| |
C © updated 28012008-12092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/rri |
|
| |
Nama:
Mohamad Jusuf Ronodipuro
Lahir:
Salatiga, 30 September 1919
Meninggal:
Jakarta, 27 Januari 2008
Isteri:
Siti Fatma Rassat
Jabatan:
- Kepala RRI 1945-1947 dan 1949-1950
- Dirjen Penerangan Dalam dan Luar Negeri, Deppen
- Duta Besar RI di Argentina
Alamat Keluarga:
Jalan Talang Betutu, Jakarta
Sumber, al:
Raharja Waluya Jati, Pantau Tahun II Nomor 015 - Juli 2001
|
|
| |
|
|
|
|
M. Jusuf Ronodipuro (1912-2008)
Pemekik Awal Semboyan RRI
Dia adalah angkasawan Radio Republik Indonesia (RRI) yang sarat dengan
peristiwa heroik. Pria kelahiran Salatiga, 30 September 1919 itu adalah salah
seorang pendiri RRI ketika zaman revolusi masih bergolak. Pemberita
pertama
Proklamasi 17 Agustus 1945, ini meninggal dunia dalam usia 88 tahun,
Minggu 27 Januari 2008 pukul 23.30 di Jakarta.
Dia adalah
pemekik awal semboyan kebanggaan setiap penyiar RRI untuk “sekali di udara
tetap di udara”. Dia juga menjadi sumber inspirasi penciptaan lagu
“Berkibarlah Benderaku” berdasar peristiwa pada malam 21 Juli 1945.
Bersama Bachtiar Lubis, dia adalah orang pertama yang membacakan isi teks
Proklamasi 17 Agustus 1945 lewat radio. Dia pula yang merekam suara Bung
Karno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI tersebut yang
menjadikan rekaman itu sebagai satu-satunya dokumen audio otentik
pembacaan proklamasi.
Kendati sudah sepuh namun semangat Mohamad Jusuf Ronodipuro sepertinya
tidak bisa berhenti jika hanya karena alasan batasan usia. Dia tetap tidak
bisa duduk lalu diam. Melainkan dia sepertinya masih bersemangat sebagai
penyiar yang di jiwanya selalu terpatri semboyan "sekali di udara tetap di
udara!" yang sering dia pekikkan dahulu di depan corong Radio Republik
Indonesia. Ronodipuro adalah salah sseorang pendiri RRI saat bergolak
zaman revolusi tempo doeloe. Antara tahun 1947 sampai 1956 dia giat di
bidang penyiaran radio dan terakhir bertugas sebagai kepala RRI Jakarta.
Sebagai penyiar dia sekaligus merangkap pula sebagai pejuang di zaman
revolusi. Beberapa sumber banyak menyebutkan bahwa Jusuf Ronodipuro adalah
sumber inspirasi terciptanya lagu “Berkibarlah Benderaku” yang sangat
herorik itu. Ceritanya bermula pada malam 21 Juli 1945 saat Ronodipuro
yang ketika itu berusia 33 tahun menolak perintah di bawah ancaman senjata
dari para serdadu Belanda yang meminta agar dia menurunkan bendera
merah-putih yang tengah berkibar. Ancaman senjata, dia balas dengan gertak
ancaman pula, "Kalau memang bendera harus turun, maka dia akan turun
bersama bangkai saya!" cecar Ronodipuro yang lalu mengilhami lahirnya
sebuah lagu perjuangan.
Kendati bangga sebagai pejuang dan tokoh terpenting di balik pendirian RRI,
namun hari ulang tahunnya yang jatuh pada setiap tanggal 30 September
adalah hari yang sangat merisaukannya. Dia, sesunguhnya berseloroh,
menyebutkan bahwa selama berpuluh tahun pemerintahan Orde Baru hari ulang
tahunnya selalu diperingati dengan pengibaran bendera setengah tiang. Hal
itu terkait dengan peristiwa pemberontakan PKI pada 30 September 1965. PKI
telah diciptakan sebagai musuh besar Orde Baru sehingga setiap tanggal 30
September rezim selalu menghantui seluruh rakyat Indonesia dengan sebuah
rasa takut sekaligus benci akan PKI.
Salah seorang yang didakwa sebagai pesakitan terkait peristiwa tersebut
adalah Oemardhani yang sebelum memasuki karir militer di Angkatan Udara
Republik Indonesia adalah salah satu anak buah Ronodipuro. Tidaklah heran
jika sebuah buku Biografi Oemardhani yang sudah ada di tangan Ronodipuro
di halaman pertamanya tertulis sebuah kalimat berbunyi “For my Boss” yang
lalu diikuti paraf tokoh yang diceritakan dalam buku yakni Oemardhani.
Kendati telah divonis bersalah dan dipenjara karena peristiwa 30 September
1965 hubungan antara Ronodipura dan Oemardhani terus berlanjut.
Sejak tahun 1995 tanpa alasan yang jelas dia mulai meninggalkan kebiasaan
lama mau menghadiri undangan peringatan 17 Agustus di Istana Negara.
Sikapnya ini agak aneh mengingat Ronodipuro bersama Bachtiar Lubis adalah
orang pertama yang membacakan isi teks Proklamasi 17 Agustus 1945 lewat
radio. Siaran inilah yang banyak didengar orang Indonesia dan dunia untuk
mengetahui bahwa Indonesia bebas merdeka dan telah lahir sebagai sebuah
bangsa baru yang berdaulat penuh. Suara Bung Karno yang jadi dokumen audio
satu-satunya untuk proklamasi adalah hasil rekaman Ronodipuro yang direkam
di awal tahun 1951.
Dia hanya merasa bahwa apa yang dia sumbangkan kepada masyarakat melalui
berbagai posisi tugasnya di birokrasi Orde Baru sudah cukup. Sebagai
birokrat dia memasuki masa pensiun semenjak 31 Mei 1976 setelah menempati
berbagai pos di Departemen Luar Negeri dan Departemen Penerangan. Namun
baginya pensiun tak berarti harus berdiam diri di rumah. Ronodipuro masih
tercatat sebagai penasehat di beberapa organisasi sosial nirlaba semacam
LP3ES, Yayasan Lembaga Indonesia Amerika, dan Dewan Harian Nasional
Angkatan '45.
Sebuah buku saku bersampul hitam selalu dikeluarkannya bila ada orang
meminta waktunya untuk bertemu.
Kehadiran lima orang cucu yang dipersembahkan oleh tiga orang anaknya
telah mengisi hari-hari masa pensiun Ronodipuro menjadi berarti.
Ronodipuro sepertinya tak lagi pernah merasa tak punya waktu minimal
sekali dalam seminggu untuk menemani cucunya. Sama halnya pada setiap
menjelang tengah malam hari hingga pukul satu dinihari saat Ronodipuro tak
pernah melewatkannya untuk menikmati cerutu Romeo and Julliet atau
Davidoff berbandrol Havana Kuba di ruang tengahnya.
Dia juga akan selalu melewatkan setiap pergantian malam dengan memutar
musik klasik sambil menelusuri lukisan Basuki Abdullah, Soedjojono, dan
Affandi yang tergantung di dinding rumahnya. Suara bising lalu lintas di
jalan Talang Betutu, depan rumahnya di Jakarta telah mengendap di embun
malam. Sementara istrinya Siti Fatma Rassat selalu setia. ►e-ti
Meninggal Dunia
Berselang 10 jam setelah mantan Presiden Soeharto wafat, M. Jusuf
Ronodipuro, meninggal dunia dalam usia 88 tahun pukul 23.20 WIB Mingu 27
Januari 2008. Jusuf meninggal akibat kanker paru-paru dan stroke.
Almarhum sempat dirawat di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto,
Jakarta.
Jenazah disemayamkan di rumah duku Jalan Talang Betutu, Menteng, Jakarta
Pusat. Sejumlah kerabat dan pejabat datang melayat, di antaranya Menteri
Pertahanan (Menhan) Juwono Soedarsono dan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan (Men PP) Meutia Hatta.
Dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata pukul 12.45 Senin 28
Januari 2008. Pemakaman mantan duta besar RI untuk Argentina itu
dilakukan dengan upacara militer tepat pukul 13.00 dipimpin Brigjen TNI
Muhammad Yusron, direktur kesehatan Ditjen Wadhan Dephan. Satu kali
tembakan salvo membubung di udara.
Dia meninggalkan isteri Siti Fatma dan tiga putra dan putri. Usai
pemakaman, putra sulung Jusuf, Darmawan Ronodipuro, mengatakan bahwa
ayahnya meninggal dengan tenang. "Papa hanya berpesan untuk selalu
menjaga Mama," ujarnya.
Dirut RRI Parni Hadi mengemukakan akan mengabadikan nama Jusuf menjadi
salah satu nama ruang di kantornya karena jasa Jusuf kepada negara. "Pak
Jusuf dulu sembunyi-sembunyi mengabarkan naskah proklamasi yang pagi
harinya dibacakan Pak Karno di kantor radio yang telah diduduki Jepang,"
katanya di TMP Kalibata. Karena keberaniannya itu, lanjut Parni, Jusuf
dianiaya tentara Jepang yang menjaga stasiun radio tersebut.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|