| |
C © updated 007052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama :
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Lahir :
Watampone, 15 Mei 1942
Jabatan Kenegaraan:
= Wakil Presiden RI (2004-2009)
Alamat Kantor:
Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat
Alamat Rumah:
Jl. Brawijaya Raya No. 6 Jakarta Selatan
wa |
|
| |
|
|
|
|
| WAWANCARA |
|
|
 |
== 01
02
03 == M Jusuf Kalla (01)
Golkar Semakin Solid
Perpecahan yang terjadi di sejumlah partai politik pra dan pascakongres
atau muktamar, termasuk di beberapa partai besar yang menjadi pesaing
utama Golkar pada Pemilihan Umum 2004 lalu, membuat Golkar menjadi
partai yang paling kuat dan solid saat ini. Tidak heran, tidak sedikit
kalangan meramalkan Golkar akan kembali mengantongi kemenangan besar
dalam pemilihan umum legislatif pada Pemilu 2009. Ketua Umum Golkar M
Jusuf Kalla mengakui spirit para kader Golkar telah pulih kembali.
Berikut wawancara dengan Ketua Umum Golkar M Jusuf Kalla, yang juga
merangkap sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), di kediaman
Wakil Presiden Jalan Diponegoro, No 2, Jakarta, Senin malam 2/05/2005
lalu.
Tanya (T): Apa agenda utama Golkar lima tahun ke depan?
Jawab (J): Yang perlu dipahami, kultur Golkar adalah partai pemerintah
karena memang saat ia didirikan seperti itu. Tidak punya ideologi dari
segi agama dan sebagainya. Jadi pragmatis saja. Karena merupakan partai
pemerintah, sejak awal cenderung jadi partai yang tak oposisi. Apalagi
pengurusnya sendiri banyak yang jadi gubernur, bupati, dan lain-lain.
Sehingga ketika suatu waktu dibawa jadi oposisi terasa tidak match
dengan kulturnya.
Beda dengan PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), kulturnya
memang oposisi. Selama 30 tahun partai ini jadi oposisi. Sehingga,
ketika Ibu Mega menjadi Presiden, orang seperti Pak Kwik (Kwik Kian Gie,
mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas-Red) dan Pak Jacob (Jacob Nuwa Wea, mantan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi-Red) tetap bersikap seperti oposisi pemerintah. Mereka
berbicara mengkritik pemerintah, padahal mereka ada di dalamnya.
Tujuan saya masuk Golkar dulu karena ingin mengembalikan Golkar ke
posisi yang seharusnya. Golkar itu punya potensi yang sangat besar.
Untuk suatu bangsa yang tingkat kemakmurannya masih seperti ini, jika
terlalu banyak guncangan atau tak ada stabilitas, akan semakin ruwet.
Ekonomi sangat menentukan stabilitas sosial, stabilitas sosial
berpengaruh ke stabilitas politik, dan stabilitas politik memengaruhi
ekonomi, begitu seterusnya. Kalau ada ketidakseimbangan, misalnya, ada
beda sikap antara DPR dan pemerintah secara terus-menerus, bangsa ini
akan tertahan terus.
Jadi misi saya adalah membawa kembali bangsa ini dalam keseimbangan
tadi. Spirit Golkar kembali begitu saya masuk. Yakni spirit bahwa Golkar
bukan partai oposisi. Setelah keseimbangan yang ini tercipta, baru
program-program lain bisa jalan.
T: Apa target untuk Pemilu 2009?
J: Ke depan semua partai pasti ada tujuannya. Tujuan dimaksud adalah
menjadi perangkat kenegaraan sehingga bisa menjalankan cita-cita partai.
Kalau memenangi pemilu dan pilkada, itu sudah pasti. Tapi, itu bukan
tujuan. Tujuan kita ya menjadi perangkat kenegaraan itu tadi. Untuk itu,
harus ada pengaderan bangsa secara terus-menerus.
T: Target pribadi Anda sendiri sebagai Ketua Umum Golkar apa? Apakah
Anda juga akan maju sebagai calon presiden? Kalau ya, berpasangan dengan
siapa?
J: Target saya pribadi, kita lihat nanti. Saya itu orang yang selalu
berpikir pragmatis. Tidak terlalu jauh karena politik itu sangat
dinamis. Saya mungkin terlalu tua. Tahun 2009 saya sudah akan 67 tahun.
Saya tidak mengatakan tidak akan maju. Tapi, tak berpikir serius seperti
itu. Saya realistis saja. Sekarang ini tak terlalu mudah bagi orang luar
Jawa untuk jadi presiden karena 60 persen pemilih ada di Jawa.
T: Kalau bukan Anda yang maju, berarti akan ada penyaringan calon lain
di partai. Apakah akan melalui konvensi seperti kemarin? Bukankah
eksperimen demokrasi lewat konvensi kemarin berbuah pahit karena Pak
Akbar justru ketendang?
J: Itu karena demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi dalam tanda
petik. Yang namanya demokrasi itu harus berlaku kompetisi, kritis,
obyektif, dan proporsional. Kritis itu kalau bicara argumentasinya apa.
Obyektif itu kalau besar, juga dibilang besar, kecil dibilang kecil.
Kesalahan konvensi yang kemarin adalah terlalu terbuka sehingga siapa
saja masuk. Pelawak masuk, paranormal masuk. Jadi terlalu terbuka tanpa
saringan. Kalau yang kita terapkan sekarang seperti di pilkada, kan
tidak begitu. Calon harus punya track record di Golkar dan masyarakat.
Jadi dites dulu. Jadi proses demokrasi yang berbasis kompetensi dan
disaring dulu. Calon tak boleh hanya satu, minimal tiga orang.
T: Pelajaran apa yang bisa dipetik dari pengalaman lalu?
J: Pertama, pengalaman partai-partai yang ada, partai tak dikelola
secara demokratis dan transparan. Kedua, ada klik- klik di dalam partai.
Ada yang disebut lingkaran I, II, dan seterusnya atau ring I, II, III,
dan seterusnya. Yang ketiga, tak ada kegiatan yang sifatnya umum. Di era
saya itu tidak ada. Tidak ada pengurus yang saya ganti, kecuali ketua
fraksi. Tak ada satu pun intervensi . Kita di sini bicara soal sistem.
Tak ada suara-suara dari mana saja soal kesewenang-wenangan.
T: Bagaimana peluang perolehan suara Golkar di Pemilu 2009?
J: Kalau di pemilu legislatif dulu, meskipun Golkar hanya dapat 21
persen, Golkar tetap nomor satu. Targetnya ya tahun 2009 angkanya
diharapkan naik. Angkanya berapa, kita lihat saja nanti.
T: Keyakinan perolehan suara akan naik itu didasarkan pada pertimbangan
apa? Apakah ada kaitan dengan perpecahan yang terjadi di sejumlah partai
besar lain?
J: Ya bisa saja kan dengan sedikit kekuatan pada saat partai-partai lain
drop, kita bisa naik. Pertimbangan lain, solidaritas Golkar lebih baik
dibandingkan dengan partai-partai lain. Setelah Golkar kembali jadi
partai bukan oposisi, saya lihat spirit orang-orang jadi tinggi sekali.
Banyak orang masuk. Ada profesor, pengusaha, masuk semua. Di daerah,
orang-orang yang terpandang masuk semua ke Golkar.
Untuk pemilu legislatif kan sangat bergantung pada program partai yang
didukung puluhan ribu caleg. Untuk pemilihan presiden atau pilkada yang
dipertaruhkan diri pribadi.
T: Jadi konsolidasi di dalam Golkar terus terjadi?
J: Itu terjadi karena yang dibina adalah program-program yang berpihak
ke masyarakat. Sementara pada saat yang sama kita lihat partai-partai
lain tak solid. Jadi seperti permainan bola. Kalau kita latihan lebih
saat lawan kita lemah, kita bisa menang lebih besar lagi. Bukan saya
berharap partai-partai lain pecah. Diharapkan partai-partai yang ada
juga lebih solid karena untuk berjalannya demokrasi yang kuat, perlu ada
partai-partai yang juga kuat.
T: Isu atau platform apa yang digarap atau akan dijual?
J: Kita tidak menggarap isu kontroversial. Pokoknya bekerja untuk rakyat
saja. Kalau untuk pemilihan legislatif, yang dipertaruhkan kan lambang
dan program-program partai. Tujuannya untuk merebut hati rakyat lewat
fair competition. Untuk pilkada atau pilpres, itu pemilihan langsung,
memilih orang langsung. Jadi yang dipertaruhkan adalah reputasi dan
harapan orang. Jadi ini sangat tergantung pada track record yang
bersangkutan, hubungan agama, hubungan kultural, dan setelah itu baru
hubungan politik.
Itulah makna pemilihan langsung. Dan itulah juga mengapa waktu pemilihan
presiden 2004, calon-calon partai besar tak ada yang terpilih karena di
sini yang dipertaruhkan reputasi dan harapan orang tadi.
T: Anda pernah mengatakan akan membawa kembali Golkar ke era kejayaan
seperti zaman Sudharmono? Apakah mesin birokrasi akan digunakan untuk
memenangkan Golkar seperti zaman Sudharmono?
J: Harus diakui, pada era Sudharmono sistem di Golkar adalah yang
terbaik, baik dalam hal pengaderan maupun pembinaan para anggotanya.
Tapi, sebenarnya beda kondisi zaman Sudharmono dengan sekarang. Zaman
Sudharmono waktu itu kan sangat otoriter. Jadi Golkar bisa gunakan
banyak hal untuk mencapai tujuan, termasuk mengerahkan lurah, bupati,
gubernur, kodim-kodim, dan sebagainya.
Sehingga, dengan mudah waktu itu kita bisa mengantongi 60 persen suara
lebih dalam pemilu. Sekarang kalau bisa 30 persen suara saja, itu sudah
luar biasa. Jadi jaya yang dimaksud di situ adalah jaya sesuai zamannya.
Pengalaman saya, mengelola partai di Indonesia yang begitu luas, bukan
pekerjaan mudah. Berbeda dengan Singapura yang kecil. Kita untuk sampai
ke Papua untuk menghadiri rakernas saja perlu lima jam.
T: Bagaimana pembinaan kader di Golkar sekarang ini? Golkar di bawah
Anda akan seperti apa?
J: Sebagai partai, partai yang teratur. Sistem demokrasi kita ini kan
sangat terbuka. Jadi pengurus partai harus punya tingkat pendidikan yang
baik, obyektif, dan membina masyarakat, menyiapkan kader-kader politik,
dari atas hingga ke bawah. Yang sudah kita lakukan sekarang ini,
misalnya, kita sudah bikin kelas politik. Kita bekerja sama dengan UGM
untuk memberikan pendidikan S2 buat semua kader.
Kader-kader yang baik kita masukkan ke Lemhannas. Kita juga membuat
pusat-pusat pengaderan di mana-mana. Setiap minggu, kita langsungkan
diskusi-diskusi. Dengan proses itu, diharapkan akan terjadi suatu
kematangan secara wajar pada kader-kader.
T: Hal seperti ini baru dilakukan oleh Golkar?
J: Masing-masing partai punya ciri sendiri-sendiri. Ada yang sangat
disiplin seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera-Red). Ada juga yang
mencoba menjadi intelektual seperti PAN (Partai Amanat Nasional-Red).
Jadi ada ciri-ciri sendiri. Partai di Indonesia ini bisa dibagi menjadi
dua. Yang pertama, yang kuat karena orang. Misalnya, PKB (Partai
Kebangkitan Bangsa-Red), PAN, dan PDI-P yang besar karena di situ ada
Gus Dur, Amien Rais, dan Megawati.
Yang kedua adalah kuat karena organisasinya. Misalnya, di sini adalah
Golkar dan PKS.
Yang akan bertahan dari dua kelompok itu adalah yang kuat karena
organisasinya. Karena, untuk partai yang kuat karena orang, begitu orang
itu tidak ada, dia akan redup, turun, kecuali mereka mengubah arah jadi
lebih ke sistem.
T: Bagaimana persepsi Anda soal partai-partai politik sekarang ini?
Kenapa banyak parpol tercerai-berai?
J: Kita sekarang ini memasuki demokrasi liberal. Kita bermain di era
seperti ini. Ada kebebasan berpendapat. Tetapi, ada partai-partai yang
saat proses pemilihan ketuanya tidak sesuai aturan awal yang disepakati.
Tidak sesuai jadwal atau tata tertib yang ada. Apa yang terjadi di PKB
dan PBR contohnya. Di PDI-P juga karena masalah tata tertib. Ada
tuntutan untuk lebih demokratis, tetapi itu tak muncul dalam kongres.
Yang berbuat itu takut kalah sehingga mem-by pass saja. Padahal, inti
demokrasi itu harus siap menang dan siap kalah.
T: Kenapa sekarang ini ada kecenderungan orang yang kalah dalam
pemilihan ketua umum partai, dia memilih keluar dan membuat partai baru?
J: Ya karena orang mau menang saja dan tidak siap untuk kalah itu tadi.
Jadi dia bikin partai baru agar dia bisa menang sendiri.
SELAIN bicara soal konsolidasi internal Golkar dan peluang di Pemilu
2009, Jusuf kalla juga mengungkapkan pandangannya soal berbagai isu
sensitif, seperti isu mayoritas vs minoritas, pribumi vs nonpribumi, dan
syariat Islam.
T: Soal dikotomi mayoritas dan minoritas yang selalu Anda angkat,
bagaimana Anda menjelaskan posisi mayoritas dan minoritas tersebut dalam
konteks demokrasi?
J: Perekonomian itu tidak akan stabil jika 30 persen orang menguasai 60
persen aset ekonomi. Dan yang 30 persen ini biasanya nonpri sehingga
setiap tahun selalu terjadi pengganyangan terhadap para nonpri. Kalau
tidak di Yogyakarta, ya di Makassar, Bandung, atau Jakarta. Tanpa ingin
mengurangi dari yang nonpri, kita ingin yang pribumi juga naik.
Keberpihakan ke pribumi ini bisa diwakili dengan keberpihakan pada usaha
kecil dan menengah (UKM), kredit mikro, dan pertanian karena hampir
semua itu berkaitan atau dilakukan oleh pribumi. Jadi keberpihakan yang
kita bicarakan di sini dalam konteks program.
T: Di mana posisi minoritas dalam demokrasi? Dan mengapa minoritas
selalu ditafsirkan dalam dikotomi agama, bukan pria-wanita atau Jawa-
non-Jawa dan sebagainya?
J: Saya bicara itu dulu dalam konteks pilpres dan pilkada. Dalam pilpes
dan pilkada Anda harus benar-benar memilih mayoritas. Mayoritas di sini
bisa terkait wilayah, kelompok masyarakat, agama. Tapi, mayoritas di
sini tak berarti lalu tak demokratis. Kita itu kan 90 persen menganut
Islam. Jadi yang mayoritas ini kan perlu juga di-entertain. Mengapa
bukan pria-wanita karena pria dan wanita kan jumlahnya hampir sama 50 :
50 persen. Kalau lebih banyak perempuan, paling 1 persen. Lagi pula
wanita dalam memilih selalu dipengaruhi oleh pria. Lalu penduduk itu 80
persen di Jawa, jadi kita konsentrasi di Jawa.
T: Anda juga selalu menyinggung perlunya perjuangan syariat Islam.
Bagaimana persisnya ide syariat Islam itu?
J: Saya pernah ada dalam suatu pertemuan di daerah. Tiba-tiba seorang
pendeta melontarkan pertanyaan soal sikap saya mengenai syariat Islam
itu. Yang saya maksud, sebagai umat Islam, syariat Islam itu sesuatu
yang harus dijalankan. Jadi saya katakan, syariat Islam itu untuk saya,
bukan untuk Bapak Pendeta. Syariat Islam itu kan ada dua. Yang pertama
ibadah, seperti sembahyang, puasa, dan naik haji.
Yang kedua, muamalah, seperti kawin, waris, perdagangan, dan lain-lain.
Syariat Islam ini harus dijalankan oleh masyarakat Islam, tetapi tidak
perlu diatur dengan undang- undang. Maksudnya, beribadahlah karena takut
pada Allah, bukan karena takut pada gubernur atau bupati, misalnya.
T: mengenai pemerintahan, dalam UUD 1945 yang sudah diamandemen, Wakil
Presiden adalah pembantu Presiden. Bagaimana Anda menempatkan diri dalam
status seperti itu? Padahal, sekarang kan pemilihan umum langsung?
J: Pembantu itu kan artinya luas sekali. Dalam UUD 1945 ada dua pasal
yang mengatur tugas Presiden dan Wapres. Pasal 4 menyebutkan Presiden
dalam menjalankan kekuasaan dibantu oleh Wakil Presiden. Pasal 7
menyebutkan jika Presiden berhalangan tetap, digantikan oleh Wapres.
Sistem pemilihan langsung sangat membedakan itu. Dengan pemilihan
langsung, Presiden dan Wapres menang sama-sama dan pertanggungjawabannya
juga sama-sama. Jadi, sama-sama berkeringat.
T: Ada kesan di luar, terjadi perebutan panggung.
J: Tidak ada itu. Ada aturan main. Prinsipnya, saya sebagai Wapres hanya
menjalankan kebijakan yang sudah disetujui Presiden.
T: Apakah benar ada pembagian kerja tugas tertulis di mana Presiden
menangani masalah politik, keamanan, dan luar negeri, sementara Wapres
mengurus portofolio ekonomi?
J: Pada zaman Gus Dur-Mega ada keppres yang mengatur pembagian tugas
antara Presiden dan Wapres. Waktu itu Wapres juga menjalankan tugas
sehari-hari Presiden sehingga banyak sekali keputusan yang
ditandatangani Ibu Mega atas nama Presiden.
Pada era Soeharto dulu sebagai Wakil Presiden, Hamengku Buwono IX
konsentrasi ke ekonomi, lalu Adam Malik ke isu politik, dan Try Sutrisno
ke pengawasan. Sekarang Wapres menangani semua isu. Tidak dibatasi hanya
isu ekonomi.
T: Banyak pihak mengusulkan segera dibuat UU Kepresidenan dan UU
Kementerian. Bagaimana pandangan Anda soal ini dan sejauh mana Golkar
akan mendorong UU tersebut?
J: Soal UU Kepresidenan itu sudah ada di DPR sejak zaman Mega. Bahkan
rancangan itu terlalu kuat untuk jabatan wakil presiden karena dibuat di
zaman Gus Dur.
T: Benarkah sekarang ini ada ketidakkompakan di kabinet? Informasi orang
dalam menyebutkan ada perseteruan sengit antarmenteri menyangkut
kebijakan, terutama beberapa menteri ekonomi, dan mereka ribut hampir
setiap hari. Yang kita lihat, menteri-menteri ekonomi juga belum
menunjukkan performa seperti diharapkan.
J: Tidak ada itu. Mereka selalu datang kok ke kantor saya. Saya tidak
dengar. Soal kinerja, mereka sekarang juga sudah lebih baik dari
sebelumnya. Sudah mulai kelihatan perbaikannya.*
(komps/tat/as/rik,7/05/2005)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|