| |
C © updated 21052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/im |
|
| |
Nama:
JANSEN HULMAN SINAMO
Lahir:
Sidikang, 2 Juli 1958
Isteri:
Tri Handayani
Anak:
- Imanda Priskila Sinamo
- Marco Antonio Carnegie Sinamo
Pendidikan:
Sarjana Fisika ITB Bandung (Lulus 1983)
Pengalaman Kerja
_ 1998 - 2005 : Institut Darma Mahardika (Direktur Utama)
_ 1988 - 1997 : Dale Carnegie (Direktur)
_ 1987 - 1988 : World Vision International (Manager)
_ 1983 - 1986 : Horizon Indonesia (Engineer)
Pengalaman Mengajar
_ Dosen Etika (1984-1989), ITB Bandung
_ Dosen “Negosiasi Bisnis” (1992-1996), MM-IPB Bogor
Publikasi:
_ Berselancar di Atas Gelombang Perubahan
_ Ethos 21: Delapan Etos Kerja Profesional
_ Mengubah Pasir Menjadi Mutiara
_ Pemimpin Kredibel, Pemimpin Visioner
_ Dari Pasir Menjadi Mutiara
Aktivitas Sosial:
_ Ketua, Badan Pemerhati Pembangunan Dairi
_ Ketua, Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba
Alamat Bisnis:
Institut Darma Mahardika
Pulogebang Permai Blok G-11/12, Jakarta Timur 13950
Telp. 021-480 1514 Fax. 021-480 0429
E-mail: jansen@institutmahardika.com
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
== 01
02
03 04 == Jansen Hulman Sinamo
(02)
Keharusan, Etos Pertama dan Utama
Jansen melewati masa kanak-kanaknya sama seperti kebiasaan umumnya
anak-anak lainnya. Masih terang dalam ingatannya tentang Sidikalang,
kota tempat ia dibesarkan. Hal pertama yang diingatnya adalah masa
sewaktu ia belum bersekolah, saat PKI sedang gencar-gencarnya dikejar
dan dihabisi TNI. Tembak menembak kerap terjadi di kotanya, membuat para
orang tua panik bila anaknya tidak pulang tepat waktu. Begitu pula orang
tua Jansen.
Mulai bersekolah tahun 1966, Jansen sedari awal menunjukkan prestasinya.
Sejak kelas tiga SD Jansen selalu meraih juara hingga ke bangku kuliah.
Bersekolah baginya terasa bagai air mengalir saja karena otaknya yang
lumayan encer.
Sambil bersekolah, Jansen membantu orang tuanya yang pegawai negeri
tetapi juga sebagai petani yang mengolah sawah, kebun, dan ternak. Di
tengah-tengah keseharian dalam keluarganya, Jansen bertumbuh dalam
asuhan, nasihat, filsafat, dan cita-cita orang tuanya.
Sebagaimana semua orang tua berkeinginan, orang tua Jansen juga
menginginkan anaknya jauh lebih baik dari mereka. Sebagai sulung dari
delapan saudara, Jansen menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan kedua
orang tuanya. “Kamu ini anak paling besar, adikmu tujuh, jadi kamu harus
berhasil, sekolahmu harus paling maju, kamu harus mampu menjadi
pengganti kami kelak bagi adik-adikmu,“ pesan ayah dan ibunya terus
menerus.
Kata ‘harus’ menjadi etos pertama dan utama yang secara tidak sadar
tertanam dalam batinnya. Ia diharapkan menjadi orang yang bisa menjadi
teladan dan layak diandalkan, dibela dan dibenarkan.
Jansen mampu melihat dan mengamini kebenaran maksud orangtuanya yang
baik itu. Karena orang tuanya sudah melalui masa-masa sulit yang membuat
kesempatan bagi mereka tidak terbuka luas. “Cukuplah saya bodoh,
cukuplah saya tidak sekolah, sungguh betapa sakit tidak bersekolah.
Bukan tidak mau sekolah, tapi waktu itu zaman Jepang, sekolah
dibubarkan. Ibu cuma sempat sekolah sampai kelas satu SD saja. Sekarang,
kalian harus sekolah setinggi mungkin,” kata ibunya mengenang masa
lalunya saat memberi nasihat kepada anak-anaknya.
Dalam hati orangtuanya mencuat cita-cita agar kelak anaknya bisa meraih
apa yang tidak pernah mereka peroleh. Keinginan untuk bersekolah tinggi
ini sempat mendapat komentar bernada kuatir dari sejumlah
saudara-saudaranya. “Kenapa harus disekolahkan jauh-jauh, tinggi-tinggi,
apa sanggup, apa cukup dana?“ Tapi orangtua Jansen bersikukuh: Jangan
kuatir, Tuhan Maha Pemurah. Tiap hari pasti ada rezeki baru. Iman yang
besar dari kedua orangtua ini tertanam dalam jiwa Jansen. Iman ini
jugalah menjadikannya memperoleh apa yang raih sekarang.
Jansen muda terus meniti waktu di Sidikalang hingga bangku SMA. Di
sela-sela kegiatan sekolah, dia mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan
dan kebudayaan baik di lingkungan sekolah, gereja, maupun kepanduan.
Suasana kota kecil yang tenang di mana penduduknya umumnya bertani dan
berniaga hasil bumi membuat Jansen akrab dengan alam.
Namun kelas tiga SMA Jansen pindah ke Bandung untuk mempersiapkan diri
memasuki ITB Bandung. Menurut pandangan waktu itu, masuk ke ITB dengan
modal lulusan SMA daerah adalah sangat sulit. Setahun di Bandung membuat
perbedaan signifikan, dia pun diterima di Jurusan Fisika ITB.
Orang tua Jansen pernah menginginkannya menjadi seorang pendeta. Dalam
benak orangtuanya, hanya ada dua profesi yang hebat, yaitu bupati dan
pendeta. Profesi lain seperti pengusaha atau politisi belum ada dalam
kamus mereka. Keinginan orangtua ini sebenarnya beralasan. Sejak kecil
anak sulung mereka ini mempunyai minat baca yang besar. Tapi sayang,
selain buku pelajaran buku lain hampir tak ada. Satu-satunya buku milik
keluarga adalah Alkitab. Inilah yang dilahapnya habis. Melihat kenyataan
itu, orangtuanya berkesimpulan, “Wah, ini anak calon pendeta.”
Memasuki SMP, Jansen mulai merambah dunia komik. Komik-komik karangan
Kho Ping Hoo yang banyak menyisipkan filsafat populer dalam
cerita-ceritanya adalah kesukaannya. Topik bacaannya pun bertambah
banyak saat di ITB. Jadi tidak heran meski mengambil jurusan fisika, ia
malah akrab dan doyan dengan bacaan yang bertemakan sastra, sejarah,
filsafat, teologi, kosmologi, biologi, psikologi, sosiologi,
antropologi, ekonomi, dan futurologi.
Public Speaking
Jansen mulai menemukan dunia public speaking waktu di tingkat tiga,
dengan seringnya diundang oleh kampus untuk menjadi pembicara atau
penceramah. Terkadang ia berpikir bahwa kegiatannya itu tidak jauh
berbeda dengan kegiatan seorang pendeta, hanya saja topiknya lebih luas,
seperti leadership, manajemen, pengembangan profesionalisme, dan
topik-topik lainnya yang hangat di kalangan mahasiswa.
Bagi Jansen, menekuni karir sebagai seorang dosen bukanlah pilihan yang
tepat. Pertimbangannya, dengan gaji dosen yang saat itu sangat kecil
pasti tidak akan cukup untuk membiayai dirinya sendiri dan keluarganya.
Oleh karena itu, ketika ia mendapat tawaran untuk bekerja di Jakarta
sebagai seorang seismic engineer – yang mencoba memetakan bawah bumi
untuk mencari dan memperkirakan letak sumber minyak – ia pun
menerimanya.
Namun, selama menjadi engineer Jansen masih belum menemukan kebahagiaan
sejatinya. Dari sisi otak dia sanggup sebagai engineer, tetapi hatinya
yang tidak. Ia masih terus berkelana mencari kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan public speaking. Pencariannya terjawab tatkala dosen
senior mata kuliah umum etika di ITB pergi ke luar negeri selama
beberapa tahun. Karena Jansen bertahun-tahun menjadi asisten dosen
tersebut, maka ia pun ditawari untuk mengisi kekosongan tersebut dengan
status dosen tidak tetap. Ia pun menerimanya dengan penuh semangat dan
sukacita. Setiap akhir pekan, ia menyempatkan diri ke Bandung hanya
untuk menumpahkan hasratnya mengajar.
Tahun 1984 adalah turning point sejarah hidup Jansen. Ia mengikuti Dale
Carnegie Training. Di sinilah ia menemukan perbedaan profesi antara
seorang dosen dan trainer. Segera, ia ingin menjadi menjadi trainer,
seorang public speaker. Hal itu ditunjukkannya dengan selalu datang
paling pagi sebelum training dimulai dan mengikuti training tersebut
dengan serius. Usaha kerasnya tidak sia-sia, begitu selesai training ia
pun ditawari untuk menjadi asisten. Betapa senang hatinya saat itu. Apa
yang ia nanti-nantikan kesampaian juga, dan berawal dari sinilah
karirnya sebagai seorang trainer dimulai.
Namun, meski sudah menemukan tempatnya, Jansen masih tetap melanjutkan
pekerjaannya sebagai seorang engineer. Tahun 1987, ia akhirnya
memutuskan keluar dari dunia engineering dan sepenuhnya menggeluti dunia
training dengan bergabung di Dale Carnegie Training. ►e-ti/atur-juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|