|
== 1
2
3
4 5
6
7
8
9
10
11 12
==
M. Jusuf Kalla (2)
Petinggi Negara yang Sederhana
Tampil bersahaja. Menggunakan fasilitas negara secara tepat dan
proporsional. Tidak memanfaatkan kedudukan sebagai sarana meraih
keuntungan bagi diri dan keluarganya. Itulah yang dilakukan Drs. H. M.
Jusuf Kalla semasa menjabat Menteri Perdagangan dan Industri dalam kabinet
KH Abdurrahman Wahid, dan sekarang Menko Kesra, kabinet Megawati
Soekarnoputri.
Perawakannya memang di bawah ukuran rata-rata. Tetapi Ucu, panggilan
akrab di kampung kelahirannya, Watampone, Sulawesi Selatan, adalah pria
Bugis tulen. Dia konsisten, tidak mengatakan sesuatu tanpa diterapkan pada
diri dan keluarganya. Di dalam diri Ucu yang lahir 15 Mei 1942, terpadu
tiga posisi yang jarang dimiliki orang lain—pengusaha, politisi dan
petinggi negara.
Di kantornya di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Ucu menempati ruang
serdehana, apa adanya. Di ruang tunggu, buat tamu-tamunya hanya disediakan
sederet kursi lipat. Buat kegiatan ekstra dan keluarga, di luar kegiatan
kenegaraan, perusahaan kelompok Kalla memberi kontribusi tak kurang dari
Rp 50 juta setiap bulan.
Jusuf tak ingin mengambil dari negara. Jadi amat ironis jika mantan
Presiden Wahid alias Gus Dur menudingnya melakukan KKN sebagai alasan
memberhentikannya dari jabatan Menteri Perdagangan dan Industri. Namun
Presiden Megawati melihat sesuatu yang istimewa di dalam diri Ucu. Karena
itu Megawati merekrutnya kembali untuk jabatan Menko Kesra.
Siapakah si Ucu yang sebenarnya? Panggilan Ucu biasa diberikan pada pria
Bugis yang bernama Jusuf. Jusuf lahir dari pasangan pedagang Bugis, H.
Kalla dan Hj. Athirah. Ayahnya mendirikan NV Hadji Kalla Trading Company
tahun 1965. Dan nama itu, kini telah menjadi sebuah jaringan konglomerasi.
Tidak hanya ayahnya yang pengusaha. Ibunya juga berjualan sarung sutra
Bugis. Pada saat krisis, karena meletusnya tragedi berdarah G-30-S/PKI,
pasangan itu mengumpulkan modal usaha dari emas yang mereka simpan.
Ucu dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Dia putra kedua dari 17
bersaudara lelaki dan perempuan. Pasangan setianya sampai saat ini adalah
perempuan Padang bernama Mufidah. Pasangan Ucu-Mufidah dikarunia lima
orang anak— Lisa, Ira, Elda, Ihin, dan Chaerani.
Ucu meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Makassar
tahun 1967. Dia juga tamatan The European Institute of Business
Administration Fountainebleu, Perancis, tahun 1977.
Tentukan Pilihan
Situasi ekonomi mengalami krisis berat akibat kebijakan politik luar
negeri yang ekspansif dari Presiden Soekarno. Saat itu, Indonesia
menghadapi konfrontasi dengan Malaysia. Krisis berat itu mulai terjadi
tahun 1964. Krisis ini diperparah oleh tragedi berdarah September 1965.
Bulan Desember 1965, kabinet Bung Karno mengambil kebijakan drastis di
bidang moneter, memotong nilai rupiah dari Rp 1.000 menjadi hanya Rp 1.
Saat itulah Haji Kalla yang menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan,
meminta putranya, Ucu, untuk menentukan pilihan.
Pada sebuah dialog yang menentukan perjalanan panjang NV Hadji Kalla ke
depan, sang ayah bertanya kepada putra keduanya: “Bagaimana dengan
perusahaan keluarga?” Pertanyaan berikutnya, “Apakah ditutup saja?”
Pertanyaan kedua membuat Ucu yang masih bergiat memimpin Kesatuan Aksi
Mahasiswa Indonesia (KAMI), tersentak. Dia tak sempat berpikir panjang.
Dan Ucu memilih berhenti menjadi aktivis untuk memusatkan dirinya pada
pengembangan perusahaan keluarga. Dan Ucu telah mengambil pilihan yang
tepat.
Ayah Ucu memodalinya hanya dengan seorang karyawan. Tetapi ini tidak
membuatnya cemas atau gusar. Ibunya, selain terus berdagang sarung sutera,
juga mengelola tiga bus antar kota. Ayah dan ibunya mengedepankan asas
agama dan memegang teguh etika berdagang. Perusahaan NV Hadji Kalla juga
bergiat di bidang impor-ekspor, jual beli, dan toko.
Ny. Athirah mengasuh anak-anaknya penuh kesabaran. Ayahnya patuh
menjalankan perintah agama dan sangat menghargai persahabatan. Di dalam NV
Hadji Kalla, Ucu bertindak selaku eksekutif, sedangkan ayahnya menjadi
pengawas jalannya perusahaan.
Haji Kalla hanya berada satu jam sehari di kantornya. Usai shalat Dhuhur,
dia mengurusi masjid. Haji Kalla sering jalan kaki berkain sarung ke dan
dari kantornya di Pasar Sentral, Makassar. Jarak antara rumah lamanya dan
kantor, kurang lebih satu kilo meter. Sedangkan rumah barunya berjarak dua
kilo meter.
Di samping rumah lamanya berdiri Masjid Raya yang terbesar di Sulsel saat
itu. Belasan tahun Haji Kalla menjadi bendahara masjid tersebut. Setelah
ayahnya meninggal, Ucu meneruskan jabatan tersebut.
Ucu mengenang, setiap selesai shalat Jum’at, teman-temanya singgah ke
rumahnya. Ibunya selalu menyediakan kue khas Bugis, barongko, dan jus es
markisa. Barongko adalah pisang gepok yang dihaluskan, dicampur telur,
santan dan gula. Lantas dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.
Masjid Raya lama dibongkar. Lantas dibangun Masjid Raya Al Markaz Al
Islami yang megah dan berkarakter. Dua Jufuf, yaitu Jenderal (Pur) M.
Jusuf bertindak selaku pelindung, sedangkan Jusuf Kalla, ketua panitia
pelaksana pembangunan. Masjid Raya antara lain menyiapkan kader-kader
ulama dan penghafalan Al Qur’an.
Sedangkan Yayasan Al Markaz melakukan kegiatan yang lebih umum, seperti
sekolah, pusat pengkajian dan diskusi cendekiawan muslim dan kegiatan
budaya. Pengurusan sehari-harinya diserahkan kepada kalangan cendekiawan
kampus.
Patuh Bayar Zakat
NV Hadji Kalla membeli bangunan dan tanah bekas Markas Komando Daerah
Angkatan Udara di jantung kota Makassar, di tepi barat Lapangan Karebosi.
Bangunan yang berdiri di tengah kompleks, pada zaman Belanda, dikenal
sebagai Hotel Empress.
Ucu berniat menghidupkan kembali kegiatan perhotelan di kompleks tersebut,
bekerja sama dengan Hotel Hyatt. Ayahnya agak ragu. Sebab, apa kata orang
jika Haji Kalla mengelola bisnis hotel.
Ayahnya lebih setuju mendirikan pusat pendidikan. Lantas dibentuk Yayasan
Pendidikan Haji Kalla. Maka dibangunlah kompleks pendidikan Athirah dari
TK sampai tingkat lanjutan atas, untuk mengenang ibunya. Pendidikan
Athirah bernafaskan Islam.
Namun Ucu tak memadamkan niatnya untuk membangun sebuah hotel bergengsi di
kota di Makassar. Niatnya kesampaian. Ucu membeli kompleks bekas Markas
Polisi Lalu Lintas di Jl. Ratulangi. Dia bekerja sama dengan taipan
perhotelan, Sahid Gitosardjono. Di situ berdiri Hotel Sahid yang megah.
Ucu ikut memiliki senilai tanah miliknya, tetapi tidak ikut mengelola.
Sekarang NV Hadji Kalla telah menjadi sebuah jaringan konglomerasi yang
bergerak di berbagai bidang usaha. Perusahaan Kalla beserta anak-anak
perusahaannya bergerak di bidang perdagangan mobil, konstruksi bangunan,
jembatan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang,
perikanan, kelapa sawit, dan telekomunikasi.
Dari hanya seorang karyawan, NV Hadji Kalla saat ini mempekerjakan tak
kurang dari 2.000 karyawan. Investasi besarnya, antara lain PT Bukaka
Singtel (terbesar ketiga di Indonesia Timur setelah Freeport dan Inco).
Polanya, Kerjasama Operasi (KSO) dengan PT Telkom di KTI. Ini bagian dari
komitmen Ucu dalam bukunya: Mari ke Timur.
Di Jakarta, keluarga Kalla membangun konglomerasi bisnis Bukaka. Di situ,
setelah Bukaka go public, keluarga Kalla memiliki saham 40%. Pusat
kegiatannya berada di Cileungsi, Bogor. Bukaka membangun tower, konstruksi
jembatan, dan belalai gajah Garbarata, terowongan penumpang ke dan dari
pesawat terbang). Garbarata, karena mampu bersaing, diekspor ke luar
negeri.
Perusahaan Haji Kalla dikenal patuh membayar zakat. Bagi Ucu tidak ada
istilah tidak membayar zakat, karena itu urusan dengan Tuhan. Pada tahun
tertentu, karena rugi, bisa saja perusahaannya tidak membayar pajak
keuntungan. Tetapi membayar zakat tidak mengenal kata rugi dan untung.
Aktif di Pelbagai Bidang
Sebelum bergelut di bidang usaha, Ucu muda aktif di pelbagai kegiatan
kemahasiswaan, terutama setelah menjadi Ketua KAMI Sulawesi Selatan, tahun
1966. Beberapa bekas aktivis mahasiswa mendapat “jatah” jabatan di
pemerintahan. Jabatan yang dibagi-bagikan kepada mereka, semisal Badan
Pimpinan Harian (BPH) di Pemda Sulsel, beberapa Kakanwil, Kepala Dolog dan
anggota DPRD.
Ucu mendapat tawaran sebagai kepala Dolog. Skripsinya memang tentang beras.
“Kalau tawaran itu saya ambil, bukan tidak mungkin saya jadi kepala Bulog,”
kenang Ucu. Tawaran itu ditolak, namun Ucu terjun menjadi pedagang beras.
Dia hanya mau menjadi anggota DPRD. Tapi, beberapa tahun kemudian, Jusuf
benar-benar jadi Kepala Bulog, selain menjabat Menteri Perdagangan dan
Industri dalam pemerintahan Presiden Gus Dur.
Ucu muda sangat enerjik, dinamis dan kreatif. Dia aktif di berbagai
kegiatan. Selama 24 tahun, dia jadi pengurus inti Kadin Sulsel. Lebih dari
separuh waktunya menjabat Ketua Umum dan Koordinator Kadin se Kawasan
Timur Indonesia (KTI). Dalam sepuluh tahun terakhir getol memperjuangkan
perbaikan ekonomi yang adil untuk KTI. Isu KTI diseminarkan ratusan kali
oleh banyak lembaga dan organisasi di berbagai tempat, termasuk di luar
negeri.
Sekarang pun, Ucu menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Pusat. Ucu
masih sempat memimpin Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unhas, dan anggota
dewan penyantun tiga perguruan tinggi negeri di Makassar; Unhas, lKIP (Universitas
Negeri Makassar), dan IAIN, beserta perguruan tinggi swasta.
Ucu empat kali menjadi anggota MPR Utusan Daerah dari Golkar (sekarang
Partai Golkar). Pernah menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar. Sebagai ekonom,
dia aktif di Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Pernah menjadi Ketua
Umum ISEI Ujung Pandang (979-1989). Dan sampai sekarang menjadi penasehat
ISEI Pusat.
Pilih Hidup Sederhana
Di dalam menjalankan tugasnya, Ucu menekankan perlunya kejujuran dan
loyalitas dari para pembantu-nya. Dia tak akan mentolerir segala bentuk
penyimpangan dan penyelewengan. Karena itu dia memberi contoh hidup bersih
dan bersahaja. Itu akan menumbuhkan rasa kesetiakawanan, terutama dari
golongan ekonomi lemah.
Sedapat mungkin kurangi kebiasaan konsumtif, atau kurangi
kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu.Amatlah naïf, apabila dia sendiri
tidak memberi teladan, sementara mengingatkan para pembantunya tidak hidup
mewah di atas penderitaan rakyat. Karenanya, dia menolak berkantor di
gedung mewah atau di ruang mewah. Dia memilih tetap berkantor di Jalan
Merdeka Barat, gedung lama yang disediakan negara untuk Menko Kesra.
Selaku menteri, dari segi pendapatan (gaji), sesungguhnya dia nombok. Sama
sekali dia tidak mengharapkan kekayaan dari jabatannya. Bahkan setiap
bulan ia meminta prusahaannya menyediakan dana untuk berbagai keperluan
yang secara langsung atau tidak langsung menunjang pekerjaannya sebagai
pejabat publik.
Tak salah orang tuanya memilih Ucu sebagai pemimpin dalam keluarga
besarnya. Sekarang kedua orang tua Ucu telah berpulang keharibaan Allah.
Pasangan Haji Kalla dan Hajjah Athirah meninggal pada tahun yang sama,
1982. Ayahnya meninggal duluan. Tiga bulan kemudian, ibunya menyusul sang
suami. Dari mereka, Ucu mewarisi sifat bersahaja, tekun, konsisten dan
keras, tetapi penyabar. ►crs-mti-03 => Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Artikel lainnya: = Tokoh Utama Perdamaian
Malino
=
Petinggi Negara yang Sederhana =
Kata Kuncinya Agroindustri =
Resensi Buku 'Enam Bulan Jadi
Menteri' |