| |
C © updated 21122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/papua.go.id |
|
| |
Nama:
Dr Jacobus Perviddya Solossa, MSi
Lahir:
Mefkajim Ayamaru, Sorong, 8 Mei 1948
Wafat:
Jayapura, Senin 19 Desember 2005
Agama:
Kristen
Isteri:
Ny Emma Jacomina Maury Solossa
Anak:
- Ekatherina Margareth Susana Solossa
- Aquino Leonardo Ruben Solossa
Jabatan Terakhir:
Gubernur Pemerintah Propinsi Papua, 2000-2005
Pendidikan:
- SD (Jongens Vervolg School) Teminabuan, Sorong, 1961
- SMP Yayasan Pendidikan Kristen Manokwari, 1964
- SMA Negeri Sorong, 1968
- Sarjana Muda Administrasi Negara, FISIP, Universitas Cendrawasih, 1973
- Sarjana Administrasi Negara, FISIP, Universitas Cendrawasih, 1986
- S2 (Magister) Bidang Ekonomi Pembangunan, Universitas Gjah Mada,
Yogyakarta, 2000
- S3 (Doktor) Bidang Ilmu Sosial, Universitas Padjadjaran, Bandung, 9
Mei 2005
Karir:
- PNS Setwilda Tingkat I Irian Jaya, 1978
- Anggota DPR RI, 1997-1999
- Anggota Komisi IV DPR-RI, 1999-2004
- Ketua Kapet Biak Provinsi Papua, 2000
- Gubernur Papua, 2000-2005
Organisasi:
- Ketua DPD KNPI Tngkat I Irian Jaya, 1982-1985
- Wakil Sekretaris DPD Golkar Tingkat I, Irian Jaya, 1986-1987
- Wakil Ketua DPD Golkar Tingkat I Irian Jaya, 1988-1993
- Pengurus Departemen Tani dan Nelayan DPP Golkar, 1998
Alamat Kantor Gubernur Papua:
Gedung Negara, Jl. Trikora Dok V Atas-Jayapura
Telepon Kantor: (0967) 533381
Alamat Rumah Gubernur Papua:
Gedung Negera, Jl. Trikora Dok V Atas-Jayapura
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
In Memoriam JP Solossa
Penggagas Otonomi Khusus
Papua seperti tak habis dirundung masalah. Tatkala berbagai persoalan
masih menggantung di tanah paling timur itu, Gubernur JP Solossa, salah
satu putra terbaik daerah itu yang merupakan penggagas otonomi khusus,
pergi untuk selamanya.
Solossa berpulang di tengah beratnya persoalan yang mengimpit Papua.
Sebut di antaranya pelaksanaan otonomi khusus, pemekaran Irian Jaya
Barat (Irjabar), kelaparan, ketertinggalan dan ketidaksejahteraan orang
Papua, pemilihan kepala daerah (pilkada), infrastruktur yang minim, dan
silang pendapat sesama orang Papua. Di saat beragam persoalan tersebut
belum terselesaikan dan kursi wakil gubernur kosong, kepergian Solossa,
kelahiran Sorong, 8 Mei 1948, yang mendadak membuat berbagai pihak
terperangah.
Selama ini Solossa boleh dibilang menjadi motor penggerak utama di
Papua. Sampai akhir hayatnya, kesibukannya hampir tak berjeda. Dalam
satu hari suami Emma Yacomina Maury ini bisa pergi pulang
Jakarta-Jayapura untuk memperjuangkan pembentukan Majelis Rakyat Papua
(MRP) dan menunda pilkada di Irjabar, misalnya. Menurut tokoh masyarakat
Papua, Stevanus Asmuruf, urusan-urusan politik di Papua menyita waktu
paling banyak bagi kegiatan Solossa.
Selama lima tahun kepemimpinannya, terlepas dari berbagai kontroversi,
dia telah memainkan peran strategis.
Pada saat terpilih menjadi Gubernur Papua tahun 2000, posisi Solossa
ibarat berdiri di atas bara api.
Saat itu, sepanjang tahun 1999-2000, arus besar di Papua adalah tuntutan
kemerdekaan dan kedaulatan. Banyak orang Papua ingin merdeka. Aspirasi
merdeka begitu kuat manakala mantan Presiden Abdurrahman Wahid
memberikan kesempatan kepada rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang
Kejora dan menyanyikan lagu Hai Tanahku Papua serta mengubah nama Irian
Jaya menjadi Papua. Di saat itulah Solossa seperti berenang menahan arus
gelombang. Dengan berbagai cara dia berusaha meredam hasrat masyarakat
setempat yang meledak-ledak itu.
Seperti amunisi baru
Solusi yang ditawarkan adalah otonomi khusus. Respons pemerintah pusat,
yang kemudian mengeluarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001, seperti
amunisi baru untuk meredam tuntutan merdeka. ”Ia berani menghadapi
orang-orang Papua yang begitu keras untuk merdeka. Padahal, tuntutan
merdeka itu lebih kuat daripada tuntutan otonomi khusus, tetapi dia tak
goyah,” kata Dance Bleskadit, anggota DPRD Irjabar.
Di sisi lain, sejak awal terpilih Solossa sudah dicurigai pihak
intelijen. Pangkalnya, Solossa termasuk dalam salah satu pencetus
aspirasi merdeka dan terlibat dalam tim 100 yang menghadap mantan
Presiden BJ Habibie untuk merdeka, Januari 1999. Sepak terjangnya pun
diawasi. Bahkan, pada September 2002 cukup santer diberitakan di media
massa tentang keterlibatan Solossa mendukung Organisasi Papua Merdeka
(OPM).
Memang betul, deklarator draf UU Otonomi Khusus Papua yang menjalankan
tugas gubernur selama lima tahun 26 hari itu memikul ”beban berat”.
Bersama drh Constant Karma, selama itu, Solossa seakan berjalan di
jalanan berkerikil, penuh tikungan, dan jurang terjal.
”Ia memerintah di masa sulit saat tuntutan dan otonomi khusus, tetapi ia
mampu membangun landasan bagi pembangunan Papua,” kata Salmon Yosef
Mandacan, Kepala Suku Besar Arfak di Manokwari yang mengaku amat
berduka.
Belum reda soal keterlibatan dalam kelompok OPM, Presiden Megawati
Soekarnoputri serta-merta mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor
1 Tahun 2003 tentang Percepatan Pemekaran Provinsi Irian Jaya Barat,
Irian Jaya Tengah, Irian Jaya Timur, serta Kabupaten Paniai, Mimika,
Puncak Jaya, dan Kota Sorong.
Keberadaan inpres itu sangat menyita waktu, tenaga, dan perhatian
Solossa. Ia cenderung berpendapat bahwa pemekaran provinsi tidak perlu
dilakukan segera. Inpres itu lahir atas desakan dan informasi serupa
dari elite politik di Irjabar dan Solossa menolak pemekaran itu.
”Mengapa buru-buru memekarkan provinsi, sementara pemekaran 14 kabupaten
baru pun belum terealisasi. Beberapa kabupaten yang telah lama
dimekarkan, seperti Puncak Jaya, Nabire, dan Mimika, pun sampai hari ini
belum memiliki fasilitas, sarana, dan prasarana perkantoran. Perlu
dipikirkan saat ini adalah pemekaran kabupaten, distrik, dan
kampung-kampung. Setelah itu baru pemekaran provinsi,” kata Solossa,
Juni 2003.
Seperti hujan deras yang tak berhenti, persoalan di Papua datang
bertubi-tubi. ”Sang penggagas otonomi khusus itu meninggalkan pekerjaan
besar bagi masyarakat dan elite politik Papua. Kita berharap gubernur
mendatang dapat melanjutkan pekerjaan ini demi kemajuan masyarakat Papua
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Paskalis Kosay,
tokoh masyarakat.
Masalahnya, kini, berbagai persoalan itu harus cepat diselesaikan bila
tak ingin menjadi timbunan yang makin memperkeruh situasi di Papua.
Kesadaran rakyat Papua untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan
semestinya menjadi spirit kolektif orang Papua untuk bergandengan tangan
membangun daerahnya.
(Kornelis Kewa Ama dan Subhan SD, Kompas 21 Desember 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|