| |
C © updated 20052003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama :
Dr (HC) Jakob Oetama
Lahir:
Borobudur, 27 September 1931
Agama :
Katolik
Pendidikan:
- SD, Yogyakarta (1945)
- SMA (Seminari), Yogyakarta (1951)
- BI Ilmu Sejarah P & K, Jakarta (1956)
- Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta (1959)
- Fakultas Sosial Politik UGM, Yogyakarta (1961)
Pengalaman Kerja:
- Guru SMP Mardiyuana di Cipanas (1952)
- Guru SMP Van Lith di Jakarta (1953)
- Redaktur mingguan Penabur di Jakarta (1955)
- Pemred Intisari (1963)
- Pemred Kompas (1965-1980)
- Pemimpin Umum Kompas (1980-sekarang)
- Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia (1980-sekarang)
Karya Tulis:
Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin (skripsi
di Fisipol UGM tahun 1962)
Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001)
Berpkir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).
Organisasi/Kegiatan Lain:
- Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
(1965-1969)
- Anggota DPR Utusan Golongan Pers (1966-1977)
- Ketua Pembina Pengurus Pusat PWI (1973)
- Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN (1974
- Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia
- Anggota Dewan Penasihat PWI
- Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ)
- Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai,
Amerika Serikat
- Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar
(1980)
- Direktur Impor PT Inpers (1980)
- Komisaris PT Dasar Utama Pers (1980)
- Ketua Bidang Pendidikan SGP (1981)
- Bendahara Yayasan Obor Indonesia (1981)
- Komisaris Dewan Penyantun LBH (1981)
Alamat Rumah :
Jalan Sriwijaya Raya 40, Jakarta Selatan
Alamat Kantor :
Harian Kompas, Palmerah Selatan 22, Jakarta Pusat Telp: 543008
Sumber:
Suara Pembaruan 19 April 2003, Kompas 19 April 2003 dan PDAT
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
== Jakob Oetama (02)
Jurnalisme Kepiting
Oleh Ignatius Haryanto
Menyebut Jakob Oetama dan Kompas ibarat menyebut sesuatu dalam satu
tarikan napas: Jakob Oetama adalah Kompas dan Kompas adalah Jakob Oetama.
Keduanya saling mempengaruhi. Walau Jakob Oetama, yang akrab dipanggil "J.O."
di kalangan Kelompok Kompas Gramedia, tak sendirian mendirikan Kompas -bersama
dengan almarhum P.K. Ojong- J.O. hidup lebih lama dari rekannya. J.O. juga
mengenyam sukses perusahaan yang mereka dirikan pada 1965.
Bagaimana Jakob Oetama mengembangkan idenya soal jurnalisme?
Jika seseorang berulang tahun dan dihadiahi enam buah buku, total hampir
2.000 halaman, kemungkinan besar dia punya peran penting dalam tradisi
membaca dan menulis di republik ini. Jakob Oetama, salah satu pendiri
harian Kompas dan kini pemimpin umum suratkabar terbesar Indonesia,
menerima hadiah itu ketika berulang tahun ke-70.
J.O. yang besar dalam kultur Jawa pernah jadi guru, sebelum P.K. Ojong
atau Auw Jong Peng Kun, mengajaknya masuk dalam dunia jurnalistik. Sekali
masuk dalam dunia jurnalistik, J.O. menyelam jauh dan jadi salah satu raja
dalam sejarah pers Indonesia modern.
Mungkin J.O. tak mengira Kompas jadi sedemikian besar sebagai salah satu
kerajaan media di Indonesia, yang memiliki puluhan media cetak, stasiun
radio, stasiun televisi, sejumlah penerbitan, jaringan toko buku terbesar
di Indonesia, selain pengaruhnya yang luas dalam pembentukan opini warga
negara Indonesia.
Kompas bukan semata suratkabar yang terbit tiap hari, tapi juga
menggelindingkan sejumlah isu dan menawarkan diri sebagai wahana diskusi
berbagai komponen masyarakat. Banyak studi, dalam dan luar negeri, pernah
ditulis soal Kompas lewat berbagai aspek. Ada yang menulis dimensi
humanisme transendental yang jadi salah satu ideologi Kompas, misalnya
Kees de Jong dari Belanda. Ada pula yang menulis soal evolusinya menjadi
grup bisnis pers bak gurita. Ada yang menulis secara kritis menurunnya
ketajaman tajuk Kompas pada periode Orde Baru. Ada pula yang menulis
semangat P.K. Ojong.
Banyak orang menyebut bahwa Jakob Oetama adalah salah satu sobat Menteri
Penerangan Harmoko, yang menduduki kursi itu tiga kali atau 15 tahun dalam
rezim Orde Baru. Sekaligus Harmoko salah satu pembantu kesayangan Presiden
Soeharto. Tapi J.O. pada titik tertentu menentukan sikap yang sesungguhnya
ketika digelar pengadilan kasus gugatan majalah Tempo terhadap Harmoko.
J.O. yang menjabat sebagai Pelaksana Harian Dewan Pers bersaksi pada Maret
1995, bahwa tak ada rekomendasi dari Dewan Pers untuk membredel tiga
mingguan, masing-masing Tempo, Editor, dan Detik, pada Juni 1994.
Sebelumnya Harmoko mengatakan bahwa pencabutan surat izin penerbitan tiga
mingguan tersebut didasarkan rekomendasi dari Ketua Pelaksana Dewan Pers
Jakob Oetama. Tak jelas bagaimana reaksi Harmoko mendengar kesaksian J.O.
Tapi bagi J.O. inilah titik tempatnya harus menentukan sikap secara jelas.
Bagaimana Kompas mendefinisikan diri ketika berhadapan dengan warga negara,
negara, dan kelompok bisnis? Sebuah tulisan Jakob Oetama pada 1985
berjudul "Arah Perkembangan Media Massa Dewasa Ini" bisa dijadikan acuan (dimuat
ulang dalam buku Pers Indonesia: Berkomunikasi dalam Masyarakat Tak Tulus).
"Apabila media massa mengambil tempat di dalam masyarakat dan menjadi
bagian dari suatu sistem masyarakat seluruhnya, maka logislah apabila asal
mula pengaruh bukan dari media, melainkan dari masyarakat."
"Masuk dalam kategori mana, sistem sosial-politik yang berlaku di negara
sedang berkembang dan secara eksplisit yang berlaku di Indonesia?"
Secara hati-hati J.O. menjawab pertanyaan itu. "Demokrasi, Otoriter,
ataukah Totaliter? Sistem sosial-politik Indonesia pasti tidak masuk
kategori totaliter. Dikatakan masuk spektrum demokrasi, sering tampak
adanya berbagai kecenderungan otoriter. Dimasukkan ke dalam spektrum
otoriter, tidak juga pas. Ada unsur-unsur pokok demokrasi, bahkan juga
dalam kebudayaan dan operasinya."
J.O. mencoba menjawabnya secara elegan, sekaligus sangat mudah ditafsirkan
sebagai penjelasan berbelit-belit, walau barangkali inilah cara menjawab
yang menukik ke pokok persoalan. "Barangkali ada cara lain untuk memandang
masalahnya. Sebenarnya, membuat kategorisasi suatu sistem-sistem sosial
secara statis telah ditinggalkan. Sebagai pandangan yang dianggap lebih
memadai ialah pendekatan yang dinamis. Orang tidak melihat sistem yang
berbeda itu dalam suatu pengotakan, tetapi lebih dalam suatu kontinuum,
dalam suatu perkembangan. Apakah untuk mencoba memahami persoalan di
negara-negara sedang berkembang, pendekatan kontinuum itu tidak lebih kena?"
Argumentasi berbelit-belit itu memang bergaya "J.O. sekali" atau "Kompas
sekali." Kecenderungannya berputar-putar sebelum masuk ke inti persoalan.
Persoalan begitu kompleks, sikap dalam menghadapi kompleksitas itu, kadang
sangat sulit ditunjukkan Kompas dengan jelas, terutama pada akhir 1970-an
hingga 1990-an.
Tak mengherankan jika pakar sejarah dan politik Indonesia Benedict R.O'G
Anderson dari Universitas Cornell, yang menulis buku-buku bermutu tentang
nasionalisme dan Asia Tenggara, antara lain Java in a time of revolution:
occupation and resistance 1944-1946 dan Imagined Communities: Reflections
on the Origin and Spread of Nationalism, memandang peranan Kompas dengan
kritis. Anderson menyebut Kompas sebagai koran yang sangat Orde Baru ("New
Order's newspaper par exel lence"). Kompas sangat kompromistis terhadap
rezim Presiden Soeharto. Tekanan pemerintahan Soeharto berlangsung sangat
efektif dalam diri Kompas, sehingga menghasilkan gaya penulisan yang penuh
kehati-hatian. Pembaca Kompas diajak berputar-putar dulu ketika membaca
berita atau opini Kompas.
Itulah strategi Kompas untuk menyiasati kekuasaan hegemonik Orde Baru,
agar bisa bertahan hidup, juga untuk menyelamatkan perut ribuan karyawan
yang jadi tanggungannya. Namun sah saja jika Benedict Anderson menafsirkan
strategi tadi adalah tanda tunduknya Kompas terhadap kekuasaan Soeharto.
Mantan pemimpin redaksi harian Pedoman Rosihan Anwar pernah menyebut jenis
jurnalisme Kompas ini sebagai "jurnalisme kepiting. Maksudnya, kepribadian
Kompas bergerak ala kepiting, mencoba melangkah setapak demi setapak untuk
mengetes seberapa jauh kekuasaan memberikan toleransi kebebasan pers yang
ada. Jika aman, kaki kepiting bisa maju beberapa langkah, jika kondisi tak
memungkinkan, kaki kepiting pun bisa mundur beberapa langkah.
Awalnya J.O. tak senang dengan istilah itu, tapi lama-kelamaan, itulah
kenyataan yang ada. Karena kekepitingannya itulah sampai hari ini Kompas
bisa bertahan, malah makin bertambah besar ketika masa jurnalisme kepiting
telah berlalu.
INTELEKTUALITAS Jakob Oetama memang luar biasa. Ini bisa dibaca dari
berbagai tulisannya yang mengutip dengan benar berbagai tokoh pemikir
klasik hingga kontemporer. Polycarpus Swantoro, tangan kanan Jakob Oetama,
menulis dalam pengantar salah satu buku ini, "Bagi Jakob buku adalah teman
hidupnya. Khususnya buku-buku jurnalistik, sosial-politik, permasalahan
budaya dan humaniora ..... Buku tidak saja merupakan salah satu sumber
pengetahuan yang penting, tetapi juga sebagai bahan refleksi, atau pemberi
inspirasi bagi pembentukan pemikirannya."
Melihat deretan buku yang pernah dibacanya, mungkin banyak orang akan
kagum sembari berpikir, "Betapa ironisnya, seorang yang cuma 'pemimpin
redaksi' memiliki wawasan yang jauh lebih luas daripada 'pemimpin politik'
negerinya sendiri." Karena itu jika mencermati penerbitan Kompas dekade
1980-an dan 1990-an, akan banyak ditemui bahwa Kompas meluangkan
halaman-halamannya untuk menyarikan berbagai topik diskusi yang
diselenggarakan harian ini. Mulai dari isu nasionalisme, pembangunan
berkelanjutan, persoalan ekonomi makro dan mikro, pembangunan Indonesia
timur, masalah kaum muda, perempuan, pendidikan, dan lain-lain. Tak
mengherankan pula jika kemudian Kompas bekerja sama dengan Lembaga
Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial dan Yayasan
Paramadina pada awal 1990-an mendirikan kelompok diskusi: Forum Indonesia
Muda.
Kompas memberikan ruang khusus setiap bulan, kemudian dua bulan, bagi
diskusi oleh kalangan intelektual muda. Kompas juga memberikan ruang
khusus dalam halaman korannya untuk menyarikan diskusi yang terjadi dalam
tiap putaran. Di antara yang jadi anggota Forum Indonesia Muda ini, kini
banyak yang jadi petinggi sejumlah lembaga swadaya masyarakat atau pun
komentator politik yang pendapatnya diperhatikan media serta jadi think
tank kelompok-kelompok politik. Ada pula yang kini jadi pejabat publik.
Beberapa anggota forum ini jadi penulis kolom Kompas.
Jika menyimak pemikiran yang banyak dikutip J.O., sebenarnya banyak hal
yang dianutnya tergolong kuno atau tak lagi lengkap dalam menerangkan
perkembangan dunia. Ada dua orang yang paling sering dijadikan rujukan J.O.
Marshal McLuhan dan Wilbur Schramm. Keduanya pemikir komunikasi. McLuhan
terkenal dengan kalimat "media as extention of a man," dan Schramm sebagai
salah satu founding father ilmu komunikasi Amerika Serikat.
Sayangnya, banyak kutipan J.O. dari dua pemikir komunikasi ini tak lagi
valid. Schramm, misalnya, pada 1950-an memetakan empat tipologi pers dunia:
pers otoriter, pers liberal, pers bertanggung jawab sosial, dan pers
komunis. Teori Schramm ini sampai sekarang masih diajarkan di
bangku-bangku kuliah komunikasi Indonesia, seolah-olah sebagai kondisi
yang masih berjalan. Sudah sejak lama pula konsep empat teori pers itu
dikritik ahli komunikasi lain. Mereka menyebut pemetaan tersebut
sebenarnya terjemahan kepentingan pemerintah Amerika Serikat dalam Perang
Dingin. Kalau membaca argumentasi Dennis McQuaill atau William Hacten,
sebagai contoh saja, kritik terhadap tipologi tadi muncul.
Pemikiran Schramm juga sarat dengan kepentingan intelijen Amerika. Dalam
beberapa literatur mutakhir, keterlibatan Schramm dalam sejumlah proyek
intelijen mulai terkuak, sehingga mereka yang hendak mengonsumsi teori
Schramm perlu makin hati-hati serta kritis. Baca misalnya karya
Christopher Simpson Science of Coercion: Communication Research and
Psycological Warfare 1945-1960 (1994). Simpson membongkar arsip-arsip
intelijen Amerika dan menemukan peran besar Schramm dalam proyek-proyek
rahasia intelijen.
Jurnalisme pembangunan, yang ditulis Jakob Oetama dalam periode
1970-1980-an, banyak mengacu pada konsepsi Wilbur Schramm. Ketika represi
Orde Baru makin kuat terjadi dan era modal datang menghampiri industri
media, konsepsi jurnalisme pembangunan itu kelihatan dibuang jauh-jauh
oleh J.O.
Padahal, di sinilah tantangannya. Bagaimana mencari ketersambungan antara
jurnalisme pembangunan -di dalamnya menyangkut formulasi hubungan antara
pers dan pemerintah harus dilakukan- dengan perkembangan Indonesia yang
sempat menjadi macan ekonomi Asia Tenggara?
J.O. mencoba menafsirkan konsep jurnalisme pembangunan sebagai laporan
jurnalistik yang "di samping lengkap, jelas dan terang duduk perkara dan
proporsinya penulisan dengan memasukkan proses dan konteks, juga lantas
lebih membangkitkan dinamika, menunjukkan arah dan sekaligus
mengisyaratkan yang bertanggung jawab serta terutama
kemungkinan-kemungkinan untuk memperbaikinya."
Apakah konsepsi ini cukup operasional dan mudah dipahami para wartawan
Kompas serta dimengerti masyarakat luas? Saking indahnya, sehingga sulit
dimengerti. Dalam arti ini, J.O. memang bukan seorang akademikus. Dia
seorang jurnalis yang menggunakan literatur yang ada sejauh bisa cocok
dengan tulisan yang dia kerjakan. Ini pun dilakukan banyak orang. Mungkin
inilah salah satu konsekuensi keluasan minat yang tak disertai kedalaman
tertentu.
BANYAK orang menyebut editorial suatu suratkabar jadi semacam cermin untuk
mengetahui sikap sebuah media. Fakta itu suci, tapi opini bebas saja. Itu
adagium yang kerap dipakai J.O. untuk memisahkan antara laporan mengandung
fakta dengan tulisan yang bernilai opini. Tajuk rencana adalah ruang untuk
beropini sebuah suratkabar. Bagaimana potret tajuk rencana Kompas dalam
beberapa dekade ini?
Tjipta Lesmana, seorang kolumnis pada 1985 pernah menulis bahwa warna
editorial Kompas selama 1979-1985 bisa digambarkan dalam lima butir
pemikiran:
• Mendukung praktis setiap ide, setiap kebijakan, dan setiap langkah yang
diambil oleh pemerintah dalam semua lapangan kehidupan: politik, ekonomi,
sosial, dan kebudayaan.
• Sebagai akibat sikap pertama, tajuk Kompas tidak kritis. Apa yang
berasal dari pemerintah seakan-akan dianggap sempurna, sehingga tertutup
bagi pemikiran alternatif lainnya.
• Menjadikan medianya sebagai interpreter terhadap ucapan-ucapan pejabat
pemerintah yang kurang jelas maknanya atau yang bersifat kontroversial
dengan tujuan menetralisir atau memadamkan reaksi-reaksi tajam yang muncul
akibat dari ucapan pejabat tersebut.
• Menghindarkan diri dari ulasan terhadap pendapat, pandangan, atau buah
pikiran orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, sekali pun
pendapat, pandangan, atau buah pikiran itu berasal dari tokoh masyarakat
atau cendekiawan kenamaan.
• Terhadap gejolak-gejolak yang terjadi dalam masyarakat, apakah itu
gejolak di bidang ekonomi, sosial, atau politik, Kompas juga menghindarkan
diri untuk mengulasnya, kendati berita tentang gejolak itu dimuat. Kalau
toh ditanggapi dalam editorial, ulasannya bersifat tidak langsung sehingga
tidak menyentuh permasalahan sebenarnya secara hakiki.
Itu memang kritik tajam terhadap Kompas. Namun J.O. punya pembelaan. Ninok
Leksono, wartawan senior di Kompas sekaligus editor untuk kumpulan tajuk
rencana Kompas, mengatakan bahwa tajuk yang ditulis Jakob Oetama, "memiliki
cara, gaya, serta rasa perasaan yang khas J.O., yaitu gaya yang
menyampaikan ide ataupun pemikiran dan kritik tidaklah begitu saja. J.O.
menganggap kritik harus disampaikan dengan kiat tertentu, mungkin tidak
linier, tidak mengena langsung, apalagi sampai mempermalukan, tetapi pesan
tetap sampai."
Salah satu contoh yang ditunjuk Leksono adalah bagaimana J.O. hendak
mengatakan bahwa kekuasaan Orde Baru makin otoriter. Dalam sebuah
editorial 1995 J.O. menulis, "Pemerintahan cenderung semakin terpusat dan
terpribadi." Ninok Leksono mengatakan pembaca tajuk Kompas pada masa itu
harus pandai untuk reading between the lines. Sesuatu yang tertulis dalam
tajuk belum tentu sesuatu yang telah terjadi, tapi bisa saja suatu harapan.
Contoh kalimat yang ada misalnya, "Pimpinan nasional punya sikap penuh
kenegarawanan" atau "TNI telah manunggal dengan rakyat." Apakah Soeharto
punya sikap negarawan? Apa tentara Indonesia sudah menyatu dengan
rakyatnya?
TAHUN 1998 tak semata menandakan masalah pergantian kepemimpian politik,
tapi juga menandakan globalisasi telah menghasilkan internet. Ada
kecemasan J.O. Apakah kehadiran internet akan membuat suratkabar mati?
J.O. menawarkan jawabannya, "Mungkin juga karena dipengaruhi oleh
kepentingan sendiri, kami masih percaya akan masa depan suratkabar dan
majalah. Kemampuan media cetak untuk menangkap peristiwa dan persoalan
secara lengkap mendekati kompleksitas peristiwa dan permasalahannya,
apakah dapat digantikan oleh media elektronik."
"Yang jelas media cetak harus memperbaharui dan menyegarkan diri,
melakukan adaptasi. Besarlah dampak media elektronik terhadap media cetak.
Media baru tidak dihambat oleh time and space sehingga penyebaran dan
kehadirannya serentak ke mana-mana dan di mana-mana ....."
Terhadap globalisasi, J.O. merumuskan pandangannya, "Globalisasi
menghasilkan kecenderungan yang berlawanan arah. Arah yang satu ialah arah
ke luar menjadi bagian dari masyarakat dunia yang dikuasai oleh ekonomi
pasar, oleh arus informasi, oleh arus teknologi, dan gaya hidup yang
bersumber pada pola konsumerisme serta oleh tata nilai global yang masih
sangat cair. Pada arus dan orientasi global itu sangatlah kuat pengaruh
negara industri barat."
Tak cukup jelas, apakah J.O. mendukung globalisasi atau menolaknya. Salah
satu kata kunci yang kerap dipakai J.O. untuk menerangkan meluasnya
kerajaan Kelompok Kompas Gramedia adalah "sinergi." Arti sinergi adalah "kerja
sama yang terpadu antara orang atau unit kerja atau unit usaha yang hasil
keseluruhannya lebih besar daripada jumlah hasil yang dicapai jika
masing-masing bekerja sendiri. Dengan bersinergi, kita menikmati daya guna
(efisiensi), hasil guna (efektivitas), dan mempertinggi semangat
kebersamaan."
Kata sinergi di sini dapat dilihat secara kritis. Apakah sinergi artinya
seseorang bekerja pada satu-dua perusahaan dalam grup yang sama dengan
mendapatkan gaji dari satu sumber belaka; ataukah semangat kerumunan
begini yang diharapkan bisa mendongkrak adik yang paling bungsu dalam grup
tersebut? Ketika TV7 -stasiun televisi milik Kelompok Kompas Gramedia-
tampil ke permukaan, amat kerap bisa dibaca dalam harian Kompas, beberapa
wawancara eksklusif didapatkan Kompas bersama dengan TV7. Apakah ini
semata-mata penegasan bahwa memang TV7 segaris pemberitaannya dengan
Kompas? Atau ini tanda bahwa TV7 memang memiliki kru yang bisa mendapatkan
berita yang eksklusif pula tanpa bantuan dari sang kakak?
Sinergi bisa pula dianggap mengarahkan pembaca pada suatu pembentukan
selera tertentu. Satu contoh kecil, saya memperhatikan rubrik resensi buku
yang ada pada harian Warta Kota -juga milik Kelompok Kompas Gramedia.
Kerapkali rubrik resensi buku Warta Kota diisi buku-buku yang diproduksi
perusahaan saudaranya Warta Kota. Entah itu penerbit Kompas, penerbit
Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Kepustakaan Populer Gramedia, dan
lain-lain.
Apakah itu bentuk kemalasan redakturnya? Atau memang buku yang terbit pada
masa itu memang keluaran grup ini yang paling pantas diresensi? Kalau
mereka yang pantas, apakah rubrik resensi buku yang ada dalam Warta Kota
cukup kritis atas buku milik saudara-saudaranya? Saya curiga itu bukan
resensi serius, tapi lebih sebagai iklan untuk kepentingan saudara tuanya.
Tapi semacam itulah yang sekarang terjadi dalam industri media global.
Apakah itu kelompok American On Line-Time Warner atau Walt Disney atau
Sony atau News Corporation. Semuanya memiliki divisi perfilman, musik
rekaman, dan perbukuan dalam payung perusahaan yang sama. Siapa
mengiklankan siapa, menjadi tidak lagi jelas. Apakah sinergi macam itu
yang dimaksudkan Kompas? Jakob Oetama menjawab, "Hasil keseluruhannya
lebih besar daripada jumlah hasil yang didapat jika masing-masing bekerja
sendiri."
HARI Selasa menjelang akhir April 2002. Ketika saya masih berada di kota
Kupang, Nusa Tenggara Timur, seorang sekretaris menelepon dan mengatakan
Jakob Oetama bersedia menerima saya untuk wawancara dengan daftar
pertanyaan yang sudah saya ajukan tiga minggu sebelumnya. Saya setuju dan
sekretaris ini berpesan, "Hanya satu jam saja, ya ....."
Pada hari yang dijanjikan, di lantai VI gedung Kompas, Jalan Palmerah
Selatan, saya menunggu wawancara dengan J.O. Sekretarisnya minta saya
menunggu. Rupanya J.O. masih bicara dengan salah satu stafnya. Setelah 10
menit, J.O. mengajak saya masuk. Kami bersalaman dan duduk di sofa warna
krem. Dalam ruang seluas 35 meter persegi itu terdapat sebuah meja kerja
dengan dua buah kursi. Di sampingnya ada lemari berisi buku-buku koleksi
J.O. Buku kumpulan tulisan J.O. dalam bentuk hard cover tergeletak di
ujung lemari. J.O. terlihat santai, dengan baju biru muda dan dasi biru
tua bermotif garis. J.O. terbuka untuk menjawab berbagai pertanyaan yang
saya ajukan.
J.O. mengatakan bahwa Kompas memang cenderung mengambil sikap hati-hati
pada masa Orde Baru, karena pada dasarnya ia percaya kemerdekaan pers yang
sekarang diraih harus melalui tahap-tahap tertentu. "Saya tidak memilih
yang revolusioner. Saya lebih setuju dengan kondisi yang bertahap. Memang
membutuhkan waktu walau memakan lebih dari 30 tahun."
Itu pun, lanjutnya, masih belum juga selesai. Ini justru membuktikan
tesisnya bahwa yang dihadapi pers memang melalui proses dan
tahapan-tahapan tertentu. "Kami tidak hanyut sama sekali tapi juga jangan
mati. Kalau mati percuma, media jadi tidak berfungsi."
Apakah kondisi kebebasan sekarang akan segera menutup kembali? "Tergantung
kita sendiri, misalnya saya terus-menerus mengingatkan, kita harus
memiliki the ultimate goal, yaitu perbaikan kehidupan rakyat secara
kualitatif. Kualitatif tidak hanya ekonomi, tapi juga punya hak
kemanusiaan secara utuh. Misalnya dalam situasi sekarang, media juga perlu
mencari solusi dari persoalan yang ada," ujarnya.
Saya mempertajamnya, "Tapi 'kan kadang-kadang banyak soal yang masih belum
jelas untuk kita, bagaimana kemudian kita harus mencari solusinya?
Bukankah tugas media massa itu memberikan informasi, bukan mencari solusi?"
J.O. lalu mengambil contoh simpang-siurnya dana Bantuan Presiden. Katanya,
kewajiban media adalah memperjelas soal dana itu, mengungkapkan prakteknya,
memahami yang sudah terjadi, dan mengusulkan pengaturan yang lebih
transparan.
"Solusinya adalah perbaikan sistem, misalnya dimasukkan dalam APBN (Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara). Setiap perusahaan pun memiliki yang
namanya dana taktis, namun berapa besar jumlah dibanding dengan seluruh
dana yang dimiliki, ini yang harus jelas."
Pertanyaan terus saya ajukan. Kelompok Kompas Gramedia dikritik karena
ikut-ikutan mendirikan televisi, padahal telah punya puluhan suratkabar
sampai di provinsi-provinsi. Apakah itu tak akan membentuk semacam
monopoli informasi?
Ide pendirian televisi, menurut J.O., merupakan mobilisasi orang-orang
yang mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam suatu tim yang sinergis.
Yang berkumpul di situ ahli ekonomi, keuangan, dan mereka yang punya bakat
serta prinsip yang tidak hanya bicara saja.
Membesarnya Kelompok Kompas Gramedia berawal karena grup ini merasa tak
aman hidupnya di masa Orde Baru. Pedang Democles bisa diayunkan setiap
saat untuk memotong hidup media kala itu. Lalu sekoci-sekoci cadangan
disiapkan. Tak semuanya merupakan inisiatif dari Jakarta. Ada beberapa
kasus, penerbitan daerah yang minta kerja sama dengan Kompas. Kerja sama
tak hanya dalam bentuk finansial, tapi juga berupa bantuan membenahi
pengelolaan media dan menempatkan orang sebagai awalnya. "Misi dan visi
kami sebarkan, yaitu membawa kemajuan bangsa, membawa masyarakat yang
plural, dan tidak diskriminatif."
JAKOB Oetama dan P.K. Ojong sebagai pendiri Kompas memiliki saham
masing-masing 20 persen dan 25 persen. Karena saham ini, J.O. masuk dalam
deretan 200 pembayar pajak pribadi terbesar di Indonesia. "Bersama-sama
dengan Fikri Jufri ....," sergahnya sambil tertawa. Sementara Kelompok
Kompas Gramedia, yang memiliki 10-an ribu karyawan di seluruh Indonesia, "hanya"
masuk dalam peringkat 160-an perusahaan pembayar pajak terbesar di
Indonesia.
J.O. mengatakan dirinya bukanlah seorang kapitalis. "Mungkin kapitalis
yang terjadi karena didesak situasi," ucapnya.
Bagaimana menyiapkan pengganti?
J.O. merasa bersyukur karena telah melakukan pergantian kepemimpinan
redaksi dengan mulus ke tangan Suryopratomo. Jajaran pengambil keputusan
di bidang redaksi, sekarang dipimpin kalangan muda. Tak mudah, katanya,
mencari pengganti dari orang yang memulai sesuatu. Sama seperti sulit
mencari pengganti Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi pertama Tempo. Namun
solusi ditemukan, dan para pemimpin muda ini masih terus dibimbing untuk
menjalankan fungsi keredaksian. Perlahan-lahan Suryopratomo dan
kelompoknya diterima juga oleh berbagai pihak.
Tantangannya terletak pada apakah kelompok yang ada saat ini bisa menerima
perbedaan yang timbul? Bisakah saling bekerja sama sebagai sebuah tim?
Apakah ide ketika Kompas didirikan juga bisa ditangkap para anak muda
Kompas?
Pada 1985, kolumnis Tjipta Lesmana menulis buku 20 Tahun Kompas: Profil
Pers Indonesia Dewasa Ini berisi kritik terhadap penampilan Kompas pada
masa Orde Baru. Buku ini ditulis sebagai hadiah Lesmana pada ulang tahun
ke-20 Kompas. Namun hadiah yang diberikan berupa ulasan tajam bahwa Kompas
kelihatan giginya dibandingkan masa-masa awal diterbitkan. Banyak kritik
Kompas kala itu yang dibungkus dengan bunga-bunga yang mengaburkan kritik
itu sendiri.
Sempat beredar gosip buku itu membuat tak senang para petinggi Kompas.
Buku tersebut diborong habis dari pasaran. Yang terjadi kemudian, buku
tersebut lebih mudah ditemukan di pasar buku loak ketimbang toko buku
resmi. Saya bertanya kepada J.O. soal gosip pemborongan buku tersebut.
J.O. mengatakan sejumlah paparan Lesmana kala itu tidaklah tepat. Tidak
ada usaha Lesmana untuk melakukan verifikasi pada dirinya. Misalnya dalam
buku itu digambarkan ketidakserasian hubungan antara J.O. dan Ojong. "Hal
itu sama sekali tidak benar," kata J.O. "Dan tidak ada perintah dari saya
untuk memborong buku itu."
Apakah ada wartawan amplop di Kompas? Dengan santai J.O. menjawab, ada
beberapa wartawan Kompas yang belakangan terbukti menerima amplop. Mereka
itu telah dikeluarkan. "Yang terakhir itu adalah wartawan dari desk metro,
dan yang bersangkutan pun sudah mengundurkan diri," katanya.
Dua jam sudah lewat. J.O. pun merasa cukup menjawab sejumlah pertanyaan.
Saya pamit, ia mengantar hingga ke depan pintu, sambil berucap, "Sukses,
ya Bung ....." (Sumber PANTAU) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|