| |
C © updated 21052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/im |
|
| |
Nama:
JANSEN HULMAN SINAMO
Lahir:
Sidikang, 2 Juli 1958
Jabatan
Direktur Utama Institut Darma Mahardika
Alamat Bisnis:
Institut Darma Mahardika
Pulogebang Permai Blok G-11/12, Jakarta Timur 13950
Telp. 021-480 1514 Fax. 021-480 0429
E-mail: jansen@institutmahardika.com
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Jansen Hulman Sinamo
Etos Kerja Indonesia
Salah satu faktor yang menyebabkan krisis multidimensi Indonesia sejak
tahun 1997 adalah merajalelanya etos kerja yang buruk. Jansen mengambil
contoh di tiga bidang saja. Pertama di bidang ekonomi, masyarakat lebih
mengutamakan ekonomi rente daripada ekonomi riil, sebuah cerminan etos
kerja yang ingin cepat kaya tanpa kerja keras.
Kedua, di bidang birokrasi, untuk bisa duduk di jabatan tertentu
harus menyogok, yang mencerminkan etos yang mengutamakan jabatan demi
uang dan kekuasaan daripada prestasi dan pelayanan publik. Ketiga, di
bidang pendidikan, ijazah bisa dibeli asal ada uang, merupakan cerminan
etos buruk yang menginginkan gelar tanpa kompetensi.
Sebagai perbandingan, Jansen lantas mengutip etos Jepang dan Jerman.
Jepang terkenal dengan etos Samurai, (1) bersikap benar dan
bertanggungjawab, (2) berani dan ksatria, (3) murah hati dan mencintai,
(4) bersikap santun dan hormat, (5) bersikap tulus dan sungguh-sungguh,
(6) menjaga martabat dan kehormatan, dan (7) mengabdi pada bangsa.
Sedangkan Jerman dikenal memiliki etos (1) bertindak rasional, (2)
berdisiplin tinggi, (3) bekerja keras, (4) berorientasi sukses material,
(5) tidak mengumbar kesenangan, (6) hemat dan bersahaja, serta (7)
menabung dan berinvestasi.
Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia
Indonesia [1977], ‘etos kerja’ orang Indonesia adalah (1) Munafik atau
hipokrit. Suka berpura-pura, lain di mulut lain di hati; (2) Enggan
bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam; (3) Berjiwa feodal. Gemar
upacara, suka dihormati daripada menghormati dan lebih mementingkan
status daripada prestasi; (4) Percaya takhyul. Gemar hal keramat, mistis
dan gaib; (5) Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan,
plinplan, dan gampang terintimidasi. Dari kesemuanya, hanya ada satu
yang positif, yaitu (6) Artistik; dekat dengan alam.
Pandangan Mochtar Lubis ini kemudian dipertanyakan kembali oleh Jansen.
Benarkah Indonesia memiliki etos seperti itu? Namun Jansen mengakui
bahwa etos orang Indonesia di atas memang sulit dipungkiri, tampaknya
merupakan sebuah kenyataan yang pahit.
Dan karena hal tersebut bangsa Indonesia kini sudah menjadi bangsa
paria di dalam pergaulan internasional. Utang semakin banyak, korupsi
marajalela dan tidak mampu menangani bencana dalam negeri. Contohnya
saat bencana di Aceh dan Nias, menjadi cermin yang nyata betapa miskin
dan tidak berdayanya bangsa ini. Mengurus rakyat hampir tidak mampu
tetapi KKN jalan terus.
Melihat kenyataan ini, sebagai anak bangsa apakah akan berdiam diri
saja? Tentu saja tidak. Sebagai bentuk kepeduliaan itulah Jansen bersama
rekan-rekannya di IDM mengkampanyekan etos kemana-mana.
Jansen berkeyakinan bahwa dari 220 juta rakyat Indonesia, tidak semua
memiliki etos yang buruk. Misalkan ada pendapat yang mengatakan bahwa
DPR sebenarnya tidak peduli pada rakyat karena mereka masih
sempat-sempatnya memikirkan kenaikan gaji sementara mereka (pura-pura)
menentang kenaikan harga BBM. Tetapi tentu, tidak semua dari 550 anggota
tersebut yang berperilaku seperti itu. Di Senayan pasti masih ada yang
mempunyai hati nurani, benar-benar memikirkan kepentingan rakyat, dan
bersedia berkorban.
Atas keyakinan seperti itulah Jansen terus berusaha memperkuat etos
sebisa mungkin dan dengan demikian turut memberi andil dalam mengubah
etos bangsa ini. Dan Jansen tentu tidak sendirian. Masih banyak yang
peduli. Ia mengambil contoh, sebuah bank nasional saat ini sedang
mencoba merumuskan etos mereka yaitu (1) berorientasi kepada nasabah,
(2) menjunjung integritas, (3) berdisiplin, (4) kerjasama, (5) saling
percaya dan saling menghormati, (6) pemberdayaan SDM, (7) keseimbangan,
(8) kepemimpinan, dan (9) kepedulian pada lingkungan. Itulah etos yang
hendak ditegakkan dan diharapkan bisa mengubah mereka menjadi lebih
baik.
Dengan adanya komitmen yang dimulai dengan merumuskan etos seperti itu,
setidaknya menunjukkan adanya tekad memperbaiki diri untuk menjadi lebih
baik. Jadi, ibaratnya, dari sekian banyak pulau di Indonesia yang sudah
kumuh, masih terdapat pulau-pulau yang bersih.
Indonesia dikarunia sumber daya alam yang melimpah ruah dan jumlah
penduduk yang besar. Bagi Jansen, itu menunjukkan bahwa Indonesia
sebenarnya adalah sebuah negara yang kaya, bangsa yang besar. Dan itu
merupakan modal untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Kenyataannya rakyat miskin bertambah banyak, pengangguran semakin
meningkat, dan banyak anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk
bersekolah.
Mengapa semua itu bisa terjadi? ”Sekali lagi, hal ini disebabkan oleh
etos bangsa Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Etos kerja sangat
penting untuk memperkuat bangsa dari sudut kerja, karena semua bidang
kehidupan seperti bisnis, politik, sosial, dan sebagainya sebenarnya
bergulat pada sebuah dunia yang disebut kerja. Ada pekerja politik,
pekerja bisnis, pekerja sosial, pekerja birokrasi, yang semuanya
menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk pekerja. Lewat bekerja, kita
membangun organisasi dan bangsa kita,” katanya penuh semangat.
Jansen pun mengungkapkan harapannya akan bangsa ini. “Republik ini
harusnya adalah republik dermawan. Jadi bila ada bencana di
negara-negara lain, Indonesia bisa mengirim kapal, helikopter, dokter,
tentara, dan sebagainya.“ Mengambil lagi contoh bencana di Aceh dan
Nias, dengan jelas memberikan gambaran ciri khas bangsa yang sudah maju
dan tinggi peradabannya. Mereka adalah bangsa yang dermawan, cepat dalam
mengirim bantuan.
Rendahnya etos Indonesia menurut Jansen juga diperparah dengan
negatifnya keteladanan yang ditunjukkan oleh para pemimpin. Mereka
merupakan model bagi masyarakat yang bukan hanya memiliki kekuasaan
formal, namun juga kekuasaan nonformal yang justru sering
disalahgunakan.
Misalkan seorang pemimpin melakukan korupsi, dan karena mempunyai
kuasa untuk menutupi perbuatannya, hasil korupsi itu dibagi-bagikan ke
bawahannya. Awalnya mungkin ada beberapa orang yang menolak untuk ikut
ambil bagian. Tetapi karena adanya tekanan, dikucilkan, dikatakan sok
suci, tidak setia kawan, dan sebagainya, mau tidak mau ia pun terpaksa
ikut ambil bagian, dan lama kelamaan ia malah ketagihan dan
mengganggapnya sebagai hal yang normal.
Interaksi sosial di antara elit dengan level di bawahnya, pemimpin
dengan rakyat, membuat situasi menjadi terkondisi demikian. Oleh karena
itu yang dibutuhkan adalah dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang
positif. Misalkan ada kecelakaan kereta api, seorang dirjen harus bisa
menunjukkan tanggungjawabnya dengan menyatakan mundur dari jabatannya.
Dengan melakukannya, akan timbul sikap respek dan hormat dari
masyarakat, dan ini akan menjadi pembelajaran yang berharga.
Melihat kenyataan etos di Indonesia yang buruk, Jansen menawarkan
solusi. Bagi ia, jawaban atas keberhasilan sebuah bangsa atau organisasi
terletak pada etos kerja (culture) mereka. Dalam buku berjudul Culture
Matters, Huntington menulis prakata yang mengatakan tiga puluh tahun
yang lalu, Ghana dan Korea Selatan memiliki kesamaan dalam banyak hal
seperti indikator ekonomi dan sebagainya.
Namun, sekarang Korea Selatan sudah menjadi negara yang sangat maju
sedangkan Ghana nyaris tidak mengalami perubahan alias berjalan di
tempat. Kenapa hal itu bisa terjadi? Semua analisis akhirnya sampai pada
satu kesimpulan, akar penyebabnya adalah culture (budaya).
Culture dalam bahasa Jansen adalah etos. Etos mencakup sikap terhadap
waktu, kerja, dan masa depan yang kemudian membentuk sehimpunan perilaku
khas individu atau organisasi. Pada tingkat internasional sudah
dibuktikan bahwa maju tidaknya peradaban sebuah bangsa ditentukan oleh
etosnya. Perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Matshushita dari
Jepang, Kodak dari Amerika, juga berhasil karena mempunyai etos kerja
yang unggul.
Begitu pula dengan tokoh-tokoh yang terkenal dari berbagai latar
belakang seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandi, dan sebagainya. Mereka
semua muncul sebagai tokoh dunia karena etos - cita-cita, nilai,
prinsip, pilihan, standar perilaku – yang mereka miliki berbeda dari
manusia kebanyakan. Bercermin pada pengalaman di ataslah yang menjadi
motivator dan menggerakkan Jansen untuk membuat Ethos21. ►e-ti/atur-juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|