| |
C © updated
19122004-24022003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Drs. H. M Jusuf Kalla
Lahir:
Watampone, 15 Mei 1942
Agama :
Islam
Jabatan Kenegaraan:
= Wakil Presiden RI (2004-2009)
= Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial Kabinet Gotong Royong
(2001-2004)
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional
(1999-2000)
Isteri:
Ny. Mufidah Jusuf (Lahir di Sibolga, 12 Februari 1943)
Anak:
1. Muchlisa Jusuf,
2. Muswirah Jusuf,
3. Imelda Jusuf,
4. Solichin Jusuf,
5. Chaerani Jusuf.
Pendidikan :
Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967
The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis
(1977)
Pekerjaan
Agustus 2001 - 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat
1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI
1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International
Organisasi
2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat
1985 - 1998 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz
1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS
1988 - 2001 : Anggota MPR-RI
2004-2009: Ketua Umum DPP Partai Golkar
Alamat Kantor:
Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat
Alamat Rumah:
Jl. Brawijaya Raya No. 6 Jakarta Selatan
wa |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
07 ==
M. Jusuf Kalla (01)
Arsitek Pemulihan Ekonomi
Pengusaha sukses dan kader Golkar ini justru berkibar dalam era
reformasi. Dia memang seorang tokoh yang dinilai ‘bersih’ dan dapat
diterima semua golongan. Setelah terpilih menjadi Wakil Presiden, dia pun
kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar pada Munas di Bali
(19/12/2004). Dia meraih 323 suara mengalahkan Akbar Tandjung yang hanya
meraih 156 suara, tiga suara tidak sah dari 482 suara.
Dalam jabatannya sebagai Wakil Presiden, dia berperan sebagai arsitek
pemulihan ekonomi. Sebagai pengusaha sukses dia diyakini mampu melakukan
perubahan dalam memimpin tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu.
Nama putera kelahiran Watampone,
Sulawesi Selatan ini makin mencuat pada era reformasa tatkala mendapat kesempatan menjabat menteri. Ia pun menjadi
tokoh utama perdamaian Malino. Tokoh yang berpenampilan bersahaja ini pun
sempat ikut konvensi capres Golkar, sebelum dipinang SBY menjadi pasangan
Cawapres.
Peluang tokoh berjiwa kebangsaan ini cukup terbuka menjadi calon presiden.
Terutama setelah Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan
calon presiden dari Partai Golkar tidak harus ketua umumnya. Tapi terbuka
kesempatan bagi semua kader Partai Golkar untuk diseleksi menjadi calon
presiden. Segera gayung bersambut. Beberapa nama muncul ke permukaan.
Salah satu nama yang paling mencuat adalah Muhammad Jusuf Kalla, kader
Golkar yang ketika itu tengah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko
Kesra) Kabinet Gotong-royong.
Pada Prakonvensi Capres Golkar, ia salah seorang kandidat yang lolos
mengikuti Konvensi Nasional. Namun sehari sebelum Konvensi Nasional Partai
Golkar itu digelar, 20 April 2004, ia secara resmi mengundurkan diri
sebagai konstentan, karena ia telah dipinang Capres Partai Demokrat Susilo
Bambang Yudhoyono menjadi pasangan Cawapres (calon wakil presiden).
Kemudian, ia pun mengundurkan diri dari jabatan Menko Kesra, karena
pencawapresan tersebut. Ia mengucapkan terimakasih kepada Presiden
Megawati yang memberinya kepercayaan memegang jabatan itu. Selama menjabat
Menko Kesra ia pun melaksanakan tugas dengan baik.
Saat masih menjabat Menko Kesra, anggota Dewan
Penasehat ISEI Pusat, ini dalam percakapan dengan
wartawan Tokoh Indonesia di ruang kerjanya, Jumat 14 Februari 2003
lalu, menguraikan berbagai pengalaman dan pemikirannya. Ia seorang tokoh yang tidak mau menonjol-nonjolkan diri.
Pada masa pemerintahan Gus Dur, ia dipercaya memimpin Departemen
Prindustrian dan Perdagangan. Kendati hanya enam bulan. Ia bersama Meneg
BUMN Laksamana Sukardi dipecat dengan alasan yang tidak jelas. Pada
mulanya alasan pemecatannya disebut karena tidak bisa bekerjasama dengan
tim ekonomi lainnya. Kemudian dalam rapat tertutup dengan DPR, Gus Dur
menyebut alasan pemberhentiannya karena KKN. Namun semua tuduhan itu
dibantah Jusuf Kalla dan Laksamana Sukardi. Sementara, Gus Dur sendiri tak
bisa membuktikannya.
Pemecatan kader Golkar dan kader PDIP ini diyakini banyak pihak sebagai
kesalahan politik Gus Dur yang terbesar yang secara langsung berpengaruh
pada proses politik yang bermuara pada tergulingnya Gus Dur dari
singgasana Presiden.
Dalam bukunya berjudul "Enam Bulan Jadi Menteri" ia kemudian menguraikan
pengalamannya. Buku ini menurut pengantar penyusunnya, S. Sinansari Ecip,
tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai pertanggungjawaban
seorang pejabat tinggi kepada masyarakat.
Dalam buku ini, ia antara lain berkisah tentang dana Yanatera Bulog
sebesar Rp 435 milyar. Pembicaraan tentang dana ini pada mulanya terkuak
dari adanya keinginan Gus Dur untuk menyelesaikan masalah Aceh dengan
memberi bantuan kemanusiaan.
Menurutnya, ada dua konsep pembukuan dana ini. Pertama, masuk anggaran
biasa atau masuk neraca Bulog. Kedua, tetap sebagai dana taktis yang bisa
dikeluarkan Kabulog atas persetujuan presiden.
Gus Dur ingin memanfaatkan dana itu. Tapi Jusuf Kalla yang merangkap tugas
Kabulog meminta surat tertulis dari presiden. Akhirnya dana itu tak jadi
dikeluarkan. Namun, kemudian tanpa pengetahuannya, dana itu dikeluarkan
oleh Waka Bulog Sapuan sebesar Rp 35 milyar kepada Suwondo yang mengaku
sebagai penasehat spritual presiden. Kasus ini kemudian dikenal dengan
sebutan Buloggate.
DPR yang sudah sering "tersinggung" oleh beberapa ucapan dan keputusan Gus
Dur, akhirnya membentuk Pansus Buloggate, yang melahirkan Memorandum I dan
II dan bermuara pada Sidang Istimewa MPR untuk meminta pertanggungjawaban
presiden. Gus Dur menolak bahkan mengeluarkan dekrit pembubaran DPR dan
MPR. Tapi dekrit itu ditolak bahkan SI MPR dipercepat memecat Gus Dur dari
jabatan presiden.
Setelah Megawati Sukarnoputri naik tahta menjadi Presiden menggantikan Gus
Dur, ia dipercaya kembali duduk di jajaran kabinet sebagai Menko Kesra
periode 2001-2004.
Kiprahnya dalam menjalankan tugas sebagai Menko Kesra terbilang menonjol.
Dia sukses meletakkan kerangka perdamaian di daerah konflik Poso dan Ambon.
Lewat pertemuan Malino I, dia berhasil meredakan konflik di Poso. Kemudian,
dia pun memprakarsai pertemuan Malino II. Dalam pertemuan ini, dia bisa
mengajak kelompok Islam dan Kristen yang bertikai di Ambon untuk
menghentikan pertikaian.
Mungkin, sebagaimana ditulis TEMPO, Muhammad Jusuf Kalla ini dilahirkan
untuk bergelut dengan krisis. Sebab ketika masih berusia 25 tahun, putera
Bone yang sepenuhnya setuju dengan pendapat para tetua di daerahnya, ini
sudah harus memegang kendali bisnis ayahnya yang sedang menurun.
Dan ia berhasil. Tangan dinginnya mampu menyingkirkan berbagai kesulitan
dan menyelamatkan bisnis keluarganya. Lalu, pada usia bekepala enam,
tangannya masih bertuah mengantarkan perdamaian di Poso dan Ambon.
Dengan merendah, ia mengatakan upayanya dalam perjanjian Malino adalah
bahagian dari tugas sebagai seorang menteri, pembantu presiden, mengatasi
masalah konflik dan kesejahteraan rakyat. Ia melihat konflik dan
perselisihan akan menyebabkan kemiskinan, baik dalam bentuk materi ataupun
nonmateri. Sehingga, kepada mereka yang bertikai, harus diberikan
kesadaran untuk menghentikan konflik dengan cara damai bukan melalui
perang.
“Karena mereka yang berselisih ini memandang dari sudut agama, jadi kita
memberikan kesadaran dari sisi agama juga. Karena semua agama, menurut
saya, melarang membunuh tanpa alasan yang jelas,” ujar Ketua IKA-UNHAS (Ikatan
Alumni Universitas Hasanuddin) ini.
Kendati ia yakin bahwa konflik di Maluku bukanlah konflik agama, tapi
awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi. Bahwa akhirnya tampak sentimen
agamanya yang dominan, menurutnya, itu karena orang tidak menelisiknya
dari awal. Penyebab utamanya adalah gara-gara kelompok Kristen menjadi
miskin karena harga cengkeh anjlok. Sementara orang-orang Islam di sana
nasibnya lebih beruntung. Ia yakin atas kebenaran pendapatnya, karena
memang ia cukup mengenal daerah yang berkonflik itu.
Di tengah konflik yang tajam waktu itu, ia berupaya memahami cara berpikir
yang sederhana orang Islam dan Kristen di daerah itu. Mereka berpikir
bahwa dengan semakin banyak membunuh semakin cepat masuk surga. Lalu ia
berupaya secara ikhlas memberikan pengertian bahwa apa yang mereka lakukan
baik itu kepada orang Islam maupun Kristen sebenarnya semakin membawa
mereka masuk neraka. “Saya katakan demikian dengan nada yang keras bagi
kedua kelompok,” kata nahdliyin yang menjabat Ketua Harian Yayasan Islamic
Center AI-Markaz ini.
Ia merasa yakin kalau berani terjun langsung, berbicara dengan masyarakat
bawah, persoalan apa saja dapat ditemukan jawabannya. Dengan keyakinan itu,
ia bisa membujuk dua kelompok yang bermusuhan di Ambon untuk duduk dalam
satu meja di Kota Malino, Sulawesi Selatan, Februari 2002. Walaupun, ikrar
perdamaian itu sempat ternoda oleh sekelompok orang yang belum mepunyai
kesadaran damai. Pada awal April 2002, terjadi kerusuhan yang membuat
kompleks Kantor Gubernur Maluku luluh-lantak. Tak lama kemudian, meledak
kerusuhan berdarah di Soya. Ambon pun sempat kembali tegang. Namun
kesadaran masyarakat yang menginginkan damai sudah tumbuh. Sehingga
kerusuhan itu tidak membuat mereka terpancing untuk bertikai lagi.
Ketika itu, sempat berkembang dugaan adanya upaya pihak tertentu untuk
menggeser lagi penyelesaian konfflik di daerah itu dari perundingan ke
penanganan secara militer. Bola solusi yang semula digiring oleh Menko
Kesra diupayakan berpindah ke Menko Polkam. Apalagi ketika itu, Mayjen TNI
Djoko Santoso diangkat menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan
(Pangkoopslihkam) Maluku.
Tapi ia membantah terjadi perebutan bola solusi atau tumpang tindih dalam
penanganan masalah Ambon dan Poso. Menurutnya, mereka menjalankan tugas
saling melengkapi sesuai fungsi masing-masing. “Saya dan Menko Polkam,
saling mendukung untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan negara
melalui presiden, baik itu di Poso, Ambon atau di Aceh. Untuk bagian Poso
dan Ambon saya yang memimpin sedangkan untuk bagian Aceh Menko Polkam yang
memimpin. Jadi kami saling bekerjasama,” katanya.
Ketika konflik antarmasyarakat sudah berhenti, perlu segera dilakukan
penegakan hukum lewat penyerahan senjata, penindakan, penangkapan,
penanganan desersi dan sebagainya. Hal ini adalah urusan tentara dan
polisi di bawah koordinasi Menko Polkam. “Tapi soal rehabilitasi, soal
pengungsi, dan sebagainya, saya yang menangani. Sedangkan Wakil Presiden
mengevaluasi secara keseluruhan. Jadi, semuanya bekerja berdasar fungsi
masing-masing,” kata putera bangsa kelahiran Watampone, Bone, 15 Mei 1942
ini.
Ia mengaku tidak merasa mengalami tantangan yang berarti dalam menangani
konflik itu. Kiatnya adalah keikhlasan hati dan keberanian untuk memasuki
pokok persoalan. Keikhlasan hati itu ditunjukkan dan dikomunikasikan.
Kemudian, persoalan harus dipahami. Lalu, ada keberanian untuk menyikapi
dan menentukan mana yang salah dan yang benar.
Memang, dalam menangani konflik Poso dan Ambon, ia berani mempersalahkan
kedua belah pihak. Ia tidak hanya memuji dan membujuk mereka yang bertikai.
Bahkan, “saya marah kepada keduabelah pihak itu,” katanya tulus.
Mengenai keyakinannya bahwa konflik Ambon bukan dipicu oleh urusan agama
melainkan urusan ekonomi, ia mengatakan, sebanyak 75 persen konflik di
dunia ini gara-gara masalah ketidakadilan dan kemiskinan. Itulah sebabnya
sebagian besar konflik terjadi di negara-negara yang tingkat pendapatan
per kapitanya rendah, seperti Malaysia, Filipina, India, atau Sri Lanka.
“Di Ambon juga begitu. Semua tak lepas dari pemiskinan yang terjadi di
sana. Pada awal 1990-an, harga cengkeh di sana bisa Rp 10 ribu per
kilogram. Tapi, setelah ada monopoli Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh
(BPPC), harganya malah anjlok hingga tinggal Rp 2.000 per kilogram. Orang
Ambon pun marah, lalu membabati tanaman cengkehnya. Akhirnya, mereka jatuh
miskin dan banyak menganggur. Sebanyak 75 persen tanaman cengkeh berada di
kampung- kampung Kristen,” jelasnya.
Sementara, katanya, para pendatang muslim dari Sulawesi Selatan dan
Tenggara justru nasibnya makin bagus. “Mereka menguasai pasar,
transportasi, angkutan kota, perdagangan antarpulau, dan sebagainya..
Bahkan warga muslim juga menguasai struktur pemerintahan. Sebelumnya
Gubenur Maluku selalu beragama Kristen, tapi belakangan menjadi yang
beragama Islam.
Dengan kondisi seperti itu, menurutnya, masalah sepele saja bisa menjadi
pemicu konflik. “Kasus Ambon kan dimulai dari konflik sopir dengan pemalak
atau orang menagih setoran. Tapi, dalam satu-dua hari telah berubah
menjadi konflik agama yang susah berakhir. Malah belakangan datang Laskar
Jihad dari kelompok Islam. Lalu muncul pula Front Kedaulatan Maluku dari
kelompok Kristen. Keadaan tegang ini terus berlangsung hingga kita
berhasil menghentikan konflik dan meneken kesepakatan Malino II.”
Mengenai bidang tugasnya sebagai Menko Kesra. Sesaat setelah dilantik 19
Juli 2001, ia mengatakan tujuan kita berbangsa dan bernegara ialah
kesejahteraan rakyat (kesra). Akan tetapi, katanya, janganlah selalu
memaknakan kesra itu dalam konteks bencana: gempa bumi, longsor, banjir
dan gelombang pengungsian. Kesra yang dia maksudkan, jauh lebih luas dari
itu, yakni membangun cita-cita berbangsa yang bermuara kepada
kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.
Dia juga menekankan masalah kebersihan aparat, di lingkungan kerja Menteri
Koordinator Kesra. “Aparat yang korup, mengomersialkan jabatan, KKN, atau
melakukan tindak kejahatan lainnya, tidak akan saya tolerir. Saya pun akan
mengajak aparat menciptakan suasana kondusif, misalnya dengan meningkatkan
solidaritas pada golongan ekonomi lemah. Solidaritas itu, misalnya, bisa
berupa mengurangi kebutuhan sekunder dan tersier,” janji menteri yang
berlatarbelakang pengusaha sukses ini.
Menurutnya, sangat tidak bijak mendorong aparat terjebak dalam kebutuhan
selera tinggi. Pokoknya, tingkat luxuries harus dikurangi, agar ada
semacam solidaritas bangsa. Bagi kalangan berkemampuan ekonomi tinggi dan
mempunyai uang lebih, silakan menikmati hidup ekstra nyaman. Akan tetapi,
mungkin ada baiknya tidak terlampau ditonjol-tonjolkan agar tidak
menampakkan perbedaan mencolok. Kini terdapat hampir 9 juta penganguran
terbuka dan 40 juta yang setengah menganggur.
Di jalan-jalan raya di banyak kota, tampak sangat banyak pengemis,
gelandangan, anak-anak telantar, anak-anak yatim dan sebagainya.
Keprihatinan hidup sebagaian besar rakyat bangsa ini sangat dirasakannya.
Maka ia pun menolak kemewahan di kantornya. Di ruang tunggu kantornya (Menko
Kesra) hanya tersedia kursi lipat yang dijejer melingkar di ruang
sederhana. Kursi tamu dalam kamar kerjanya juga sederhana.
Ketika menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, ia memilih lebih
pas bekerja sepenuhnya di salah satu kantornya yang lebih sederhana.
Ketika itu, ia punya tiga kantor. Selaku menteri perindustrian ada kantor
di Jalan Gatot Subroto. Selaku menteri perdagangan di Jalan Ridwan Rais,
Menteng dan selaku Kabulog di Jalan Gatot Subroto.
Dua kantor itu dinilainya terlalu mewah. Satu di antaranya luasnya sekitar
200 m2. Ada ruang rapat khusus, bahkan ada tiga ruang rapat, tiga televisi,
ada dapur, musala, kamar tidur dan kamar mandi dua. Dalam kondisi ekonomi
negara yang hancur dan pinjaman menumpuk, rasanya tak pantas
bermewah-mewah. Itulah yang timbul dalam benaknya. Maka ia pun memilih
berkantor di Perindustrian yang luasnya sekitar 50 m2 dengan perabot yang
sudah lama.
Ketika mempimpin perusahaannya, ia juga tidak mau bermewah-mewah. Ruang
kerjanya sederhana, baik yang di Jakarta maupun di Makassar. Gaya hidup
sederhana ini, ia tunjukkan pula dalam busana yang dipakai. Ia sangat
jarang pakai stelan jas. Bahkan pakai safari dinas menteri juga jarang. Ia
lebih sering memakai batik atau kemeja lengan panjang.
Padahal sebagai seorang pengusaha, tergolong konglomerat, ia sanggup saja
hidup mewah. Tapi, itu tidak dilakukannya. Dari segi pendapatan (gaji),
sesungguhnya ia 'nombok' sebagai menteri. Sama sekali ia tidak
mengharapkan kekayaan dari jabatannya. Bahkan setiap bulan ia meminta
prusahaannya menyediakan dana untuk berbagai keperluan yang secara
langsung atau tidak langsung menunjang pekerjaannya sebagai pejabat publik.
Menteri yang juga dikenal sebagai kader Golkar yang cukup berpengaruh di
Indonesia Bagian Timur, terutama di Sulawesi Selatan, ini sangat peduli
atas percepatan pembangunan di kawasan timur itu. Hal ini tercermin dalam
buku tentangnya berjudul: "Mari ke Timur!" (Penerbit PT Toko Gunung Agung,
Jakarta, 2000). Buku itu berisi pikiran-pikirannya tentang Indonesia Timur.
Namun, bukan berarti ia hanya berpikir tentang kawasan Indonesia bagian
Timur. Melainkan hal itu menunjukkan kepeduliannya untuk membangun seluruh
negeri secara adil dan merata.
Secara politik ia juga dikenal tidak hanya bisa berkomunikasi dengan
teman-teman separtainya. Ia bisa diterima di berbagai kelompok kepentingan.
Ia bukan politisi sektarian. Ia seorang pengusaha dan politisi negarawan.
Namun, ia pernah juga diisukan aktip dalam diskusi pembentukan kaukus
Islam. “Ini perlu diluruskan. Pertemuan itu bukanlah kaukus. Kami cuma
berdiskusi agar tokoh-tokoh Islam dapat memahami berbagai masalah secara
fair dan mendalam. Pers yang sibuk sendiri, menafsirkan terlalu jauh, sama
dengan isu darurat militer di Ambon. Padahal, kami tak merasa membicarakan
itu,” kata tokoh berlatarbelakang pengurus masjid, HMI, KAHMI dan ICMI ini.
Menurutnya, pertemuan-pertemuan yang sempat ditenggarai hendak
menggulingkan Megawarti itu, betul- betul itu hanya diskusi untuk mencari
solusi. “Di situ saya malah mengatakan bahwa kita tak usah bicara mengenai
umat Islam, tapi bicara tentang bangsa. Kalau bicara tentang bangsa, itu
sudah menyangkut 85 persen umat Islam. Kalau bangsa ini sehat dan kuat,
Islam pun kuat. Jadi, yang dibutuhkan ummat adalah pemerintahan yang kuat.
Pemerintah itu boleh siapa saja: boleh nasionalis, Islam, atau yang lain,
terserah,” jelasnya.
Ia memang dikenal sebagai seorang anak bangsa, penganut agama Islam, yang
berjiwa kebangsaan. Itulah sebabnya ia bisa dengan berani berbicara dengan
kelompok-kelompok bertikai di Poso dan Ambon. Ia tidak berpihak kepada
salah satu kelompok. Keikhlasan dan kejujurannya sudah dikenal oleh
masyarakat setempat. Ia orang yang biasa menghargai orang lain, termasuk
orang yang berbeda pandangan dan keyakinan dengannya.
Dari kecil ia memang sudah diasuh orang tuanya untuk hidup jujur dan
menghargai orang lain. “Prinsip yang ditanamkan oleh orangtua saya
sebenarnya sangat sederhana, yaitu menjadi orang yang bekerja
sebaik-baiknya (bekerja keras), jujur dan menghormati orang lain. Salah
satu dari sikap jujur itu adalah tidak menjadi orang yang melupakan janji
atau mencederai janji.
Ayahnya, H Kalla, seorang pengusaha. Usaha yang dirintis orang tuanya ini
kemudian berkembang di tangan generasi keduanya yang dinakhodai Jusuf
Kalla. Lulusan S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967,
ini dari sejak usia muda memang sudah sering diikutsertakan dalam usaha,
membantu orangtua. Sehingga ia dapat mengerti persoalan dalam dunia usaha.
Dalam dunia usaha, ia telah dididik untuk menjadi orang yang ulet, jujur,
memperhatikan langganan, mempunyai visi ke depan dalam menjalankan usaha
bersama karyawan-karyawan yang lain. Itulah yang mengantarkannya mampu
mengendalikan sejumlah perusahaan di antaranya sebagai Direktur Utama NV.
Hadji Kalla, PT Bumi Karsa, PT. Bumi Sarana Utama, PT. Kalla Inti Karsa
dan Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International dan PT. Bukaka Teknik
Utama sampai tahun 2001 sebelum ia menjadi menteri. ►crs-mti-03
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|