| |
C © updated 050092009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Juwono Sudarsono
Lahir:
Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942
Jabatan:
Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu
Agama:
Islam
Isteri:
Prihanum Martina
Anak:
- Wisnu Juwono
- Yudhistira Juwono
Ayah:
DR Sudarsono
Ibu:
Muspiah
Pendidikan:
- Sarjana Publisistik Universitas Indonesia (1965)
- Institute of Social Studies, Den Haag (1969)
- MA dari University of California (1971)
- PhD dari London School of Economics and Political Science Inggris,
disertasi berjudul "Politik Luar Negeri Indonesia 1965-1975: Studi Kasus
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat" (1978)
Karier:
- Guru besar tamu Columbia University, New York, AS (1986-1987)
- Guru besar Universitas Indonesia (1988-sekarang)
- Dekan FISIP UI (1988-1994)
- Wakil gubernur Lemhanas
- Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan VII Presiden
Soeharto (1997-1998)
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Reformasi (Mei 1998-Oktober
1999)
= Menteri Pertahanan Kabinet Persatuan Nasional (Oktober 1999-Agustus
2000)
- Duta Besar RI untuk Inggris (12 Juni 2003-Oktober 2004)
- Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu (21 Oktober 2004-20 Oktober
2009)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Jasa Utama
- Satya Lencana Dija Sistha
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.13-14 Jakarta Pusat, Telp. (021)
3458947
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri VII No. 20, Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310
Telepon (021) 75909878 Faksimile (021) 75910235
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 =
WAWANCARA:
01 02
=
Juwono Sudarsono (03)
Motor dan Pelopor Good Covernance
Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono dianugerahi penghargaan
Bintang Yudha Dharma Utama. Mantan Wagub Lemhannas ini berhasil
menggerakkan reformasi layanan publik di bidang pertahanan negara.
Dephan dan TNI benar-benar memasuki era baru (paradigma baru). Selain
menjadi motor dan pelopor good governance, juga menempatkan Dephan dan
TNI sebagai pendukung capacity building otoritas pemerintahan sipil,
termasuk penjuru utama keamanan yaitu polisi, kejaksaan dan pengadilan.
Guru besar Universitas Indonesia yang menjabat Menhan (Oktober
1999-Agustus 2000 dan 21 Oktober 2004-20 Oktober 2009), itu berhasil
menjalankan pengabdian sebagai pembina lembaga pertahanan TNI.
Selain berhasil mendorong dan memotivasi TNI untuk menjalankan tugas
pokoknya sebagai penjaga kedaulatan NKRI, juga menempatkan Dephan dan
TNI sebagai pendukung pembangunan keahlian (competency building)
di bidang pemerintahan yang dilakukan oleh penjuru utama keamanan yaitu
polisi, kejaksaan dan pengadilan. Dia telah meletakkan dasar (paradigma
baru) bagaimana TNI berperan secara terukur dari belakang untuk
membangun pemberdayaan otoritas sipil termasuk polisi, kejaksaan dan
pengadilan.
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengapresiasi Juwono Sudarsono
merupakan sosok Menhan yang profesional, selalu mendorong dan memotivasi
TNI untuk menjalankan tugas pokoknya sebagai penjaga kedaulatan NKRI.
Djoko Santoso juga merasakan betapa Juwono sangat memahami aspirasi TNI.
Juwono sendiri menyatakan merasa terhormat dan sangat berterima kasih
atas penghargaan tersebut karena dinilai cukup baik sebagai pembina
lembaga pertahanan terpenting yakni TNI. Namun, dia tidak melihat
keberhasilan itu sebagai hasil kerjanya sendiri. Melainkan hasil kerja
bersama, jajaran Dephan dan TNI. Penghargaan Bintang Yudha Dharma Utama
itu diberikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan
Keppres No.21/206/TK/2009 tertanggal 21 Juli 2009.
Bahkan, dia menyebut sebenanya jasa yang paling besar adalah dari
Presiden SBY sendiri. “Karena sebagai mantan TNI malah beliau lebih
demokratis dan lebih transparan daripada saya,” katanya. Apalagi, dia
mengaku, apa yang dilakukannya merupakan implementasi pesan Presiden SBY
pada Oktober 2004. Bahwa TNI itu harus dikelola secara akuntabel,
transparan, dan demokratis. Dalam arti, melalui Dephan, pembiayaan dan
penganggaran TNI tidak lagi didominasi oleh apa yang dulu dimiliki oleh
TNI. Termasuk bisnisnya, termasuk serba hadirnya, serba kuatnya
dimana-mana, eksekutif, legislatif dan yudikatif.
“Supaya diukur kembali peran TNI itu sesuai dengan prinsip-prinsip
demokrasi dan akuntabilitas. Demokrasi itu antara lain adalah tunduk
kepada penganggaran melalui simpul-simpul Dephan, Depkeu, Bappenas
secara transparan,” urai Juwono Sudarsono menanggapi pertanyaan Wartawan
Tokoh Indonesia tentang sebenarnya apa yang dilakukannya sehingga
Presiden menganugerahkan penghargaan itu saat dia masih bertugas aktif
sebagai Menhan.
Dia memberi contoh tentang RUU Kamnas, tentang peran pelibatan TNI atau
Polri. Presiden SBY masih lebih mengutamakan aparat sipil, yakni polisi,
jaksa dan pengadilan sebagai penjuru utama dari keamanan dalam negeri.
Juwono justru punya pandangan agak berbeda, masih melihat perlunya
peranan TNI, karena tiga aparat itu juga masih banyak persoalan, antara
lain infrastruktur dan masih rentan terhadap masalah-masalah korupsi dan
sebagainya. Sehingga tidak boleh serta merta percaya terus pada
institusi yang belum mantap. Karena itu, harus ada peran TNI di
belakangnya.
Pelopor Good Governance
Salah satu keyakinan dan keberhasilan kepemimpinan Juwono di Dephan
adalah mendorong seluruh jajaran Dephan untuk terus berupaya menjadikan
peran TNI sebagai motor dan pelopor dalam melaksanakan tata pemerintahan
yang baik dan benar (good governance). Begitu yakinnya dia atas
hal ini. Karena, menurutnya, hal itu sudah dimulai oleh reformasi
internal TNI sejak 1997/1998.
Boleh dibilang hal ini sebuah karya besar, bahkan sebuah keajaiban.
Sebuah lembaga yang dulunya paling dominan secara politik, paling
berkuasa, paling kaya secara ekonomi, paling diragukan akuntabilitasnya
(sulit diperiksa lembaga mana pun) sehingga paling subur korupsinya
(istilah Juwono: boros dan bocor), justru menjadi motor dan pelopor
dalam melaksanakan tata pemerintahan yang baik dan benar (good
governance).
Memang, sebelum Menpan maupun Menkeu menggerakan tata pemerintahan yang
baik dan benar, Dephan dan Mabes TNI dan ketiga angkatan sudah lebih
awal memulainya. Kesadaran atas fungsinya sebagai alat negara yang
paling utama, tampaknya telah mendorong TNI harus menjadi pelopor, motor
dan teladan reformasi perbaikan tata pemerintahan yang baik.
Juwono selalu berupaya memotivasi semua jajaran Dephan dan Mabes TNI
untuk menjadi teladan. Bahwa dari lembaga TNI yang dulunya paling
dominan, paling disorot dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN),
sekarang menjadi pelopor untuk menjadi lembaga dan poros yang penting
dalam Indonesia baru. Kini, Dephan dan TNI sudah terbuka untuk diperiksa
lembaga yang berkompeten, seperti BPK.
Salah satu yang mereka kerjakan sejak Januari 2004 adalah reformasi dan
transparansi tentang bisnis TNI. Ada tiga jalur, yakni jalur bisnis,
jalur koperasi dan jalur yayasan. Ketiga jaringan bisnis TNI ini selama
Orde Baru, berperan begitu kuat di dalam sistem politik dan ekonomi
sehingga saling mengisi. Semua bisnis, koperasi dan yayasan memperkuat
dominasi TNI dalam kehidupan politik.
Dephan dan Mabes TNI mengundang para pejabat dari kementerian BUMN untuk
melihat, meninjau dan menata secara korporasi bisnis TNI baik yayasan
atau koperasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas keuangan
negara.
Sekarang, dengan transparansi akuntabilitas, masing-masing unsur
dikurangi, terutama jalur bisnis. Walaupun dalam jalur koperasi dan
yayasan masih diperjuangkan dan dibenarkan sepanjang malayani lingkungan
terbatas. Tidak lagi menciptakan satuan-satuan pencipta laba seperti
zaman dulu.
Sejak Oktober 2004, Juwono telah membenahi administrasi keuangan negara
di bidang pertahanan yang mencakup Dephan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan.
Apalagi sejak dilantiknya Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Sekjen
Dephan pada April 2005. Juwono telah menugaskan Sekjen Dephan
melaksanakan koordinasi antara Dephan dengan Depkeu dan Bappenas untuk
bekerjasama dalam menata kembali masalah pengadaan Alat Utama Sistem
Senjata (Alutsista).
Hal ini untuk memberantas, setidaknya mengurangi, apa yang disebutnya
BOBO (boros dan bocor), yang selama 30 tahun lebih pada masa orde baru
telah terjadi. Boros adalah membeli barang-barang termasuk peralatan TNI
yang tidak perlu. Bocor adalah membeli barang yang perlu tetapi banyak
kebocorannya.
Kini, TNI berperan sebagai lembaga yang paling penting untuk mendorong
proses perbaikan admninastrasi negara termasuk adaministrasi keuangan
negara dan mengamankan jalur pemulihan ekonomi secara berlanjut.
Dephan dan TNI secara sungguh-sungguh telah bertekad melakukan reformasi
layanan publik di bidang pertahanan negara, untuk memberikan suatu iklim
pertahanan dan keamanan yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi berjalan
dengan baik. Keberhasilan reformasi layanan publik di bidang pertahanan
negara, itu telah menempatkan Dephan dan Mabes TNI sebagai rujukan untuk
sejumlah pemerintahan negara sahabat di ASEAN dan Turki.
Dalam hal ini, Juwono berharap, tugas ini secara kelembagaan yang harus
dilanjutkan dalam kabinet berikutnya, untuk menempatkan kembali tentara
nasional betul-betul sebagai tentara rakyat, tentara perjuangan, tentara
nasional, tentara profesional. “Siapapun yang nanti menjadi pejabat di
Dephan, Mabes TNI dan Angkatan telah disiapkan suatu kesisteman
perencanaan dan manajemen pertahanan,” kata Juwono
Dukung Otoritas Sipil
Selain menjadi motor dan pelopor good governance, Juwono juga berupaya
menempatkan Dephan dan TNI sebagai pendukung capacity building
otoritas pemerintahan sipil, termasuk pendukung pembangunan keahlian
(competency building) penjuru utama keamanan dalam negeri yaitu
polisi, kejaksaan dan pengadilan.
Menurut Juwono, sejak reformasi 1998, peran TNI sudah diukur sedemikian
rupa dalam mendukung pemberdayaan kemampuan pemerintahan dan
pemberdayaan kemampuan terlaksananya keamanan dan ketertiban masyarakat
dan penegakan hukum.
“Sekarang tergantung apakah tadinya peran berat dari TNI itu bisa diisi
oleh pemberdayaan sipil, baik polisi, jaksa, hakim juga LSM, pers maupun
parpol. Di sini saya yang paling kecewa adalah parpol. Parpol tidak ada
membangun kelembagaan yang kuat selam 18 tahun terakhir ini,” keluh
Juwono.
Juwono merasa belum berhasil meyakinkan teman-teman sipil untuk
membangun kaderisasi, baik partai maupun LSM. LSM masih terlalu banyak
dapat duit dari luar negeri, belum bisa mandiri. Dalam hal ini, Juwono
menekankan agar jajaran Dephan dan TNI menjadi teladan bagi teman-teman
di sipil, termasuk di BUMN, LSM dan Parpol. Menurut Juwono, bahwa kalau
mau memberdayakan kemampuan sipil harus ada kaderisasi, persiapan
kaderisasi. “Itu kuncinya. Karena kunci dari keberhasilan TNI dengan
segala kekurangannya adalah penjenjangan kader melalui sistem sesko, dan
sistem evaluasi,” ungkapnya.
Dia berharap, paling tidak sistem penjenjangan dari TNI termasuk sistem
rotasi sudah mulai ditiru oleh departemen lain. Manfaat dari rotasi,
untuk tour of duty dan tour of area, itu sudah lama
dilihat sebagai pola yang baik untuk jajaran lain termasuk di kalangan
swasta.
Bahkan sudah menjadi pola sekarang di program Menpan dan sebagian
program Menkeu. Di Menkeu berkaitan dengan jumlah kategori remunerasi.
Ada 27 kategori, mulai dari menteri sampai dengan kategori terbawah. TNI
sudah lebih dulu melaksanakan jenjang itu, sesuai dengan kepangkatan,
tingkat kesulitan kerja. Bedanya, TNI tidak punya uang lembur, adanya
uang tempur.
Anggaran dan Alutsista
Sejak Oktober 2004 Dephan secara lebih cermat telah menempatkan peran
TNI dalam sistem politik dan ekonomi nasional yang sesuai dengan
prrinsip-prinsip demokrasi dan akuntabilitas, termasuk akuntabilitas
penganggaran yang lebih memenuhi prinsip pengelolaan dan
pertanggungjawaban anggaran yang baik dan benar.
Usai menerima memorandum serah-terima jabatan Menhan dari Matori Abdul
Djalil yang diwakili Sekjen Dephan Suprihadi, di Jakarta (22 Oktober
2004), Juwono mengatakan untuk memenuhi kebutuhan TNI dan Polri,
idealnya setiap tahun anggaran mencapai Rp 44 triliun hingga Rp 46
triliun. Namun sejak awal kemerdekaan hingga sekarang ini, anggaran
untuk TNI dan Polri tidak pernah mencukupi guna memenuhi kebutuhan
minimal sekalipun.
Menurut Juwono, sejak tahun 1952 sampai sekarang masih dicari-cari jalan
supaya anggaran resmi dari pemerintah bisa didukung oleh berbagai unit
kesatuan usaha, koperasi, atau yayasan untuk menopang pelaksanaan tugas
operasional komando taktis maupun komando utama. “Sampai sekarang Dephan
dan Mabes TNI belum pernah mendapat anggaran resmi yang mencukupi,”
ujarnya.
Juwono menambahkan, dalam program pemerintah yang meliputi bidang
perdamaian, kesejahteraan, keadilan, dan konsolidasi demokrasi, Dephan
mendapat tugas menurut hukum dan perundang-undangan membantu TNI agar
prajurit mendapat perlengkapan, latihan, dan kepemimpinan serta
alat-alatnya sesuai kemampuan anggaran negara.
“Tugas ini tidak mudah, karena anggaran tiap departemen pemerintah, baik
sipil maupun militer, tidak pernah cukup,” ujarnya. Menurut Juwono,
dalam keterbatasan anggaran ini, untuk menjaga pertahanan negara seluas
Indonesia, masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena itu, saat itu,
dia mengajak para pejabat di Dephan maupun di Mabes TNI, DPR, LSM,
lembaga-lembaga riset, juga perguruan tinggi agar membahas masalah biaya
dan anggaran pertahanan negara ini selama lima sampai 10 tahun
mendatang.
Kemudian, selama lima tahun menjabat Dephan, Juwono selalu gigih
memperjuangkan penambahan anggaran TNI. Walaupun pada saat bersamaan,
dia selalu mengatakan pada jajaran TNI selama lima tahun terakhir dan
mungkin lima tahun mendatang, kemungkinan juga akan tetap mengalah pada
perekonomian dan Kesra. Karena begitu banyak masalah-masalah
perekonomian yang besar yang harus diutamakan oleh pemerintah. Hal itu
pula yang digariskan oleh Presiden SBY.
Presiden SBY, sebagai mantan tentara, berpesan untuk sementara mengalah
kepada kepentingan ekonomi dan Kesra.”Anggaran tidak pernah akan cukup
untuk lima sampai sepuluh tahun mendatang. Karena masalah-masalah
ekonomi dan kesra, tetap harus menjadi perhatian utama dari pemerintah
manapun lima sampai sepuluh tahun mendatang. Jadi buat saya, masalah ini
bukan dapat berapa. Tapi yang kita dapat itu kita manfaatkan bagaimana
seefisien mungkin,” kata Juwono.
“Tapi, alhamdulillah, berkat perkembangan terakhir, ada tambahan Rp 7
triliun untuk tahun depan (2010) menjadi sebesar Rp40,7 triliun,” kata
Juwono kepada TokohIndonesia.com. Walaupun Juwono mengatakan, jumlah itu
belum mencukupi untuk meningkatkan kesiapan alat utama sistem senjata
yang siginifikan.
Namun jumlah anggaran itu mesti bisa dicukupkan, dengan mengelolanya
secara cermat, hemat dan tepat. Terutama memangkas biaya bagi rekanan
atau hal lain yang dapat menambah ongkos.
Dalam hal pengadaan alat utama sistem senjata TNI (Alutsista), Dephan di
bawah pimpinan Juwono, telah menerapkan kebijakan secara bertahap
mengurangi peran dan biaya rekanan termasuk yang melibatkan mantan
petinggi militer, terutama di pejabat eselon II dan III masing-masing
departemen terkait pengadaan alat utama sistem senjata. Hal ini
dilakukan untuk menghemat anggaran sekaligus mengurangi keborosan dan
kebocoran yang sebelumnya terjadi.
Pengadaan alat utama sistem senjata seperti Panser VAB dari Perancis dan
pesawat tempur Sukhoi sudah tidak lagi menggunakan rekanan melainkan
langsung antara pemerintah kedua negara dan produsen bersangkutan.
Hasilnya, dalam kurun waktu empat setengah tahun terakhir, sudah cukup
menurun keborosan dan kebocorannya.
Kebijakan itu cukup efektif memangkas biaya pengadaan Alutsista yang
harganya memang juga sudah tinggi.
Berapa persen? “Saya tidak tahu persis berapa persen, tergantung di
bidang apa. Kalau di bidang pengadaan alutsista yang mahal, saya kira
signifikan, barang kali berkurang 50-60 persen,” kata Juwono. Dia yakin,
jika program ini dilanjutkan lima tahun ke depan, kebocoran dan
keborosan anggaran itu akan berkurang lagi. Walaupun jelas tidak mungkin
titik nol. “Nggak mungkin itu. Ndak ada pemerintahan di dunia yang
begitu (mencapai nol). Termasuk di Amerika, apalagi Rusia, China
sekalipun,” kata Juwono. Menurutnya, barangkali yang tingkat
kebocorannya sedikit, itu di Singapura. Singapura hanya toleransi dua
persen.
Berhubung keprihatinan anak-anak bangsa melihat minim dan kurang
canggihnya kelengkapan alat-alat persenjataan TNI, sehingga
sampai-sampai sudah dilecehkan oleh bangsa lain, Juwono cukup bijak
dengan tidak usah merisaukan. Walaupun, menurutnya, dari segi
perimbangan kekuatan konvensional di negara-negara Asean, kita memang
tidak terlalu banyak memiliki alutsista yang canggih dibandingkan dengan
Singapura, Malaysia, Thailand.
Namun yang sekarang kita kembangkan adalah masalah perimbangan tidak
dilihat dari jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi yang disebut sebagai
varitas teknologi. Harus ada kesetaraan. “Kalau mereka punya sekian
F-16, F-18, kita harus punya Sukhoi. Tidak banyak tetapi varitas
tekonologinya sama. Karena itulah yang kita bisa mampu membayar. Karena
anggaran lebih banyak untuk perekonomian, untuk pelabuhan, untuk
bandara, untuk kesra, dan kesempatan bekerja,” jelas Juwono.
Apalagi dia yakin bahwa hidup di era global ini, negara-negara tetangga
kita juga tidak perlu terlalu takut pada kita memiliki senjata-senjata
yang canggih. Karena keamanan global itu terwarnakan dari adanya
hubungan yang demikian intens antara sesama negara, ekonomi, politik,
kebudayaan, sehingga praktis negara-negara Asean ini sudah menyatu
sebagai satu komunitas politik, ekonomi, dan keamanan. Oleh karena itu,
kita manfaatkan apa yang dimiliki oleh Singapura, Malaysia, Thailand dan
Philipina, untuk ikut menjaga keamanan kita di perbatasan.
Tapi sekarang justru Malaysia yang merasa lebih kuat daripada Indonesia,
sehingga melanggar kedaulatan wilayah Indonesia di Ambalat? “Saya kira
tidak benar karena yang terjadi adalah masalah sengketa tentang
kedaulatan, daulat atas Ambalat sebagai wilayah potensi sumber daya
alam.
Bukan masalah kedaulatan negara. Sengketa itu, sengketa tentang hak
daulat atas wilayah yang di perairan yang di luar perairan teritorial
masing-masing. Hanya, karena jarak antara laut teritorial dengan hak
daulat itu cukup panjang. Karena nilainya sangat tinggi dan energi
merupakan penting.
Diperlukan kehadiran alutsista yang memadai,” jelas Juwono.
Menurut Juwono, cara pandangnya itu juga diterima oleh Panglima TNI.
Panglima sendiri mengatakan, “Sebagai tentara rakyat, bersedia untuk
sementara mengorbankan anggaran yang lebih banyak untuk perekonomian dan
kesra. Karena rakyat yang adil dan sejahtera itu juga bentuk pertahanan
yang tidak bisa diukur dengan senjata.
Sebagai seorang anak bangsa, mimpi atau visi Juwono tentang Indonesia
adalah menjadi bangsa yang percaya diri, Jangan terlalu banyak mengeluh.
“Supaya menjadi bangsa yang percaya diri, pemerataan di bawah harus
ditingkatkan, terutama kebutuhan dasar manusia. Sandang, pangan, papan,
listrik yang murah, hunian yang layak untuk khalayak banyak.
Listrik yang cukup sampai ke desa-desa. Tidak perlu PDB perkapitanya
30.000 dolar, tapi timpang. Cukup 6.000 dolar asal merata ke seluruh
banyak orang. Jangan mengikuti gaya hidup orang-orang negara maju. Cukup
saja sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup,” demikian Juwono
Sudarsono. ►mti/ms-bhs/ch. robin simanullang
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|