| |
C © updated
01092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Drs H Muhammad Jusuf Kalla
Lahir :
Watampone, 15 Mei 1942
Agama :
Islam
Jabatan Kenegaraan:
= Wakil Presiden RI (2004-2009)
= Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial Kabinet Gotong Royong
(2001-2004)
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional
(1999-2000)
Isteri:
Ny. Mufidah Jusuf (Lahir di Sibolga, 12 Februari 1943)
Anak:
1. Muchlisa Jusuf,
2. Muswirah Jusuf,
3. Imelda Jusuf,
4. Solichin Jusuf,
5. Chaerani Jusuf.
Pendidikan :
Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967
The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis
(1977)
Pekerjaan
Agustus 2001 - 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat
1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI
1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International
Organisasi
2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat
1985 - 1998 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz
1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS
1988 - 2001 : Anggota MPR-RI
2004-2009: Ketua Umum DPP Partai Golkar
Alamat Kantor:
Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat
Alamat Rumah:
Jl. Brawijaya Raya No. 6 Jakarta Selatan
wa |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
07 ==
M. Jusuf Kalla (04)
Pendulang Suara Putaran Kedua
Dwitunggal Capres-Cawapres Susilo Bambang Yudhoyono - Muhammad Jusuf Kalla
dinilai punya keunggulan dan dapat saling melengkapi untuk memimpin bangsa
ini melakukan perubahan menuju Indonesia yang aman, adil dan sejahtera.
Banyak pihak melihat, posisi Jusuf Kalla sebagai Cawapres akan menjadi
faktor penting untuk mendulang suara bagi kemenangan pasangan ini dalam
Pemilu Presiden putaran kedua, melengkapi popularitas Susilo BY yang telah
terbukti mencapai puncak pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden
putaran pertama.
Telah terbukti, popularitas pasangan ini, terutama popularitas Susilo BY,
telah menjadi faktor paling berpengaruh dalam mendulang suara pada Pemilu
Legislatif dan Pemilu Presiden putaran pertama. Popularitas Susilo telah
mendongkrak perolehan suara Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif (5
April 2004) yang kemudian mencalonkan pasangan ini sebagai kontestan
Pemilu Presiden 5 Juli 2004.
Kejelian dan kesigapan Susilo meminang Jusuf Kalla menjadi Cawapres telah
makin mendongkrak popularitas Susilo dan makin mengukuhkan kompetensi
pasangan ini. Banyak pihak menilai, Jusuf Kalla merupakan sosok yang
paling berkarakter, bekepribadian dan kompeten sebagai Cawapres. Bahkan
diperkirakan siapa pun Capres, apakah Megawati, Wiranto atau Amien Rais
jika berpasangan dengan Jusuf Kalla akan lebih berpeluang menjadi pemenang,
sekurang-kurangnya masuk putaran kedua.
Kesigapan Susilo, yang kala itu popularitasnya memuncak, mengajak Jusuf
Kalla, sebelum Capres lainnya meminang dan menentukan pilihan, telah pula
membuat pasangan ini selangkah lebih maju dari Capres-Cawapres lainnya.
Ketika itu, Jusuf Kalla mengambil langkah strategis sekaligus realistis
pamit mengundurkan diri sebagai kontestan Capres Konvensi Partai Golkar
dengan menyambut pinangan Susilo untuk berpasangan dicalonkan Partai
Demokrat.
Jusuf Kalla secara khusus menemui Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung,
yang kala itu telah dibebaskan Mahkamah Agung dari tuduhan korupsi dana
Bulog. Jusuf Kalla mengatakan bahwa dengan kebebasan itu, Akbar lebih
pantas menjadi Capres Partai Golkar. Sekaligus ia pun pamit untuk menjadi
Cawapres mendampingi Susilo, Capres Partai Demokrat.
Lalu pasangan ini pun meraih suara terpanyak dalam Pemilu Presiden putaran
pertama, sebesar 39,838,184 atau 33.574%, untuk bersaing dengan pasangan
urutan kedua yang perolehan suaranya terpaut lebih 8 juta, yakni Megawati
Soekarnoputri – KH Hasyim Muzadi yang meraih 31,569,104 (26,605%) suara.
Diikuti posisi tiga pasangan Wiranto – Solahuddin Wahid (Partai Golkar-PKB)
yang meraih 26,286,788 (22,154 %) suara, posisi empat Amien Rais - Siswono
Yudohusodo (PAN) 17,392,931 (14,658 %) suara dan posisi lima Hamzah-Agum
Gumelar (PPP) 3,569,861 (3,009 %) suara dari 118,656,868 total suara sah
dan 2,636,976 suara tidak sah. Berdasarkan hasil perolehan suara ini,
tidak ada pasangan Capres-Cawapres yang meraih lebih 50 persen suara, maka
Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Capres-Cawapres peraih suara
terbanyak urutan satu dan dua maju ke Pemilu Presiden putaran kedua.
Persaingan di Pemilu Presiden putaran kedua, diperkirakan akan lebih ketat.
Walaupun pasangan Susilo-Kalla telah memiliki modal dasar lebih baik
(33.574%) dibanding pesaingnya (26,605%), berbagai kemungkinan masih bisa
mungkin terjadi. Apalagi bila pasangan ini, tidak bisa meningkatkan atau
sekurangnya mempertahankan popularitas setelah mencapai puncak (klimaks)
dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden putaran pertama.
Sebab jika ternyata popularitas pasangan ini, terutama popularitas Susilo
BY, benar-benar telah mencapai puncak pada Pemilu Legislatif dan Pemilu
Presiden putaran pertama, adalah menjadi ’hukum alam’ akan mulai cenderung
menurun (antiklimaks) pada putaran berikutnya. Hal ini paralel pula dengan
petuah klasik, bahwa mempertahankan kemenangan (popularitas) jauh lebih
sulit dibandingkan merebutnya.
Kerja keras dan kejituan strategi menjadi syarat mutlak untuk mampu
mempertahankan papularitas dan kemenangan pasangan ini, terutama
mempertahankan popularitas Susilo, yang menurut berbagai pihak justru
sudah cenderung menurun belakangan ini.
Jusuf Kalla sendiri, dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia,
menampik dugaan kecenderungan menurunnya popularitas Susilo. Jika diamati
dari hasil berbagai survei, hasil Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden
putaran pertama, kata Jusuf Kalla, tidak mengindikasikan penurunan
popularitas tersebut. Survei pada bulan Mei 2004 menunjukkan angka
tertinggi antara 54-60%, ketika Capres lain belum menentukan pasangan,
sementara Susilo sudah resmi meminang Jusuf Kalla.
Lalu setelah semua pasangan Capres-Cawapres dideklarasikan, responden
memiliki lima pilihan maka wajar saja jumlah yang 100% menjadi terbagi dan
angka persentasi Susilo-Kalla berkurang. Namun hal itu bukan berarti
popularitas menurun. Terbukti pada Pemilu Legislatif perolehan suara
Partai Demokrat mencapai delapan persen dan justru memuncak menjadi 33.57%
pada Pemilu Presiden putaran pertama.
Terakhir hasil survei IFES (Yayasan Internaional untuk Sistem Pemilu) juga
mengindikasikan peluang pasangan ini lebih besar untuk memenangkan Pemilu
Presiden putaran kedua 20 September 2004.
Survei yang dilakukan pada 7-17 Juli 2004 dengan melibatkan 1.250
responden dari 32 propinsi, itu mengindikasikan tingkat kepercayaan publik
kepada pasangan Susilo-Kalla masih lebih tinggi dibanding kepada pasangan
Mega-Hasyim. Meskipun popularitas kedua pasangan cenderung menurun, tapi
penurunan popularitas Mega jauh lebih merosot dibanding Susilo. Susilo
masih dinilai baik oleh 81 persen responden, sedangkan Mega hanya 65%.
Survei ini, menurut Yanti B Sugarda, mempunyai tingkat kepercayaan 95%
dengan margin of error 2,8%.
Maka Jusuf Kalla sangat optimis pasangannya akan memenangkan Pemilu
Presiden putaran kedua dengan perolehan suara di atas 60 persen sampai
mendekati 70 persen. Keyakinan ini diperkuat analisis dari hasil perolehan
suara Pemilu Presiden putaran pertama. Bahwa sebanyak 74 persen rakyat
pemilih menginginkan perubahan (pemilih empat pasangan Capres-Cawapres)
dan hanya 26 persen yang ingin mempertahankan status quo (pemilih Mega-Hasyim).
Di samping itu, untuk memenangkan Pilpres putaran kedua, selain berupaya
mempertahankan popularitas, pasangan ini juga secara intensif melakukan
komunikasi politik, baik komunikasi politik langsung dengan rakyat maupun
komunikasi politik dengan para elit partai dan ormas.
Walaupun banyak pihak sempat salah penafsiran atas pernyataan Susilo
mengenai istilah koalisi terbatas yang akan mereka bangun. Koalisi
terbatas bukan berarti menafikan pentingnya struktur dan mesin politik
partai. Melainkan, maksudnya, perlu dibangun suatu sistem demokrasi yang
bukan pelangi seperti Kabinet Gotong-Royong. Dalam kabinet ini hampir
semua partai terakomodasi namun di parlemen belum tentu mendukung. Tidak
jelas, kadang tidak mendukung dan kadang mendukung.
Pendulang Suara
Dalam hal komunikasi politik itu, pasangan dwitunggal ini terlihat bisa
saling melengkapi. Pasangan ini memang dinilai banyak pihak paling ideal
terlihat dari selama tiga tahun dalam kabinet selalu saling bekerja sama
dan saling melengkapi. Maka tak terlalu berlebihan bila pasangan ini
disebut laksana padanan dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta, setidaknya
dalam faktor Jawa dan luar Jawa.
Bagi orang yang tidak terlalu memahami padanan pasangan ini, terkesan
bahwa di antara mereka terjadi persepsi berbeda mengenai komunikasi
politik atau aliansi politik dengan elit partai politik lain. Padahal
mereka mempunyai pandangan yang sama tentang perlunya komunikasi politik,
selain langsung kepada rakyat pemilih juga kepada elit partai. Hanya saja,
menurut Jusuf Kalla, ada pembagian tugas dan saling melengkapi di antara
mereka.
Banyak pihak menilai, peranan Jusuf Kalla dalam menjalin komunikasi
politik dengan para elit partai akan memberikan dukungan signifikan dalam
perolehan suara pasangan ini pada putaran kedua. Latar belakangnya sebagai
seorang pengusaha sukses yang piawai bernegosiasi dan sebagai kader Golkar
selama lebih 39 tahun, serta kedalaman keagamaan dan jiwa kebangsaan yang
kental, membuatnya bijak dan bajik dalam politik praktis dan akan sangat
bermakna memberi kontribusi pendulangan suara bagi pasangan ini pada
putaran kedua.
Kenapa perannya lebih bermakna pada putaran kedua? Sebab partai-partai
lain tidak lagi mempunyai Capres-Cawapres pada putaran kedua, setelah
Capres-Cawapresnya tereliminasi di putaran pertama. Apalagi dia sebagai
kader Golkar yang sempat lolos ke putaran akhir Konvensi Nasional Partai
Golkar, diyakini memiliki basis massa, baik di Jawa terutama di luar Jawa.
Belum lagi kedekatannya dengan massa dan elit-elit politik berbasis Islam,
bahkan dengan massa dan elit politik nonmuslim. Hal ini bisa terlihat dari
peranannya ketika memprakarsai dan memimpin proses perdamaian Malino untuk
Poso dan Maluku.
Jusuf Kalla sendiri memang tidak memandang peranannya persis seperti itu.
Melainkan, dia hanya ingin mengoptimalkan keberadaannya sebagai orang
kedua dalam berpasangan dengan Susilo B. Yudhoyono, dalam konteks
kerjasama. “Sebenarnya, itu hanya pembagian tugas saja. Kita ini sepakat
pembagian tugas seperti itu. Supaya dalam setiap perundingan itu jangan
langsung yang nomor satu. Tapi sebaiknya didahului orang nomor dua, karena
nomor dua bisa lebih fleksibel,” kata Jusuf Kalla dalam percakapan dengan
wartawan Tokoh Indonesia di kantornya, Jalan Pasar Minggu, Jakarta.
“Saya sebagai wakil harus lebih fleksibel. Apalagi, karena background
pengusaha kan tiap hari berunding. Jadi saya berunding dengan siapa saja,”
tambahnya meyakinkan.
Pengalaman dan pola hidupnya yang sederhana dan bersahaja, membuatnya
lebih fleksibel dan selalu akrab berkomunikasi dengan siapa saja. Apalagi
dengan orang yang sudah mengenalnya. Ia seorang pengusaha sukses yang
jujur dan berjiwa sosial. Sekaligus juga seorang politisi yang sudah lebih
39 tahun aktif di Partai Golkar (mulai dari Sekber Pemuda Golkar).
Kiprahnya saat menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian, terutama
saat menjabat Menko Kesra sangat memberi makna pada kinerja kabinet secara
keseluruhan.
Dialah yang memprakarsai dan sekaligus memimpin proses perdamaian di Poso
dan Maluku. Kordinasi bidang Kesra yang menjadi bagian tanggung jawabnya
benar-benar leading. Bahkan tak jarang dia meneyelesaikan permasalahan
yang berada di luar bidang tanggung jawabnya. Kata kuncinya adalah
keteladanan, kemauan bekerja keras, hidup bersahaja dan anti-KKN (korupsi,
kolusi dan nepotisme).
Tidak ada orang yang sudah mengenal Jusuf Kalla meragukan komitmennya
untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, antara lain dengan tidak
mudah meminta-minta bantuan atau pinjaman dari luar negeri, tetapi dengan
bekerja keras, hidup sederhana dan antikorupsi.
Mengenai pernyataan ini, sebagaimana juga ditulis Kompas, banyak pihak
menyebut bahwa Kalla tidak berlebihan dalam masalah ini. Ia yang sebelum
menjadi menteri telah menjadi usahawan besar di antaranya di bidang
otomotif, baru mengganti mobilnya setelah kendaraan itu berusia di atas
enam tahun.
Contoh kebersahajaan lainnya, soal ponsel. Ia tidak suka gonta-ganti
telepon seluler karena menganggap ponsel merupakan alat komunikasi, bukan
mode. Pakaiannya pun sederhana, bukan dari merek-merek kaum borjuis.
Karena, menurutnya, ini kan soal fungsi. “Kalau ponsel saya masih baik,
untuk apa diganti? Kalau saya nyaman dengan pakaian sederhana, mengapa
harus mengenakan pakaian bermerek yang harganya sepuluh juta satu setel
itu?”
Ia juga jarang makan di restoran. Ia suka makan nasi kotak yang disediakan
kantornya. Ini menyebabkan stafnya, kalau bukan karena masalah dinas,
jarang keluar kantor untuk makan. Mereka lebih bertekun pada pekerjaan.
Sikapnya yang sederhana ini membuat para stafnya, yang memahami kultur
timur, sungkan hidup berlebihan. Mobil yang dipakai umumnya mobil
sederhana, bukan dari kelompok luks.
Pamit dari Konvensi
Dalam beberapa kali kesempatan berkomunikasi dengan rakyat dan kader-kader
Golkar dan partai lain, ia menguraikan bahwa permasalahan yang dihadapi
bangsa ini adalah ketidakadilan dan kemiskinan. Itulah masalah utama yang
makin membulatkan tekadnya sempat ikut maju dalam proses pencalonan
presiden dalam Konvensi Partai Golkar sebelum menjadi calon wakil presiden
mendampingi Susilo BY dari Partai Demokrat. Dalam hal layak tidaknya dia
didukung dan dipilih, dengan lugas ia mengatakan agar dirinya dinilai dari
apa yang telah dilakukannya.
Secara pribadi, ia sama sekali tidak ambisius untuk menjadi Presiden atau
Wakil Presiden RI. Akan tetapi, ia melihat adanya peluang untuk ikut lebih
berperan memajukan negeri ini menjadi bangsa yang terpandang di muka bumi
jika berkesempatan menjadi Presiden atau Wakil Presiden. Menjadi bangsa
yang mempunyai harkat dan jati diri. Sebuah bangsa yang memiliki kekayaan
alam berlimpah yang tidak sepantasnya miskin.
Sebenarnya dorongan itu dimulai dalam pertemuan dengan CGI di Bali
beberapa waktu lalu. Waktu itu hadir hampir semua duta besar, ada IMF dan
lain-lain. Waktu itu dia menyampaikan paper bahwa Indonesia baru bisa
stabil kalau perekonomian tumbuh 6 %, tidak mungkin dengan 3,5 % seperti
sekarang ini.
Di Indonesia ini pengganguran 10 juta, setiap pertumbuhan 1 % hanya
menampung kira-kira 500 ribu pekerja baru, kalau pertumbuhan 3,5 % maka
lapangan kerja terbuka 1,7 juta. Sedangkan setiap tahun muncul pencari
kerja baru kira-kira 2,5 juta orang, jadi setiap tahun pengganguran selalu
bertambah.
Lalu dalam pertemuan itu ada yang bilang, “Hai Jusuf, pertumbuhan ekonomi
Indonesia ini tanpa diurus pun akan tumbuh 3,5%.” Kemudian, dia bertanya:
“Kenapa Anda bilang begitu?” Orang itu bilang: “Pada waktu Gus Dur jadi
presiden, dalam 3 bulan beliau mengganti Menteri Perekonomiannya sampai
tiga kali, Menteri Keuangan tiga kali, Menko Polkam juga tiga kali, beliau
tidak bisa melihat, tetapi pertumbuhan 3,5 %. Jadi tanpa diurus pun masih
tetap tumbuh 3,5 %.”
Kalau begitu, dia bilang, Indonesia harus diurus lebih baik. “Kemudian
saya berpikir, dari pengalaman sudah dua kali jadi menteri, saya tahu
permasalahan negeri ini, saya yakin pasti lebih baik daripada masa-masa
sulit itu,” kenang Jusuf Kalla.
Setelah konsultasi dengan teman-temannya, dia pun maju mengikuti Konvensi
Capres Partai Golkar. Apalagi setelah melihat calon-calon yang ingin maju,
ia rasa setidak-tidaknya bisa bersaing dengan baik. Ia sudah berpengalaman
duduk di pemerintahan dan insya A llah dapat mengatasi berbagai persoalan,
sehingga ia mengikuti proses yang demokratis itu.
Kepada keluarga juga ia sampaikan bahwa ini risikonya tinggi: Pertama,
besar biayanya; Kedua, keluarga harus berkorban agak jauh darinya. “Jika
saya presiden atau wakil presiden harus makin jauh, karena hampir semua
presiden yang jatuh, karena terlalu dekat dengan keluarga. Berkorban tapi
jaga jarak, ini termasuk beresiko tinggi, itulah tekad saya untuk maju ke
pencalonan itu,” katanya mengenai ketetapannya mengikuti konvensi Golkar.
Ketetapan ini juga berlaku manakala dia menjadi Cawapres dari Partai
Demokrat.
Selain itu, ia punya kerinduan menjadikan bangsa dan negara ini menjadi
negara yang tidak mudah mengharapkan pinjaman dan bantuan. Melainkan harus
menjadi bangsa besar yang kaya dan punya jati diri. Hal itu harus diraih
dengan keteladanan pemimpin yang berkemauan bekerja keras, hidup sederhana
dan antikorup. Bersih saja tidak cukup, tetapi harus kuat. Sebaliknya kuat
saja tidak cukup, tetapi harus bersih.
Ia melihat ada peluang melalui pemilihan presiden 2004 untuk melahirkan
kepemimpinan nasional yang kuat, jujur, bersih dan berwibawa. Ia yakin
rakyat membutuhkan dan akan memilih pemimpin yang teladan, mau bekerja
keras, hidup sederhana dan antikorupsi. Itu yang mendorongnya untuk ikut
maju. “Keyakinan saya bertambah kuat setelah menerima begitu banyak
dukungan dari berbagai lapisan masyarakat dan DPD-DPD Partai Golkar ketika
itu,” katanya. Ia pun meraih suara yang signifikan dalam prakonvensi.
Lalu setelah Akbar Tanjung bebas dari perkaranya, menjelang Konvensi
Nasional, bersamaan dengan adanya pinangan Susilo Bambang Yudhhoyono untuk
berpasangan jadi Capres-Cawapres dari Partai Demokrat, ia pun realistis
dan pamit dengan baik-baik dari Konvensi Nasional Capres Partai Golkar.
Keteladanan
Menurutnya, keteladanan menjadi satu kunci kepemimpinan yang kuat dan
berwibawa. Keteladanan bukan hanya sekedar mengimbau atau menganjurkan,
tapi harus secara nyata melakukannya. Ini tema besar yang harus
dikembangkan. Paradigma kerja keras, hidup sederhana, antikorup dan budaya
malu semestinya akan menjadi mudah diaplikasikan apabila para pemimpin
bangsa, dari yang terbesar sampai yang terkecil memberi contoh kepada
rakyat perbuatan-perbuatan ideal itu. Jika pemimpinnya hidup sederhana,
tidak suka berfoya-foya, bawahan pemimpin itu setidaknya sungkan hidup
berlebihan.
Seorang pemimpin harus menggerakkan para stafnya untuk selalu mendahulukan
hidup sederhana. Para staf akan bisa benar, karena komandannya. Kalau
komandannya tidak aneh-aneh, anak buahnya yang di bawah pasti akan tidak
aneh-aneh.
Jusuf Kalla menunjuk contoh negara lain yang pemimpinnya menjadi panutan.
Misalnya ketika Zhu Rongji menjadi Perdana Menteri Cina. Zhu sangat
dihormati, pertama-tama bukan saja karena ia dikenal sebagai salah seorang
arsitek terkemuka perekonomian modern Cina, tetapi juga karena
kejujuran-nya. Ia ibarat Judge Bao (tokoh dalam cerita rakyat Cina yang
adil dan amat bengis terhadap penjahat).
Ketika menjadi perdana menteri, Zhu meminta aparat hukum Cina menyediakan
100 peti mati. Sebanyak 99 peti mati dialokasikan untuk para koruptor
jahat, dan satu untuk dia sendiri, kalau terbukti korup. Alhasil, semua
pejabat atau warga yang korup dikenai hukuman mati. Korupsi memang tidak
bisa hilang dari bumi Cina, tetapi siapa pun amat takut berbuat korupsi.
Zhu kemudian begitu dihormati karena ia konsisten. Meski menjadi PM, ia
hidup sangat sederhana. Tidak ada yang bisa mengutak-atik kehidupannya
karena ia hidup bersih dan sederhana. Ini, fakta bahwa contoh
kesederhanaan atau contoh hidup yang benar itu mesti benar-benar diberikan
oleh pemimpin. “Maka, saya sangat percaya pada pedoman leadership itu,”
kata Jusuf Kalla.
Contoh lain pemimpin panutan adalah Nelson Mandela, ketika tampil sebagai
pemimpin Afrika Selatan. Ia bukan saja sederhana, tetapi memelopori
gerakan rekonsiliasi, sehingga Afrika Selatan dapat menyelesaikan
masalahnya dengan penuh kedamaian. Afrika Selatan tidak terjebak dalam
sebuah terowongan dendam kesumat pada rezim kulit putih. Sikap ini malah
memberi Afrika Selatan sebuah panggung terhormat, sehingga negara itu
dikenal utuh sebagai bangsa besar.
Selain itu, juga Mahatma Gandhi memberi teladan tentang kehidupan yang
sederhana. Di Indonesia, sejumlah pemimpin yang juga patut menjadi panutan,
Bung Hatta (alm), mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa (alm), Jenderal (Purn)
M Jusuf dan Jenderal Pol (Purn) Hoegeng. ►atur/tsl/Majalah Tokoh
Indonesia Volume 14
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|