A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 25082007  
   
  ► e-ti/pikiran rakyat  
  Nama:
Prof. Drs Jakob Sumardjo
Lahir:
Klaten, Jawa Tengah, 26 Agustus 1939
Agama:
Katolik
Isteri:
Jovita Siti Rochma
Anak:
Empat orang

Pendidikan:
- SD Kanisius, Klaten dan Yogyakarta (1953)
- SGB BOPKRI, Yogyakarta (1956)
- SGA BOPKRI, Yogyakarta (1959)
- IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (1962)
- IKIP Negeri, Bandung (1970)

Karir:
- Guru SMA St. Angela (1962-1980)
- Dosen merangkap Ketua Jurusan Teater di ASTI Bandung (1980)
- Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
- Kritikus sastra dan di berbagai media

Alamat Rumah:
Pasir Layung Xw1, Padasuka, Bandung


 
 
     
 
BERITA

 

Jakob Sumardjo

Kisah Si Kabayan


Prof. Drs Jakob Sumardjo, esais kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 26 Agustus 1939, kini, selain mendalami pantun Sunda, juga tengah mendalami berbagai kisah Si Kabayan. Menurutnya, kisah-kisah humor yang terdapat dalam Si Kabayan itu selalu mengandung nilai-nilai filosofis ala kaum sufistik.

Alkisah, Si Kabayan menanyai istrinya tentang apa yang akan dilakukannya kalau suatu hari keduanya mendadak kaya raya. Istrinya bilang, bila kaya raya ia akan membeli segala barang yang selama ini diimpikannya, mulai dari rumah mewah, perhiasan, mobil, dan sebagainya. Pokoknya ingin hidup enak.

Mendengar jawaban istrinya semacam itu, seketika itu pula Si Kabayan memukuli pantat istrinya sambil berkata, "Kamu perempuan boros, tidak bisa menjaga harta suami!". Dipukul semacam itu, tentu saja istri Si Kabayan nangis keras hingga bapak mertuanya datang. Lalu ditanyalah Si Kabayan oleh sang mertua, apakah Si Kabayan sudah memberi sejumlah uang kepada istrinya? Dengan enteng Si Kabayan menjawab, bahwa hal itu belum dilakukannya.

"Kita bisa tertawa mendengar kisah itu. Namun demikian, hikmah yang dikandungnya cukup mendalam, bahwa berpikir tentang yang bukan-bukan itu tidak boleh. Ini artinya manusia senantiasa harus merujuk dirinya dengan apa yang dipunyainya. Lebih tegasnya, harus realistis dalam membaca denyut kehidupan yang ada di hadapan dirinya," ujar Jakob Sumardjo, yang menulis esai di HU Pikiran Rakyat sejak awal tahun 1970-an.

Pada bagian lain, Jakob mengakui bahwa sastra dan budaya Sunda itu tidak kalah dengan sastra dan budaya lainnya yang diproduksi oleh suku-suku lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Orang yang menciptakan tokoh Kabayan itu, pastilah orang genius. Saya yakin penulis kisah Si Kabayan itu dari kalangan kaum sufi. Kalau tidak, mana mungkin humor-humor tersebut mengandung hikmah semacam itu," kata Jakob, sambil menambahkan, selain mendalami kisah Si Kabayan, ia tengah menulis pula sejumlah cerita pendek yang siap diterbitkannya jadi buku. (Soni FM/(PR Rabu, 21 Februari 2007).
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)