A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Wartawan
 ► Seniman
 ► Guru-Dosen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 12052006  
   
  ► e-ti/kps  
  Nama :
Dr (HC) Jakob Oetama
Lahir:
Borobudur, 27 September 1931
Jabatan:
- Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia (1980-sekarang)
Alamat Rumah :
Jalan Sriwijaya Raya 40, Jakarta Selatan
Alamat Kantor :
Harian Kompas, Palmerah Selatan 22, Jakarta Pusat Telp: 543008
 
 
     
 
BERITA

 

Jakob Oetama

Sewindu Reformasi


Dalam bulan Mei—tepatnya 20 Mei—gerakan Reformasi Indonesia berusia 8 tahun, satu windu. Apa bedanya 8 tahun dengan satu windu: barangkali beda dalam konotasi—8 tahun faktual—prosais. Sewindu berkonotasi periode yang berdimensi. Sekurang-kurangnya berdimensi untuk kita refleksikan secara khusus.


Kekhususan itu apa? Terutama akhir-akhir ini justru maraknya kekerasan. Kekerasan menyertai proses dan hasil pilkada. Kekerasan menggugat pembebasan tanah. Kekerasan kejahatan. Kekerasan dalam rumah tangga.


Baru saja kita saksikan klimaks kekerasan memprotes hasil pemilihan Bupati Tuban. Kekerasan unjuk rasa gerakan buruh di Jakarta dan di beberapa tempat lain. Bahkan alam pun oleh beragam ulahnya yang sebagian juga akibat perbuatan manusia ikut nimbrung menghadirkan kekerasan longsor, banjir, dan ancaman gunung api meletus.


Dalam kaitan itu, sungguh suatu kebetulan yang sangat mencerahkan, Rabu (10/5) malam diluncurkan buku berjudul Kambing Hitam, tulisan rohaniwan, filsuf, budayawan, dan wartawan Sindhunata. Ia perkenalkan dan kupas karya filsuf Perancis Rene Girard soal kekerasan dan kambing hitam.


Kambing hitam? Relevansi kekerasan dengan kondisi kita kini jelas. Bagaimana halnya kambing hitam? Tidak kalah pula aktualnya. Kecenderungan menyalahkan orang lain adalah pula kecenderungan yang kuat pada kita. Kecenderungan ini acap kali tidak rasional dan jika rasional pun mengaburkan serta menutupi kelemahan kita sendiri. Akibatnya fatal. Kecenderungan dan kebiasaan ini jangan-jangan ikut menghambat kebangkitan dan kemajuan kita. Menghambat hadirnya visi dan arah yang jelas, konsisten, serta pelaksanaan reformasi.


Globalisasi menyerbu semua negara. Jawaban terhadap globalisasi berbeda-beda. Bersama kita bangsa-bangsa terutama di kawasan Asia-Afrika dan Amerika melawan arus dan pengaruhnya yang negatif. Namun, ada negara yang juga melihat peluangnya, ada pula yang hanya melihat negatifnya dan tidak mencoba mencari peluangnya. Ada yang menjadikan globalisasi sekadar sebagai kambing hitam.


Alibi kambing hitam lebih jauh. Bisa dipakai untuk menutupi kelemahan kita. Kita terpaku sebagai bangsa yang membiarkan diri ketinggalan dan ditinggalkan. Dan dalam posisi itu pun kita tidak pula sadar dan bangkit. Bahkan akhirnya di antara sesama kita yang tampil adalah sikap saling menyalahkan.


Dalam buku Kambing Hitam, contoh kambing hitam yang diangkat adalah kambing hitam yang menyertai perjalanan sejarah kita, yakni warga keturunan Tionghoa.


Betapa pun klasik kasus itu, kecenderungan mengambinghitamkan orang lain dan pihak lain adalah kecenderungan yang kuat pada budaya kita. Kecenderungan itu membuat kita tidak kritis terhadap diri sendiri, memperkuat prasangka, dan mengurangi saling percaya. Kecenderungan itu dijadikan argumen untuk menutupi kelemahan diri sendiri.


Apa urusan semua itu dengan sewindu reformasi? Reformasi melibatkan direformasinya tiga panggung: panggung negara, panggung rakyat, dan panggung ekonomi. Panggung negara dari otokrasi direformasi menjadi demokrasi, panggung rakyat menjadi masyarakat madani, panggung ekonomi direformasi sebagai panggung ekonomi pasar berkesejahteraan sosial.


Untuk melakukan reformasi di ketiga panggung itu diperlukan perubahan prinsip, tata peraturan, dan hukum. Namun, diperlukan juga perubahan sikap dan orientasi. Perubahan sikap dan orientasi hanya terlaksana jika disertai perubahan budaya.


Umumnya kita prihatin karena reformasi setelah sewindu belum menunjukkan hasil yang memadai. Dicarilah apa gerangan faktor penyebabnya? Faktor penyebab itu beragam terdapat dalam bidang politik, hukum, dan ekonomi. Pada kesempatan ini kita coba lihat secara kritis dan kita sampai pada pengamatan, hambatan reformasi juga disebabkan kurang perhatian pada reformasi budaya.


Budaya berdimensi ganda, budaya dalam makna, konteks, dan karya seni budaya dan budaya dalam arti sikap dan orientasi nilai-nilai. Analisa di atas menekankan reformasi budaya dalam arti sikap, orientasi nilai, dan praktis dalam kerja, karya, dan lain-lain.


Apa hubungan semua itu dengan pemikiran filsuf Rene Girard yang ditulis Sindhunata terbitan Gramedia Pustaka Utama yang diluncurkan Rabu malam.


Pemahaman kita tentang gejala kekerasan dan kambing hitam diperjelas dan diperkaya oleh pandangan dan analisa falsafah Rene Girard. Saya kutipkan ringkasan pandangan dan analisa filsuf Perancis itu dari rangkuman teolog Raymond Schweerger yang tercantum dalam halaman 204-205 buku Kambing Hitam karya Sindhunata:


1. Hasrat manusia pada pokoknya tak terarahkan pada sebuah obyek yang spesifik. Orang menghasratkan sesuatu karena orang lain menghasratkan sesuatu tersebut. Ia meniru, dan hasratnya diarahkan oleh orang lain yang ditirunya.


2. Hasrat yang lahir karena mimesis itu mau tak mau mengakibatkan konflik. Sebab, pihak-pihak yang menghasratkan mengarahkan hasratnya pada obyek yang sama. Teladan yang tadi ditiru kini jadi rival. Sementara obyek yang tadinya diperselisihkan sekarang kabur menghilang. Makin hasrat meningkatkan, makin orang memfokuskan dirinya pada rival, yang akhirnya harus dilawannya. Rivalitas ini mau tak mau mengarah pada kekerasan. Kekerasan yang pecah menjadi satu-satunya hal yang dihasratkan. Hanya dengan kekerasan itu pihak-pihak yang berselisih merasa bisa memperjuangkan hasratnya. Terjun dalam kekerasan lalu menjadi tanda bahwa mereka masih sanggup mempertahankan hidupnya.


3. Karena semua manusia mencenderungi tindakan kekerasan, hidup damai dalam masyarakat tak dapat diandaikan akan terjadi dengan sendirinya. Akal sehat maupun maksud baik (contract social) tak menjadi jaminan bagi kedamaian itu. Rivalitas yang terkandung dalam diri setiap orang dengan mudah membahayakan tata masyarakat. Membuyarkan norma-norma dan mengaburkan pengandaian-pengandaian kultura. Peluang bagi kedamaian tetap ada. Asalkan agresi yang saling menghancurkan bisa dialihkan ke dalam kekerasan yang satu dan seragam. Kekerasan dari semua melawan satu. Maka semua orang lalu mengerahkan permusuhannya dan kekerasan pada kambing hitam, yang dipilih mereka secara sewenang-wenang. Sekarang kesalahan ada pada pihak kambing hitam, bukan pada mereka. Itulah mekanisme kambing hitam.


4. Karena mimesis, hasrat mereka berbenturan satu sama lain, menjadi rivalitas, yang menuntun ke konflik dan melahirkan kekerasan. Karena kambing hitam, rivalitas diredakan, konflik dan kekerasan dihilangkan, dan masyarakat kembali ke dalam ketenangannya.


Lewat pengosongan kolektif terhadap hasrat mimetik yang saling menghancurkan itu, kambing hitam yang tadinya dianggap jahat dan penyebab kekerasan kini disakralkan dan dianggap pembawa kedamaian. Ia tampak sekaligus sebagai yang terkutuk dan pembawa keselamatan. Karena dialah lahir kekerasan sakral, yang dipraktikkan dalam ritual.


5. Dalam praktik korban, dialihkanlah kini kekerasan kolektif yang asli menjadi kekerasan pada kambing hitam. Dan itu diatur dan dikontrol dengan ketentuan dan aturan ritus yang ketat dan keras. Dengan demikian, agresi internal dikosongkan ke luar, dan masyarakat dipulihkan dari kehancuran diri.


Kebajikan dan kebijakan apa yang dapat kita ambil dari teori Rene Girard perihal kekerasan dan kambing hitam.
Bahwa manusia dan masyarakat manusia dari sananya amatlah rentan terhadap gejala kekerasan dan kambing hitam. Bukan saja lembaga dan organisasi sekuler yang rentan terhadap kekerasan, bahkan juga agama.


Bagi kita, Indonesia, suatu pemahaman khusus diperlukan. Karena kita Indonesia adalah bangsa yang bermasyarakat majemuk Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan dan Kesatuan, Satu Taman, Taman dengan aneka bunga, Taman Sari, Bung Karno menamsilkannya.


Kemarin kebhinnekaan digenggam dalam satu tangan, sebutlah tangan otokrasi. Kini dilepas dalam kebebasan dan dinamikanya demokrasi, notabene demokrasi dalam transisi, democracy in the making.


Kita bukan saja paham, sekaligus merasakan kerentanan yang menyertai. Apa yang kita mengawal dan menyuburkan arah serta tujuan reformasi yang adalah Zukunftsqlaube—kepercayaan akan masa depan?


Pemahaman dan kesadaran akan kerentanan yang menyertai proses yang gejalanya semakin kita saksikan dan rasakan hari-hari ini. Maka perlu saling mengingatkan dan saling memperkokoh komitmen kita bersama. Dan perkuatlah dimensi dan energi reformasi kultural.


Disuburkan sikap, nilai, kehendak, dan perbuatan. Di antaranya trust, saling percaya, kritik diri, menghargai kerja dan bekerja keras, disiplin, bersikap frugal-hemat/kencangkan ikat pinggang, taat hukum, mengutamakan pendidikan, dan bersikap peduli.


Kekuasaan dalam kenegaraan, kemasyarakatan dan bidang ekonomi/industri berperan besar. Dalam kultur feodal kekuasaan membawa privilese, hak istimewa. Maka maraklah KKN. Dalam demokrasi kekuasaan menyentralkan pelayanan.
Dalam reformasi budaya kekuasaan mensyaratkan sikap, semangat dan praksis asketis. Reformasi budaya menuntut teladan nyata dari para pemimpin, terutama yang memegang kekuasaan dan kesempatan. (Kompas, 12 Mei 2006) ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)