and
Disappointment, My Head's Broken dan I'm Half Dead.
"Saya menumpahkan berbagai bentuk kemarahan, kekhawatiran , rasa sakit,
kesedihan dan juga kebahagiaan yang saya alami dan segala sesuatu yang
terjadi di sekitar saya ke atas kanvas. Hal-hal lain yang mempengaruhi
kesan di sekitar subyek lukisan saya adalah kejujuran, spontanitas dan
keterbukaan yang dapat memberikan perubahan suasana," ujar wanita
kelahiran Jakarta ini.
Menurut Kartika, rekaman kehidupan seperti itu memiliki nilai yang tinggi
dan mungkin tidak ada kesempatan kedua untuk menangkapnya. Melukis bagi
Kartika merupakan cermin jiwa yang tidak akan terpuaskan dengan apa yang
telah dipelajarinya. Kartika mencoba menapak selangkah demi selangkah
dalam perjalanan kehidupan dan mencari kejujuran yang akan mengekspresikan
kebenaran.
Dalam pameran ini, seperti tulisan Amir Sidharta dan Farah Wardhani,
karya-karya Kartika terbagi dalam empat bagian. Antara lain, Wajah-wajah
Akrab, Kehidupan, Tempat dan Potret Diri. Tema-tema itu terwakili beberapa
judul lukisan seperti, My Father on Peddycab, A Fisherman Takes a Rest, A
Coffe Shop in Prambanan Market, dan Self Potrait and Goat for Offering.
"Saya melukis dengan senang hati. Dengan rasa cinta. Contohnya lukisan
Self Portrait and Goat for Offering. Waktu itu minggu Idul Adha, saya
melihat kambing kurban yang hendak dipotong. Andaikan saya menjadi kambing
seperti apa rasanya hendak dipotong dan kepanasan. Sejak dulu, saya
percaya kelahiran kembali," cerita Kartika kepada wartawan sebelum membuka
pameran.
Di usianya yang kian senja, Kartika masih menyimpan satu obsesi besar. Dia
berencana mendirikan sebuah museum seni lukis di daerah, Pakem, Yogyakarta.
Soal tempat sudah siap, tetapi dia masih menunggu izin dari pemda setempat.
Kelak, museum tersebut diperuntukan khusus karya-karya pelukis wanita.
"Coba bayangkan berapa banyak museum lukisan? Tetapi semuanya punya
pelukis laki-laki. Mana ada museum untuk perempuan? Kalau saya sebagai
pelukis perempuan lalu siapa yang akan memikirkan dan berbuat? " katanya
retoris.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|