A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Publikasi
 ► Mahardika
 ► Galeri
 ► Profesi
 ► Konsultan
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 21052005  
   
  ► e-ti/im  
  Nama:
JANSEN HULMAN SINAMO
Lahir:
Sidikang, 2 Juli 1958
Jabatan
Direktur Utama Institut Darma Mahardika
Alamat Bisnis:
Institut Darma Mahardika
Pulogebang Permai Blok G-11/12, Jakarta Timur 13950
Telp. 021-480 1514 Fax. 021-480 0429
E-mail: jansen@institutmahardika.com
 
 
     
 
BERITA - INTERVIEW

 

Jansen Hulman Sinamo

Kibarkan Etos dari Sabang-Merauke

 

Di tengah hiruk-pikuk bergulirnya reformasi politik di negeri ini, Jansen Sinamo sesungguhnya telah pula meluncurkan reformasi etos Indonesia. Pendiri dan pemimpin Institut Darma Mahardika ini telah menggagas dan memelopori pelatihan etos kerja profesional yang disebutnya Ethos21. Dengan Ethos21 dia rindu dan yakin Indonesia nanti bisa menjadi bangsa yang maju di Asia, tempat bagi negara-negara yang lebih miskin minta bantuan, tempat bagi negara-negara yang ketika ditimpa bencana minta bantuan, tempat penyelenggaraan event-event internasional yang bermutu.

Dengan gigih dan aktif mengibarkan dan mengumandangkan etos kerja sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Dia berharap arus etos itu makin lama makin kuat. Seperti bola salju yang semakin lama semakin besar. Biarlah angin perubahan ini mula-mula sepoi-sepoi tapi lama-lama bisa menjadi angin puyuh. Untuk itu, dia pun berobsesi membangun pusat-pusat pelatihan etos tiap provinsi.

“Kalau saya bilang sih, dari Sabang sampai Merauke, etos harus berkumandang, harus berkibar,” kata Jansen Sinamo dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia selama lebih dua jam pada 6 April 2005 di kantornya. Sebagian materi percakapan itu telah kami rangkum dalam beberapa artikel. Berikut petikan wawancara antara Majalah Tokoh Indonesia [MTI] dengan Guru Etos Indonesia [GEI]:

MTI: Jepang, Amerika dan Eropa bisa demikian maju karena etos kerjanya. Lalu Indonesia sendiri menurut penilaian Anda?

GEI: Janganlah dulu saya menilai, saya kutip saja Mochtar Lubis. Lewat bukunya Manusia Indonesia [1977] Indonesia dikatakan munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, senang takhyul, lemah watak.

Etos Jepang adalah bersikap benar dan bertanggung jawab, berani dan kesatria, murah hati dan mencintai, bersikap santun dan hormat, bersikap tulus dan sungguh-sungguh, menjaga martabat dan kehormatan, mengabdi pada bangsa. Itu ajaran samurai.

Etos Jerman adalah bertindak rasional, berdisiplin tinggi, bekerja keras, berorientasi sukses material, tidak mengumbar kesenangan, hemat dan bersahaja, menabung dan berinvestasi. Tapi saya akan bertanya, etos Indonesia benar nggak seperti dibilang Mochtar Lubis itu?

MTI: Menurut Anda sendiri?

GEI: Siapa yang bisa memungkiri itu sekarang? Jadi mengapa kita terpuruk sebagai bangsa? Kita kan bangsa paria di dalam pergaulan internasional, utang kita termasuk paling banyak. Kalau ada bencana alam negeri kita sudah nggak mampu. Coba lihat bencana di Aceh dan di Nias, nyata betul kemiskinan kita, nyata betul ketidakberdayaan kita, ya kan? Kita ini mengurus rakyat sendiri sudah hampir nggak mampu. KKN kita juara, big five di dunia, kan gitu.

Parahlah kita ini sebagai bangsa. Saya tidak mengatakan seluruh 220 juta rakyat Indonesia begini semua. Kalau dikatakan misalnya anggota DPR sebenarnya nggak peduli sama rakyat, dari 550 anggota DPR yang dipikirkan adalah naik gaji padahal mereka sedang pura-pura menentang kenaikan BBM, tapi kan nggak semuanya begitu. Masih banyak di Senayan sana yang punya hati nurani, yang memikirkan rakyat, yang bersedia berkorban, masih banyak. Arus utamanya kan nggak begitu. Di aparat lembaga-lembaga penegak hukum nggak begitu semuanya. Nah ini, kita memilih berdiri di mana?

Pertanyaan lain, apa kita diam saja? Tentu saja tidak. Jadi kita butuhkan program-program pengembangan etos kerja. Dan saya berpendapat harus kita perkuat semangat-semangat ini.

Ada contoh dari sebuah bank nasional. Bank ini mencoba merumuskan etos mereka, yakni berorientasi kepada nasabah, menjunjung integritas, berdisiplin, kerjasama, saling percaya dan saling menghormati, pemberdayaan SDM, keseimbangan, kemudian kepemimpinan dan kepedulian pada lingkungan. Ini yang ingin ditegakkan oleh mereka.

MTI: Tapi itu kan belum tentu dalam kenyataan.

GEI: Oh tentu, tapi dengan merumuskan etosnya saja, mereka sudah mencoba memulai bertumbuh kembang ke arah yang dituju. Nah, kita harus memperkuat semangat ini. Banyak konsultan, banyak orang, banyak tokoh yang juga telah mencoba membuat yang begini. Dari kalangan teman-teman yang Islam, misalnya, ada AA Gym, Ary Ginandjar dsb. Khotbah-khotbah AA Gym itu kan semuanya memperkuat dan memperbaiki akhlak, perilaku, sikap, dan etos. Banyak tokoh-tokoh dari berbagai kalangan mencoba menyumbangkan apa yang mereka pikir baik demi bangsa ini, lebih bagus di dunia bisnis global dan dalam pergaulan internasional.

Karena apa? Saya melihat sebenarnya Indonesia ini begitu luar biasa, semestinya kita ini kaya raya dan makmur dan bangsa yang besar. Ukuran kita raksasa, kekayaan alam kita raksasa, sumber daya hayati kita raksasa, sumber daya mineral kita raksasa. Kok rakyatnya miskin, aneh kan? Nasib bangsa ini adalah bangsa yang makmur sebenarnya. Artinya, kalau kita analisa dari sudut sumber daya, kita ini ditakdirkan untuk makmur, untuk kaya, untuk sejahtera, untuk kuat, untuk besar. Tapi nyatanya kan nggak. Nah, menurut saya, itu disebabkan karena perilaku sosial kita, kultur kerja kita, sebagai bangsa belum bagus.

Jadi sumbangan etos kerja ini penting untuk memperkuat bangsa ini dari sudut kerja, etos kerja. Karena apa pun sebutannya, apakah itu bisnis, apa itu birokrasi, politik, sebenarnya akhirnya bergulat pada dunia yang disebut kerja. Semua orang bekerja, ada pekerja politik, ada pekerja bisnis, ada pekerja sosial, ada pekerja birokrasi. Jadi kita semua adalah makhluk pekerja.

Nah, sekarang bagaimana caranya agar melalui proses kerja, melalui kegiatan kerja, kita membangun diri sendiri, membangun organisasi sekaligus membangun bangsa. Bangsa ini apa sih? Bangsa ini kan agregat dari seluruh rakyatnya. Jadi kalau republik ini isinya maling, ya republik malinglah kita. Bukan cuma kampung maling, republik maling! Hal itu kan nggak boleh dibiarkan, kita harus berusaha agar republik ini menjadi republik dermawan. Jadi kalau ada bencana kapan-kapan, misalnya di Afrika, ya mbok kita mengirim kapal ke sana, ngirim helikopter, ngirim dokter, ngirim tentara. Kita sudah lihat kemarin di Aceh dan Nias. Bangsa-bangsa yang sudah maju adalah bangsa yang dermawan, mereka mengirim uang, mengirim orang, mengirim kapal, mengirim teknologi, disumbangkan buat kita. Kita kan jadi bangsa yang dikasihani. Thailand nggak mau terima. Kami sanggup mengatasi problem kami, katanya.

MTI: Tapi merasa tidak perlu dikasihani juga.

GEI: Lha, itulah munafiknya kita ini. Sudah dibantu begitu, berterimakasih pun nggak tahu, kan keterlaluan. Seolah-olah kita ini bangsa yang punya harga diri tinggi. Mestinya, sudah miskin ya mbok rendah hati, gitu kan?

MTI: Apa karena nggak rendah hati maka menjadi miskin?

GEI: Begitu juga betul.

MTI: Kembali ke etos kerja, etos Indonesia seperti disebut Mochtar Lubis tadi. Apa kira-kira yang membuat sehingga etos Indonesia itu menjadi sedemikian rupa?

GEI: Itu karena contoh-contoh yang kita lihat. Mereka yang disebut kaum elit, kaum pemimpin, memiliki kekuasaan formal dan non-formal. Bupati misalnya, jelas dia memiliki kekuasaan formal tetapi secara non-formal dia menjadi model. Jadi begitu elit masyarakat mencontohkan kegiatan yang seperti tadi, negatif misalnya, rakyat bukan hanya meniru tapi ikut terkondisi karena power kaum elit. Kita terkondisi sebab kalau kita melawan arus, kita jadi celaka. Contohnya, sebuah instansi sebut saja camatnya korupsi. Nah, kemudian korupsi ini pada tahap tertentu juga dibagi-bagi. Ah, sudahlah tekenlah, tekenlah, gitu.

Misalkan satu dari sepuluh orang di situ nggak mau teken, kan jadi masalah. Dia, nggak ikut arus? “Ah sok suci lu.” Itu saja sudah hukuman. Tidak solider lu, nggak setia kawan lu. Ya sudahlah, ini dana bagi-bagi, pokoknya tekenlah. Jadi mau nggak mau di terpaksa dan akhirnya juga menjadi suka, jadi ikut kan? Dan itu dianggap jadi normal semua. Jadi interaksi sosial antara yang elit dengan yang bawahnya, antar pemimpin dan rakyatnya sedemikian rupa sehingga kita terkondisi seperti itu.

Contoh lain. Kita semua harus berbaju Korpri pada hari Jumat. Satu hari Anda semua berbaju Korpri, saya nggak. Saya kan jadi merasa bersalah sendiri? Anda melihat saya dengan mata yang aneh, wah, ini orang kok berani beda, ini baju Korprinya nggak dipakai, memberontak atau gimana ini. Informal kekuasaannya tapi membuat saya merasa berdosa kalau tidak ikut berbaju Korpri.

MTI: Indonesia dibilang juga munafik?

GEI: Dulu pada zaman Pak Harto, kalau ada orang dibilangi: “Anda kayaknya dipersiapkan menjadi gubernur atau jadi menteri atau jadi panglima.” Orang itu akan menjawab, “Oh, nggak, nggak, saya tidak berambisi, saya ini hanya mengabdi.” Padahal sesungguhnya, semua orang tahu dia sedang mempersiapkan diri dengan berbagai cara, menjilat sana sini, supaya menjabat. Tapi kalau didesak jawabnya, “Nggaklah, itu tidak etis diungkapkan.” Jadi munafik. Padahal kan wajar seorang jenderal kepengen jadi panglima.

Mestinya kan bilang, “Yah saya kira untuk itulah saya belajar dan berkarier sampai sekarang, syukur saya sudah mencapai jenderal, kalau Tuhan mengijinkan dan atasan mendukung, insya Allah jadi panglima.” Ngomong gitu kan lebih jujur sebenarnya. Masak seorang jenderal nggak berpikir menjadi panglima? Jadi kita ketawa saja. Kita sudah terbiasa begitu.

Nah, yang kita butuhkan adalah perilaku sosial yang positif. Contohnya, jika ada kecelakaan pesawat atau kereta api mestinya dirjennya mundur. Dia harus ngotot mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kecelakaan itu. Orang kan hormat kalau begitu. Dan, masyarakat jadi mengerti apa artinya tanggungjawab.

MTI: Jadi sekarang, di Indonesia ini, darimana memulai untuk membangkitkan suatu etos kerja yang positif itu?

GEI: Bisa dari mana saja. Kalau Jepang dulu mereformasi dirinya mulai dari kaisar, Kaisar Meiji. Dikenal dalam sejarah sebagai Restorasi Meiji. Mereka memperbaiki bangsa negaranya karena seorang kaisar sadar, seorang kaisar mengalami pencerahan.

Kalau Jerman mulai dari seorang pendeta, Martin Luther namanya. Walaupun waktu itu dia tidak memahami dampak dari reformasi terhadap kehidupan sosial ekonomi. Dia hanya berpikir waktu itu reformasi theologia, reformasi iman. Tapi reformasi yang digerakkan Martin Luther itu mengubah Jerman. Bahkan bukan hanya Jerman tapi Eropa.

Jadi darimana mulainya? Saya bilang darimana saja bisa mulai. Siapa saja yang sadar duluan. Saya bilang di Indonesia ini reformasi bisa dimulai dari dunia bisnis, dari orang bisnis, bisa dari orang politik, bisa dari orang birokrasi, bisa dari dunia pendidikan. Saya percaya begini sebab pengembangan etos semacam ini kan bergulir.

Nanti begitu dia bergulir lama-lama dia makin kuat. Saya juga melihat banyak teman-teman yang mencoba menyumbang terhadap restorasi dan reformasi republik ini dengan caranya sendiri. Saya kira pada waktunya nanti mestinya menguat. Ini pekerjaan yang tidak selesai dalam sepuluh tahun, mungkin kita butuh 50 tahun, kita butuh 100 tahun. Tapi yang penting bola harus digulirkan.

MTI: Kalau nggak salah, Anda juga bicara soal perubahan?

GEI: Betul, ini semua tentang perubahan. Mengembangkan etos itu berarti mengubah etos yang lama menjadi etos yang baru. Memperbaiki itu juga perubahan, membuat standar baru berarti juga perubahan. Dan kalau kita bicara perubahan, kita mesti punya visi.

Jadi kita harus punya mimpi tentang Indonesia yang lebih baik, harus kita punya visi tentang Indonesia yang lebih hebar. Bagaimana bentuk persisnya kita nggak tahu, tapi kita kan rindu Indonesia bisa menjadi tuan rumah Olimpiade, bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia, gitu. Nah, itu tanda-tanda yang baik.

Jika suatu hari ada gempa bumi misalnya di Iran atau di mana pun, kita rindu Indonesia bisa mengirim sumbangan 250juta dolar, gitu. Artinya kita harus menjadi bangsa donatur bukan bangsa kere yang mengemis dan minta-minta. Kapan kita bisa melunasi hutang dan kemudian berubah menjadi negara yang memberi pinjaman? Kapan dari Indonesia ada pemenang Nobel, anak-anak kita sendiri?

Kapan di Indonesia ada kesebelasan yang bisa setanding dengan Eropa? Kapan negara kita ini punya saham dominan di IMF, ADB, dan Bank Dunia? Kapan Indonesia menjadi tempat diselenggarakannya event-event dunia? Itulah sebagian tanda-tanda kemajuan. Kita menginginkan begitulah.

MTI: Menurut Anda makna sebuah perubahan itu kira-kira bagaimana?

GEI: Perubahan adalah hakikat kehidupan. Hidup artinya berubah terus. Jadi, perubahan adalah proses yang niscaya. Arah perubahan itulah yang perlu dicek. Apa kita berubah makin merosot atau kita berubah menjadi lebih baik. Tentu saja kita harus memperkuat perubahanperubahan ke arah yang positif. Jadi manajemen perubahan harus diperkuat, kepemimpinan bagi perubahan harus dibikin, akselerasi perubahan perlu diselenggarakan.

MTI: Ada rekayasa perubahan, gitu?

GEI: Ya, harus. Manajemen etos ini menjadi enzim perubahan, lokomotif perubahan. Dan kita membutuhkan jutaan lokomotif, mesin-mesin jet perubahan untuk membawa Indonesia ke kejayaan. Saya tidak mengatakan cuma saya, nggak. Tapi ini satu mesin. Dan masih dibutuhkan ribuan bahkan jutaan mesin lainnya.

Begitu saya berubah dari negatif menjadi positif, efeknya dua kali lipat. Saya kasih contoh. Misalnya tadinya saya seorang penjudi yang buang duit Rp10 juta per bulan. Sudah, saya stop main judi. Stop main judi saja itu kan sudah 100% berubah. Nah, sekarang saya bergerak ke positif, bekerja lebih baik, berbisnis lebih bagus sehingga saya bisa menyumbang Rp10 juta. Ini kan sudah dua kali perubahannya.

Jadi tiap kali seseorang berubah menjadi positif, dampak sebenarnya 200%. Jadi, itu yang perlu kita perkuat. Dan saya kira majalah Tokoh Indonesia, betapa pun kondisinya, adalah bagian dari perubahan menuju positif.

MTI: Kita hidup di masyarakat yang beragama, bila dikaitkan dengan etos, ini ada relasinya nggak?

GEI: Jelas. Agama itu salah satu fungsinya antara lain memberi kita kepastian keselamatan dalam hidup ini. Agama memberi kita orientasi dan makna kehidupan. Agama juga memberi kita nilai-nilai untuk dipegang.

Betapa pentingnya nilai-nilai sebagai pegangan. Ambil contoh jika ada anggota keluarga kita meninggal. Kalau seorang tokoh keluarga meninggal, hal itu kan menimbulkan efek yang sangat traumatik. Bayangkan saja seorang ayah yang anaknya masih TK atau SD sudah meninggal. Itu kan efeknya luar biasa bagi istri dan anak-anaknya. Namun mereka akan stabil dalam kehidupannya kalau mereka memiliki nilai-nilai pegangan, sehingga tidak hanyut dalam kedukaan, putus asa, ketidakmengertian lalu kesedihan yang terlalu mendalam.

Mereka biasanya dihibur dengan mengatakan bahwa itulah yang terbaik buat mereka. Kalau Tuhan mengambil ayahmu pastlah kamu akan dipelihara-Nya. Tuhan itu ada, penuh kasih, begini, begini, dst. Nah, itu kan memberi kekuatan.

Jadi agama memberi nilai-nilai sebagai pegangan. Dan agama adalah pemberi pegangan terpenting di dalam kehidupan. Semua agama memberi pegangan dan tuntunan dalam perjalanan hidup. Nah, nilai-nilai ini sebenarnya menjadi sumber etos terpenting. Satu contoh, agama Islam memberi pegangan kepada umatnya berdasarkan iman dan percaya pada kasih sayang Allah. Jadi, apa pun penderitaan yang menimpa, kita bisa dikuatkan, menjadi sabar dan tekun. Nah, ini kan sebuah etos.

Contoh lain, agama Kristen, percaya pada kasih Tuhan dan karenanya kita harus saling mengasihi. Kasih itulah yang kemudian diwujudnyatakan oleh orang Kristen di dalam berbagai pelayanan. Orang yang melayani karena dia mengasihi itu kan sudah sebuah etos. Perilakunya menjadi khas dalam etos melayani. Jadi agama itu sumber terpenting untuk membentuk etos kita. Jadi hubungan agama dan etos itu erat sekali.

MTI: Tapi ada juga negara-negara yang tidak beragama tapi memiliki etos yang tinggi, bisa juga seperti itu ya?

GEI: Kalau dibilang negara yang tidak beragama nggak ada sebenarnya. Karena negara secara formal tidak mengatakan kami beragama atau tidak. Kecuali beberapa negara theokrasi seperti Iran, misalnya, mereka menyebut negara Islam. Tapi tidak ada negara yang mengatakan kami negara ateis, nggak ada. Yang ada adalah individu yang atheis, tidak percaya pada Tuhan tapi itu jumlahnya tetap minoritas. Mayoritas orang masih percaya kepada Tuhan, mayoritas beragama, itu yang pertama.

Kedua, meskipun dia mengaku sekarang ini tidak lagi beragama, atheis, tetapi sebenarnya nilai-nilai sosial yang dianutnya adalah produk dari nilai-nilai sosial yang diajarkan agama sejak ribuan tahun yang lalu. Ada sajalah katakan orang Katolik yang ketika dia berumur 40 lalu tahun menyatakan diri tidak lagi Katolik, dia memutuskan beragama tidak lagi penting. Namun walaupun tidak lagi mengikuti misa tetapi sebenarnya dia kan masih memegang nilai-nilai yang dihasilkan oleh agama Katolik, sejak ribuan tahun belakangan ini.

Nggak bisa lepas dari nilai-nilai itu walaupun formalnya tidak beragama lagi. Dia masih percaya pada nilai-nilai itu dan mempraktekkan nilai-nilai itu. Dia masih menghargai nilai-nilai itu walaupun dia mungkin secara formal mengatakan saya tidak lagi orang Katolik. Paling tidak yang ingin dia katakan, saya bukan lagi Katolik yang kayak dulu, sudah Katolik KTP sekarang.

Jadi sejarah peradaban kita menunjukkan bahwa nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat sekarang di tiap kebudayaan, di tiap negara, di tiap benua, di tiap masyarakat adalah nilai-nilai yang sebenarnya terbentuk oleh karena pengaruh agama selama ribuan, dan itu masih sangat dominan. Misalnya, toleransi, saling menghargai, saling mencintai, tenggang rasa, itu semua nilai-nilai yang dahulu dan terus akan diajarkan oleh agama. Mungkin kita sudah lupa bahwa nilai-nilai itu berasal dari agama. Keadilan misalnya; nilai keadilan itu kan diajarkan sejak purbakala, paling tidak sejak Nabi Musa. Begiu juga ajaran tentang kasih, keadilan, kebenaran, kepedulian, bahwa kita harus menghormati kehidupan, bahwa kita harus peduli dengan yatim-piatu, janda, itu sudah ribuan tahun umurnya.

Kalau sekarang ada dinas sosial, itu adalah lembaga yang dibentuk oleh negara untuk mewujudkan nilai-nilai yang semacam itu yang sudah beredar dalam kehidupan masyarakat kita sejak ribuan tahun yang lalu.

MTI: Jadi kesimpulannya ajaran agama adalah sumber etos yang paling hakiki atau yang paling penting. Indonesia adalah insan yang religius dan menganut berbagai agama tapi kelihatannya tidak relevan terhadap tingkah lakunya. Bagaimana ini kira-kira, di mana letak kekurangannya?

GEI: Benar, tapi sebaliknya saya ingin katakan bahwa sebenarnya Indonesia juga sangat potensial mengubah etosnya menjadi etos yang bagus. Nah, pertanyaannya tadi darimana kan gitu? Tadi kan sudah saya katakan bahwa proses pembentukan atau pembusukan etos adalah lahir dari sebuah interaksi sosial di mana yang berkuasa, yang elit, dengan kekuasaan formalnya dan informalnya mempengaruhi kita ke arah pembusukan sedemikian rupa sehingga entah kapan mulainya dan kapan terjadinya berpisahlah kehidupan sosial dan kehidupan agama.

Maksudnya, beragama itu urusan pribadilah sama Tuhan. Urusan hari Minggulah itu. Tapi yang jahat-jahat yang kulakukan ini bolehlah itu dari Senin sampai Sabtu. Tapi hari Minggu kita jadi lain kan gitu? Nah, itu masalahnya, tanpa sadar. Antara sekular dan sakral kemudian tanpa sadar ada pemisahan.

Kalau waktu sembahyang ya saleh tapi balik lagi ke tempat kerja bisa nggak saleh. Mana ada polisi yang mengaku tidak beragama di Indonesia ini. Jadi bisa juga terjadi ketika dia menilang, dia lupa bahwa sejam lagi dia harus sembahyang. Jadi artinya, kesalehan pribadi, kealiman pribadi tidak diteruskan menjadi kesalehan sosial, kesalehan kerja. Jadi etos kerja ini adalah kesalehan kerja, kalau boleh dibilang. Malah ada yang begini, okelah Senen sampai Sabtu boleh saya berdosa untuk dibersihkan pada hari Minggu, nanti saya minta ampunlah sama Tuhan. Tapi habis diampuni, Senen mulai lagi. Jadi semacam itu.

Saya korupsi Rp100 juta dan ketika ada acara di gereja saya sumbang Rp10 juta. Nah, masih net buat saya Rp90 juta. Uang haram ini kan terbersihkan oleh sumbangan tadi, gitu lho. Jadi ada semacam dikotomi jadinya. Tapi ini kan keliru. Sebenarnya nggak boleh terjadi. Justru ibadah, entah kita beribadah lima kali sehari atau sekali seminggu maka ibadah itu harus kita teruskan di dunia kerja. Kekuatan yang kita peroleh dari ibadah itu menguatkan kita di dunia kerja. Bahkan kerja itu sendiri adalah sebuah ibadah. Nah, penghayatannya musti begitu. Yang saya ingin katakan juga adalah bukan saja kalau kita saleh di tempat kerja maka keselamatan iman kita menjadi lebih nyata dan lebih kita hayati. Kita lebih merasa yakin hidup kita bermakna dan akan diselamatkan oleh Tuhan, sedang diselamatkan oleh Tuhan. Tapi bukan hanya itu, kalau kita saleh di tempat kerja dalam artian kesalehan sosial, kesalehan kerja tadi, etos kerja tadi, kita pun sebagai makhluk pekerja akan lebih sukses.

MTI: Tadi mengenai lemahnya etos kerja Indonesia. Apakah hal itu juga mungkin terjadi dari proses pembelajarannya baik formal maupun informal?

GEI: Ya, jadi guru pun adalah elit. Dalam terminologi lama kan disebut, ‘guru kencing berdiri, muridnya kencing berlari’. Jadi guru sebagai panutan, sebagai penguasa. Dia kan penguasa di kelas. Mana boleh dibantah oleh murid, sama dengan bupati terhadap pegawainya kan? Jadi guru adalah elit, adalah penguasa, karena itu dia akan dicontoh. Tapi apakah dia juga mencontohkan keguruannya, menghayati keguruannya itu juga soal lain kan?

Jadi secara ringkas saya katakan bahwa elit di dalam masyarakat apakah dia bupati, apakah dia pendeta, apakah dia camat, apakah dia guru, atau apakah orangtua (orangtua juga penguasa), apakah dia manajer, apakah dia direktur, apakah dia polisi. Semua jabatan-jabatan itu, nama-nama seperti itu adalah penguasa de facto yang formal dan informal akan mengondisikan mereka-mereka yang di bawah kekuasaannya akan ikut. Hanya pribadi-pribadi yang luar biasalah yang mampu memberontak terhadap dominasi dari elit-elit semacam ini.

MTI: Kalau dilihat dari sisi pendidikan formal, kira-kira apa yang kurang pada proses pendidikan di lembaga pendidikan formal sehingga etos Indonesia bisa sedemikian rupa?

GEI: Sebenarnya sama, cuma ini perbedaan tingkat saja. Kita tahulah, sekolah kita pun didikte, didominasi oleh institusi yang lebih tinggi daripada sekolah yaitu Dinas Pendidikan, Departemen Pendidikan.

MTI: Atau mungkin memerlukan satu kurikulum tersendiri di pendidikan formal?

GEI: Tentu saja diperlukan program-program atau pelajaran-pelajaran budi pekerti, etos, ini jelas diperlukan. Tetapi selain itu juga bagaimana caranya agar proses pendidikan itu atau birokrasi pendidikan itu adalah proses yang memperkuat, memberdayakan bukan melemahkan. Sebetulnya, ini mirip dengan pertanyaan apakah saya butuh orangtua? Jelas saya butuh orangtua. Anak-anak butuh orangtua. Tapi orang tua seperti apa yang dibutuhkan? Yaitu orangtua yang mengayomi, yang melindungi tapi juga tidak over melindungi, tetapi memberi penguatan, pemberdayaan, lalu pembebasan. Toh akhirnya anak itu harus keluar dari rumah pada waktunya, masak dikangkang dan dikungkung terus oleh orang tuanya, kan tidak wajar. Jadi mesti begitulah sekolah sebenarnya, pada akhirnya dibebaskan dan diberdayakan.

MTI: Institut Darma Mahardika adalah sebuah lembaga dalam rangka pengembangan etos kerja. Seperti apa kira-kira wajahnya di masa depan?

GEI: Bayangan kita sih banyak ya. Tapi sekarang kita masih dalam tahap mempopulerkan etos ini. Membuatnya terkenal, dikenal dan dimengerti orang tentang apa yang kita kerjakan. Kita masih membutuhkan lebih banyak instruktur, lebih banyak guru, lebih banyak penelitian. Macam-macam yang kita butuhkan karena kita kan tidak mendapat santunan atau tunjangan atau modal dari siapa pun sehingga kita harus mencari sendiri nafkah kita, dana-dana pengembangan kita, dana-dana untuk kita bertumbuh secara sehat sebagai organisasi.

Itulah sejarah kita pada dasarnya. Jadi intinya adalah kita harus menjual jasa-jasa kita ke masyarakat. Atas jasa-jasa itu kita memperoleh imbal balik, yang kemudian kita investasikan dalam rangka pengembangan institusi ini. Harapan saya, bagaimana caranya agar Institut Darma Mahardika bisa bermitra dengan semua Diklat-Diklat Pemerintah sehingga etos menjadi program yang organik dalam rangka pengembangan SDM badan-badan pemerintah misalnya dengan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, dengan kampus-kampus, dengan sekolah-sekolah.

Bagaimana caranya agar kita juga bisa membangun pusat-pusat pelatihan etos tiap provinsi, itu juga cita-cita. Kalau saya bilang sih, dari Sabang sampai Merauke, etos harus berkumandang, etos harus berkibar.

MTI: Ada rencana membuka ruang kelas?

GEI: Oh tentu, entah bagaimana caranya kita memang harus punya ruang kelas. Karena setiap kali kita bicara soal ini kita membutuhkan ruangan. Sekarang itu bisa di hotel, bisa di forum, bisa di aula atau di mana-mana.

MTI: Kalau semacam sekolah?

GEI: Oh bisa saja, kita lagi berpikir cuma kan biayanya itu mahal, yang sekarang sedang populer, punya orang lain yang kita pakai. Kita mendatangi mereka, bukan orang datang ke gedung kita tapi kita yang datang ke gedung orang.

MTI: Tapi mungkin ada individu-individu, bukan korporat, belum tentu bisa ke sana. Jadi maksud kami berupa sekolah begitu?

GEI: Ya, mungkin juga sampai ke situ. Akhirnya kita bikin sekolah. Tapi menurut saya, lebih baik kita memasuki lembaga yang sudah ada, kita memberi program, kita memberikan orang. Program itu kan macam-macam, ada buku, ada guru atau instruktur, ada kaset, ada VCD, ada film, macam-macam. Jadi kita tidak harus punya kelas-kelas lalu orang berdatangan.

Memang itu satu cara tapi cara lain bisa juga sebaliknya. Misalnya, dengan radio jangkauannya kan jauh lebih luas, dengan televisi jangkauannya lebih luas. Ya mungkin dalam waktu dekat ini agar kita masuk ke media massa, tadi radio sudah, koran oke ada, nah Anda ini dari Tokoh Indonesia, ini kan bagian dari itu semua? Nanti kemudian ke televisi. Kita bicarakan etos, ada mimbar etos, gitulah.

MTI: Sebagai Guru Etos Indonesia atau pelopor pembelajar etos, seperti apa kira-kira obsesi Anda tentang etos Indonesia ini?

GEI: Nah, suatu hari kelak ada orang di Eropa atau di Amerika atau di Afrika membuat studi kasus tentang Indonesia? Mengapa Indonesia maju? Jawabnya, karena etos orang Indonesia sudah bagus!

Saya bermimpi, pada tahun 2050 Indonesia bisa menjadi studi kasus keberhasilan di dunia. Jepang menjadi studi kasus keberhasilan sejak tahun 70-an. Usai PD II mereka hancur lebur, tetapi sekarang the best in Asia. Kita kan juga bisa begitu. Tahun 2050 orang bertanya, mengapa Indonesia yang terjun bebas tahun 1997 ke lembah krisis, nyaris ambruk, kolaps dan bubar, sekarang bisa menjadi negara yang hebat? Mengapa? Saya harap, nanti ada yang mengatakan dalam studi kasusnya, etos bangsa Indonesia memang sudah berubah.

MTI: Sejak reformasi 1998, apakah sudah terlihat ada perubahan etos di Indonesia?

GEI: Belum terdeteksi secara signifikan. Itulah sebabnya banyak yang kecewa pada Gus Dur, pada Megawati, dan sekarang orang pun kecewa pada SBY-JK. Orang mengeluh, “Wah, di bawah SBY-JK harga BBM juga naik, korupsi berjamaah tetap semarak, hukum belum tegak, illegal logger bebas berkeliaran, premanisme jalan terus.” Dan masih banyak keluhan lainnya. Jadi memang belum terlihat perubahan kentara. Kalau saya bilang, ada sih, tapi saking kecilnya, belum terdeteksi oleh radar masyarakat luas.

Dan saya tetap yakin bahwa sesungguhnya alam reformasi adalah kondisi yang tepat untuk mengubah segala hal di republik ini: filsafatnya, paradigmanya, sistemnya, prosedurnya, aturan-mainnya, termasuk mengubah etos manusia Indonesia. Yang utama, kita sudah tidak lagi di bawah rezim otoriter, kita sudah bebas. Iklim ini kita hargai karena sangat vital. Dalam situasi seperti ini, obsesi saya, manusia Indonesia, civil society Indonesia, dunia bisnis Indonesia, politik dan birokrasi Indonesia kiranya bersama-sama berubah dan mengejawantah menjadi bangsa terkemuka di Asia.


MTI: Sejak adanya Guru Etos Indonesia?

GEI: Ya, antara lain lah. Why not? Limapuluh tahun lagi, seratus tahun lagi, ketika anak cucu kita menguak sejarah bangsanya, mereka berseru, bangsa kita beruntung punya guru etos, kata mereka, boleh toh bermimpi?

MTI: Kalau Indonesia sekarang memerlukan sebuah gerakan atau restorasi etos Indonesia, darimana memulainya?

GEI: Ya, saya sudah mulai dan entah ke mana nanti, entah bagaimana, saya juga nggak bisa ramalkan. Karena ini kan fenomena sosial yang sering nggak bisa ditebak, bersifat emergent, nggak bisa diduga arahnya.

Saya nggak mau bikin rencana muluk-muluk. Jadi pengembangan etos di Indonesia ini harus dengan skala begini, ya buat saya sekarang hal itu unplannable, nggak bisa direncanakanlah. Biarlah arus ini menjadi arus yang mengemuka, arus yang makin lama makin kuat. Biarlah ini seperti bola salju yang semakin lama semakin besar. Biarlah angin perubahan ini mula-mula sepoi-sepoi tapi lama-lama bisa menjadi angin puyuh. Itu namanya fenomena emergent. Nah, entah bagaimana akhirnya, saya juga nggak bisa ramalkan. Tapi kalau saya ditanya bagaimana harapan, cita-cita, obsesi, bayangan-bayangan, visi, saya bisa ceritakan. Saya rindu dan yakin Indonesia nanti bisa menjadi bangsa yang terkemuka di Asia, tempat bagi negara-negara yang lebih miskin minta bantuan, tempat bagi negara-negara ketika ditimpa bencana minta bantuan, tempat di mana kita bisa menyelenggarakan event-event internasional dengan meriah di republik ini.

MTI: Itu bisa dicapai dengan perubahan etos?

GEI: Ya, musti begitu, sebab ini pondasi? Tanpa itu kita tetap begini.

MTI: Jadi dalam bahasa lain, tanpa perubahan etos, Indonesia tidak akan berubah lebih maju, lebih makmur?

GEI: Ya, kita tidak bisa kita harapkan apa-apa tanpa etos yang kuat. Jadi, harus ada perubahan etos sebab etos itu fondasi, strategi, dan soulsi. ►e-ti/atur-juka

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)