| |
C © updated 05092009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Juwono Sudarsono
Lahir:
Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942
Jabatan:
Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu
Agama:
Islam
Isteri:
Prihanum Martina
Anak:
- Wisnu Juwono
- Yudhistira Juwono
Ayah:
DR Sudarsono
Ibu:
Muspiah
Pendidikan:
- Sarjana Publisistik Universitas Indonesia (1965)
- Institute of Social Studies, Den Haag (1969)
- MA dari University of California (1971)
- PhD dari London School of Economics and Political Science Inggris,
disertasi berjudul "Politik Luar Negeri Indonesia 1965-1975: Studi Kasus
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat" (1978)
Karier:
- Guru besar tamu Columbia University, New York, AS (1986-1987)
- Guru besar Universitas Indonesia (1988-sekarang)
- Dekan FISIP UI (1988-1994)
- Wakil gubernur Lemhanas
- Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan VII Presiden
Soeharto (1997-1998)
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Reformasi (Mei 1998-Oktober
1999)
= Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (Oktober 1999-Agustus
2000)
- Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004)
- Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu (21 Oktober 2004-20 Oktober
2009)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Jasa Utama
- Satya Lencana Dija Sistha
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.13-14 Jakarta Pusat, Telp. (021)
3458947
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri VII No. 20, Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310
Telepon (021) 75909878 Faksimile (021) 75910235
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 =
WAWANCARA:
01 02
=
Juwono Sudarsono (Wawancara 02)
TNI, Dari Bobo Jadi Akuntable
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dibantu Letjen TNI Sjafrie
Sjamsoeddin sebagai Sekjen Dephan dan segenap jajaran Dephan berhasil
menata kembali masalah pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).
Dari kondisi BOBO, Boros dan Bocor, selama 30 tahun lebih pada masa orde
baru menjadi lebih akuntable, efisian dan efektif.
Di bawah kepemimpinannya, Dephan telah bertekad melakukan reformasi
layanan publik di bidang pertahanan negara, untuk membuat Dephan dan TNI
betul-betul menjadi layanan publik di bidang pertahanan dan keamanan.
Hal itu dikemukakan Menhan Juwono Sudarsono dalam wawancara eksklusif
dengan Tokoh Indonesia.Com, Rabu 12 Agustus 2009, selama dua jam lebih,
mulai pukul 10:00 sampai 12:04 WIB di ruang kerjanya, Kantor Dephan,
Jalan Medan Merdeka Barat No.13-14. Berikut bagian kedua petikan dari
wawancara tersebut.
TI: Sekarang, kita masuk ke apa yang Anda lakukan selama
Menteri Pertahanan masa Kabinet Indonesia Bersatu. Kemarin presiden
menganugerahkan penghargaan Bintang Yudha Dharma Utama kepada Anda
sebagai Menteri Pertahanan karena dinilai mampu menjalankan pengabdian
yang sebaik-baiknya sebagai pembina lembaga pertahanan TNI. Memangnya
apa yang Anda lakukan sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
memberikan penghargaan ini saat Anda masih bertugas aktif sebagai
Menhan?
JS: Saya kira, saya melakukan apa yang beliau pesankan pada 2004.
Bahwa TNI itu harus dikelola secara akuntabel, transparan, dan
demokratis. Dalam arti, melalui Departemen Pertahanan, pembiayaan dan
penganggaran TNI tidak lagi didominasi oleh apa yang dulu dimiliki oleh
TNI. Termasuk bisnisnya, termasuk serba hadirnya serba kuatnya
dimana-mana, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Supaya diukur kembali
peran TNI itu sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi dan akuntabilitas.
Demokrasi itu antara lain adalah tunduk kepada penganggaran melalui
simpul-simpul Dephan, Depkeu, Bappenas secara transparan. Tapi sebenanya
jasa yang paling besar dari beliau sendiri. Karena sebagai mantan TNI
malah beliau lebih demokratis dan lebih transparan daripada saya.
TI: Contohnya?
JS: Tentang RUU Kamnas, tentang peran pelibatan TNI atau Polri.
Beliau mengatakan, Polri menjadi penjuru utama dari keamanan dalam
negeri. Saya justru lebih menekankan perlunya peranan TNI yang lebih
besar dimana Polri tidak sanggup.
TI: Presiden masih lebih menonjolkan Polrinya daripada Anda?
JS: Iya, kalau beliau masih lebih mengutamakan aparat sipil.
Aparat sipil itu, polisi, jaksa dan pengadilan sebagai penjuru utama
dari keamanan dalam negeri. Saya sendiri terus terang agak berbeda
dengan beliau di situ. Saya katakan bagus, polisi, jaksa, dan
pengadilan, tapi tiga aparat ini juga masih banyak persoalan, antara
lain infrastruktur. Masing-masing aparat yang tiga ini juga masih rentan
terhadap masalah-masalah korupsi dan sebagainya. Sehingga tidak boleh
serta merta percaya terus pada institusi yang belum mantap. Karena itu,
harus ada peran TNI di belakangnya.
TI: Salah satu fungsi dan tugas adalah perumusan kebijakan
umum, kebijaksanaan pelaksanaan, kebijaksanaan sipil dan pertahanan.
Lalu tergaris dari penghargaan tadi, tampaknya ada satu hal yang Anda
lakukan tentang bagaimana peranan TNI dalam sistem politik dan ekonomi
sesuai prinsip demokrasi dan akuntabilitas. Sebenarnya apa yang Anda
laksanakan atau programkan?
JS: Salah satu yang kita kerjakan sejak Januari 2004 adalah
transparansi tentang bisnis TNI. Jadi ada tiga jalur, jalur bisnis,
jalur koperasi, dan jalur yayasan. Tiga hal ini selama Orde Baru,
berperan begitu kuat di dalam sistem politik dan ekonomi sehingga saling
mengisi. Semua bisnis, koperasi dan yayasan memperkuat dominasi TNI
dalam kehidupan politik. Nah sekarang, dengan transparansi
akuntabilitas, masing-masing unsur kita kurangi, walaupun dalam jalur
koperasi dan yayasan masih diperjuangkan dan dibenarkan adanya koperasi
dan yayasan sepanjang malayani lingkungan terbatas. Tidak lagi
menciptakan satuan-satuan pencipta laba seperti zaman dulu.
TI: Itu dalam sistim ekonomi, kalau dalam sistem politiknya?
JS: Dalam sistem politiknya, yang saya sebutkan tadi. Sekarang
tergantung apakah tadinya peran berat dari TNI itu bisa diisi oleh
pemberdayaan sipil. Polisi, jaksa, hakim tapi juga LSM, pers termasuk
parpol. Di sini saya yang paling kecewa adalah parpol. Parpol tidak ada
membangun kelembagaan yang kuat selam 18 tahun terakhir ini.
TI: Pengamatan kami, tampaknya Anda berhasil meletakkan dasar
dalam sistem yang tadi itu?
JS: Berhasil sebagianlah. Tidak seluruhnya.
TI: Yang sebagian itu kira-kira apa?
JS: Yang sebagian itu, tidak berhasil meyakinkan teman-teman
sipil untuk membangun kaderisasi, baik partai maupun LSM. LSM masih
terlalu banyak dapat duit dari luar negeri, belum bisa mandiri.
TI: Panglima TNI mengatakan bahwa Anda sangat memahami
aspirasi TNI dan bisa memberikan motivasi, dorongan serta arahan agar
TNI bisa menjalankan tugas pokoknya dengan sebaik-baiknya. Ini adalah
pernyataan panglima TNI. Apa hal yang Anda lakukan sehingga beliau
sampai pada apresiasi atau kesimpulan itu. Tentu ada hubungan kerja atau
program Menteri Pertahanan yang dirasakan oleh Panglima TNI dan
jajarannya semua?
JS: Saya kira apresiasi itu dalam hal anggaran. Saya termasuk
orang yang memperjuangkan adanya pertambahan anggaran. Walaupun saya
selalu mengatakan pada teman-teman TNI selama lima tahun terakhir dan
mungkin lima tahun mendatang, kemungkinan juga akan tetap mengalah pada
perekonomian dan kesra. Karena begitu banyak masalah-masalah
perekonomian yang besar yang harus diutamakan oleh pemerintah. Dan itu
digariskan oleh Pak SBY sendiri.
Jadi sebagian besar dari keberhasilan saya di situ adalah karena ada
pesan dari Pak SBY sendiri. Sebagai mantan tentara, untuk sementara
mengalah kepada kepentingan ekonomi dan kesra. Tapi Alhamdulillah berkat
perkembangan terakhir, ada tambahan Rp 7 triliun untuk tahun depan.
TI: Selama menjabat Menteri Pertahanan, mengenai anggaran,
sejauh mana hal anggaran ini menjadi hambatan dalam program Anda sebagai
menteri?
JS: Anggaran tidak pernah akan cukup untuk lima sampai sepuluh
tahun mendatang. Karena masalah-masalah ekonomi dan kesra, tetap harus
menjadi perhatian utama dari pemerintah manapun lima sampai sepuluh
tahun mendatang. Jadi buat saya, masalah ini bukan dapat berapa. Tapi
yang kita dapat itu kita manfaatkan bagaimana seefisien mungkin.
TI: Salah satu, kalau tidak salah, dalam pengadaan alutsista,
tidak melalui rekanan?
JS: Kita coba mengurangi. Tapi saya harus mengakui di lapisan
bawah, termasuk di Dephan, Mabes angkatan, masih terjadi. Tapi skalanya
tidak sebesar pra 2004.
TI: Kebijakan itu tentu ada latar bekangnya? Kenapa kira-kira
sampai tidak memerlukan rekanan lagi?
JS: Rekanan masih ada, tapi kadar pengambilan itu tidak sebesar
dululah. Kita usahakan di bawah 15-10 persen. Kalau dulu barang di atas
50-60 persen dibagi-bagi di atas, sekarang kita utamakan pemerataan di
bawah dan tidak terlalu mencolok. Kalau memberantas sama sekali tidak
mungkin. Tapi yang kita ajarkan minimum yang saya titipkan dalam Rapim
TNI adalah bahwa para perwira tinggi juga harus sepaham, bahwa lemarinya
tidak sebanyak dulu gitu. Isinya agak ada kosong, gitu. Sama dengan
waktu saya di Depdiknas, proyek-proyeknya tidak sebanyak zaman Pak
Harto.
TI: Ada pernyataan Anda, bahwa kalau dulu departemen ini
termasuk boros. Gitu ya?
JS: Boros dan bocor. Bocor itu adalah membeli alutsista yang
sudah di programkan, tetapi banyak bocornya, gitu. Kalau boros itu
membeli yang tidak perlu-perlu. Termasuk yang rapid order.
TI: Jadi sekarang itu, menurut apa yang Anda lakukan,
keborosan ini bisa dikurangi sampai berapa persen?
JS: Menurut saya mudah-mudahan dalam kurun waktu empat setengah
tahun terakhir, sudah cukup menurun. Saya tidak tahu percis, tergantung
di bidang apa. Kalau di bidang pengadaan alutsista yang mahal, saya kira
signifikan. Barang kali turun 50-60 persen berkurang.
TI: Kalau Anda dipercaya lagi jadi Menteri Pertahanan pada
2009-2014, bisa turun berapa kira-kira?
JS: Yang jelas tidak mungkin titik nol. Nggak mungkin itu. Ndak
ada pemerintahan di dunia yang begitu.
TI: Dan itu berarti tidak perlu pemerintah lagi, kalau sudah
nol? Selama memerlukan pemerintah, selalu memerlukan menteri pertahanan.
JS: Selama ada pemerintahan dimana-mana termasuk di Amerika,
apalagi Rusia, China sekalipun. Barangkali yang tingkat kebocorannya
sedikit, itu di Singapura. Singapura itu hanya toleransi dua persen.
TI: Kami kutip dari pernyataan Anda, yang kami anggap berani
juga ini, bahwa Anda berharap, jajaran Dephan ini bisa berperan bersama
TNI sebagai motor dan pelopor dalam melaksanakan tata pemerintahan yang
baik dan benar. Kenapa Anda begitu yakin?
JS: Karena sudah dimulai oleh reformasi internal TNI sejak
1997/1998. Justru di lembaga yang paling dominan secara politik yang
paling kaya ekonomi pada zaman dulu, dimulai itu, untuk menempatkan
kembali tentara nasional betul-betul sebagai tentara rakyat, tentara
perjuangan, tentara nasional, tentara profesional. Jadi, jauh sebelum
ada gagasan Menpan maupun Menkeu, kita sudah mulai di Mabes TNI dan
Dephan, reformasi perbaikan tata pemerintahan yang baik (Good
Governance). Karena kita adalah alat negara yang paling utama.
TI: Jadi berarti semua tim pemeriksa sudah bisa masuk ke
Dephan?
JS: Sudah. Kita masih belum full, wajar tanpa syarat. Apa
namanya? Tanpa opini.
TI: Dengan demikian sudah bisa menjadi motor dan pelopor?
JS: Kita harapkan demikian, karena saya lihat, paling tidak
sistem penjenjangan dari TNI termasuk sistem rotasi sudah mulai ditiru
oleh teman-teman departemen lain. Manfaat dari rotasi untuk tour of duty
dan tour of area itu sudah lama dilihat sebagai pola yang baik untuk
jajaran lain termasuk di kalangan swasta. Apakah dealer mobil, apakah
cabang bank swasta sudah mulai merotasi orang.
TI: Dari sistem ini, Anda sebagai seorang sosiolog, tapi ini
‘kan memerlukan tenaga-tenaga yang ahli di bidang itu?
JS: Ahli di bidang administrasi dan manajemen juga tergantung
dari suksesnya dalam konteks sosiokultural tertentu.
TI: Dan tentu ini, Anda tidak salah memilih orang-orang di
jajaran Dephan untuk melaksanakan?
JS: Ada kombinasi sipil dan militer yang bagus di sini. Dimana
ada jabatan dan jenjang yang masih memerlukan pengetahuan teknis
militer. Beberapa dirjen harus dari militer. Tapi beberapa eselon satu
yang tidak memerlukan pengetahuan teknis militer menurut cabangan dan
matra masing-masing, saya masih bisa menempatkan orang-orang sipil.
TI: Gerakan sudah datang dari lembaga Departemen Pertahanan
dan TNI, sementara sipil tadi Anda keluhkan belum bergerak. Dan kalau
tidak salah, ini ada juga kehendak dari Anda pada era reformasi ini
supaya Dephan dan TNI bisa menjadi daya pendukung yang pokok dalam
rangka pemberdayaan kemampuan pemerintahan. Apa yang Anda lakukan
rupanya dalam kaitan itu?
JS: Saya serahkan kepada teman-teman di Dephan dan Mabes TNI
untuk menjadi teladan saja. Bahwa dari lembaga TNI yang paling dominan,
paling disorot dengan korupsi dan KKN. Sekarang menjadi pelopor untuk
menjadi lembaga dan poros yang penting dalam Indonesia baru. Dan ini,
insyaallah menjadi teladan bagi teman-teman di sipil, termasuk di BUMN,
termasuk LSM, bahwa kalau mau memberdayakan kemampuan sipil harus ada
kaderisasi, persiapan kaderisasi. Itu kuncinya. Karena kunci dari
keberhasilan TNI dengan segala kekurangannya adalah penjenjangan kader
melalui sistem sesko, sistem evaluasi buffer jacket.
TI: Menurut Anda apa penjenjangan yang dan pengkaderan yang
dilakukan dalam lingkungan TNI ini bisa ditransformasi ke
lembaga-lembaga partai politik dan sipil lain?
JS: Sudah menjadi pola sekarang di program Menpan dan sebagian
program Menkeu. Di Menkeu itu berkaitan dengan jumlah kategori
remunerasi. Ada 27 kategori, mulai dari menteri sampai dengan kategori
terbawah. Tapi dulu sudah kita laksanakan. TNI sudah melaksanakan
jenjang itu, sesuai dengan kepangkatan, tingkat kesulitan kerja.
Bedanya, kita tidak punya uang lembur, adanya uang tempur.
TI: Tadi Anda bilang, sebagai Menteri Pertahanan, menyampaikan
ke kalangan TNI, panglima dan sebagainya. Memang Anda di dengar Panglima
TNI?
JS: Mudah-mudahan. Barangkali, pengalaman saya di Lemhanas
membuat mereka sudah mengenal secara pribadi bahwa orang ini betul-betul
masih memperhatikan TNI.
TI: Jadi Anda tidak pernah dicurigai TNI?
JS: Saya kira ndak. Mudah-mudahan ndak.
TI: Jadi hubungan antara kepemimpinan Dephan dengan TNI,
pengalaman Anda, ada kerikilnya nggak?
JS: Saya rasa ndak ada.
TI: Kenapa nggak ada?
JS: Hanya, saya merasa mungkin kadang-kadang. Perjuangan saya
untuk mendapatkan anggaran yang lebih banyak itu, lebih baik diharapkan
oleh teman-teman TNI. Tapi sebaliknya saya mengatakan, bahwa kita hidup
dalam iklim dimana kecurigaan, kalau TNI itu terlalu banyak mendapat
anggaran itu, akan menimbulkan gambaran tentang masa lampau lagi. Serba
dominan, serba boros, serba bocor, dan citra itu kita usahakan supaya
dikurangi. Tapi hanya bisa dilakukan kalau defacto di lapangan dilakukan
oleh para perwira yang lebih mengarah pada profesionalisme.
TI: Bisa Anda kemukakan satu atau dua contoh, baiknya hubungan
antara pimpinan di Dephan dengan di TNI dalam kerangka tugas untuk
pertahanan dan keamanan?
JS: Ya. Yang paling baik adalah, dari awal dengan Pak Jenderal
Endriartono Sutarto, panglima yang pertama, Marsekal Djoko Suyanto,
sampai yang sekarang, Jenderal Djoko Santoso, ada keserasian antara
Dephan dengan Mabes TNI. Sebelumnya, hubungan antara Dephan dengan Mabes
TNI kurang baik.
TI: Keserasian itu dalam bentuk apa kira-kira. Ada suatu hal
yang bisa digambarkan atau diberikan contoh?
JS: Dimulai dari sikap panglima Endriartono Sutarto 2004 sampai
2006 awal. Karena beliau sendiri punya paham yang sama dengan presiden
dan saya sendiri bahwa peran TNI itu harus berangsur-angsur di bawah
suatu sistem pertanggungjawaban sipil terhadap pemerintah yang terpilih
oleh rakyat termasuk oleh presiden. Apalagi presidennya terpilih
langsung, apalagi presidennya mantan tentara. Jadi ini suatu
keberuntungan buat saya juga. Bukan kepintaran saya, keberuntungan saya.
TI: Tapi ‘kan, seperti Anda akui juga, sebelumnya itu,
hubungan antara Dephan dengan panglima atau jajaran TNI nggak selalu
mulus, gitu ya? Padahal sekarang, sejak 2004 itu malah lebih baik.
Selain hal itu tadi, mungkin masih ada yang lain yang bisa menggambarkan
dimana keserasian hubungan itu. Contohnya kira-kira seperti apa gitu?
JS: Mungkin sebagian besar karena saya tidak lagi mewakili
parpol. Nah, tentara itu perasaan saya, tidak ingin lembaga Dephan-Mabes
itu dipimpin oleh seorang parpol. Karena ini menceritakan
masalah-masalah yang terjadi waktu 2001/2004. Kalau departemen dan Mabes
itu dipimpin secara politik oleh pimpinan parpol, maka interest parpol
itu termasuk masalah keuangan akan dipakai untuk hal-hal yang tidak
semestinya menurut peran baru dari TNI sebagai kekuatan netral.
TI: Tapi, ini menyangkut pribadi Anda yang sangat profesional.
Selain dipercaya lima presiden, juga berkaitan sampai panglima,
kepala-kepala stafnya juga bisa sangat meyakini profesionalitas dan
netralitas Anda. Menurut Anda, profesional itu seperti apa? Menurut
Anda, profesional sebagai Menteri Pertahanan itu seperti apa kira-kira?
JS: Yang paling penting adalah kepercayaan presiden. Itu saja.
Kalau presidennya percaya bahwa Menteri Pertahanan itu betul-betul
mengikuti garis tentang netralitas, tentang anggaran, tentang mengurangi
penggelembungan, tentang TNI yang lebih berwawasan regional dan global.
Itu saya kira tugas inti yang dipesankan waktu Oktober 2004. Kebetulan
saya dipilih untuk melakukan pekerjaan itu. Itu saja.
TI: Tetap saja tidak mau memuji dirinya sendiri ya?
JS: Ya
TI: Kita sebagai warga bangsa, hari-hari terakhir ini, sangat
prihatin melihat kelengkapan alat-alat persenjataan kita. Sampai-sampai
sudah dilecehkan oleh bangsa lain. Yang terakhir di Ambalat misalnya.
Apa kegelisahan Anda tentang kelengkapan alutsista TNI?
JS: Menurut saya, tidak usah merisaukan. Karena dari segi
perimbangan kekuatan konvensional di negara-negara Asean, kita memang
tidak terlalu banyak memiliki alutsista yang canggih dibandingkan dengan
Singapura, Malaysia, Thailand. Tapi saya yakin bahwa hidup di era global
ini, negara-negara tetangga kita juga tidak perlu terlalu takut pada
kita memiliki senjata-senjata yang canggih. Karena kemanan global itu
terwarnakan dari adanya hubungan yang demikian intens antara sesama
negara, ekonomi, politik, kebudayaan, sehingga praktis negara-negara
Asean ini sudah menyatu sebagai satu komunitas politik, ekonomi, dan
keamanan. Oleh karena itu, kita manfaatkan apa yang dimiliki oleh
Singapura, Malaysia, Thailand dan Philipina, untuk ikut menjaga keamanan
kita di perbatasan.
TI: Itu keamanan regional ya. Tapi sekarang justru antara
Malaysia- Indonesia. Justru mereka merasa lebih kuat daripada kita?
Bagaimana kita menghadapi?
JS: Ndak. Itu saya kira tidak benar karena yang terjadi adalah
masalah sengketa tentang kedaulatan, daulat atas Ambalat sebagai wilayah
potensi sumber daya alam. Bukan masalah kedaulatan negara. Sengketa itu,
sengketa tentang hak daulat atas wilayah yang di perairan yang di luar
perairan teritorial masing-masing. Hanya, karena jarak antara laut
teritorial dengan hak daulat itu cukup panjang. Karena nilainya sangat
tinggi dan energi merupakan penting. Diperlukan kehadiran alutsista yang
memadai.
TI: Dengan cara pandang seperti itu bisa diterima oleh
Panglima TNI?
JS: Diterima, karena Panglima sendiri mengatakan, “Sebagai
tentara rakyat, bersedia untuk sementara mengorbankan anggaran yang
lebih banyak untuk perekonomian dan kesra. Karena rakyat yang adil dan
sejahtera itu juga bentuk pertahanan yang tidak bisa diukur dengan
senjata.
TI: Kalau begitu, kami menangkap, sebenarnya kita sabar dalam
keprihatinan alutsista. Menurut pendapat Anda, yang idealnya seperti apa
mengenai alusista itu?
JS: Yang sekarang kita kembangkan adalah masalah perimbangan itu
tidak dilihat dari jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi yang disebut
sebagai varitas teknologi. Harus ada kesetaraan. Kalau mereka punya
sekian F-16, F-18, kita harus punya Sukhoi. Tidak banyak tetapi varitas
tekonologinya sama. Karena itulah yang kita bisa mampu membayar. Karena
anggaran lebih banyak untuk perekonomian, untuk pelabuhan, untuk
bandara, untuk kesra, dan kesempatan bekerja, begitu.
TI: Mengenai policy pengadaan alutsista diadakan secara
kemampuan sendiri di dalam negeri, bagaimana itu dalam kebijaksanaan
departemen pertahanan?
JS: Relatif. Karena alutsista yang terlalu canggih, tidak bisa
dikembangkan di dalam negeri ataupun di negara-negara Asean. Kalau alat
pukul seperti kapal selam dan pesawat tempur tetap harus import dari
luar negeri. Tapi yang kita pentingkan adalah alutsista teknologi madya,
pesawat angkut, patroli. Itu pun komponennya masih banyak komponen
asing.
TI: Ada roket yang dikembangkan oleh Lapan?
JS: Masih bisa diolah agar supaya rudal itu dipadukan dengan
kemampuan kendali. Jadi harus ada keterpaduan antara industri kimia dan
mesin dan pesawat dengan masalah komando dan kendali. Cuma di situ belum
ada keterpaduan antara peroketan dengan masalah kendali telkom itu.
TI: Kembali ke soal kuantitas alutsista, walaupun itu akan
bersangkut paut dengan daya mampunya. Menurut Anda, tadi sudah saya
tanya, berapa sih jumlah pesawat, misalnya Sukhoi idealnya kita miliki
untuk kawasan Indonesia yang begitu luas?
JS: Kalau pesawat tempur, saya kira minimumnya harus ada tiga
skuadron. Kalau satu skuadron itu antara 12 dan 16 berarti 36 pesawat
tempur. Tapi sekarang kita paling-paling enam atau delapan. Masih jauh.
Tapi kalau dilihat dari varitasnya, masih okelah, buat saya. Cukup
menjadi daya tangkal untuk membuat negara tetangga berpikir dua kali,
sebelum mencoba-coba lagi menguji kekuatan kita.
TI: Kemudian tentang HAM. Ini masalah lama. TNI masih
dipersoalkan mengenai HAM. Ada pandangan yang khusus tentang itu dari
Anda?
JS: Ya. Singkatnya begini, seringkali indentifikasi HAM adalah
TNI sebagai pelanggar HAM. Termasuk HAM berat. Tapi mari kita lihat sisi
lain yang sering tidak diakui oleh teman-teman dari LSM. Seringkali TNI
berperan untuk mencegah pelanggaran HAM berat yaitu terjadinya perang
suku di Papua. Terjadinya keonaran-keonaran di daerah-daerah rawan,
termasuk di Poso, di Ambon. Kalau tidak masuk TNI, akan terjadi lagi
pelanggaran HAM berat antara sesama warga, karena keterbukaan yang
berlebih-lebihan.
TI: Terakhir. Apa mimpi Anda tentang Indonesia. Mimpi dalam
tanda kutip. Visi Anda kira-kira?
JS: Bangsa yang percaya diri, itu saja. Jangan terlalu banyak
mengeluh.
TI: Supaya menjadi bangsa yang percaya diri?
JS: Ya. Supaya menjadi bangsa yang percaya diri, pemerataan di
bawah harus ditingkatkan, terutama kebutuhan dasar manusia. Sandang,
pangan, papan, listrik yang murah, hunian yang layak untuk khalayak
banyak. Listrik yang cukup sampai ke desa-desa. Tidak perlu PDB
perkapitanya 30.000 dolar, tapi timpang. Cukup 6.000 dolar asal merata
ke seluruh banyak orang. Jangan mengikuti gaya hidup orang-orang negara
maju. Cukup saja sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup.
TI: Berarti Anda tidak setuju neoliberal ya?
JS: Neoliberal itu sudah berkuasa berpuluh-puluh tahun. Dari
zaman saya mahasiswa. ►mti/marjuka - hotsan
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|