| |
C © updated 07122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama :
Johannes Baptista Sumarlin
Lahir :
Nglegok, Blitar, Jawa Timur, 7 Desember 1932
Agama :
Kristen
Katolik
Istri:
Th. Yostiana Soedarmi
Anak:
Empat (4) orang
Pendidikan :
- SD Negeri I, Blitar (1944)
- SMP, Kediri dan Yogyakarta (1947)
- SMA, Yogyakarta dan Jakarta (1952)
- Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1958)
- Universitas California, Berkeley, AS (M.A., 1960)
- Universitas Pittsburg, AS (doktor, 1968)
Karir :
- Asisten dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) (1957)
- Dosen dan selanjutnya guru besar FE UI (1960-sekarang)
- Sekretaris Dewan Moneter (1970-1973)
- Deputi Ketua Bappenas bidang Fiskal dan Moneter (1970-1973)
- Anggota MPR (1972-1988)
- Wakil Ketua Bappenas (1973-1982)
- Ketua Opstib, merangkap Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara
(1973-1983)
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, merangkap Ketua
Bappenas (1983-1988)
- Menteri Pendidikan ad interim (1985)
- Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan V (1988-1993)
- Ketua Bepeka 1993-1998
- Presiden Komisaris (Independen) Asuransi Ramayana Tbk. ( ASRM )
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adiprana III, 1973
- Bintang Grootkruis in de Orde van Leopold II dari pemerintah Belgia,
tahun 1975
Olahraga Kegemaran:
Bermain tenis dan jogging.
Alamat Rumah :
Jalan Banyuwangi 5 Jakarta Pusat Telp: 336177 353107
Alamat Kantor :
Jalan Kebon Sirih No. 49, Jakarta 10340
Phone : 021-337148 - Fax : 021-334825
Sumber:
Berbagai sumber, antara lain, PDAT dan buku ‘Kesan dan Kenangan dari Teman,
70 Tahun H. Sudharmono, SH’
|
|
| |
|
|
|
|
JB Sumarlin
Mengabdi di Pusat Kebijakan Ekonomi
Pria berperawakan kecil dan selalu memberikan senyuman menyejukkan, ini
memainkan peran dan pengabdian sentral pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba),
khususnya di bidang perekonomian. Sejak 1970 hingga 1998, dia berperan
dalam pusat kebijakan ekonomi dan keuangan. Dia salah seorang arsitek
ekonomi Indonesia yang ‘dibesarkan’ Widjojo dan ‘diandalkan’ Pak Harto.
Tahun 1970 hingga 1973, penganut agama Katolik kelahiran Nglegok, Blitar,
Jawa Timur, 7 Desember 1932, dengan nama baptis Johannes Baptista Sumarlin,
ini sudah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Moneter. Sebelumnya, ia bahkan
sudah mengabdi sebagai Deputi Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas.
Selanjutnya selama sepuluh tahun (1973-1983), Sumarlin menjabat Menteri
Negara Penertiban Aparatur Negara (Menpan), merangkap Wakil Ketua Bappenas
dan Ketua Opstib.
Kemudian, ia menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional (Menneg PPN) merangkap Ketua Bappenas tahun 1983-1988. Di
sela-sela periode itu ia ditunjuk sebagai Menteri Keuangan ad interim dan
Menteri Pendidikan & Kebudayaan ad interim, menggantikan Prof. Dr. Nugroho
Notosusanto yang wafat pada 1985.
Pada Kabinet Kabinet Pembangunan V periode 21 Maret 1988-17 Maret 1993,
Sumarlin menjabat Menteri Keuangan. Setelah itu, sebelum kejatuhan rejim
Orde Baru, Sumarlin dipercaya memimpin lembaga tinggi negara, selaku Ketua
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dia salah satu arsitek ekonomi Indonesia bersama para dedengkot ekonomi
lainnya, seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim dan Ali Wardhana. Mereka
dijuluki sebagai “mafia Barkeley”. Julukan yang muncul karena para penentu
dan pengambil keputusan di bidang ekonomi rejim Soeharto itu adalah doktor
ekonomi lulusan berbagai universitas dari lingkungan Barkeley, Amerika
Serikat.
JB Sumarlin, misalnya, adalah lulusan master bergelar MA (Master of Arts)
dari Universitas California, AS tahun 1960, dan lulusan doktor bergelar
Ph.D dari Universitas Pittsburg, AS tahun 1968. Untuk gelar doktornya
Sumarlin lulus dengan disertasi berjudul Some Aspects of Stabilization
Policies and Their Institutional Problems: The Indonesian Case 1950-1960.
Sebelum mengabdi di lingkungan pusat kebijakan ekonomi, lulusan S1
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) tahun 1958, ini sejak tahun
1957 sudah menjadi asisten dosen di almamaternya. Kemudian sejak tahun
1965 diangkat menjadi dosen, lalu sebagai guru besar FE-UI tahun 1979.
Sumarlin meraih gelar master (MA) dari Universitas California, Berkeley,
AS (1960) dan gelar doktor dari Universitas Pittsburg, AS (1968).
Sebelumnya, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan industri di Jakarta. Di
masa revolusi fisik, Sumarlin ikut bergerilya sebagai anggota Palang Merah
Indonesia, dan sebagai anggota TNI di Jawa Timur.
Atas pengabdiannya, ia menerima tanda kehormatan dari pemerintah RI berupa
Bintang Mahaputra Adiprana III, 1973. Dua tahun kemudian ia menerima
Bintang Grootkruis in de Orde van Leopold II dari pemerintah Belgia.
Penggemar olah raga tenis dan jogging, ini menikah dengan Th. Yostiana
Soedarmi, dikaruniai empat orang anak.
‘Anak Kecil’ di Belakang Widjojo
Tentang perawakannya yang kecil, itu pernah secara unik menjadi bahan
perkenalan dirinya dengan Sudharmono, mantan Menteri Sekretaris Negara
yang akrab disapa Pak Dhar. Ketika itu, di permulaan tahun 1969 atau awal
kebangkitan Orde Baru, Sumarlin selaku Deputi Bidang Fiskal dan Moneter
Bappenas diminta mendampingi Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro menghadiri
Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, di Istana Negara. Sudharmono saat
itu masih sebagai Sekretaris Presidium Kabinet, tugasnya membantu Jenderal
Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera.
Sudharmono (Pak Dhar), dengan gaya yang serius dan lugas, malah terkesan
‘arogan dan seram’, sambil jarinya menunjuk ke arah Sumarlin, bertanya
kepada Widjojo, “Siapa anak kecil yang duduk di belakang kursi Pak Widjojo
itu?” Sumarlin lalu langsung diperkenalkan Widjojo ke Pak Dhar. “Oh, ini
tenaga yang pernah Pak Widjojo sebutkan tempo hari, yang akan ditarik ke
Bappenas,” ujar Pak Dhar lagi, yang dengan nada seenaknya menimpali
perkenalan Sumarlin oleh Widjojo.
Memperoleh perlakuan demikian, Sumarlin sempat kaget, merasa bersalah, koq
berani-beraninya ikut duduk di belakang Widjojo menghadiri sidang kabinet
yang begitu penting bagi negara. Sebab yang hadir dalam sidang seperti itu
sangat terbatas dan selektif sekali hanya oleh para menteri. Bila pun ada
pendamping harus terlebih dahulu diberitahukan kepada Sekretaris Kabinet.
Sumarlin lalu tawar hati, minta kepada Widjojo agar pada sidang kabinet
selanjutnya diizinkan untuk tidak ikut mendampingi. Namun Widjojo
membesarkan hatinya untuk tetap saja seperti itu ikut hadir dalam
sidang-sidang kabinet selanjutnya. Ajakan Widjojo benar. Malah Sumarlin
menjadi salah seorang menteri paling dipercaya Pak Harto di bidang
ekonomi-keuangan.
Sewaktu menjabat sebagai Deputi Bappenas, Sumarlin sangat intensif bekerja
sebagai salah satu anggota Tim Penyempurnaan Bahan GBHN 1973, yang
dipimpin oleh Sudharmono selaku Sekretaris Kabinet. Setiap tahun Sumarlin
bertugas menyiapkan penyusunan Lampiran Pidato Kenegaraan yang disampaikan
oleh Pak Harto setiap tanggal 16 Agustus, di depan sidang DPR, yang
merupakan laporan tahunan pelaksanaan Repelita.
Sumarlin juga aktif sebagai anggota Tim Penyempurnaan Naskah GBHN 1973
pimpinan Sudharmono, anggota Dewan Pembina Harian Dharma Wanita pimpinan
Amir Machmud (Menteri Dalam Negeri), Wakil Ketua Tim Pengendali Pengadaan
Barang/Peralatan Pemerintah tahun 1980 pimpian Sudharmono, atau yang
sehari-hari dikenal sebagai Tim Keppres 10, serta sebagai Wakil Ketua Tim
Penghimpun Bahan-Bahan GBHN 1978, 1983, juga pimpinan Sudharmono. ►tsl/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|