A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Organisasi
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 08062006  
   
  ► e-ti/setneg  
  = Perlu Gaya Kepemimpinan yang Kuat
= Impor Beras Tak Rugikan Petani
= Coba Rekatkan Hubungan Jakarta-KL
= Golkar Lebih Solid
 
     
 
BERITA

 

Wapres Jusuf Kalla

Perlu Gaya Kepemimpinan yang Kuat


Kompas 8/6/2006: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia memerlukan pemimpin-pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang kuat di tengah perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan politik dan masyarakat selama delapan tahun reformasi.

Jusuf Kalla mengemukakan hal itu kepada peserta Kursus Singkat Angkatan (KSA) Ke-14 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (7/6).

"Upaya pemerintah sekarang jauh lebih berat daripada dahulu. Kalau pemerintah zaman dahulu menemui masalah sedikit, telepon saja polisi, tentara, maka selesai persoalan. Sekarang tidak bisa lagi itu semua. Jadi, memang kita harus memiliki gaya kepemimpinan yang lebih kuat," ujar Kalla.

Wapres menyebutkan, selama sewindu reformasi, secara umum telah terjadi perubahan mendasar dalam kehidupan politik dan masyarakat. Sistem politik berubah dari situasi otoriter menjadi sangat demokratis. Sistem yang sentralistis menjadi desentralistis dan kebebasan media bersamaan dengan era keterbukaan. Perubahan itu saat ini, mau tidak mau, mendasari kerja pemerintah dan pemimpinnya.

Karena perubahan itu, rakyat kini berani bersuara ketika hak dan kepentingannya dilanggar atau tidak dipenuhi oleh negara. Wapres menyebut contoh upaya pemerintah membangun jalan tol untuk perbaikan infrastruktur yang kerap mendapat tentangan dan hambatan dari rakyat. Kenyataan semacam itu hampir tidak dijumpai ketika sistem politik masih sangat otoriter.

"Begitu kita ingin membangun 1.000 kilometer jalan tol, maka baru beberapa kilometer membebaskan tanahnya luar biasa sulit. Jalan tol dibikin, satu keluarga Simatupang memblokir. Zaman dahulu, tinggal panggil Kopkamtib selesai. Sekarang tidak zamannya lagi Kopkamtib. Kita buat Keppres Nomor 36 Tahun 2005 (tentang tanah untuk kepentingan umum) terpaksa juga direvisi. Upaya pemerintah sekarang jauh lebih berat," ujarnya.

Demokrasi bukan tujuan

Selain memaparkan pentingnya gaya kepemimpinan yang kuat di tengah perubahan yang terus terjadi, kepada peserta KSA Ke-14 Lemhannas, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga memaparkan posisi pemerintah terhadap sejumlah isu nasional. Mengenai demokrasi, ia mengingatkan bahwa demokrasi bukan tujuan, tetapi hanyalah cara untuk mencapai tujuan.

"Kalau ternyata demokrasi tidak bisa mencapai tujuan negara menciptakan kesejahteraan rakyat dan kemakmuran, demokrasi harus kita perbaiki. Tujuan tidak bisa kita ubah," ujarnya.

Kalla juga menjawab usulan beberapa kalangan agar kembali kepada UUD 1945 sebelum diamandemen. "Presiden dan Wakil Presiden disumpah untuk menjalankan konstitusi. Konstitusi sebelum amandemen mungkin akan membuat pemerintah lebih enak dan kuat. Akan tetapi, kita harus taat terhadap apa pun yang sudah diputuskan rakyat lewat MPR," katanya.

Terkait dengan tuntutan keadilan dan kemakmuran dari rakyat, Kalla secara sederhana mengemukakan, rakyat ingin merasakan kemakmuran dan kesusahan bersama-sama.

Dengan pemahaman keadilan sebagai perasaan bersama dalam kemakmuran dan kesusahan itulah, Wakil Presiden menjelaskan mengapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke Yogyakarta pada hari pertama gempa bumi. "Solidaritas sangat penting untuk menjaga bangsa ini. Rakyat tidak mengharapkan pidato-pidato kita, kritik-kritik kita, tetapi apa yang bisa kita buat untuk mereka," ujarnya.
 

Hukum harus ditegakkan
Menanggapi pernyataan Wakil Presiden, peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochtar Pabottingi, mengemukakan, memang susah dan rumit menampilkan kepemimpinan yang kuat di tengah masa transisi, di mana sejumlah peraturan perundang- undangan bertabrakan satu sama lain. "Bagaimana menegakkan kepemimpinan dengan undang- undang yang saling bertabrakan?" katanya.

Untuk itulah, pertama-tama koherensi undang-undang harus dibenahi. Kepemimpinan yang kuat di tengah tabrakan undang- undang seperti itu harus menegakkan konstitusi.

Mochtar mengemukakan, kepemimpinan akan kuat dan tegak, dalam arti berwibawa, jika supremasi hukum ditegakkan. Untuk pemberantasan korupsi, misalnya, jangan ada kebijakan tebang pilih. Sekali kebijakan itu diterapkan, wibawa pemimpin akan merosot, rakyat tidak akan patuh dan akan banyak protes. Kebijakan soal proses hukum mantan Presiden Soeharto juga telah menjatuhkan wibawa pemerintah dan pemimpinnya.

"Kepemimpinan akan kuat dalam arti berwibawa di era demokratisasi dan kedaulatan rakyat jika berdasarkan pada right, bukan might. Sepanjang kepemimpinan ditegakkan karena sesuatu itu benar, kepemimpinan akan kuat," ujarnya.

Kepemimpinan akan kuat dan semakin kuat jika didasarkan pada pemihakan yang jelas kepada rakyat. Pemihakan kepada rakyat itu harus dilakukan secara konsisten.
 

Krisis Kepemimpinan

Di tempat lain, dalam sebuah acara di Gedung Joang, Menteng, Jakarta Pusat, Ketua Umum Nusantara Bangkit Bersatu KH Abdurrahman Wahid mengatakan, Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan di tengah derasnya arus globalisasi.

Menurut Abdurrahman, derasnya arus globalisasi membuat para pemimpin nasional tidak berani bersikap, terutama dalam menegakkan hukum. Hukum tidak lagi memiliki kepastian dan hanya menghamba pada kepentingan politik elite. Tebang pilih dalam penegakan hukum terjadi.

"Globalisasi telah membuat para pemimpin nasional kita ketakutan dan tidak mampu mengendalikan reaksi berlebihan yang terjadi di bawah. Reaksi berlebihan itu adalah fundamentalisme dan nasionalisme sempit," kata mantan presiden itu.

Ketidakmampuan para pemimpin mengendalikan reaksi berlebihan tersebut akhirnya membuat para pemimpin kehilangan kepercayaan publik.

"Bila keadaan terus berlanjut, bukan hal mustahil terjadi revolusi sosial," katanya mengingatkan. (INU/win) ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)