| |
C © updated 05092009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Juwono Sudarsono
Lahir:
Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942
Jabatan:
Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu
Agama:
Islam
Isteri:
Prihanum Martina
Anak:
- Wisnu Juwono
- Yudhistira Juwono
Ayah:
DR Sudarsono
Ibu:
Muspiah
Pendidikan:
- Sarjana Publisistik Universitas Indonesia (1965)
- Institute of Social Studies, Den Haag (1969)
- MA dari University of California (1971)
- PhD dari London School of Economics and Political Science Inggris,
disertasi berjudul "Politik Luar Negeri Indonesia 1965-1975: Studi Kasus
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat" (1978)
Karier:
- Guru besar tamu Columbia University, New York, AS (1986-1987)
- Guru besar Universitas Indonesia (1988-sekarang)
- Dekan FISIP UI (1988-1994)
- Wakil gubernur Lemhanas
- Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan VII Presiden
Soeharto (1997-1998)
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Reformasi (Mei 1998-Oktober
1999)
= Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (Oktober 1999-Agustus
2000)
- Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004)
- Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu (21 Oktober 2004-20 Oktober
2009)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Jasa Utama
- Satya Lencana Dija Sistha
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.13-14 Jakarta Pusat, Telp. (021)
3458947
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri VII No. 20, Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310
Telepon (021) 75909878 Faksimile (021) 75910235
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 =
WAWANCARA:
01 02
=
Juwono Sudarsono (Wawancara 01)
Jejak Anak Diplomat Jadi Menhan
Juwono Sudarsono, sipil profesional pertama menjabat Menteri Pertahanan
(Menhan), sejak terakhir dijabat Ir. Djuanda (1957-1959), berhasil
mengoptimalkan kepemimpinan yang serasi dan efektif dengan jajaran
Dephan dan TNI. Mantan Wakil Gubernur Lemhannas ini diwawancarai
Wartawan Tokoh Indonesia tentang perjalanan hidup dan kinerjanya sebagai
Menhan.
Berikut ini petikan wawancara Wartawan Tokoh Indonesia dengan Guru Besar
hubungan internasional Universitas Indonesia yang sangat memahami
masalah pertahanan dan keamanan itu, yang berlangsung efektif lebih dua
jam (10:00-12:04 WIB), Rabu 12 Agustus 2009 di ruang kerja Menhan, Jalan
Medan Merdeka Barat No.13-14, Jakarta.
Hasil wawancara itu, juga kami bagi dalam dua bagian. Bagian pertama
tentang perjalanan hidupnya hingga menjadi Menhan. Bagian Kedua tentang
kinerjanya sebagai Menhan hingga mendapat penghargaan Bintang Yudadharma
Utama, saat masih menjabat.
Tokoh Indonesia (TI): Kita mulai dari jejak rekam Anda, mulai
sejak kecil hingga menjadi Menteri Pertahanan saat ini. Apa hal-hal yang
menarik di dalam perjalanan hidup Anda, mulai dari pengasuhan orangtua
sampai menjadi seorang tokoh seperti sekarang ini?
Juwono Sudarsono (JS): Saya kira singkatnya, sederhana saja. Saya
kebetulan beruntung lahir pada zaman Jepang, antara 1942 dan 1945. Dan,
kebetulan ayah saya sudah dokter dari fakultas kedokteran di Salemba,
zaman Belanda (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ini).
Sehingga, keberuntungan waktu lahir, dan kebetulan putera dari seorang
dokter yang waktu itu sudah cukup beruntung. Ini adalah keberuntungan
pertama.
Saya kira yang paling besar adalah faktor keberutungan. Karena beliau
dokter, kemudian ikut dalam perjuangan gerakan di bawah tanah. Oleh
almarhum Sutan Syahrir, kemudian ayah saya menjadi anggota kabinet
Syahrir I, II dan III. Pertama sebagai Menteri Sosial, lalu Menteri
Dalam Negeri dan Menteri Negara antara 1946-1948. Kemudian beliau
dikirim sebagai Duta Besar RI pertama ke India, meneruskan perjuangan
untuk mendapat pengakuan Indonesia, antara lain melalui diplomasi.
Kebetulan, saya ikut menyusul ayah ke India, Otober 1948 – Mei 1953.
Jadi saya bersekolah SD di New Delhi, India. SMP di Jakarta dan SMA di
Inggris. Itu keberuntungan kedua. Dapat kesempatan sebagai anak
diplomat, sekolah di luar negeri, berbahasa Inggris di bekas negara
jajahan Inggris, India.
Saya kira setelah itu, jadi garis tangan saja semuanya. Karena
keberuntungan saya sebagai anak pejuang, sebagai anak diplomat,
memungkinkan keberuntungan saya jauh dari atas rata-rata teman-teman
seusia saya, terutama yang di luar daerah, luar Jawa.
Setelah itu, berbagai pengalaman sekolah termasuk sekolah di UI,
kemudian di luar negeri, beasiswa ke Belanda, beasisawa ke Amerika
Serikat dan beasisawa ke Inggris. Juga membuat keberuntungan saya
bertambah banyak.
Jadi kebanyakan garis tanganlah. Garis tangan, kalau buah tangan sendiri
tidak banyak. Ada campur tangan dari banyak pihak, mungkin 70%
keberuntungan saya. Itu saja.
TI: Sebagai putera dari seorang pejuang dan diplomat, apa
kira-kira yang paling berkesan dari pengasuhan orang tua yang membentuk
pribadi Anda?
JS: Salah satu yang dipesan oleh almarhum ayah adalah supaya
bersyukur akan keberuntungan itu dan harus punya hati nurani. Itu saja
pesannya. Dari ibu, lebih banyak pesan-pesan tentang agama dan
pesan-pesan tentang pentingnya ibu sebagai pendidik abadi. Lebih dari
pada sekolah. Saya kira pendidikan paling penting adalah ibu, gitu.
TI: Kemudian dalam pusat data kami, Anda sarjana publisistik
dari Universitas Indonesia. Kenapa memilih itu, dulu?
JS: Karena dulu tidak ada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP). Waktu saya masuk, September 1960, yang baru ada adalah jurusan
publisistik dari Fakultas Hukum dan Penataan Masyarakat. FISIP baru
berdiri di UI tahun 1968. Jadi sebelumnya, untuk sarjana muda,
sebenarnya saya memegang pendidikan sarjana muda hukum dengan
spesialisasi publisistik yang kemudian namanya menjadi Ilmu Komunikasi.
TI: Sesudah itu, mendapat beasiswa. Untuk mendapat beasiswa,
tentu harus melalui suatu proses seleksi, bukan semata-mata
keberuntungan, walaupun mungkin hanya 30% tadi?
JS: Seleksi, betul. Tetapi ada keberuntungan, karena saya pernah
tinggal dan mendapat pendidikan di luar negeri itu, tentu untuk tes
bahasa asing, baik ke Belanda maupun ke Amerika, maupun ke Inggris, ada
start yang lebih menguntungkan daripada rata-rata seusia saya.
TI: Ketika menjalani proses pendidikan formal itu, tentu ada
juga yang membentuk pribadi Anda, pengalaman-pengalaman tertentu, baik
semasa kuliah. Apa kira-kira, beberapa hal yang sangat berkesan sehingga
Anda terbentuk seperti pribadi hari ini?
JS: Ya, saya beruntung karena selama kuliah itu, antara tahun
1960 sampai 1965 itu adalah tahun-tahun Bung Karno. Dan untuk seorang
pemuda usia sekitar 18 sampai sekitar 24 tahun, tahun-tahun itu adalah
tahun-tahun pembentukan watak dan sikap politik yang penting. Karena
waktu itu Indonesia dipimpin oleh seorang yang mendirikan republik,
seorang proklamator, dan beliau sangat dihargai dalam menggalang rasa
kebersamaan melalui retorika politiknya. Dan saya kira, generasi saya,
generasi 1966, generasi Cosmas Batubara, Fahmi Idris, David Napitupulu
dan lain-lain, semuanya dibentuk oleh kurun waktu itu.
Termasuk pergolakan di sekitar Kampus UI Salemba. Karena di situ
permulaan dari pergolakan pergantian pemeritah. Pergantian kepresidenan
dari Bung Karno kepada Pak Harto. Kampus UI disebut sebagai kampus
berdirinya Orde Baru. Ada papannya dulu, tapi sesudah reformasi sudah
dihilangkan. Tapi dulu, terus terang sampai sekarang, saya pun masih
bangga, kalau kampus itu kampus berdirinya Orde Baru. Meskipun sekarang,
dari kacamata sekarang, angkatan 2009, makna itu sudah surut artinya.
Termasuk jaket kuning yang menurut kita ‘dirampas’ oleh Golkar sampai
sekarang. Itu sebetulnya jaketnya UI, tapi diambil oleh Golkar. Setelah
10 Januari 66, setelah Tritura, tiga tuntutan rakyat, sampai sekarang.
Kalau saya rektor UI, saya akan gugat itu. Minta supaya Golkar ganti,
karena kuning itu jaket UI.
TI: Paling tidak sebagai catatan sejarah?
JS: Catatan sejarah. Karena Arif Rachman Hakim yang tertembak di
depan gedung Mahkamah Agung yang sekarang, Merdeka Utara, itu pemicu
utama dari simbol ‘jaket kuning berdarah’, 24 Februari 66. Dan kemudian
lebih meningkatkan momentum ke arah pergantian pemerintahan itu sendiri,
bulan Maret 1968. Jadi transisi 1966 – 1968 itu saya alami, dan itu
merupakan tonggak penting dalam sejarah politik Indonesia. Sampai
sekarang masih kontroversial. Bahkan seluruh Orde Baru, termasuk
kedudukan dan peranan Pak Harto masih menjadi kontroversi. Termasuk
debat sekarang, apakah beliau layak diangkat sebagai pahlawan nasional.
Saya ingat dulu, ada ramalan oleh seorang purnawirawan tentang Pak Harto
yang mengatakan, dia paling lama dua bulan, ternyata lebih dari 30
tahun. SBY pun waktu terpilih tahun 2004, ada yang mengatakan, paling
lama dua minggu, dua bulan. Jadi jangan percaya pada tokoh-tokoh lama
yang merasa tahu persis tentang ramalan politik. Dua-duanya oleh orang
yang sama.
TI: Siapa orangnya. Apakah Suhardiman?
JS: Bukan. Sudah almarhum juga sekarang.
TI: Kemudian di jenjang itu, Anda tidak langsung menjadi
seperti sekarang, tapi lebih dulu singgah di kampus, jadi dosen,
bagaimana ceritanya?
JS: Ya, tahun 1967, terus terang waktu saya baru lulus, setelah
bekerja untuk Kolonel Syarif Tayeb sebagai Rektor UI waktu itu, saya
melamar ke Departemen Luar Negeri (Deplu) untuk mencoba menggantikan
ayah saya, sebagai diplomat. Tapi waktu itu, ada pembekuan lamaran
karena ada litsus tentang calon pegawai Deplu agar jangan sampai
kemasukan orang-orang PKI. Sehingga waktu itu ada pembekuan penerimaan
baru karena Menlu yang dulu, Pak Bandrio (Subandrio) dianggap terlalu
dekat dengan PKI. Bahkan sebagai Ketua Badan Pusat Intelijen, Pak
Bandrio dianggap kurang waspada terhadap penyusupan PKI ke Deplu. Jadi
semua penerimaan baru, 1966-1967 ditutup. Saya lulus dari UI Januari
1966.
TI: Jadi, sebenarnya cita-cita Anda, menjadi diplomat?
JS: Tadinya mau ke sana. Karena tertutup di sana, kemudian saya
diangkat menjadi asisten dosen. Kala itu, sebenarnya saya menunggu waktu
sampai penerimaan baru dibuka kembali. Tapi setelah terbuka lagi
kesempatan dua tahun kemudian, sekitar tahun 1969-1970, saya sebagai
asisten dosen sudah terlanjur berangkat ke Belanda untuk mendapat
beasiswa enam bulan di Akademi Perdamaian, Akademi Internasional tentang
hukum, Institute of Social Studies, yang pusatnya ada di Den Haag. Dari
situ, langsung mendapat beasiswa untuk tahun 1969-1970 ke University of
California (1971), satu tahun.
Jadi semuanya beasiswa. Tapi beasiswa juga dapatnya karena saya mendapat
keberuntungan, mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan
karena penguasaan bahasa asing.
TI: Sampai mendapatkan doktor, dari London School of Economics
and Political Science, Inggris?
JS: Itu baru kemudian, tahun 1975-1978.
TI: Desertasi Anda tentang “Politik Luar Negeri Indonesia
1965-1975: Studi Kasus Hubungan Indonesia-Amerika Serikat”. Kenapa
tertarik?
JS: Karena waktu membuat desertasi itu, saya mengkaji hubungan
Amerika dan Indonesia, antara 1965 dan 1975. Itu jadi materi kajian
desertasi, dan saya ajukan tahun 1968 akhir. Kemudian dinyatakan lulus
awal tahun 1979. Awal tahun 79 saya kembali.
TI: Ada dua gelar doktor Anda?
JS: Ndak, yang satu lagi salah itu. Yang di Universitas
Georgetown, Inggris itu, hanya sebagai peneliti tamu, tahun 1985-1986.
TI: Pernah guru besar tamu juga ini di Columbia University,
New York. Bagaimana ceritanya?
JS: Ya, tahun 1986-1987, kebetulan salah seorang guru besar di Columbia
University, waktu itu pernah menjadi kepala Ford Foundation di sini,
antara 1969 dan 1974. Dia membaca tulisan-tulisan saya. Kemudian tahun
1985 datang kemari, menawarkan untuk mengajar di sana, antara 1986-1987.
Kurang lebih Agustus 1986 sampai Maret 1987.
TI: Kalau kami amati perjalanan Anda, selain sebagai seorang
menteri, peran sebagai seorang guru besar itu masih sangat kuat?
JS: Guru besar, gaji kecil. Kalau guru kecil, baru gaji besar.
TI: Mungkin bisa jadi guru bagi jajaran Departemen Pertahan
juga?
JS: Kebetulan, kebetulan. Tahun 1994, saya selesai sebagai dekan
di FISIP, kemudian seorang staf ahli dari Menhankam waktu itu, Pak
Laksamada Muda Sunardi, staf ahli bidang politik luar negeri, mengajak
saya untuk menjadi Wagub Lemhannas. Waktu itu, gubernurnya masih
tentara.
TI: Itu juga yang mau kami tanya. Waktu itu kan zamannya
kekuasaan militer, tapi Anda sudah memegang peranan penting di sana yang
dalam pengamatan kami, sebenarnya, konsep-konsep Lemhannas itu juga dari
Anda kali ya?
JS: Ndak, ndak.
TI: Kalau begitu, bagaimana ceritanya?
JS: Lemhannas ‘kan berdiri bulan Mei 1965 oleh Bung Karno. Beliau
berpidato tentang perlunya didirikan sekolah pertahanan, namanya Lembaga
Pertahanan Nasional. Ada pidato yang bagus ketika beliau membuka kuliah
pertama di Istana Negara tentang geopolitik Indonesia. Kemudian
diteruskan oleh Pak Harto. Entah bagaimana, saya diusulkan jadi Wagub
Lemhanas oleh Pak Nardi melalui Pak Edi Sudrajat, waktu itu Menhankam.
TI: Sebagai Wagub Lemhannas dari sipil, kalau menurut
pengamatan kami, Anda mempunyai kedekatan hubungan juga dengan Presiden
Soeharto. Karena menjadi Wakil Gubernur Lemhannas ketika itu, berarti
Anda sudah sangat memiliki peranan dalam dinamika kepemimpinan nasional?
JS: Tapi saya bukan Wagub yang pertama dari sipil. Ada dari
Depdagri sebelumnya, ada dari Deplu. Yang penting, empat wagub sipil
petama di Lemhanas. Bukan saya yang pertama.
TI: Tapi nama-nama yang lain tidak begitu kita tahu perannya?
JS: Pak Pamuji dari LIPI, itu pendahulu saya. Tapi ada juga dari
Deplu, itu mertuanya Eros Djarot yang terkenal sebagai diplomat,
sangat-sangat pandai. Sebelumnya lagi, sipil juga, yang pernah di
Polkam. Lupa saya namanya. Sudah pelupa.
TI: Sudah berhak lupa?
JS: Ya, sebagai guru besar. Sudah berhak pikun.
TI: Lemhannas boleh kita bilang sebagai tempat orang ditempa
sebagai pemimpin, dan Anda di situ sebagai motor penggeraknya?
JS: Sebagai anggota korps, leher namanya kalau di tentara.
TI: Waktu itu, kalau Anda seorang jenderal, barangkali bukan
wakil gubernur. Walaupun peranan melebihi gubernur, walaupun Anda hanya
wakil. Apa kesan-kesan Anda di Lemhannas, tentang kepemimpinan negeri
ini?
JS: Terus terang, itu wadah pemantapan pimpinan nasional, betul.
Dan saya kira, satu-satunya sekolah yang waktu itu dan sampai sekarang
masih mempertemukan orang-orang dari berbagai kalangan profesi. Termasuk
anggota DPR, wartawan, pengusaha dan tentara, menjadi sekolah pemantapan
pimpinan nasional yang melengkapi peran lembaga administrasi negara.
Kebetulan juga tahun 1994 sampai 1998 itu, Januari 1995 sampai Maret
1998, ada tiga angkatan kursus reguler maupun kursus senior singkat,
sehingga saya mengenal sekitar 500 pamen-pamen ketiga angkatan yang
pernah lewat Lemhannas, plus sejumlah orang dari kampus maupun birokrasi
sipil yang waktu itu sedang di eselon dua, calon eselon satu.
TI: Penilaian Anda sendiri tentang keberadaan Lemhannas dalam
rangka kepemimpinan bangsa ini?
JS: Sekarang masih penting dalam banyak hal, karena masih menjadi
tempat untuk mempertemukan orang-orang dari lintas profesi, sipil,
militer, polisi, parlemen, mass media. Sampai sekarang masih penting.
Hanya belakangan, presiden meminta didirikan di Dephan UNHAN,
Universitas Pertahanan, karena di Lemhannas tidak banyak diberikan
materi tentang pertahanan negara. Lebih kepada ketahanan, sesuai dengan
namanya sejak tahun 1994 menjadi Lembaga Ketahanan Nasional. Sedangkan
UNHAN, benar-benar fokusnya pada defens, pertahanan.
TI: Kapan direalisasi UNHAN itu?
JS: Sudah diluncurkan 11 Maret 2009 yang lalu, dan sekarang sudah
berjalan. UNHAN sebetulnya sudah mewadahi sekolah-sekolah pendidikan
militer yang sudah ada, termasuk Sesko TNI, Seskoad, Seskoal dan
Seskoau, mulai dari Akademi Militer. Sekarang di Akademi Militer sedang
disiapkan (sudah berjalan dua tahun), pendidikan empat tahun, dengan
pengakuan S1 kalau lulus.
TI: Sebagai mantan Wakil Gubernur Lemhannas, pribadi seperti
apa, atau kepemimpinan seperti apa yang paling ideal memimpin bangsa
ini?
JS: Kalau dasar-dasarnya sudah dimantapkan oleh ideologi naional,
Pancasila. Setiap putera Indonsia itu harus berwawasan nasional meskipun
dia berasal dari suku, agama, atau daerah tertentu. Apalagi yang
kelahiran setelah tahun 1945, bukan seperti saya kelahiran pra 45. Kalau
orang lahir, di mana pun Indonesia, itu harus kuat identitas
kebangsaannya meskipun dia tetap menghormati asal-usul suku, adat, agama
dan kedaerahannya.
Dan sekarang, kedua perwira yang ada di sini (menunjuk Laksma TNI Agus
Purnomo dan Brigjen TNI Slamet Hariyanto, yang mendampinginya saat
wawancara), di Akademi Angkatan Laut dan Akademi Militer Magelang, musti
ditempa wawasan kebangsaan itu dari awal. Anda dilantik sudah mengikat
diri sebagai perwira Tentara Nasional Indonesia, bukan tentara Jawa,
bukan tentara Batak, bukan tentara Minang.
TI: Kalau di kalangan militer, itu sudah pasti kuat.
Kepemimpinan bangsa ini kan bukan hanya dari jajaran militer. Sudahkah
tertularkan juga di partai politik atau di lembaga-lembaga sipil
lainnya?
JS: Ya. Saya mengalami banyak kurun waktu dimana penempaan
kebangsaan ini berjalan. Pada Zaman Bung Karno, ada tujuh bahan pokok
indoktrinasi, termasuk Pancasila, pidato presiden, manifesto politik,
demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, sosialisme Indonesia,
kepribadian Indonesia. Banyak sekali. Rumus-rumus dasarnya sudah
dilaksanakan Bung Karno sebetulnya. Waktu Pak Harto membuat P4, itu
sebetulnya kelanjutan dan perbaikan.
Tapi saya rasa, kedua beliau punya pemikiran yang mantap tentang
bagaimana menjadi orang Indonesia itu dari segi idealnya. Lintas hukum,
lintas agama, dan lintas kedaerahan, walaupun kita tetap menghormati dan
membanggakan asal-usul suku, agama dan kedaerahan kita.
TI: Kenapa sulit dimasyarakatkan?
JS: Saya kira nggak sulit. Hanya, memompa rasa kebangsaan yang
lintas agama, lintas suku itu juga harus didukung oleh kenyataan sosial
ekonomi yang makin baik. Kita tidak bisa memberi slogan-slogan terus
dengan perut kosong. Orang harus dikasih isi perutnya, dikasih
pekerjaan. Baru punya bunyi itu.
TI: Kemudian ke karir Anda selanjutnya. Kalau yang kami tulis
di Web Site TokohIndonesia.com, Anda itu seorang yang hebat karena bisa
dipercaya oleh lima presiden dalam jabatan-jabatan yang strategis.
Kemarin waktu Megawati, sebagai duta besar, selebihnya menjadi menteri.
Tentu ini menandakan seorang profesional?
JS: Ndak, orang beruntung saja. Nggak tahu kenapa.
TI: Kelima presiden itu berbeda aliran. Dari segi politik,
mereka itu pada bersaing, tapi selalu Anda dipercaya di tengah
persaingan mereka. Maka kita tulis, “Dia orang hebat”. Itu kalimat
pertamanya?
JS: Saya kira salah itu. Dia orang beruntung, mestinya.
TI: Menurut Anda, hanya faktor keberuntungan. Tapi menurut
kami, Anda orang hebat. Tapi yang kita tanya bukan soal orang hebatnya.
Apa sih yang Anda lakukan sehingga kelima presiden itu bisa begitu
yakin, sangat memercayai Anda sebagai orang yang bisa membantu tugasnya?
JS: Barangkali saja, waktu menjelang ke Lemhannas itu, saya di UI
banyak memberikan pemikiran tentang bagaimana Indonesia pasca-Pak Harto,
tanpa mengeritik beliau langsung. Itu saya kira. Waktu tahun 1986, saya
ingat, baru satu setengah tahun saya menjadi anggota Golkar di UI, saya
bersama-sama dengan Pak Din Syamsuddin di Departemen Organisasi dan
Pengembangan Kader DPP Partai Golkar, sudah mengusulkan supaya ada
rencana peremajaan Golkar, oleh karena Golkar pada 1986 itu sudah
berkuasa 20 tahun. Dan 20 tahun itu, menurut hemat saya, sudah waktunya
untuk mengkaji ulang bagaimana persiapan pergantian pimpinan.
Pak Harmoko sudah memberi isyarat, menerima sebagian dari saran itu dan
rupanya itu disampaikan kepada Pak Harto, sehingga waktu diusulkan
sebagai Wakil Gubernur Lemhannas, Pak Harto juga menerima saran itu
karena saran itu tidak langsung mengeritik tentang berapa lama beliau
telah berkuasa. Tetapi bicara tentang kelembagaan Golkar.
Karena waktu itu, saya bersama Pak Din Syamsuddin melihat beberapa
partai dominan, Partai Kongres di India, Partai LDP di Jepang, Partai
PRI di Meksiko, ini semuanya partai-partai yang praktis dominan sejak
kelahiran negara maing-masing. Bahkan Meksiko yang paling lama, dari
tahun 1912. Partido Revolucionario Institucional (PRI) itu mirip-mirip
Golkar, ada petani, ada golongan menengah, ada kaum bisnis, termasuk
perbankan. Sangat mirip dengan Golkar.
Dibuat korporasi, dimana unsur kino-kino Golkar untuk mendirikan
golongan karya, Sekber Golkar, menghadapi PKI tahun 1964, satu tahun
sebelum kejadian G-30S/PKI. (Setelah melalui Rakornas I, Desember 1965
dan Rakornas II, Nopember 1967, dilakukan pengelompokan organisasi
berdasarkan kekaryannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi
(KINO), yaitu: Kino Kosgoro, Kino Soksi, Kino MKGR, Kino Profesi, Kino
Ormas Hankam, Kino Gakari dan Kino Gerakan Pembangunan).
Sehingga 20 tahun setelah itu, kita rasakan perlu ada peremajaan,
termasuk pergantian kader-kader Golkar. Kemudian tahun 1988, Pak Sarwono
Kusumaatmaja pertama kali menjadi Sekjen Golkar dari kalangan
nontentara, bukan Kosgoro, bukan Soksi, bukan MKGR.
Jadi kita lihat ini, LDP di Jepang dominan, menang terus-terusan.
Kongres di India, kecuali tahun 77. Golkar di depan, saya lihat harus
direncanakan.
TI: Berarti sebelum Anda jadi Wagub Lemhanas ya?
JS: Ya, sebelum.
TI: Sebenarnya, itu yang menghantar Anda jadi Wagub Lemhanas
kali. Sebab pikiran itu sampai pada Pak Harto?
JS: Kemungkinan, tapi itu baru kemudian. Baru empat tahun
kemudian, saya kira diperhatikan. Waktu itu sangat kencang suara
perlunya direncanakan pemekaran desentralisasi. Antara lain dari Pak
Dariatmo dulu dari kino Kosgoro, ya?
Yang penting, sudah waktunya direncanakan pemekaran desentralisasi.
Kemudian dibicarakan waktu itu di Lemhanas tahun 1994. Saya masih ingat
waktu di Lemhnas 1995 itu, Pak Harto sudah bicara tentang desentralisasi
tingkat dua. Belum sampai seluruhnya, tapi dimulai bertahap. Beliau
sudah memikirkan bahwa sukses stabilitas politik 20 tahun pertama itu
harus dibarengi dengan perencanaan-perencanaan bertahap ke arah pasca 20
tahun sejak Oktober 1986.
TI: Tapi itu, dalam pelaksanaannya tidak dilakukan?
JS: Ya, karena beliau sendiri ‘kan sudah dua tiga kali mengatakan
untuk tidak dipilih lagi jadi presiden, termasuk menjelang sidang MPR
yang terakhir. Tapi selalu ada orang yang mengelu-elukan beliau supaya
terpilih lagi.
TI: Bukan sandiwara Pak Harto itu?
JS: Bukan. Bahkan tahun 1993 itu, kalau saja beliau mau berhenti,
sudah bagus namanya. Tapi karena Golkar dan orang malah mendoakan
rame-rame supaya beliau mau kembali. Kebulatan tekad dan macam-macam.
TI: Tapi belakangan, mereka-mereka ikut juga mengkhianati Pak
Harto?
JS: Ya, itulah. Tapi saya ingat, di Lemhanas 1996, pernah kita
membuat suatu kajian terbatas yang mengusulkan pada Pak Harto supaya
beliau mau menolak, kalau diusulkan lagi tahun 1998. Karena dua tahun
menjelang sidang umum MPR 1998, saya bersama beberapa perwira tinggi di
Lemhannas mulai mengusulkan ada baiknya Pak Harto memikirkan untuk tidak
mau lagi dipilih kembali.
TI: Pikiran itu disampakan kepada Pak Harto?
JS: Tidak. Tidak ada yang berani menyampaikan. Kita sampaikan
kepada Wapres Tri Sutrisno, kepada Menhankam Edi Sudrajat.
TI: Ada monitor, apakah Pak Tri atau Pak Edi Sudrajat
menyampaikan kepada Pak Harto?
JS: Ndak. Itu hanya terbatas. Tapi ada satu syarat waktu
itu. Supaya berhenti tapi kita jamin bahwa keluarga dan hartanya tidak
akan digugat. Itu salah satu yang kita mencoba. Barangkali yang itu yang
susah dijamin. Demi Pak Harto sendiri dan keluarganya kita katakan,
lebih baik berhenti 1998 tapi kita akan jamin.
TI: Pertanyaan ini mungkin agak melenceng, tapi ada kaitan
dengan Anda sebagai seorang pelaku politik waktu tergulingnya Pak Harto.
Dan kader Golkar menurut catatan kami adalah yang pertama menyerukan
supaya Pak Harto ditahan.
JS: Ditahan?
TI: Ya, ditahan.
JS: Tapi saya sudah bukan Golkar lagi waktu itu.
TI: Golkar hasil pemilu legislatif 1997. Semasih Golkar
sekitar 70 persen di DPR dan MPR. Sebelum Pemilu reformasi. Sesudah Pak
Harto lengser 1998. Arus reformasi menuntut. Kader Golkar sendiri, yang
pertama yang berseru supaya Pak Harto ditahan?
JS: Diperiksa saya kira. Diadili.
TI: Diadili dan ditahan rumah. Sebagai sebuah partai yang
demikian lama dibina dengan sistem pengkaderan yang sedemikian rupa,
telalu mudah mengatakan itu. Bagaimana menurut Anda, ada titik
sambungnya nggak, Golkar yang sekarang dengan Golkar yang lama itu lagi?
Karena itu masih hasil sidang umum MPR?
JS: Itu baru 1999. Sidang istimewa MPR 1999. Saya sudah berhenti
sebagai orang Golkar, karena waktu itu saya diangkat oleh Pak Habibie,
saya harus berhenti dari partai. Karena hanya pegawai negeri yang boleh
jadi Mendiknas.
TI: Bagaimana mengenai ketetapan MPR 1999 tentang
pemberantasan korupsi, yang menyebut, “mantan Presiden Soeharto dan
kroni-kroninya”, bukan “mantan presiden dan kroni-kroninya”. Bagaimana
pendapat Anda mengenai hal itu?
JS: Ya, tahun 1999.
TI: Ketetapan MPR itu masih produk DPR/MPR hasil pemilu Orde
Baru, 1997. Itu barangkali yang melukai hati Pak Harto sama Pak Habibie,
sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar dan sebagai Presiden kala itu?
JS: Bulan apa keluarnya itu? 1998 November atau yang 1999?
TI: Itu masa Pak Habibie jadi presiden, Anda Menteri Pendidikan. Saat
itu Sidang Istimewa MPR. Yang salah satu ketetapannya mengenai
pemberantasan korupsi, dan salah satu pasalnya itu menekankan bahwa
ketetapan itu solah-olah hanya berlaku untuk Pak Harto, tidak berlaku
bagi mantan presiden lainnya?
JS: Kalau itu, November 1998. Saya sudah bukan Golkar lagi.
TI: Tapi itu masih produknya Golkar, karena 70% di DPR itu
masih Golkar?
JS: Waktu itu, pertama, menyelamatkan diri. Memang perdebatan
cukup seru saya kira. Walaupun saya tidak di Golkar lagi, tapi dilema
yang dihadapi oleh Pak Habibie (Presiden) dengan Andi Ghalib (Jaksa
Agung).
TI: Bukankah itu salah satu indikasi, Golkar sangat sulit
dipercaya. Orang yang membesarkannya pun bisa dikhinatinya dengan
serta-merta. Tapi pembicaraan ini sudah agak melenceng. Kita masuk lagi
ke topik Anda dipercaya oleh lima presiden selain sebagai Wakil Gubernur
Lemhannas. Sempat menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup. Koq bisa
menjadi Menteri Lingkungan Hidup?
JS: Saya juga tidak tahu itu kenapa. Mungkin waktu itu, saya di
Lemhannas, semua pos-pos sudah diisi oleh orang-orang yang berminat ke
sana. Saya sendiri juga bingung, tidak ada latar belakang lingkungan
hidup, kecuali kalau lingkungan hidup itu memang suatu masalah hubungn
internasional. Tapi dua setengah bulan di kabinet Pak Harto terakhir
itu, saya juga hanya mengurusi soal asap. Termasuk gugatan Singapura
sama Malaysia yang sampai sekarang masih berjalan.
TI: Tapi paling tidak waktu itu, sesudah ditempatkan, ada satu
hal yang Anda pikirkan atau programkan. Tentu Anda tidak hanya mau duduk
di kursi empuk Menteri Lingkungan Hidup itu. Tentu ada sesuatu yang Anda
pikirkan dan programkan, walaupun mungkin belum sempat terlaksana?
JS: Ada satu hal yang menurut saya sampai sekarang belum bisa
diatasi tentang lingkungan. Tentang perubahan iklim. Bagaimana
menghadirkan rasa genting yang nyata bahwa untuk hari depan yang lebih
baik itu, sekarang harus dikurangi penggunaan energi yang boros, masalah
perusakan lingkungan. Itu lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.
Sampai sekarang saya rasa tugas Menteri Lingkungan Hidup adalah
bagaimana menghadirkan kegentingan itu, sehingga orang mau bertindak
sekarang betul-betul untuk menyelamatkan lingkungan bagi anak cucunya.
TI: Dengan demikian, sebenarnya tidak salah Pak Harto memilih
Anda sebagai Menteri Lingkungan Hidup, karena seorang menteri ‘kan tidak
harus mengetahui dan melaksanakan teknisnya?
JS: Jatahnya sudah terhuni yang lain sih.
TI: Tapi, barangkali Pak Harto sudah tahu, di mana Anda
ditempatkan pasti menjadi mutiara?
JS: Terus terang waktu Oktober 1997 sampai Maret 1998, itu
bulan-bulan yang kritis. Pertama karena El Nino Oktober 1997, itu
dirasakan. Dan saya di Lemhannas sudah merasakan bahwa pegangan Pak
Harto atas menteri-menteri dan gubernurnya sudah mulai kendor. Karena
krisis itu, El Nino 1997, rapat gubernur seluruh Indonesia di Istana
diadakan, waktu itu saya hadir, tetapi saya merasakan wibawa Pak Harto
sudah mulai lepas, Oktober – November 97. Kemudian menggelinding dengan
krisis perbankan. Dimulai Juli-Agustus 1997 krisis di Thailand, kemudian
merambat kemana-mana, termasuk Indonesia.
TI: Pada saat suasana genting itu, suasana kabinet sendiri
menurut Anda bagaimana. Selain tadi, daya cengkeram Pak Harto itu pada
kabinetnya sudah mulai berkurang, lalu di kalangan anggota kabinetnya
gimana sebenarnya suasananya?
JS: Suasana itu baru terasa setelah Januari 1998, ketika krisis
kuangan mulai mencuat dengan diajukannya RAPBN yang tidak realistis.
Kemudian ada peristiwa 4 Januari 98, penandatanganan dengan IMF yang ada
fotonya Michel Camdessus, Direktur Eksekutif IMF (Camdessus berpangku
tangan menyaksikan Pak Harto menandatangani nota kesepakatan dengan
IMF). Kemudian, terjadi rush uang dan orang mulai rame-rame memborong
makanan dan minuman di Jakarta. Nah, itu yang menambah lepas kendalinya
dan mulai surutnya wibawa Pak Harto terhadap seluruh anggota kabinet.
Kemudian dimulai dengan penginjak-injakan foto beliau bulan April di
televisi, tanpa ada tindakan yang tegas, sehingga makin terkais wibawa
beliau. Tapi itupun, waktu krisis terjadi Mei 98, menjelang krisis,
beberapa rekan menteri, termasuk menteri yang dari kampus mengajak saya
untuk mengundurkan diri. Saya katakan, “Saya ndak”. Saya tidak mau,
karena toh sudah diangkat oleh seorang presiden, siapa pun dia, kita
harus berhenti sampai di akhir. Kecuali kita yang dipecat.
TI: Anda juga diajak?
JS: Ya, 14 menteri, yang di Bappenas. Saya diajak, tapi saya
nggak datang.
TI: Yang mengajak Anda, siapa waktu itu?
JS: Pak Ginanjar Kartasasmita kalau nggak salah, sebagai Menko
Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri merangkap Kepala Bappenas. Ada 14
menteri yang ikut menandatangani, menganjurkan supaya dibentuk kabinet
reformasi. Pak Harto harus membuat reshufle.
TI: Kenapa Anda tidak mau, bukankah Pak Harto sudah mau
terguling?
JS: Karena masih menghormati. Orang yang mengangkat kita sebagai
menteri harus kita hormati. Saya hanya mau berhenti kalau diberhentikan.
Hal yang sama terjadi waktu Pak Habibie. Sama-sama orang kampus, juga
kirim faks sama saya, rame-rame menjelang Oktober 1998 untuk
mengundurkan diri. Saya bilang, “ndak, biar saja”. Biar nanti MPR
mempertanggungjawabkan, menerima tidak Pak Habibie? Kalau tidak
diterima, kita sama-sama berhenti. Tapi jangan di tengah jalan
ditinggal.
TI: Apa alasan teman Anda itu untuk mengajak berhenti?
JS: Ndak tahu. Tapi saya tidak mau menyebut orang-orangnya.
TI: Ya, nama orang-orangnya. Tapi alasannya, masa diajak tanpa
alasan tertentu?
JS: Mungkin mengulangi peristiwa Pak Harto itu. Kalau saat mau
tenggelam, rame-rame mau loncat.
TI: Terus, sepengetahuan Anda, 14 menteri yang mengundurkan
diri atau menolak bergabung lagi dengan kabinetnya Pak Harto, apakah itu
sepengetahuan Pak Habibie waktu itu?
JS: Saya kira ndak.
TI: Siapa tahu konspirasi. Pak Ginanjar, berambisi nggak jadi
presiden dalam pengamatan Anda pada waktu itu?
JS: Saya kira ndak.
TI: Kan ada juga informasinya begitu ya?
JS: Informasi atau spekulasi?
TI: Spekulasi kali ya?
JS: Wajar spekulasi tentang mengapa Pak Harto marah sama pak
Habibie kan? Kita nggak tahu mana yang benar.
TI: Kalau menurut Anda?
JS: Saya ndak tahu persis. Saya belum tanya Pak Habibie langsung.
Ada yang mengatakan, Pak Harto sebenarnya mengharapkan beliau
menyerahkan kembali mandatnya itu. Jadi Pak Habibie, sementara jadi
presiden, tetapi diharapkan kembali.
TI: Tapi informasi yang kami dapat, Pak Harto itu marah,
karena ketetapan MPR itu. Ketetapan MPR, pemberantasan korupsi terhadap
mantan Presiden Soeharto. Tidak berhenti pada mantan presiden. Itu dia
yang tidak bisa terima. Dari Probosutedjo kami terima informasi itu.
Beberapa kali Pak Habibie minta ijin bertemu Pak Harto tetapi selalu
ditolak?
JS: Saya kira tiga orang itu yang menyakiti hati Pak Harto. Pak
Habibie, Pak Ginandjar, Pak Harmoko. Akbar Tanjung tapi tidak terlalu.
TI: Tapi menurut Anda, kembali dulu, ke situasi politik yang
sangat menarik di Indonesia, dimana Anda juga dalam jajaran kabinet pada
masa Pak Harto. Sebagai anggota kabinetnya, kalau sepengetahuan Anda
sendiri, ketika Pak Harto ke Kairo saat mengikuti KTT Non Blok kalau
nggak salah, dia disarankan untuk tidak pulang. Benar nggak itu?
JS: Saya kira ndak benar.
TI: Katanya, karena Bandara Halim Perdanakesuma akan dikepung
oleh demontrasi mahasiswa jika Pak Harto pulang. Tapi Pak Harto sendiri
bilang saya harus pulang dan malah mempercepat?
JS: Tapi kalau yang saya ketahui Pak Harto bukan orang yang
takut. Karena waktu pengalaman dia di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina,
tidak begitu.
TI: Maksud kami, benar nggak ada yang menyarankan agar beliau
tidak pulang lagi, setahu Anda?
JS: Saya tidak mendengar. Saya tidak cukup dalam lingkaran
pertama dari Pak Harto untuk itu.
TI: Tapi orang di Lemhannas bisa tahu kali?
JS: Mungkin, ya.
TI: Kemudian kita masuk ke masa Presiden BJ Habibie. Anda sebagai
Menteri Pendidikan Nasional, walaupun tidak terlalu lama. Apa yang
sempat Anda pikirkan dan lakukan tentang masalah pendidikan nasional?
JS: Yang pertama adalah memanggil Masyarakat Sejarawan Indonesia
(MSI) untuk merumuskan kembali penulisan sejarah Indonesia untuk SD dan
SMP. Karena waktu itu, ada upaya untuk menempatkan kembali Bung Karno
setelah berpuluh-puluh tahun dihilangkan dari kurikulum sejarah
nasional. Sebaliknya, dengan itu ada keinginan untuk menghitamkan
peranan Pak Harto.
Jadi, saya katakan pada Anhar Gonggong dari Direktorat Seni dan Sejarah
Tradisional bersama beberapa teman dari MSI, untuk merumuskan kurikulum
tingkat SD dan SMP, satu sejarah nasional yang berimbang. Supaya
tokoh-tokoh nasional ini tidak saling menenggelamkan. Jadi kalau Pak
Harto ditenggelamkan untuk mengimbangi munculnya kembali kedudukan dan
peranan Bung Karno, kita coba untuk berimbang.
TI: Menurut Anda, apa yang kurang pas dari kebijakan pendidikan
Indonesia hingga saat ini?
JS: Salah satu yang ingin saya sampaikan adalah tidak ada
hubungan langsung antara tambahan anggaran dengan kenaikan mutu
pendidikan. Sekarang pun di negara-negara maju ada keinginan supaya
pendidikan tidak mengarahkan pada peningkatan mutu akademik di perguruan
tinggi. Justru meningkatkan bantuan-bantuan pada golongan-golongan yang
begitu tidak cemerlang.
Jadi jangan bikin sekolah-sekolah elit tambah elit sehingga mutunya
tinggi, tapi tidak produktif. Tapi lebih baik diarahkan pada orang-orang
biasa-biasa saja. Karena mereka jumlahnya banyak. Mereka tertolong dan
mereka ini yang kebetulan nyata-nyata menghadapi masalah digerakkannya
ekonomi sektor riil.
Karena itu, sekarang pun saya kira, lebih baik seperti perguruan
tinggi UI, ITB, dan UGM tidak menggebu-gebu tentang menghendaki
perguruan tinggi kelas dunia. Cukup word class saja, nggak usah
World Class. Word class saja yang bisa dokumen, itu saja
konsentrasinya pada orang-orang banyak. Yang tidak terlalu brilian
pikirannya, tapi lebih praktis memberi data. Karena orang-orang ini,
menengah ke bawah, yang menjadi pemicu dari pergerakan dari sektor riil.
Dan untuk itu tidak perlu gelar-gelar akademik yang terlalu canggih,
seperti professor, doktor. Saya juga agak segan memakai gelar akademik,
karena sekarang banyak, profesor, doktor yang gadungan.
TI: Kembali ke habitat Anda, walaupun bidang pendidikan juga
habitat Anda, multi dimensi. Pandangan Anda tentang Dwi Fungsi ABRI. Apa
yang salah di dwi fungsi ABRI?
JS: Ndak ada yang salah waktu itu. Karena pada waktu itu dwi
fungsi diperlukan untuk memantapkan dan memungkinkan stabilitas yang
diperlukan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang cepat di atas 6%
setahun selama 30 tahun. Dan menjamin Golkar selalu menang di atas 60%
tiap lima tahun. Tapi waktu itu diperlukan sesuai dengan zamannya. Tanpa
stabilitas politik, tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi yang begitu
cepat. Sehingga Indonesia, PDB perkapitanya naik dari 250 dolar tahun
1966 menjadi hampir 1700 dolar pada tahun 1996. Dan itu suatu prestasi
yang termasuk berhasil di seluruh dunia sedang berkembang, termasuk
Brazil, Meksiko dan India.
TI: Lengsernya Pak Harto juga berimplikasi runtuhnya dwi
fungsi ABRI, berarti dwi fungsi juga gagal dalam kacamata (arti)
kesinambungan?
JS: Waktu saya dengan Pak SBY ketemu 1996/1997, sudah dipikirkan
waktu itu, harus ada perubahan yang terarah, terukur dan teratur. Ini
tentang paradigma baru TNI, era menjelang pasca Pak Harto. Dua tahun
sebelum Pak Harto lengser, Pak SBY sudah mengumpulkan 12 Pati di Mabes
TNI, Mabes ABRI waktu itu, untuk memikirkan bagaimana paradigma politik
Indonesia setelah Pak Harto.
Dimana secara terukur dan terarah harus ada pentahapan membangun
pemberdayaan kemampuan aparat sipil termasuk pimpinan sipil, termasuk
partai-partai politik. Karena keberhasilan Indonesia di bawah Pak Harto
sudah membuat transformasi masyarakat Indonesia yang baru. Yang jauh
lebih kompleks yang tidak bisa ditangani oleh cara-cara paradigma tahun
70-an.
Jadi di sini, penglihatan depan dari Pak SBY sebagai Kasospol dan Kaster
waktu itu, sudah mendahului zamannya. Dan waktu itu, Kasad Edy Sudrajat,
yang pertama sekali mengatakan back to basic. Itu tahun 1994. Saya kira
juga itu ada masukan dari Pak SBY. Jadi sekarang bukan dwi fungsi tapi
pemberdayaan wilayah. Tugas TNI adalah untuk membangun capacity
building, polisi dan jaksa.
TI: Sebelum ke situ, kita mau kembali dulu. Nanti kita
membahas yang terakhir Anda kemukakan. Diangkat, mesti dipercaya oleh
yang mengangkat, paling tidak dapat dikenal baik secara pribadi atau
pikirannya. Yang membuat Anda dipercaya oleh lima presiden itu, menurut
Anda, apakah karena kedekatan pribadi atau secara pikiran.
JS: Ndak tahu, (ketawa)
TI: Apa kira-kira, atau punya hubungan kedekatan atau karena
sekadar sopan santun. Karena kesopansantun bisa menjadi menteri?
JS: Itu harus ditanya pada masing-masing presiden, saya nggak
tahu persis. Tapi saya tidak pernah dekat-dekat dengan Pak Harto,
apalagi keluarganya. Dan Pak Habibie malah aneh, pada waktu September
1997, saya mengatakan bahwa sipil belum siap menjadi presiden. Waktu itu
beliau sedang dipersiapkan menjadi Wapres. Saya ingat beliau dan
beberapa kalangan termasuk Pak Ginandjar marah pada saya. Sebagai Wagub
Lemhanas, tidak patut meragukan bahwa sipil itu tidak siap jadi pimpinan
nasional.
TI: Tapi oleh Pak Habibie malah diangkat jadi Menteri
Pendidikan Nasional?
JS: Ya, saya jadi heran itu.
TI: Mungkin karena kapasitas Anda. Dengan Gus Dur, bagaimana
kedekatannya sehingga diangkat menjadi Menteri Pertahanan?
JS: Kalau dengan Gus Dur, tahun 1980-an, sempat saya beberapa
kali bertemu dalam berbagai seminar. Termasuk seminar tentang Australia
di mana saya pernah satu panel dengan beliau. Tapi saya tidak terlalu
dekat dengan beliau. Tidak pernah ikut Fordem (Forum Demokrasi) yang
beliau gelar.
TI: Kalau saat mau diangkat apa dialognya?
JS: Waktu diangkat tidak ada dialog apa-apa.
TI: Tidak lebih dulu diberitahu atau bagaimana?
JS: Saya hanya diberitahu oleh Pak Habibie bahwa beliau telah
bertemu dengan Gus Dur yang sudah terpilih jadi presiden, dan sedang
menyarankan supaya saya diangkat sebagai Menteri Pertahanan.
TI: Jadi, justru Pak Habibie yang menyarankan. Lalu, ketika
diangkat menjadi Menteri Pertahanan, pada waktu pertama kali, apa yang
ada dalam perasaan atau pikiran Anda? Mungkin, ini sudah habitat saya
atau apa kira-kira yang ada dalam benak Anda?
JS: Jadi saya jadi berpikir, nah ini ada kesempatan baik untuk
ikut mendorong institusi yang paling penting di Indonesia yang namanya
TNI. Menurut saya, apapun sistem politik di Indonesia ini, kalau kita
lihat intinya memang harus diamankan oleh satu-satunya institusi yang
punya wawasan kebangsaan adalah TNI.
TI: Dan untuk pertama kali sipil menjadi Menteri Pertahanan?
JS: Ndak, sejak tahun 1957 kan ada. Pak Djuanda kan Menteri
Pertahanan.
TI: Maksud kami sejak terakh Ir Djuanda 1957-59 sampai masa
Orde Baru. Biasanya dirangkap oleh Panglima atau dijabat oleh jenderal?
JS: Ya. Tapi terus terang, Pak Habibie, waktu Februari 1999
pernah mengatakan kepada saya, kalau saya terpilih kembali dalam sidang
MPR, kalau pertanggung jawaban beliau diterima, saya akan diminta
menjadi Menteri Pertahanan. Jadi waktu beliau kalah di sidang MPR, pesan
disampaikan kepada Gus Dur. Nampaknya dalam benak Gus Dur, dipikir ada
juga baiknya.
TI: Tapi sayang, waktu itu Anda sakit, sesudah diangkat jadi
Menteri Pertahanan?
JS: Ya, Desember 1999.
TI: Terlalu banyak beban atau kenapa sampai sakit?
JS: Ndak, karena saya tidak banyak olah raga pada saat Menteri
Pendidikan. Terlalu banyak minum kopi. Saya stroke ringan.
TI: Biasanya orang stroke tidak kembali secerdas Anda lagi?
Kenapa Anda bisa?
JS: Saya dibantu oleh kenyataan. Bahwa saya ditangani di bawah
tiga jam, sudah masuk rumah sakit, langsung dikasih tabung, dan ternyata
tidak begitu parah. Alhamdulillah.
TI: Dan sekarang tampak lebih fit dibanding tahun 2004,
menurut pengamatan kami?
JS: Masa… (ketawa). Karena saya diasuh oleh para perwira ini.
(Melirik dua perwira tinggi yang mendampinginya, Laksma TNI Agus
Purwoto, Sekretaris Menteri dan Kepala Biro Tata Usaha Dephan serta
Brigjen TNI Slamet Hariyanto, Kepala Biro Humas Dephan).
TI: Terus, Anda sempat duta besar, pada masa pemerintahan
Megawati. Sebagai duta besar, itu jabatan hiburan atau sebagai apa?
JS: Terus terang waktu itu, Ibu Mega meminta saya untuk menjadi
duta besar di Inggris. Sebahagian, katanya, supaya bisa menyembuhkan,
terus supaya bisa istirahat sebagai duta besar.
TI: Dikasih tugas yang lebih ringan sebagai proses pemulihan.
Begitu sayang Ibu Mega pada Anda?
JS: Kalau Ibu Mega dengan saya cukup dekat, ketika masa Pak Harto
ataupun menjelang Pak Harto selesai, beberapa kali ketemu. Pertama
beliau datang ke Lemhannas. Tiap kali ada pendidikan akhir di Lemhannas,
beliau datang. Beliau sangat peduli pada Lemhannas karena sifatnya yang
berwawasan kebangsaan. Jadi selalu hadir dia.
Kedua, dua kali dalam berbagai pertemuan seminar, termasuk seminar
tentang hubungan India dan Indonesia. Beliau hadir, saya juga hadir
diundang oleh kedutaan India, waktu saya menjadi Menteri Pendidikan dan
ada titik temu. Dalam arti, bahwa Bung Karno dengan ayah saya itu kenal
baik. Walaupun mereka seteru dalam politik, Bung Karno lebih ke PNI,
ayah saya ke PSI. Tapi karena mereka dulu dalam ring yang kecil, di
lingkungan perjuangan ’45. Dulu lebih baik itu, hubungan pribadi itu
bisa melintas perbedaan pandangan ekonomi dan politik.
TI: Karena Anda singgung tentang Ibu Megawati, bagaimana
penilaian Anda tentang beliau, atau apa yang menarik dari Ibu Megawati,
Pak Habibie, Gus Dur dan Pak Harto? Bisa dikasih kesan-kesan satu
persatu, bekas presiden, dimana Anda sebagai pembantu. Dimulai dari
pribadi Pak Harto, apa yang paling berkesan?
JS: Pak Harto itu paling efektif kalau diam. Dalam kepadatan
beliau sebagai orang yang diam itu keluar dan memancar wibawanya yang
dirasakan di seluruh kabinet. Dan dirasakan di seluruh lapisan
birokrasi. Itu sesuatu yang luar biasa. Kekuatan dari beliau adalah
kepadatan dari keheningannya. Dan wibawanya itu terpancar terutama
melalui matanya. Kalau matanya itu sudah mengisyaratkan sesuatu, anggota
kabinet, anggota bawahannya sudah mendapat isyarat. Cukup memahami.
TI: Kalau dengan Pak Habibie?
JS: Pak Habibie itu pribadi yang lugas dan sangat terbuka, sangat
ilmiah. Tapi saya kira, tidak punya bobot politik untuk dirasakan
sebagai pemimpin nasional. Jadi beliau itu korban dari suatu pergantian
antara sistem yang sangat ketat dan padat dengan wibawa, dengan iklim
yang mempersoalkan seluruh keadaan lama. Jadi beliau menghadapi
turbulensi yang tidak bisa beliau kendalikan. Tapi dalam konteks itu, 18
bulan sebagai presiden, cukup mengantar pada proses demokrasi.
TI: Walau 18 bulan, sebenarnya beliau mempunyai masa yang
sangat kritis dan sangat mempunyai peran yang membuat Indonesia
meloncat, gitu ya? Kalau dengan Gus Dur?
JS: Kalau dengan Gus Dur. Kridensial beliau sebagai pemimpin
sosial, itu sangat bagus. Sebagai pemimpin sosial bangsa, bagus. Tapi
sebagai pimpinan negara agak kurang baik, karena terlalu idealis dan
terlalu demokratis. Sedangkan kalau menjadi pemimpin negara, itu harus
ada bobot wibawa kenegarawanan yang tidak bisa langsung ditransformasi
dari pemimpin LSM menjadi seorang pemimpin pemerintah. Ada sesuatu yang
beliau tidak bisa kuasai di situ. Tapi juga karena pilihan beliau adalah
untuk menjadi presiden yang sangat informal, sangat demokratis, sangat
pluralistik, dan itu bagus untuk kebangsaan. Tapi untuk kenegaraan,
mengorbankan efektitivitas pemerintahan.
TI: Dengan Ibu Mega sendiri selain wawasan kebangsaan itu
tadi?
JS: Ibu Mega itu membawa beban nama ayahnya. Dan teja ayahnya
itu, mau diteruskan melalui beliau seperti halnya Indira Gandhi mau
meneruskan ayahnya. Seperti Benazir Buttho yang mau meneruskan ayahnya.
Jadi, sebagai anak putri dari tokoh-tokoh besar di masing-masing
bangsanya. Setiap putri ini membawa beban teja ayahnya, tetapi harus
mentransformasi dalam keadaan yang lain. Situasi yang konteks kulturnya
lain, ekonominya lain. Jadi itu bebannya beliau sampai sekarang.
TI: Berani nggak menilai Pak SBY?
JS: Pak SBY? Berani. (ketawa).
TI: Kalau dalam pandangan Anda, Pak SBY itu bagaimana?
JS: Ini, orang yang mencoba untuk menyeimbangkan keterbukaan dan
efektivitas. Antara demokrasi dan birokrasi. Beliau ‘kan terpilih karena
pada tahun 2004 itu orang sudah capek dengan kegaduhan 1998-2004
sehingga mencari figur yang bisa mengisi kekosongan harapan antara
demokrasi dan pemerintahan yang jalan.
Sebagai presiden, beliau menjadi orang yang mengombinasikan dua hal.
Pertama, sebagai rekonsiliator, mau merangkul semua pihak, terutama
setelah gaduh 1998 itu. Pada sisi lain, beliau juga mulai mengisi
tentang perlunya ketegasan. Tidak cukup keterbukaan dan merangkul ini
dari rekonsiliator menjadi enforcer. Dan sekarang saya kira 2009-2014
adalah kesempatan yang baik karena dengan kedudukan partainya 21 persen,
tiga kali lipat dari 2004, dan mandat 60,8 persen suara pilihan
langsung. Ini kombinasi yang baik.
TI: Jadi, Anda yakin Pak SBY akan mampu menerapkan apa yang
Anda bilang tadi?
JS: Saya yakin dengan mandat politik di DPR maupun di
kepresidenan. Karena beliau adalah presiden yang pertama kali terpilih
langsung, terpilih kembali. Kalau dulu, pertama kali terpilih langsung.
Sekarang terpilih kembali secara langsung. Itu juga satu fenomena
tersendiri.
TI: Sebelum Pak SBY mengangkat Anda jadi Menteri Pertahanan,
apakah dipanggil dulu ke Cikeas?
JS: Dulu? Ndak, saya hanya mendapat SMS saja, dari Pak Widodo AS.
TI: Jadi tidak disamakanlah dengan barisan yang lain, gitu ya.
Dipanggil dulu ke Cikeas, dan diuji dulu layak atau tidak?
JS: Saya waktu di London, saya cuma dapat berita-berita
selentingan.
TI: Dari beliau langsung atau bagaimana?
JS: Tidak langsung dari beliau, tapi saya pernah baca bahwa
Menhan itu akan ditempati seorang ahli hubungan internasional, itu saja.
Kemudian saya dapat SMS dari Pak Widodo dan telepon dari Pak Sudi
Silalahi, bulan Oktober 2004.
TI: Presiden meminta Anda untuk bersedia menjadi Menteri
Pertahanan?
JS: Untuk datang ke Cikeas, 16 Oktober.
TI: Ketika ketemu Pak SBY pertama kali di Cikeas, konon ada
yang ditandatangani segala macam?
JS: Kontrak, ya beliau memberi kontrak politik. Tapi kontrak
politiknya sama buat semuanya. Harus kerja keras, jujur, dan kalau
terdakwa secara hukum harus bersedia mengundurkan diri. Tapi ada tiga
pesan beliau, pertama adalah menjaga netralitas TNI. Kedua adalah
menertibkan pengadaan alutsista di Dephan, Mabes TNI, Mabes angkatan,
supaya penggelembungan itu ditertibkan. Ketiga adalah untuk
mengembangkan kerjasama regional supaya para perwira TNI generasi baru
lebih berwawasan, baik regional dan global. Karena sebagai negara yang
punya dampak tidak hanya regional tetapi global, beliau ingin para
perwira generasi baru ini punya wawasan yang luas bagaimana tempat
Indonesia di ASEAN, di Asia Pasifik maupun di seluruh dunia.
TI: Tidak dikemukakan alasan mengapa memilih Anda. Atau
mungkin disampaikan, saya memilih karena pertimbangan ini?
JS: Ndak. Barangkali, karena kita pernah bertemu beberapa kali,
termasuk dua tiga kali seminar di Seskoad waktu beliau Panglima
Sriwijaya, sebagai Kaster. Termasuk di Hotel Mulia tahun 1997, waktu
beliau bicara tentang paradigma baru TNI. Kita sama-sama sepakat bahwa
ada pentahapan yang harus dilakukan dimana berangsur-angsur pemberdayaan
sipil akan makin menguat dan TNI akan berkurang.
Tapi sisi lain dari pengurangan peranan militer adalah pemberdayan sipil
harus betul-betul bagus. Saya kira akan sepakat walaupun beliau tidak
akan mengatakan secara terbuka. Kekecewaan yang terbesar adalah pimpinan
sipil itu tidak melakukan konsolidasi. Konsolidasi organisasi untuk
menciptakan kader-kader pengganti. Kebanyakan parpol ini terlalu
mengandalkan satu dua tokoh, tanpa tokoh itu, parpol itu akan pudar,
gitu. Dan mungkin ini adalah salah satu pesan beliau yang saya baca hari
ini (12/8/2009), bahwa Partai Demokrat 2014 harus melintas masa jabatan
beliau.
TI: Tentang keluarga, bagaimana perkenalan Anda dengan Ibu?
JS: Di kampus. Daripada jadi mahasiswa, ikut tenaga kerja saja,
di rumah. Lebih murah kuliahnya. (Tersenyum). ►mti/marjuka -
hotsan
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|