| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama :
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Lahir :
Watampone, 15 Mei 1942
Agama :
Islam
Pendidikan :
Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967
The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis
(1977)
Pekerjaan
Agustus 2001 - sekarang : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat
1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI
1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International
Organisasi
2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat
1985 - 1998 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz
1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS
1988 - 2001 : Anggota MPR-RI
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.3, Jakarta Pusat 10110
Telepon 021-3849845
Alamat Rumah:
JI. Denpasar Raya CIII/9, Kuningan, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3
4 5
6
7
8
9
10
11 12
==
M. Jusuf Kalla (5)
Capres yang Sederhana
Jusuf Kalla merupakan seorang pengusaha sukses yang kemudian berkiprah di
dunia politik. Kariernya semakin berkibar seiring dengan bergulirnya
reformasi. Politisi yang empat kali anggota MPR Utusan Daerah dari Golkar
dan pernah menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar, ini mulai menjabat menteri
ketika pemerintahan Gus Dur. Kini ia menjabat Menteri Kesejahteraan Rakyat
kabinet Gotong Royong. Ia seorang pengusaha, politisi dan petinggi negara,
tiga posisi yang jarang dimiliki orang lain.
Nama tokoh utama perdamaian Malino ini bela-kangan ini semakin populer
seiring dengan pencalon-annya dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar.
Ia seorang yang dinilai masih ‘bersih’ dan dapat diterima semua golongan,
sehingga peluang tokoh berjiwa kebangsaan ini cukup terbuka menjadi orang
nomor satu negeri ini. Namun diperkirakan, ia kemungkinan akan menjadi
calon wakil presiden mendampingi Megawati Sukarnoputri atau mendamping
Amien Rais.
Pada era pemerintahan Gus Dur, ia hanya menjabat Menperindag selama enam
bulan. Ia dinonaktifkan dengan alasan yang tidak jelas. Tuduhan KKN yang
dilontarkan padanya ketika itu dibantahnya. Dan Gus Dur sendiri juga tak
bisa membuktikannya. Setelah Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden, ia
dipercaya menjabat Menko Kesra periode 2001-2004.
Menjabat menteri baginya bukan mengharapkan kekayaan, menurutnya malah ia
‘nombok’. Setiap bulan ia meminta perusahaannya menyediakan dana untuk
berbagai keperluan yang secara langsung atau tidak langsung menunjang
pe-kerjaannya sebagai pejabat publik.
Kiprahnya dalam menjalankan tugas sebagai Menko Kesra terbilang menonjol.
Dia sukses meletakkan kerangka perdamaian di daerah konflik Poso dan Ambon.
Lewat pertemuan Malino I dan II. “Karena mereka yang berselisih ini
memandang dari sudut agama, jadi kita memberikan kesadaran dari sisi agama
juga. Karena semua agama, menurut saya, melarang membunuh tanpa alasan
yang jelas,” ujarnya mengenai hal tersebut.
Tekun, konsisten dan keras, tetapi penyabar merupakan sifat pria Bugis ini,
ia tidak mengatakan sesuatu tanpa diterapkan pada diri dan keluarganya.
“Aparat yang korup, mengomersialkan jabatan, KKN, atau melakukan tindak
kejahatan lainnya, tidak akan saya tolerir. Saya pun akan mengajak aparat
menciptakan suasana kondusif, misalnya dengan meningkatkan solidaritas
pada golongan ekonomi lemah. Solidaritas itu misalnya, bisa berupa
mengurangi kebutuhan sekunder dan tertier,” katanya di awal tugasnya
sebagai Meko Kesra.
Pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan 15 Mei 1942, ini seorang yang
sangat sosial dan sederhana. Menurutnya, tingkat luxuries harus dikurangi,
agar ada semacam solidaritas bangsa. Orang berekonomi tinggi dan mempunyai
uang lebih, silakan menikmatinya tetapi sebaiknya tidak terlampau
ditonjol-tonjolkan agar tidak menampakkan perbedaan mencolok. Sebab di
sekitar masih terdapat jutaan penganguran begitu juga masih sangat banyak
pengemis, gelandangan, anak-anak telantar, anak-anak yatim dan sebagainya
di jalan-jalan raya di banyak kota.
Suami Mufidah dan ayah dari Lisa, Ira, Elda, Ihin, dan Chaerani, ini sejak
mahasiswa aktif dalam berbagai organisasi, seperti Ketua KAMI Sulsel.
Sekarang pun, ia aktif di Kadin Pusat, IKA Unhas, anggota dewan penyantun
Unhas, IKIP (Universitas Negeri Makassar), dan IAIN, serta perguruan
tinggi swasta. Begitu juga di ISEI maupun dalam organisasi keagamaan
seperti pengurus masjid, HMI, KAHMI dan ICMI.
Sejak usia 25 tahun, Alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin
Makasar dan The European Institute of Business Administration
Fountainebleu, Perancis ini sudah harus memegang kendali bisnis orang
tuanya Haji Kalla dan Hj. Athirah yang sedang menurun. Usahanya kemudian
berkembang. Ia kini telah terhitung sebagai salah satu konglomerat yang
memiliki berbagai perusahaan, di antaranya NV. Hadji Kalla, PT Bumi Karsa,
PT. Bumi Sarana Utama, PT. Kalla Inti Karsa dan Komisaris Utama PT. Bukaka
Singtel International dan PT. Bukaka Teknik Utama.
Mengatasi keadaan bangsa sekarang ini menurutnya, agribisnis dan
agroindustrilah yang perlu dipacu. Agroindustri atau agribisnis harus
menjadi motor ekonomi. Pemerintah bisa membantunya dengan melonggar-kan
likuiditas yang dilakukan perbankan, serta menyatukan visi berbagai pihak
terkait yang meletakkan dasar kebijakan.
Sedangkan perihal kesenjang-an, ia berpendapat jalan keluar paling efektif
menghilangkannya adalah menyudahi monopoli, oligopoli, rente ekonomi,
menge-nyahkan budaya sogok-menyogok dan biaya siluman. ►tsl/Majalah
Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|