A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Pemuka
 ► Kristen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 26122005  
   
  ► e-ti/kwi  
  Nama:
Julius Kardinal Darmaatmadja
Lahir:
Jagang, Muntilan, 20 Desember 1934
Ayah:
Joachim Djasman Darmaatmadja [alm]
Ibu:
Maria Siti Sarpinah [alm]

Pendidikan:
1951-1957 Seminari Menengah di Yogyakarta, Seminari Menengah Mertoyudan
7 Sept 1957 Masuk Novisiat Serikat Yesus Girisonta

Karir:
18 Des 1969 Ditahbiskan menjadi imam oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono, SJ
2 Feb 1975 Mengucapkan Kaul Terakhir
1978-1981 Rektor Seminari Menengah Mertoyudan
5 Jun 1981-1983 Provinsial Serikat Yesus Indonesia
29 Jun 1983 Ditahbiskan menjadi Uskup Agung Semarang oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono, Pr.
Sejak 25 Jun 1984 Menjabat Uskup ABRI
20 Okt 1990 Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama
29 Nov 1994 Dilantik sebagai Kardinal Indonesia oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II

Naats:
Nelayan menjaring: Atas perintahMu, kutebarkan jalaku
[ Luk 5:1-11 ]

Sumber:
www.imankatolik.or.id
Kompas, 24 Desember 2003
 
 
     
 
BERITA

 

Julius Kardinal Darmaatmadja

Perjuangkan Kesejahteraan


Jakarta, Kompas 26 Desember 2005 - Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, sekaligus Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ mengimbau agar penyelenggara negara memperjuangkan kesejahteraan umum terlebih dahulu ketimbang kesejahteraan pribadi dan kelompok.

Jika lebih mementingkan pribadi dan kelompok, lanjut Kardinal, yang ada hanya persaingan. Yang menang yang kuat secara ekonomis, politik, dan kelompok. Yang kasihan yang tidak berkedudukan secara politis maupun ekonomis, tuturnya seusai misa Natal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (25/12) pagi.

Menurut Kardinal, situasi saat ini sudah sangat memprihatinkan. Kehidupan bangsa telah menjadi kehidupan yang tidak beradab. Korupsi besar-besaran dan kekerasan terjadi di saat sebagian bangsa masih mengalami kelaparan dan kemiskinan.

Orang mengejar tambahan gaji dan tunjangan. Padahal, gajinya sudah tinggi, tunjangannya sudah banyak. Lupa, di Papua ada orang-orang mati kelaparan. Ini mengerikan dan memalukan. Orang miskin rasanya tambah banyak, sementara penyelenggara negara yang harusnya peduli terhadap kesejahteraan umum rasanya tidak peduli, kata Kardinal menekankan.

Kenyataan itu, lanjutnya, menjadi petunjuk adanya noda-noda dosa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Harus ada pertobatan untuk menuju keadaban hidup. Itu tidak dilakukan hanya secara pribadi, tetapi bersama- sama.

Natal adalah wujud perhatian Allah terhadap manusia yang berdosa, disertai pengorbanan kita mengusahakan supaya lepas dari dosa dan dimuliakan kembali bersama Allah, tutur Kardinal.

Untuk menata kembali kehidupan yang baik, kata Kardinal lagi, peran keluarga sangat penting. Keluarga menjadi tempat untuk memberi pendidikan hati nurani dan membangun peradaban yang baik dalam kebersamaan. Tidak hanya keluarga kudus yang akan melahirkan insan-insan yang akan menjadi pembaru moral dunia, tetapi semua keluarga, ujarnya.

Imbauan agar memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan kelompok dan pribadi, juga diserukan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe. Sikap ego dan mementingkan kelompok sendiri saat ini semakin besar. Ini persoalan krisis bangsa yang harus diselesaikan, ucapnya.

Untuk itu, menurut Yewangoe, harus dibangun solidaritas segenap elemen bangsa. Umat Kristen perlu mengkritik diri sendiri apakah perayaan Natal hanya sekadar pesta atau momen untuk memupuk solidaritas, ujarnya.

Imbauan Paus

Untuk pertama kalinya setelah terpilih sebagai Paus pada 19 April lalu, Paus Benediktus XVI menyampaikan pesan dan pemberkatan Natal Minggu yang dikenal sebagai Urbi et Orbi (Kepada Kota dan Dunia). Dalam pesannya, Paus Benediktus mendesak umat manusia bersatu melawan terorisme, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Paus juga mendorong suatu tatanan dunia baru untuk mengoreksi ketidakseimbangan ekonomi.

Pidato Urbi et Orbi itu disampaikan di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan di hadapan sekitar 10 juta orang dari sedikitnya 40 negara yang memadati Lapangan Santo Petrus. Ia juga mengucapkan selamat Natal dalam 33 bahasa di dunia.

Paus mengingatkan agar umat tidak membiarkan kemajuan teknologi membutakan manusia terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya.

Umat manusia yang bersatu akan mampu melawan berbagai masalah yang ada sekarang: dari ancaman terorisme hingga kemiskinan, dari proliferasi senjata hingga pandemi dan kerusakan lingkungan yang mengancam masa depan planet kita, kata Paus.

Sementara itu, dalam khotbahnya pada misa Natal di Basilika Santo Petrus, Sabtu tengah malam, Paus Benediktus XVI menyerukan perdamaian di Timur Tengah.

Pada saat bersamaan di Bethlehem, Jerusalem, juga diselenggarakan misa Natal yang dipimpin Patriark Latin Michel Sabbah, yang juga dihadiri pemimpin Palestina Mahmoud Abbas.

Selamat kepada aparat

Selain menyampaikan terima kasih, Kardinal Darmaatmadja juga menyatakan penghargaan kepada Polri, TNI, dan masyarakat yang ikut dalam pengamanan misa Natal sehingga perayaan Natal dapat berlangsung aman. Kami mengucapkan proficiat kepada seluruh masyarakat, terlebih kepada mereka yang bertugas mengamankan. Sungguh pekerjaan mulia dan patut disyukuri umat Katolik dapat beribadah dalam damai, tenang, dan khusyuk tanpa takut, katanya.

Misa Natal pada Sabtu dan Minggu di Katedral dipenuhi jemaat. Diperkirakan 3.000 umat Katolik menghadiri setiap sesi misa. Bangku-bangku tambahan di depan dan di samping Katedral selalu penuh. Di antara jemaat yang mengikuti misa Natal hari Sabtu terdapat Presiden Timor Leste Xanana Gusmao.

Dari Semarang dilaporkan, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta umat Islam mengedepankan sikap toleransi terhadap umat Nasrani dalam merayakan Natal. Dalam kaitan itu, Muhammadiyah menyediakan aset gedungnya dipakai umat Nasrani untuk perayaan Natal.(BRO/HAN/NDY/BUR/ Reuters/AFP)

*TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)