| |
C © updated 25082007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/pikiran rakyat |
|
| |
Nama:
Prof. Drs Jakob Sumardjo
Lahir:
Klaten, Jawa Tengah, 26 Agustus 1939
Agama:
Katolik
Isteri:
Jovita Siti Rochma
Anak:
Empat orang
Pendidikan:
- SD Kanisius, Klaten dan Yogyakarta (1953)
- SGB BOPKRI, Yogyakarta (1956)
- SGA BOPKRI, Yogyakarta (1959)
- IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (1962)
- IKIP Negeri, Bandung (1970)
Karir:
- Guru SMA St. Angela (1962-1980)
- Dosen merangkap Ketua Jurusan Teater di ASTI Bandung (1980)
- Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
- Kritikus sastra dan di berbagai media
Alamat Rumah:
Pasir Layung Xw1, Padasuka, Bandung
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Jakob Sumardjo
Bercerai Kita Runtuh
Indonesia bersatu karena faktor eksternal. Namun, keruntuhannya akibat
faktor internal. Kita tak mampu menjaga kesatuan karena tak ada "musuh"
bersama. Kini, zamannya lu, lu; gue, gue, bukan "kamu adalah aku", kita;
tetapi "kami dan mereka".
Mengakui yang lain, yang berbeda, menghormati, dan ikut menjaga
keberbedaan kini dinilai tidak waras. Yang waras adalah gua, gua; lu, lu.
Kamu bukan aku. Dan karena kamu mengganggu keberadaanku, kamu harus
minggir atau aku lenyapkan.
Prinsip "kamu bukan aku" ini sudah menjalar dalam hubungan negara-rakyat,
milik umum-milik privat, perusahaan-buruh, kepala sekolah-murid,
lurah-penduduk. Kita kaget saat rel KA digergaji agar gerbongnya
terguling, saat kaca-kaca jendela KA retak dilempari batu, lampu-lampu
taman dipecahi, monumen dan arkeologi dikotori grafiti, trotoar jadi
kaki lima, kolong jalan layang menjadi hunian.
Itu semua hanya gejala kecil yang baru timbul. Selama ini kita
menganggap waras-waras saja saat prinsip lu, lu; gue, gue, yang jauh
lebih raksasa, telah berlangsung puluhan tahun. Gua pejabat, lu rakyat.
Lu memotong rel KA, gua memotong anggaran perbaikan kampung dan dana
bantuan bencana. Lu menyerobot lahan kosong di kota, gua menyerobot
ratusan hektar hutan tropis. Lu bikin grafiti di sejumlah situs
purbakala, gua telah lama membiarkan benda milik negara diperdagangkan
di luar negeri. Lu bikin rumah di kolong jembatan layang, gua menggusur
hunian kumuh di kota demi "kepentingan umum". Apa yang kini kau lakukan,
cuma tiruan dari yang aku lakukan puluhan tahun lalu.
Zaman edan
Gajah di pelupuk mata tak tampak, kutu tanaman di halaman tetangga
tampak seperti gajah. Kita buta terhadap hukum kausalitas.
Kekurangajaran rakyat kecil, ketidakwarasan rakyat kecil, kenekatan
rakyat kecil yang kian berani dan menonjol akhir-akhir ini adalah akibat
pertunjukan teater negara yang selama ini kita mainkan. Jika para
pembesar boleh menggusur paksa, membabati hutan, membiarkan banjir,
lumpur, menyerbu keluarga kami, mengapa saya tidak boleh membangun rumah
di lahan kosong milik mereka? Jika mereka boleh memotong anggaran
miliaran rupiah sehingga jembatan runtuh, bangunan SD ambruk, dan jatuh
korban, mengapa saya tidak boleh memotong rel kereta api, menggali jalan
umum. Mengapa mereka yang sudah puluhan tahun melanggar hukum dibiarkan
hidup mewah, sedangkan kami yang melanggar hukum demi nyawa sendiri
dituduh biadab?
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Ketika guru-guru (lelaki)
kencing berdiri di tepi jalan, murid-murid mungkin kaget akan
ketidakwarasan guru- guru ini. Namun, saat kencing berdiri itu dianggap
waras-waras saja oleh para guru, para murid menirunya lebih ekstrem.
Mereka kencing sambil berlari sepanjang jalan. Inilah zaman edan. Dalam
zaman edan, yang waras itu edan, dan yang edan itu waras. Inilah yang
terjadi pada zaman reformasi ini. Membunuh, merampok, dan mencuri milik
umum itu dianggap baik, menipu publik itu baik asal semua ada
hubungannya antara urusan privat dan umum. Semua ketidakwarasan itu
waras belaka selama terjadi oposisi biner antara privat dan publik.
Namun, ketidakwarasan itu jelas tidak waras jika menyangkut hubungan
publik-publik dan privat-privat.
Mencuri milik negara atau milik umum itu wajar. Malah tidak waras kalau
ada pribadi yang tidak memanfaatkan kesempatan itu. Merusak milik negara
itu juga wajar-wajar belaka, baik pribadi pejabatnya maupun rakyat kecil
yang terpepet. Sebaliknya, atas nama negara, atas nama publik, seorang
pejabat sah-sah saja menggusur, merampas, menghancurkan milik rakyat
kecil.
Yang berkuasa dan yang tak berdaya adalah pasangan kembar oposisi.
Pasangan kembar ini bukan saling melengkapi, saling menghormati, saling
mengakui, dan saling mengawini, melainkan pasangan perseteruan. Negara
dan rakyat pasangan permusuhan, pertikaian, perceraian. Setelah bersatu
pada masa revolusi, bulan madu negara-rakyat ini menjadi pasangan musuh.
Rakyat mulai berani dan beringas merusak barang-barang milik negara,
milik umum.
Kontradiksi etika
Rakyat adalah murid yang baik, penurut. Tetapi jika yang seharusnya
dipatuhi, disegani, dituruti, diteladani malah kencing berdiri, apa
boleh buat jika rakyat mengencingi guru-guru itu. Negara ini rusak oleh
pemimpinnya sendiri. Para pengelola negara bersikap kontradiktif dengan
etikanya sendiri. Yang seharusnya menjadi teladan, menjadi pecundang.
Yang seharusnya mengayomi, ikut merusak. Yang seharusnya melayani, minta
dilayani. Yang seharusnya membantu malah minta bantuan. Bukan melindungi,
malah mengancam.
Bagaimana rakyat dapat tahan menonton teater negara ini. Kini saatnya
rakyat memainkan teaternya sendiri. Jika dalam teater negara rakyat jadi
korban, dalam teater rakyat negara jadi korban. Rakyat mulai merusak
milik negara. Lambang-lambang pemerintahan dihujat. Benda-benda milik
pemerintah dirusak.
Ini tanda-tanda zaman, sebuah gejala-gejala awal. Rakyat sudah tidak
waras lagi menggergaji rel kereta api, merusak jalan tol, membakar
gedung mewah kabupaten, mencorengi monumen-monumen negara. Jika teater
negara ini tidak segera menghentikan lakon lamanya, tidak heran jika
ketidakwarasan rakyat akan meningkat bukan saja pada lambang milik
negara dan pemerintahan, melainkan menjurus kepada aktor-aktornya.
Peradilan rakyat akan muncul. Revolusi Perancis dan revolusi Khmer Merah
di Kamboja bisa terwujud di Indonesia. Kegilaan tidak akan dapat
dibendung lagi.
Seuntung-untungnya yang gila, lebih untung yang tidak ikut gila, meski
tak dapat bagian.
* Jakob Sumardjo Esais, Kompas, Sabtu, 25 Agustus 2007
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|