| |
C © updated
25122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kwi |
|
| |
Nama:
Julius Kardinal Darmaatmadja
Lahir:
Jagang, Muntilan, 20 Desember 1934
Ayah:
Joachim Djasman Darmaatmadja [alm]
Ibu:
Maria Siti Sarpinah [alm]
Pendidikan:
1951-1957 Seminari Menengah di Yogyakarta, Seminari Menengah Mertoyudan
7 Sept 1957 Masuk Novisiat Serikat Yesus Girisonta
Karir:
18 Des 1969 Ditahbiskan menjadi imam oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono,
SJ
2 Feb 1975 Mengucapkan Kaul Terakhir
1978-1981 Rektor Seminari Menengah Mertoyudan
5 Jun 1981-1983 Provinsial Serikat Yesus Indonesia
29 Jun 1983 Ditahbiskan menjadi Uskup Agung Semarang oleh Kardinal
Justinus Darmoyuwono, Pr.
Sejak 25 Jun 1984 Menjabat Uskup ABRI
20 Okt 1990 Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama
29 Nov 1994 Dilantik sebagai Kardinal Indonesia oleh Bapa Suci Yohanes
Paulus II
Naats:
Nelayan menjaring: Atas perintahMu, kutebarkan jalaku
[ Luk 5:1-11 ]
Sumber:
www.imankatolik.or.id
Kompas, 24 Desember 2003
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
ulius Kardinal Darmaatmadja
Sang Nelayan Penjaring
Kardinal Indonesia yang juga Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar
Umat Beragama ini terpanggil dan terpilih sebagai nelayan penjaring: "Atas
perintahMu, kutebarkan jalaku." Ia juga melayani sebagai Uskup Agung
Jakarta. Pastor kelahiran Jagang, Muntilan, 20 Desember 1934, ini
menyukai warna serba biru yang melambangkan warna damai.
70 Tahun Kardinal Darmaatmadja
"LIFE goes on", begitu kata orang Inggris. Memang, kehidupan terus
berjalan dan berjalan. Seiring dengan perjalanan kehidupan, berbagai
peristiwa mengisi dan mewarnai kehidupan itu sendiri. Hal itu pula yang
menghiasi perjalanan hidup Julius Kardinal Monsinyur Rijadi Darmaatmadja
SJ, Uskup Agung Jakarta, yang hari ini genap 70 tahun.
JULIUS adalah nama tambahan sebagai seorang Katolik. Rijadi, nama kecil
saat lahir di Salam, Jawa Tengah, 20 Desember 1934. Kardinal adalah
jabatan konsultatif sejak dilantik 27 November 1994 di Roma oleh Paus
Yohanes Paulus II. Monsinyur adalah panggilan untuk pemegang jabatan
uskup (sebagai Uskup Agung Semarang 1983-1996, dan Uskup Agung Jakarta
1996-sekarang). Darmaatmadja, nama kedua orangtuanya, pasangan Joachim
Djasman Djajaatmadja dan Maria Siti Soepartimah. SJ atau Serikat Jesus,
sebab dia anggota ordo yang didirikan Santo Ignatius de Loyola tahun
1534 itu.
Namun, saat ditemui di kediamannya hari Minggu (19/12) kemarin, wajah
dan postur tubuhnya tidak menunjukkan bahwa dia sudah memasuki usia 70
tahun. Tidak mengherankan apabila kesan yang muncul saat ditemui ialah
betapa Bapak Kardinal, atau Monsinyur, atau Bapak Uskup-begitu umat
biasa menyapa-mempunyai elan tinggi dan tampak jauh lebih muda dari
usianya.
"Wah, perkataan orang Timur kerap menyesatkan. Saya sudah 70 tahun,
masak tampak masih muda," ujarnya sambil terbahak. Ia lalu mengambil
majalah Hidup yang memasang fotonya sebagai sampul. "Foto ini lebih kena.
Tampak, saya sudah 70 tahun," katanya lagi.
MOTIVASI yang tinggi untuk terus berkarya tampaknya menjadi lokomotif
yang membuat Kardinal tampak selalu bersemangat bekerja. Karena itu,
ketika ditanya sampai kapan akan mengambil jeda dari sebuah perjalanan
panjang, Kardinal menyatakan, sama seperti sebelum usia 70 tahun. "Saya
menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, sampai kapan saya bisa
menyelesaikan tugas peziarahan saya. Kalau Dia menghendaki saya kuat
bekerja, saya akan terus bekerja," ujarnya.
Meski demikian, Kardinal amat menyadari, menjadi tua akan disertai
munculnya aneka kelemahan. Sebagai orang tua, spiritualitas kerja yang
sebelumnya menghiasi kehidupan tidak bisa lagi dijalankan. Spiritualitas
kerja itu harus diganti.
"Orang yang biasa bekerja, lalu tidak bekerja lagi ketika tua, tentu
bingung. Itu biasa. Juga kalau dulu biasa menasihati, sekarang tak ada
yang meminta nasihat. Kalau dulu bisa berfungsi terhadap orang lain,
lalu tidak berfungsi lagi. Itu semua menjadi perubahan hidup yang harus
dihadapi. Maka, sebagai orang tua harus mencari fungsi baru. Di sana ada
passio, ada rendah hati, ada pengabdian, ada penyerahan diri. Maka
sekarang pun mulai dikembangkan, pendampingan terhadap para orangtua,"
katanya.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai pemuka umat Katolik, Kardinal juga
sibuk menjalin persaudaraan dengan pemimpin umat yang lain. Ia akrab
dengan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafii Maarif; dengan KH
Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU); KH
Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Nurcholish Madjid, cendekiawan, dan lain-lain. Ia perlu memberi contoh
kepada para pastor dan umat Katolik untuk membangun persaudaraan sejati
dengan umat yang lain.
"Upaya membangun persaudaraan dengan umat lain itu harus kontekstual.
Maka para pastor yang berkarya di tengah masyarakat pun harus berkarya
dalam pastoral kontekstual. Mulailah dengan berkunjung, saling mengenal.
Jalankanlah hidup bertetangga dengan baik. Kalau sudah saling mengenal,
lalu saling peduli. Entry point-nya adalah peristiwa-peristiwa keluarga,
seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan sebagainya,"
ucapnya.
Atas pemahaman itu, tidak mengherankan apabila sebagai pemimpin,
Kardinal sering berpesan agar kehadiran umat Katolik di masyarakat
menjadi rahmat bagi yang lain. "Ini tidak mudah dijalankan, di tengah
pengaruh macam-macam. Menjadi rahmat bagi masyarakat akan menjadi jelas
apabila kedatangannya selalu dirindukan oleh orang lain," paparnya.
Menyinggung kondisi masyarakat secara umum, Kardinal amat prihatin
betapa nilai agama dan iman tidak lagi memengaruhi kehidupan. Orang bisa
membunuh seenaknya. Juga nilai budaya tak lagi berdampak pada perilaku.
Begitu pula nilai ideologi tak lagi bisa berperan dalam kehidupan
bernegara.
"Amat disayangkan, ketiga hal itu tidak lagi bisa banyak berperan dalam
membangun hidup bermasyarakat dan bernegara. Maka kekuatan agama
diharapkan bisa menjadi kekuatan moral guna membangun kembali nilai
agama, budaya, dan ideologi dalam hidup bermasyarakat," katanya.
Meski demikian, ia enggan menjawab pertanyaan sekitar relasi antar-agama
yang didasarkan generalisasi. Masalahnya, begitu banyak hal yang
melatarbelakangi berbagai masalah yang ada di masyarakat. Misalnya
dikatakan, hubungan antar-agama jelek, sampai saling membunuh. "Bukti
ini benar, tetapi ada bukti lain yang juga benar, betapa semua kelompok
agama menjalin hubungan dengan amat baik. Ada banyak bukti,
saudara-saudara kita yang Muslim mau menjaga gereja agar kita bisa
beribadah dengan tenang. Itu pula yang menyebabkan bom yang dikirim ke
Katedral beberapa tahun lalu hanya meledak di luar, bukan di dalam
gereja," ujarnya menambahkan.
APABILA di awal tulisan ini disebut postur tubuhnya tampak lebih muda,
itu karena Kardinal berusaha menjaga kebugaran dengan hidup teratur,
melakukan relaksasi, termasuk rutin berolahraga tread mill setengah jam
sehari.
Lahir sebagai anak bungsu dari enam saudara keluarga guru, perjalanan
panggilan hidup Rijadi lancar-lancar saja. Tamat sekolah menengah
pertama (SMP), masuk Seminari Menengah Mertoyudan, novisiat SJ dua tahun
di Girisonta, belajar filsafat di Poona, India, teologi di Yogyakarta,
dan ditahbiskan sebagai pastor oleh almarhum Kardinal Darmoyuwono
tanggal 18 Desember 1969.
"Kalau diberi umur panjang, tahun 2009 nanti saya genap 13 tahun
berkarya di Keuskupan Agung Jakarta, dan berusia 75 tahun. Selama 13
tahun juga saya sebagai Uskup Agung Semarang (1983-1996). Tuhanlah yang
mengatur ini semua," katanya menambahkan. (Kompas, 20 Desember 2004)
Dalam rangka menyambut Natal 2003, alumni Seminari Menengah di
Yogyakarta, yang ditahbiskan menjadi imam pada 18 Desember 1969, ini
menyampaikan Pesan Natal bertajuk:
Tangis dan Senyum Natal
Tangis kelahiran Bayi Anak Maria di Bethlehem memecah kesunyian malam
Natal. Bagi umat Kristiani, tangis ini menjadi lonceng yang menengarai
peristiwa mahapenting dalam sejarah umat manusia. Allah yang amat
prihatin terhadap situasi manusia yang dikuasai dosa datang sebagai
Penyelamat.
Tangis Bayi Anak Maria ini menjadi lonceng pembawa Kabar Gembira yang
juga diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, "Jangan takut sebab
sebenarnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota
Daud. Dan inilah tandanya bagimu. Kamu akan menjumpai seorang bayi
dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba
tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara
surga yang memuji Allah. Katanya, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang
mahatinggi dan damai sejahtera di Bumi di antara manusia yang berkenan
kepada-Nya" (Lk 2:8-14).
Bayi Ilahi ini lahir di Bethlehem, Kota Daud, sesuai dengan Nubuat Nabi
Micha. Hal ini diketahui para ahli Kitab dan dilaporkan juga kepada Raja
Herodes yang lalu menjadi berang dan ingin membunuh Kanak-kanak Yesus.
Allah yang mengatur sejarah, membuat Kaisar Agustus mengadakan sensus
bagi semua penduduk yang ada di bawah kuasanya, justru saat kandungan
Maria pada usia tua. Maria dan Yoseph bersama semua keturunan Daud
lainnya pergi mencatatkan diri ke Kota Bethlehem.
Ketika sampai di Bethlehem, sampai pula saat Maria melahirkan anaknya.
Tiga peristiwa menyatu, dengan lahirnya Yesus sebagai pusat, yaitu Nabi
Micha bernubuat, Maria melahirkan Anaknya, dan Kaisar Agustus mengadakan
sensus. Bukti bahwa semuanya dalam rencana Ilahi.
Kelahiran Bayi Ilahi itu sekaligus dikukuhkan dan dicatat dalam sejarah
manusia. Allah menjadi manusia, memasuki sejarah umat manusia, menjadi
satu di antara manusia, untuk menyelamatkan manusia.
Natal adalah kepedulian Allah kepada manusia yang berdosa, peduli sampai
solider ingin senasib sepenanggungan dengan manusia yang papa. Tangis
Bayi Anak Maria membawa pesan agar yang kuat, kaya, dan yang lebih
peduli dan solider dengan yang lemah, miskin, dan kurang mampu tanpa
pandang bulu, tanpa pandang beda suku atau agama.
Ungkapan solidaritas Yesus kepada kaum papa dengan lahir di goa tempat
hewan berteduh, dibungkus lampin, dan dibaringkan di atas palungan,
tempat makanan ternak. Meski lahir di tempat hewan, ia dilahirkan oleh
ibu yang penuh kasih, dijaga oleh Yoseph yang penuh perhatian.
Kehangatan cinta Maria dan Yoseph membuat tangis itu berhenti dan Bayi
Ilahi itu tersenyum. Demikian pula ketika para gembala datang
mengagumi-Nya dan memainkan seruling, juga saat para sarjana dari Timur
datang menyembah dan membawa persembahan. Senyum- Nya meneguhkan
tumbuhnya relasi persaudaraan dan kasih tidak hanya dalam Keluarga
Kudus, tetapi juga di antara para gembala dan para sarjana dari Timur.
Yesus datang di dunia untuk membangun kembali budaya kasih, membangun
hidup dalam kebersamaan, saling peduli, dan dalam suasana persaudaraan.
Solidaritas Yesus dengan orang miskin dijalani dengan mengalami apa
artinya menjadi miskin dan tak berkedudukan. Dia ditolak pemilik
penginapan karena orangtuanya tampak tak dapat membayar, sementara
banyak orang lain yang mau membayar mahal. Bagi orang yang hanya
menginginkan keuntungan, tak ada hati untuk menolong sesama dengan
cuma-cuma, apalagi dengan semangat berkorban.
Sejak lahir, Yesus mengalami suasana hidup masyarakat yang diwarnai
kecurigaan satu terhadap yang lain, penguasa takut kehilangan kedudukan.
Bagi Raja Herodes, kelahiran Yesus merupakan ancaman, takut tersaingi
kekuasaannya. Maka, "Herodes menyuruh membunuh semua anak di Bethlehem
dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah…" (Mt
2:16).
Oleh Yoseph dan Maria, Yesus dibawa lari ke Mesir. Tetapi, operasi
tentara Herodes mengakibatkan terbunuhnya banyak bayi tak bersalah.
Tangis Yesus tidak hanya bagi anak-anak yang dibunuh saat itu, tetapi
juga menyertai semua korban ketidakadilan dan kekejaman akibat dosa
manusia sepanjang zaman. Tangis- Nya juga bagi sikap Herodes dan sikap
siapa pun yang penuh iri dan dengki, tak mau disaingi, dan yang main
kuasa demi kepentingan pribadi dari zaman ke zaman.
Seandainya Kanak-kanak Yesus sudah dapat berbicara, pesan apakah kiranya
yang disampaikan kepada gembala dan tiga sarjana dari Timur yang datang
menyembah? Dia pasti mengatakan yang sama: "Kasihilah Tuhan Allahmu
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal
budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang
kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri" (Mt 22:37-39).
Kelahiran Yesus mengungkapkan kasih Allah tanpa pamrih, mengasihi dengan
kesediaan mengampuni umat-Nya dan kesediaan untuk berkorban. Ini
menunjukkan tanggung jawab yang tinggi terhadap manusia ciptaanNya.
Meski manusia celaka karena ulahnya sendiri, ia tetap dicarikan jalan
keluar, kendati harus ada korban dari Putra Allah sendiri.
Kita diharapkan saling melindungi dan menyelamatkan. Ajaran kasih:
mencintai dan menghormati Allah sekaligus mencakup keharusan saling
mencintai dan menghormati sesama manusia, saling bertanggung jawab atas
nasib sesama. Bahkan, untuk penilaian pada pengadilan terakhir, Yesus
bersabda, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu
lakukan untuk Aku" (Mt 25:40).
Tangis pertama Yesus yang memecah kesunyian malam dan senyum pertama-Nya
yang menghangatkan relasi telah membuat kita kini menyanyikan Malam
Kudus dengan penuh haru. Tangis dan senyumNya telah menguduskan malam
Natal dan menguduskan jagat raya. Tangis-Nya menyertai segala derita
manusia, derita ketika lahir dan berkembang, derita saat dewasa dan tua,
derita saat orang meninggal dunia. Derita manusia telah dijadikan
derita-Nya. Seyum-Nya meneguhkan siapa pun yang menerima Dia, menerima
ajaran dan karya penyelamatan-Nya.
Meneguhkan kita yang dengan tak henti bertobat. Tangis-Nya sekaligus
menjadi senyum-Nya. Karena derita orang yang disatukan dengan tangis,
sengsara, dan wafat-Nya dapat menjadi sumber berkat. Memang tangis dan
senyum Kanak-kanak Yesus membawa harapan bagi kita untuk masa depan yang
bahagia. Selamat Natal, selamat menyambut tangis dan senyum Kanak-kanak
Yesus dalam segala kedalaman maknanya.
*TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|