| |
C © updated 31122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Biodata
Nama:
dr Kanserina Esthera Dachi
Lahir:
Jakarta, 29 Juni 1961
Pendidikan:
- SD sampai SMA di Belawan, Medan, Sumatera Utara
- Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, lulus 1987
Suami:
Faigiziduhu Bu’ulölö, dosen Fakultas Matematika IPA USU
Anak:
- Beatrice Angela Bu’ulölö (22), dokter muda di RSUP Adam Malik,
Medan
- Roland Lukas Bu’ulölö (19), kuliah di Jurusan Teknik Informatika,
Institut Teknologi Bandung.
Karir:
- Dokter pada RSU RM Djoelham, Binjai, 1988-1992
- Staf Kantor Dinas Kesehatan Kota Medan, 1992
- Bertugas di Puskesmas Pembantu Tanjung Gusta, 1992-1995
- Berkarya di Nias, 2001-sekarang.
Alamat:
|
|
| |
|
|
|
|
| KANSERINA HOME |
|
|
 |
Kanserina Esthera Dachi
Dokter Spesialis di Nias
Kanserina Esthera Dachi, dokter spesialis penyakit dalam yang bangga dan
bahagia memilih melayani di daerah 'terisolasi' Pulau Nias. Tidak banyak
dokter yang bahagia mengambil pilihan merelakan kepentingan sendiri,
hidup jauh dari keluarga, meski pilihan hidup "lebih baik" di kota bisa
digenggamnya.
Sejak tahun 2001 dia menjadi satu-satunya dokter spesialis penyakit
dalam di Pulau Nias. Sebelumnya, dokter spesialis penyakit dalam tidak
pernah ada di Tano Niha. Meskipun jauh dari gemerlap hidup dokter
spesialis, Kanserina mengaku bangga.
Bangga, sebagai orang Nias bisa melayani orang Nias sendiri. Kebahagiaan
itu meretas di dalam rumah dinas dari papan kayu 6 meter x 12 meter
beratap seng. Pilihan hidup Rina, panggilan akrab perempuan 46 tahun itu,
tidak seperti dokter spesialis kebanyakan.
Nias yang terisolasi secara geografis bukanlah medan ringan bagi seorang
dokter. Meskipun begitu, tak terdengar keluhan dari penghuni rumah di
Jalan Cipto Mangunkusumo, Gunungsitoli, itu. Tinggal di rumah yang
terletak 10 meter dari RSU Gunungsitoli tersebut mengharuskan dia on
call (bisa dihubungi) setiap saat jika ada yang membutuhkan.
Kewajiban memberi pelayanan kesehatan tak terbatasi waktu. Apalagi, Nias
baru saja dilanda bencana tsunami dan gempa. Kebanyakan orang Nias sakit
tuberkulosis (TB) dan anemia. Setiap hari, sedikitnya lima penderita TB
yang dia layani.
Kewajiban yang begitu besar memang tidak sebanding dengan pendapatan
yang dia terima. Meski penghasilan bersih Rina hanya Rp 3,8 juta per
bulan, itu tidak membuat dia merasa kekurangan. Pendapatan itu sudah
cukup membahagiakannya.
Dari uang itu, paling tidak Rp 1,2 juta setiap bulan pasti dia
belanjakan untuk pergi ke Medan menemui suami dan anaknya. Belum
termasuk biaya komunikasi via telepon dengan keluarganya.
Pendapatan Rina jauh lebih kecil dibandingkan dengan insentif seorang
dokter magang sebuah universitas terkemuka yang sengaja didatangkan ke
Nias untuk mengisi kekurangan dokter. Para dokter muda itu mendapat
insentif Rp 15 juta per bulan (separuh dari jumlah itu diperuntukkan
bagi almamaternya).
Amanat orangtua
Bertugas di Nias mempunyai arti khusus bagi Rina karena merupakan amanat
orangtuanya, Sozanolo Dachi (almarhum). Ayahnya menginginkan Rina
mengabdi di Tano Niha (tanah Nias). Maka, sejak 2001 dia menjadi
satu-satunya dokter spesialis penyakit dalam di pulau itu.
Tahun 2001, sahabatnya yang juga Wakil Bupati Nias Agus H Mendrofa
menemuinya di Medan. Agus mengajak Rina mengabdi di Nias. Dalam sejarah,
tak pernah ada dokter spesialis penyakit dalam bertugas di Nias. Para
dokter, apalagi dokter spesialis, enggan bertugas di daerah yang
terkepung lautan luas dan terpisah dari daratan Sumatera itu.
Apa yang dia lakukan selaras dengan nama pemberian orangtuanya.
Kanserina Esthera berarti "ibu harapan pembela keadilan". Begitulah
kira-kira harapan orangtuanya kepada Rina.
Sebelum ke Nias, perempuan yang lahir di Jakarta, 29 Juni 1961, ini
belum banyak tahu tentang tanah leluhurnya. Maklum saja, ayahnya seorang
pegawai negeri sipil di Departemen Perhubungan. Masa sekolahnya dari SD
sampai pendidikan spesialis dia jalani di Medan. Orangtuanya bertugas di
Administratur Bandara, Pelabuhan Belawan.
SD sampai SMA dia jalani di Belawan, Medan. Kemudian masuk Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) dan lulus 1987. Rina
kemudian melanjutkan pendidikan spesialis penyakit dalam, juga di USU.
Pengalaman tugasnya hampir seluruhnya dia jalani di Medan dan sekitarnya
sebelum memilih tanah leluhurnya di Nias. Pada awal karier sebagai
dokter, dia bertugas di RSU RM Djoelham Binjai (1988-1992). Dia juga
pernah menjadi staf Kantor Dinas Kesehatan Kota Medan (1992). Sebelum
mengambil program pendidikan dokter spesialis, Rina bertugas di
Puskesmas Pembantu Tanjung Gusta 1992-1995, dan sejak 2001 sampai
sekarang dia mengabdi di Nias.
Korban gempa
Meskipun juga menjadi korban gempa pada 28 Maret 2005, bukan berarti dia
libur bertugas di Nias. Pada saat gempa, rumahnya terbelah jadi dua,
lantainya ambles. Namun, Rina tetap memberikan pelayanan bagi korban
gempa. Bahkan, sampai sekarang pun rumahnya belum direhabilitasi.
Dia sempat mengoperasi korban gempa yang kepalanya robek tertimpa
reruntuhan bangunan. Saat itu tenaganya sungguh berarti karena
pertolongan medis pertama baru sampai 21 jam setelah bencana terjadi.
"Ada 79 orang yang sempat saya tangani. Sebagian besar harus menjalani
pembedahan dan pertolongan pertama," kenangnya. Semua itu dia lakukan
dengan peralatan seadanya dan obat-obatan sisa di RSU Gunungsitoli.
Masa sulit itu justru membuat dia berkesan. Itu tidak membuatnya kapok
bertugas di Nias. Dukungan dari suami dan dua anaknya merupakan semangat
terbesar.
"Suami saya tidak pernah meminta saya kembali ke Medan, begitupun
anak-anak," katanya. Setiap hari, komunikasi dengan suaminya,
Faigiziduhu Bu’ulölö, dosen Fakultas Matematika IPA USU, dia lakukan
melalui telepon. Di rumah papan kayu, hidup sendiri tak membuat dia
kesepian. Di saat senggang, Rina gemar merancang baju dan tas. Kedamaian
itu anugerah terindah yang dia terima.
Sebulan sekali Rina pulang untuk bertemu keluarga di Medan. Anak
pertamanya Beatrice Angela Bu’ulölö (22) kini bertugas sebagai dokter
muda di RSUP Adam Malik, Medan. Adapun anak bungsunya, Roland Lukas
Bu’ulölö (19), kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi
Bandung (ITB).
Belum terlaksana
Suatu hari, orangtuanya pernah berpesan agar dia nanti bertugas di RS
Lukas, Nias Selatan. Rumah sakit yang terletak sekitar 90 kilometer dari
Gunungsitoli itu pada tahun 1960-an merupakan rumah sakit termodern di
Nias. Bahkan, sebagian peralatan medisnya tercatat paling bagus di
seluruh RS di Sumut.
Rumah sakit yang didirikan di atas tanah kakeknya itu merupakan bantuan
misionaris Jerman yang kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah.
Belakangan, RS itu bukannya bertambah maju, malah semakin mundur dan "
turun" status menjadi puskesmas.
Bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias untuk
RS itu terkendala persoalan ego sektoral. Para elite pemerintah dan
legislatif di Nias Selatan berencana memindahkannya ke tempat lain.
Pemindahan itulah yang kemudian menimbulkan perdebatan tak berujung.
Kanserina sedih. Persoalan itu menghambat pengembangan rumah sakit
satu-satunya di Nias Selatan. Baginya, pindah dari Pulau Nias merupakan
pilihan yang sulit. Satu sisi, dia ingin dekat dengan keluarganya, satu
sisi dia ingin memenuhi amanat orangtuanya yang belum terlaksana. "Saya
sulit menjawab, antara ya dan tidak," katanya saat ditanya soal
kemungkinan pindah dari Pulau Nias. (Andy Riza Hidayat, Kompas, 31
Desember 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|