| |
C © updated 18062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Jusuf Wanandi
Nama Asli:
Liem Bian Kie
Lahir:
Sawahlunto, Sumatera Barat, 15 November 1937
Agama:
Kristen Katolik
Pendidikan:
SMA St. Kanisius, Jakarta
FH-IPK-Universitas Indonesia, 1960
Pekerjaan:
= Guru SMA St. Kanisius (1963)
= Asisten Dosen bidang Hukum Perdata, FH-IPK-UI (1964)
= Sekretaris DPA (1964-1965)
= Sekretaris (Majelis Pendidikan Nasional Indonesia) (1965)
= Anggota MPRS (1968-1972)
= Anggota MPRS (1972)
= Anggota MPR (1972-1977)
= Direktur Eksekutif CSIS (1986)
= Pendiri dan anggota Dewan Penyantun CSIS
= Salah seorang pimpinan Departemen Luar Negeri DPP Golkar
= Anggota Dewan Riset Forum Pasifik
= Anggota Dewan Penasihat Pusat Pengkajian Asia dari Yayasan Heritage
= Anggota Dewan Internasional Lembaga Analisa Kebijaksanaan dari
Sekolah Tinggi Hukum dan Diplomasi Fletcher
= Gubernur East-West Centre, Honolulu, Hawaii, AS
Alamat Rumah:
Jalan Lombok 2, Menteng, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Jalan Tanah Abang III No. 27, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
Jusuf Wanandi
Politisi dan Peneliti Senior
Pendiri dan Anggota Dewan Penyantun CSIS, ini lama menjabat Direktur
Eksekutif CSIS, sebuah lembaga pemikir yang berperan melahirkan berbagai
gagasan yang menjadi kebijakan pemerintah pada awal kekuasaan orde baru
hinga pertengahan tahun 80-an. Saat mahasiswa,
ia dikenal sebagai tokoh organisasi ekstrauniversiter, PMKRI. Pada mulanya,
ia mengurusi 'bidang
olah raga dan kesejahteraan mahasiswa, bukan politik. Bahkan sama sekali
ia belum terpikir untuk menjadi politisi.
Lalu sejak 1984, ia menjadi gubernur EastwWest Centre di Hawaii, AS.
Kemudian ia turut
berperanan dalam gerakan penumbangan Orde Lama, yang membuatnya terjun ke gelanggang
politik. Ia pun menjadi dekat bahkan menjadi asisten Ali Moertopo kala
menjabat asisten pribadi Presiden Seoharto yang kemudian menjabat menteri
penerangan.
Pada pemilihan umum pertama sesudah Orde Baru, 1971, Jusuf
aktif dalam Badan Pengendali Pemilu (Bapilu) Golkar. Kemudian ia menjabat wakil sekjen
DPP Golkar. Pada masa itu pula ia bersama beberapa tokoh lainnya
mendirikan
Centre for Strategic and International Studies (CSIS), yang diprakarsai
Ali Moertopo. Ia lama menjabat direktur eksekutif CSIS dan terakhir
menjadi anggota Dewan Penyantun. Sementara di DPP Golkar sempat memimpin Departemen Luar Negeri.
Putera bangsa kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, 15 November 1937
bernama asli
Liem Bian Kie. Putera seorang pedagang dan
pemilik Apotek Kinol di Padang, Sumatera Barat. Sang Ayang mengharapkannya
untuk meneruskan mengelola usaha itu. Tetapi, ia bercita-cita menjadi profesor.
Setelah tamat SMP di Padang, abang Sofjan Wanandi, ini melanjut ke SMA Kanisius, Jakarta,
lalu masuk Fakultas Hukum & Ilmu Kemasyarakatan UI (kini FH-UI), tamat 1960.
Ia pun sempat menjadi guru SMA Kanisius dan asisten dosen FH IPK UI.
Pengamat politik luar negeri ini banyak menulis di berbagai media massa,
termasuk Newsweek, Far Eastern Economic Review, dan Asian Survey.
Ia banyak mengulas gagasan kerja sama ekonomi di antara negara-negara
kawasan Pasifik. ►tsl
****
Jusuf Wanandi
Pilih Megawati atau Susilo?
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan
Megawati maju ke putaran kedua yang menentukan. Banyak yang bertanya,
siapa yang sepantasnya dipilih? Ada pendapat, di antara keduanya tidak ada
perbedaan besar, maka pilihan di bilik pemilu 20 September nanti bisa
dibuat dengan mata tertutup. Ada pula pendapat, keduanya sama-sama tidak
menarik dan menjanjikan, maka sebaiknya tidak dibuat pilihan, alias golput.
Demokrasi memang memberi tempat bagi mereka yang tidak mau menggunakan hak
pilih. Tetapi untuk memperkuat demokrasi, bukankah sebaiknya diambil suatu
pilihan. Dengan memilih, kita bisa menuntut presiden baru yang kita pilih
untuk lima tahun mendatang, agar melakukan yang terbaik. Dengan tidak
memilih, kita menempatkan diri di luar pagar, dan hanya menjadi pengamat.
BESARKAH risiko dari membuat pilihan yang salah? Dibanding sistem politik
yang tertutup, alam demokrasi memberi peluang lebih besar untuk melakukan
koreksi terhadap tindakan pemimpin yang keliru. Tetapi berbagai pihak
mempunyai perhitungan masing-masing tentang risiko atas pilihan mereka.
Megawati atau SBY? Duduk soalnya bukan siapa yang lebih baik, tetapi siapa
yang membawa risiko yang lebih kecil.
Berkat popularitasnya, SBY memperoleh suara terbanyak (33 persen) dalam
putaran pertama. Dia dianggap sebagai pemimpin harapan yang dapat membawa
perubahan. Namun di kalangan masyarakat warga (civil society), seperti
tertangkap dari pendapat sejumlah LSM, kepemimpinan SBY dipertanyakan,
bukan dari kemampuan tetapi terutama dari sifatnya.
Mereka beranggapan, antara Wiranto dan SBY tidak ada perbedaan prinsipiil,
hanya perbedaan gradasi dalam masalah-masalah kemanusiaan dan demokrasi.
Sebab, keduanya sama-sama tumbuh dari jajaran pimpinan TNI/ABRI rezim
Soeharto pada saat mana telah terjadi berbagai pelanggaran besar seperti
di Timtim, peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta, kerusuhan Mei 1998, serta
tragedi Trisakti dan Semanggi I/II terhadap mahasiswa.
Atas dasar itu mereka tidak dapat mendukung SBY, yang juga dilihat bukan
tokoh baru yang dapat diandalkan untuk masa depan Indonesia. Risiko
terbesar yang dilihat adalah SBY dikelilingi bekas perwira tinggi dan
senior TNI yang berpengaruh besar terhadapnya. Bagi para perwira senior
itu, kontrol demokratis oleh kelompok sipil terhadap TNI tidak dapat
diterima. Ini terlihat saat SBY mengaburkan prinsip itu dari platform
Partai Demokrat karena tentangan mereka.
Mereka meragukan SBY mampu menjadi seorang pemimpin yang bisa membawa
demokrasi untuk hari depan Republik Indonesia. SBY tidak bisa dilihat
sebagai seorang Eisenhower atau de Gaulle yang dibesarkan dalam alam,
karena itu mengerti, arti kontrol demokratis terhadap militer oleh
kelompok sipil. Dia dibesarkan di bawah rezim pemerintahan Soeharto yang
otokratis yang ditopang ABRI. Dari sudut itu, dia dianggap sama saja
dengan seorang perwira tinggi lain seperti Wiranto. Dapatkan SBY memberi
jawaban atas keraguan ini?
Pertimbangan terhadap SBY juga dipengaruhi oleh pandangan terhadap calon
wakil presidennya, Jusuf Kalla. Cukup mengejutkan. Sementara kalangan,
termasuk kelompok minoritas pengusaha Tionghoa Indonesia, mempertanyakan
sikap dan pandangannya terhadap peran ekonomi kelompok Tionghoa Indonesia,
serta kesan nasionalisme ekonomi dan retorik populisme yang berlebihan.
Kelompok perempuan juga menyatakan kemarahan atas ketidakpekaannya dalam
urusan jender.
Berbagai pandangan Jusuf Kalla dirasa sebagai lonceng peringatan. Dia
menganjurkan kebijakan affirmative untuk orang “pribumi" seperti kebijakan
“bumiputra" di Malaysia yang diterapkan sejak peristiwa bentrok rasial di
Malaysia Mei 1969. Di Malaysia kebijakan ini sudah ditinggalkan PM
Mahathir beberapa tahun lalu karena dinilai tidak efektif dan hanya
“memanjakan" para pengusaha bumiputra itu. Begitu pula retorika populisnya
membangkitkan berbagai kekhawatiran. Apakah pandangan ini sekedar
dilontarkan semasa kampanye?
Para pengusaha keturunan Tionghoa tampaknya sudah bosan dengan
keluhan-keluhan terhadap mereka. Mereka ingin diajak dan diberi tempat
dalam upaya nasional untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Pengalaman, keuletan, dan hubungan-hubungan ekonomi mereka di Asia Timur
dan dunia bisa dimanfaatkan. Mereka bertanya apakah retorik nasionalisme
dan antiasing itu juga ditujukan pada mereka?
ATAS aneka pertanyaan dan ketidakpastian itu, tampaknya berbagai pihak
menengok kembali ke Megawati. Dia sudah dikenal, termasuk kekurangannya.
Paling tidak dia dianggap tidak menjadi ancaman bagi demokrasi. Iklim yang
ada kini memungkinkan masyarakat warga berkembang, kehidupan politik
mengalami kemajuan, termasuk keberhasilan melaksanakan pemilu dan
pelaksanaan pemilihan presiden tahun 2004. Ini terjadi karena dia tidak
mencampuri semua hal dan perkembangan. Dukungan yang tegas bagi masyarakat
Indonesia yang majemuk memberi rasa aman bagi kelompok minoritas.
Di bidang ekonomi pemerintah Megawati berhasil menstabilkan makro ekonomi
(seperti inflasi, nilai rupiah, pemilikan valuta asing dan sebagainya yang
sehat), dan secara berangsur-angsur pertumbuhan ekonomi membaik meski
belum cukup untuk mengatasi masalah pengangguran yang serius. Semua itu
dapat dijadikan landasan untuk perkembangan ekonomi di masa datang yang
lebih mantap. Pertentangan serta gejolak di daerah, kecuali di Aceh, dapat
diatasi pemerintahan Megawati. Upaya melawan terorisme global cukup tegas,
dan kerjasama dengan pihak luar, teroris didesak mundur, meski untuk
mengatasinya dibutuhkan waktu karena diperlukan upaya untuk mengatasi
alasan-alasan yang lebih mendalam.
Risiko memilih Megawati sudah diketahui. Kekurangannya cukup banyak.
Agenda yang perlu dituntaskan jelas: memberantas korupsi, mengatasi
pengangguran, dan meningkatkan pelaksanaan hukum (termasuk pengadilan).
Banyak yang berpandangan, Megawati tidak mampu dan tidak dapat mengubah
kepemimpinannya. Karena itu, dukungan terhadap Megawati bukannya
unconditional, tetapi tergantung sinyal-sinyal nyata.
Pertama, kepemimpinan yang lebih terbuka dan lebih dekat pada rakyat
terutama pada rakyat kecil yang menderita serta kekurangan. Kedua, mampu
membentuk satu tim pembantu yang kompak, ahli, dan dipercayai, serta
mengganti pembantu-pembantu yang dianggap korup atau tidak mampu. Ketiga,
mengadakan koalisi yang tangguh dengan beberapa partai lain seperti Golkar,
PPP, dan PKB. Apakah Megawati bisa berubah? Barangkali kita bisa
menjawabnya dalam dua-tiga minggu mendatang. ►Sumber: Kompas, 27
Juli 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|