| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Joko Sasmito
Lahir:
D
Isteri:
I
Anak:
- Ida Saraswati (23)
- Dika Sistrandari (21)
- Sikla Estiningsih (19)
- Agus Siklawida (16)
- Tifa Siklawati (11)
Pekerjaan:
- Peneliti, penemu biochip
- Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada
|
|
| |
|
|
|
|
| JOKO SASMITO HOME |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
Joko Sasmito
Penemu Biochip Kedokteran
Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak
mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito
berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat
bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.
Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah
dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes
gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah
bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat
pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem.
Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk
diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil
penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah
tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni)
di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah
tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini
bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat
elektronik mini yang dapat menghemat ruang.
Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu
berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang
sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat
terapi.
Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan
dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu
gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh
media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan
biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi,
bahan utamanya dari anorganik.
Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap
pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat
gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.
Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan
Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon
biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di
rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.
”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk
pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.
Empat dalil
Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer
lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat
menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.
Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini
mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini
diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan,
dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat
dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun,
dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan
organik.
Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru
tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan
lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.
Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di
bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida
Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak
atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa
Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun
kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla
Estiningsih (19).
Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi
anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat
anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah
masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan
memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap
pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.
Saat Kompas berkunjung kedua kalinya, sekira pertengahan bulan Januari,
Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis.
Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan
pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati.
Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga
melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan
tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat,
kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya.
(Irma Tambunan, Kompas, 27 Januari 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|