| |
C © updated 03022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Joedarso Djojosoebroto
Lahir:
Pasuruan, Jatim, 29 September 1943
Pendidikan:
= SMA Negeri di Probolinggo, tahun 1963
= S-1 Jurusan Kehutanan, IPB Bogor, tahun 1972
Pengalaman Pekerjaan:
= PT. Musi Hutan Persada (MHP), Sumatera Selatan
= Pegawai Perhutani, Kalimantan
Sumber:
Dari berbagai sumber, terutama Kompas.
|
|
| |
|
|
|
|
Joedarso Djojosoebroto
Takdirnya Jadi Rimbawan
Ia seorang rimbawan. Profesi yang tadinya merupakan pilihan alternatif
baginya. Selepas lulus SMA, sebenarnya pilihan utamanya ingin menjadi
sinder pabrik gula, yang dianggapnya suatu profesi yang mempunyai
keistimewaan tersendiri. Namun tak dir membawanya menjadi rimbawan (orang
yang bertugas di tengah hutan-rimba). Ia pun menekuni pekerjaan bidang
kehutanan itu dengan serius. Bahkan, kalau bicara mengenai kehutanan, dia
langsung terlihat menggebu.
Mendambakan seperti kehidupan sinder yang sering diperhatikaannya ketika
kecil, akhirnya menuntun putra Jawa Timur, ini hingga menjalani hidup
seperti sekarang ini. "Kebetulan di dekat rumah saya di Pasuruan, Jawa
Timur, banyak pabrik gula. Saya melihat, kehidupan seorang sinder sangat
enak. Ke mana-mana naik jip, punya rumah dinas besar, dan semua buruh
pabrik selalu takut jika berhadapan dengan mereka..." katanya
mengisahkankan alasannya sehingga sejak kecil punya cita-cita menjadi
sinder pabrik gula.
Untuk memuluskan cita-citanya maka pria kelahiran 29 September 1943, ini
selepas menamatkan sekolahnya dari SMA Negeri Probolinggo pada tahun 1963,
dia berangkat hendak mendaftar ke IPB (Institut Pertanian Bogor) di Bogor.
"Bayangan saya masuk IPB, pilih jurusan pertanian dan nanti jadi sinder
pabrik." katanya. Namun cita-citanya rupanya tidak semulus seperti yang
dipikirkannya. Dia terlambat sampai di Bogor, jurusan pertanian sudah tak
menerima pendaftaran mahasiswa baru.
Putra seorang anggota kepolisian, ini mengaku saat itu sangat kecewa.
Namun petugas pendaftar menawarkan dua jurusan yang masih bisa menerima,
yakni jurusan perikanan dan kehutanan. Akhirnya dia memutuskan mengambil
jurusan kehutanan. "Kepalang basah sudah sampai Bogor, saya putuskan masuk
kehutanan" akunya.
Itulah perjalanan pria yang meraih gelar insinyur tahun 1972, ini menjadi
seorang ‘rimbawan’. Namun walaupun bidang kehutanan merupakan pilihan
alternatifnya, bukan berarti tidak ditekuninya dengan serius. Malahan
sebaliknya, kalau bicara mengenai kehutanan, dia langsung terlihat
menggebu. "Mengelola hutan industri kuncinya satu, kita harus mencintai
setiap batang pohon bagaikan anak sendiri..." ucapnya dengan penuh yakin.
Di awal kariernya, dia langsung dikirim ke Kalimantan Barat, menjadi
pegawai Perhutani disana. Di suatu kesempatan, dia menangani suatu proyek
penghutanan lahan alang-alang di lembah Sungai Musi, Palembang Sumatera
Selatan. Mengenai proyek dimaksud, dia menyebutkan bahwa proyek tersebut
punya tiga sasaran utama yakni; memperbaiki lingkungan hidup, meningkatkan
produktivitas lahan dan menciptakan lapangan kerja.
Dalam pengerjaannya, dia lebih teliti dan lebih serius misalnya dalam
pemilihan pohon, dia sengaja memilih jenis pohon cepat tumbuh serta cocok
untuk bahan baku kertas. Sekitar 95 persen Acasia mangium, sisanya
Eucalyptus urophylla, Pinus mercusii, Paraserianthes falcataria dan
Gmelina arborea. Sehingga dengan kerja kerasnya, memilih benih unggulan
serta pemeliharaan teratur, maka jika tahun 1991 mereka baru menanam
27.928 ha, kini sudah menghutankan 200.000 ha lebih.
Dan yang paling membanggakan, dengan usia delapan tahun mereka sudah panen.
"Ini paling membanggakan, kami sudah mampu memanen pohon dalam waktu
delapan tahun. Sedangkan kompetitor kita Kanada, harus menunggu sekitar 40
tahun...." ujarnya. Sedangkan lahan yang baru dipanen tersebut, mereka
langsung menanam tanaman baru lagi di sana.
Beberapa tahun yang lalu kota Jakarta tenggelam direndam banjir, demikian
juga hal yang sama dialami oleh beberapa provinsi lain di Indonesia.
Keterangan resmi menyebutkan bahwa banjir terjadi akibat curah hujan
terlampau besar, air tak bisa lagi tertampung. Tetapi, daerah aliran
Sungai Musi dan beberapa anak-anak sungai di Sumatera Selatan yang tadinya
wilayah langganan banjir, saat itu justru bisa terbebas.
Daerah itu, seperti Lembah Sungai Musi, Lematang, Komering, Rawas, dan
Ogan, ini selama bertahun-tahun setiap musim hujan selalu dilanda banjir.
Namun sejak tahun 1995 (empat tahun setelah proyek penghutanan), wilayah
tersebut tidak lagi tersentuh oleh banjir meskipun hujan turun sangat
deras. Ini merupakan dampak tidak langsung dari mulai berfungsinya Hutan
Tanaman Industri (HTI) setempat sehingga hydro-orologis setempat sudah
dipulihkan.
Joedarso, pria pendiam yang lebih senang menyebut dirinya ‘rimbawan’, ini
dengan tulus berkata, "Media massa sering kurang adil. Setiap kali musibah
datang selalu ditulis dengan huruf besar. Hanya saja kalau ada daerah bisa
dibebaskan dari ancaman banjir, jarang sekali diberitakan..."
Citra negatif atau katakanlah persepsi negatif kepada para pelaku di
bidang kehutanan ini memang sudah melekat sejak lama. Pencitraan yang
tidak bisa disalahkan begitu saja. Hal mana diakibatkan oleh banyaknya
perilaku menyimpang di bidang ini seperti; penebangan liar, -namun resmi-,
yang tidak terlepas dari peran serta para pegawai kehutanan sendiri, baik
yang aktif di lapangan maupun mereka yang sebenarnya harus menegakkan
peraturan. Dan akibat dari ulah para pelaku-pelaku bidang kehutanan
tersebut sungguh sangat mengganggu keharmonisan tatanan kehidupan, dimana
kawasan hutan alam semakin gundul, yang berakibat pada terganggunya
lingkungan seperti rusaknya ekosistem serta datangnya musibah banjir yang
mengakibatkan dampak yang lebih besar lagi.
Namun Joedarso yang bergabung di PT. Musi Hutan Persada (MHP), Perusahaan
yang memegang HTI beberapa wilayah untuk menghutankan kembali wilayah
Lembah Sungai Musi, Kawasan hutan seluas 77.682 ha di Subanjeriji,
Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, 19.741 ha di Martapura, dan 198.741
ha terletak di Benakat, ini bertindak terbalik dengan pemegang HPH yang
dikenal selama ini, dia mengatakan bahwa mereka pemegang HTI pasti
melakukan penanaman.
Joedarso sendiri mengatakan bahwa tanpa lebih dulu menanam pohon, tidak
ada yang akan mereka tebang . Dia mengatakan, "Kalau saya pribadi lebih
senang memakai TPTP, Tebang Pasti Tanam Pasti...".
Sistem pengelolaan dalam HTI, sangat berlainan dengan pengelolaan dalam
HPH. Dimana hak para pemegang HPH yang menyebabkan adanya kebiasaan buruk
pada mereka yang selalu menebang habis seluruh pepohonan setempat, tidak
didapati di dalam sistem HTI ini, sebab lahan yang dicadangkan bukanlah
berupa hutan alam yang sudah ada pohonnya, melainkan berupa belukar dan
padang ilalang. Pokoknya, tanah tidak produktif yang sudah lama dibiarkan
telantar.
Dengan hak yang demikian itu, maka bersama rekan-rekannya sejak tahun
1991, telah mengubah belukar tidak produktif yang luasnya kira-kira
300.000 ha di Kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, Muara Enim dan Musi
Rawas (Sumsel) menjadi kawasan hutan yang kini telah merimbun lebat.
Bahkan, hasilnya sudah mereka nikmati.
PT. Musi Hutan Persada sejak tahun 1999, sudah mulai memetik hasil, panen
penebangan pepohonan generasi pertama yakni pohon yang mereka tanam pada
awal musim penghujan tahun 1991 ketika mulai membuka belukar tersebut. Dan
yang menambah lengkapnya prestasi panen pohon mereka adalah sejak beberapa
tahun lalu, hasilnya telah mulai diekspor dalam bentuk pulp yaitu bubur
kertas -bahan baku pembuatan aneka macam kertas- jadi bukan dalam bentuk
kayu gelondongan lagi. Hal tersebut bisa terlaksana sebab PT MHP telah
mengikat kontrak dengan PT Tanjungenim Lestari Pulp & Paper, Pabrik
pengolah potongan kayu menjadi pulp, yang dibangun di pinggir Sungai Musi,
dimana dalam kontrak disebutkan bahwa seluruh tebangan PT MHP akan
langsung ditampung oleh PT. TLP&Paper.
Selama ini telah dianjurkan kepada para pemegang HPH agar memakai sistem
Tebang Pilih Indonesia (TPI) dengan maksud agar pohon-pohon kecil yang
belum layak panen tidak diganggu sebagai pengganti pohon yang sudah
ditebang. Namun TPI ini kemudian diplesetkan menjadi Tebang Pasti Tanam
Insya Allah (TPTI). Begitulah perilaku para pengusaha hutan kita yang
selama ini berpikiran sempit dan hanya ingin mengeruk untung secepatnya.
Mereka menebang habis segala macam jenis pohon di kawasan hutan yang
mereka kelola, sementara kewajiban menanam pohon pengganti tidak dilakukan.
Kalaupun akan mereka lakukan, tetapi tidak sesigap/secepat ketika mereka
menebang. Penanaman pohon penggantipun hanya sedikit, memilih benih tanpa
seleksi, asal tanam, ditambah lagi dengan kurangnya upaya pemeliharaan.
Sehingga tidak mengherankan, begitu izin HPH-nya habis, yang tersisa hanya
tanah gundul sebab hutannya sudah ditebang habis namun tidak ditanami
kembali.
Hal tersebut terjadi memang sangat banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti lemahnya pengawasan, luas serta terpencilnya kawasan hutan yang
harus diamati, minimnya peralatan, sistem pengelolaan yang kacau, serta
lunturnya dedikasi para petugas sendiri.
Menanggapi masalah yang satu ini Joedarso mengatakan, "Semua ilmu tentang
pengelolaan hutan sudah diajarkan. Tetapi penerapannya di lapangan selalu
terpulang kepada pribadi masing-masing..." ►jk
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|