| |
C © updated
05112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr intisari |
|
| |
Nama:
Jaya Suprana
Lahir:
Bali, Denpasar, 27 Januari 1949
Isteri:
Julia Suprana
Ayah:
Lambang Suprana
Ibu:
Lily Suprana
Pendidikan:
Lulusan Musikhochschule Muenster dan Folkwanghochschule Essen, Jerman
Prestasi:
Seni musik: Freundeskreis des Konservatoriums Muenster, Jerman, dan dari
Pangeran Bernhard, Belanda.
Kebudayaan: Budaya Bhakti Upapradana
Komputer, Best in Personal Computing Award 1995 dari Apple Macintosh Inc.
Industri-bisnis: The Best Executive Award 1998
Prestasi perusahaan: Trade Leader's Club, Madrid, dan Institut pour
Selection de la Qualite, Belgia)
Lingkungan hidup: Sahwali Award 1997
Kemanusiaan: Duta Kemanusiaan 1991-1992 Palang Merah Indonesia
Tokoh Humor Nasional 1996, pilihan pembaca majalah Humor
Sumber:
Kompas, Kompas Cyber Media, Intisari |
|
| |
|
|
|
|
Jaya Suprana
Si Multitalent Pencetus Kelirumologi
Jaya Suprana, orang Tionghoa yang besar dalam budaya Jawa. Pria bertubuh
tambun dan berkacamata tebal yang lahir di Bali, Denpasar, 27 Januari 1949
ini akrab di hadapan publik lewat acara televisi Jaya Suprana Show di TPI.
Pendiri Museum Rekor MURI dan pencetus kelirumologi ini mempunyai beragam
predikat – mulai dari pengusaha, pembicara, presenter, penulis, kartunis,
pemain piano hingga pencipta lagu – yang diakui oleh lembaga tingkat dunia
seperti Die Welt, Los Angeles Times, The Guardian, Wall Street Journal,
dan Straits Time.
Semasa muda, Jaya pernah menjadi pedagang buku bekas di Semarang pada
tahun 65-an. Bahkan ketika sekolah di Jerman ia tak sungkan menjadi tukang
bubut, tukang pasang ubin, atau menjadi pegawai kafetaria mahasiswa.
Sepulang belajar di Jerman ia sempat menjadi Manajer Pemasaran Jamu Jago,
sebelum naik jabatan sebagai presiden direktur.
Setelah sekitar delapan tahun menjadi direktur di perusahaan jamu yang
diwarisinya dari keluarga - yang berdiri sejak tahun 1918 - Jaya beralih
ke posisi presiden komisaris. Kini, tugasnya hanya mengarahkan GBHP (Garis
Besar Haluan Perusahaan) dan mengawasi kinerja perusahaannya.
Dalam berbagai kesempatan, Jaya selalu muncul bersama tokoh-tokoh politik
kelas wahid di negeri ini. Meskipun begitu, Jaya tidak tertarik pada
urusan politik. Di samping itu, ayahnya juga pernah berpesan agar Jaya
tidak terjun ke dunia politik karena politik pada prakteknya justru sering
menjadi berhala dan menguasai makhluk tertinggi ciptaan Tuhan itu.
Pada 27 Januari 1990, ia mendirikan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai
bagian dari visi ke depannya untuk menghimpun semua prestasi, perilaku,
dan kegiatan yang unik, langka, dan kreatif. Museum yang selokasi dengan
Museum Jamu Jago ini sudah menjadi objek wisata resmi Kota Semarang, Jawa
Tengah.
Sebagai seorang pemikir dan penulis, Jaya mengobok-obok berbagai literatur
dan media untuk mempelajari kekeliruan dan kesalahkaprahan yang telah
dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya, ia
memelopori istilah kelirumologi dan melahirkan buku berjudul Kaleidoskopi
Kelirumologi, yang mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap hal-hal yang
dianggap benar padahal salah di tengah-tengah masyarakat. Misalkan saja,
semboyan yang dipercaya masyarakat - mens sana in corpore sano (di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat). Jaya mengatakan bahwa di dalam
tubuh yang sehat, belum tentu hadir jiwa yang sehat. Jaya memberi contoh
Mike Tyson atau penghuni Rumah Sakit Jiwa, bertubuh sehat tapi jiwanya
sakit.
Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia memperoleh puluhan penghargaan
nasional maupun internasional dalam bidang seni musik (dari Freundeskreis
des Konservatoriums Muenster, Jerman, dan dari Pangeran Bernhard, Belanda),
kebudayaan (Budaya Bhakti Upapradana), komputer (Best in Personal
Computing Award 1995 dari Apple Macintosh Inc.), industri-bisnis (The Best
Executive Award 1998), prestasi perusahaan (Trade Leader's Club, Madrid,
dan Institut pour Selection de la Qualite, Belgia), lingkungan hidup (Sahwali
Award 1997), kemanusiaan (Duta Kemanusiaan 1991 - 1992 Palang Merah
Indonesia), dan lain-lain.
Sebagai kartunis, lulusan Musikhochschule Muenster dan Folkwanghochschule
Essen, Jerman ini telah menggelarkan karyanya di Jerman, Norwegia, dan
Indonesia sendiri. Sedangkan untuk urusan musik, selama ini Jaya dikenal
sebagai komponis dan pianis andal yang sudah tampil di berbagai negara di
Eropa, Amerika, Aljazair, Selandia Baru, dan lain-lain.
Pendidikan musik yang ditekuninya selama lima tahun membuat Jaya mampu
melahirkan karya-karyanya sendiri. Ia tampil pertama kali dalam resital
piano tunggal tahun 1981 di Taman Ismail Marzuki. Penampilan keduanya
digelar di Erasmus Huis untuk merayakan 50 tahun usia Yayasan Pendidikan
Musik (YPM). Di bidang kemanusiaan, ia ikut memelopori program donor
ginjal jenazah di Indonesia.
Pada pertengahan 2003 lalu, Jaya memelopori iklan layanan masyarakat
‘Indonesia Pusaka’ dan membuat program berdurasi 60 menit ‘Di Balik Adegan
Indonesia Pusaka’ yang ditayangkan di TPI di rumah produksi Jatayu
Cakrawala Film.
Iklan layanan masyarakat ‘Indonesia Pusaka’ yang dibuat dalam rangka
menyambut Satu Abad Bung Hatta ini merekam lebih dari 20 figur, sebagian
tokoh ternama, menyanyikan lagu kesayangan Bung Hatta, yakni Indonesia
Pusaka ciptaan Ismail Marzuki. Tokoh-tokoh ternama yang berhasil
‘dikumpulkan’ oleh Jaya antara lain Presiden Megawati Soekarnoputri,
mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ketua MPR Amien Rais, dan sejumlah
menteri dan mantan menteri.
Sementara dari nonpejabat ada artis Nurul Arifin, Marisa Haque, peharpa
Maya Hasan, violis Idris Sardi, Ketua Persatuan Tukang Becak Jakarta, dan
seorang wanita pemulung. Termasuk juga putri Bung Hatta, yakni Halida dan
Gemala. Waktu itu, pada setiap sesi rekaman masing-masing tokoh, Jaya
sibuk pula berfungsi sebagai pelatih menyanyi kilat, konduktor, penata
musik, sekaligus editor.
Kini, di usianya yang semakin senja, tanpa seorang anak, Jaya tetap
berkarya, berbuat kebaikan dan suka memberi. Ia mengangkat anak asuh dan
mendirikan Panti Asuhan Rotary-Suprana. Di atas tanah warisan almarhumah
ibunya, Lily Suprana, seluas 900 m2 di kawasan Candi Baru, Semarang, kini
tinggal sekitar 10 orang anak. Semuanya lelaki. Perkembangan panti yang
biaya operasionalnya didukung bersama dengan Yayasan Rotary ini memang
bagus karena kebanyakan anak asuhnya memperoleh ranking di kelasnya
masing-masing. Bahkan bagi anak yang mendapat rangking 1 diberikan hadiah
atas prestasinya itu.
Sifat suka memberi tidak lepas dari didikan keras sang ayah, Lambang
Suprana, yang mengajarnya untuk tidak memberhalakan kekayaan dan sadar
bahwa harkat dan martabat manusia bukan diukur dari kekayaan harta
bendanya, namun dari kekayaan akhlak dan imannya. Itulah mengapa, Jaya
tidak ambil pusing tentang masa tuanya, karena ia tinggal ‘menunggu mati’
saja dan siap pergi ke surga.
Mengenai kesuksesan yang diperolehnya, Jaya mempunyai pandangan sendiri.
Menurutnya, kesuksesan baginya belum tentu kesuksesan bagi orang lain. Ia
menganalogikannya dengan olahraga lari. Baginya, ia sudah termasuk sukses
mampu berlari 100m dalam waktu 10 menit, namun bagi Carl Lewis itu
merupakan prestasi memalukan. Oleh karena itu, Jaya mengatakan bahwa yang
penting bukan merasa sukses, melainkan mensyukuri hasil karya yang telah
ia perjuangkan.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|