|
|
 |

Nama :
Ja'far Umar Thalib
Lahir :
Malang, 29 Desember 1961
Orang-tua :
Umar Thalib (ayah) - Badriyah Saleh (ibu)
Pendidikan :
Pendidikan Guru Agama (1981)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (1983, tidak tamat)
Maududi Institute di Lahore, Pakistan (1986, tidak tamat)
Jabatan :
Dewan Pimpinan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah / Panglima
Laskar Jihad
Alamat :
- Jalan Kaliurang Kilometer 15, Desa Degolan, Ngemplak, Kabupaten
Sleman, D.I. Yogyakarta. Telpon 0271-895791
- Jl. Cempaka Putih Tengah XXVIB No. 78 Jakarta 10510 - Indonesia.
Phone/Fax: 021-4246417
|
|
Ja'far Umar Thalib
Sang Ustad yang Penuh Warna
TAK ubahnya seperti Usama Bin Laden yang 'dibesarkan' AS karena
perintah penangkapan terhadap dirinya, Panglima Laskar Jihad Ja'far Umar
Thalib juga menikmati hal serupa ketika ia ditangkap karena pidatonya yang
panas di Desa Soya, Ambon, Maluku.
Menurut berbagai pihak yang bersimpati padanya penangkapan Ja’far di
Bandara Juanda Surabaya, Sabtu (4/5/02) lalu, terkesan dibuat-buat. Karena
menurut anggapan mereka, Ja'far adalah tokoh anti-RMS dan pendukung Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Lalu kenapa ia tetap ditangkap? Jawabannya bisa beragam. Tapi yang jelas,
kunjungan Wakil Presiden Hamzah Haz yang juga Ketua Umum PPP untuk
menjenguk Ja'far mengapungkan dimensi lain dalam peta politik Jakarta.
Ada juga yang mengaitkan penangkapan Ja'far dengan tekanan AS yang sedang
gencar memburu teroris.
Ja'far Umar Thalib memang seorang tokoh dengan perjalanan hidup yang penuh
warna. Track record-nya untuk memimpin organisasi sekaliber Laskar Jihad
memang meyakinkan: pernah sekolah di Pakistan, bertemu dengan berbagai
pemikir Islam, ikut jihad dalam Perang Afganistan; kemudian berkeliling
Timur Tengah.
Mungkin lantaran kiprahnya inilah, AS kemudian memasukkan anak bungsu dari
delapan bersaudara ini sebagai salah satu yang harus dibidik dalam
kampanyenya memerangi terorisme pasca tragedi 11 September 2001.
Semuanya memang bermula dari pendidikan yang ia peroleh dari keluarganya.
Ayahnya, Umar Thalib, seorang kiai keturunan Yaman -Madura aktif di Al-Irsyad
Malang. Tidak seperti ibunya, Badriyah Saleh yang juga keturunan Arab,
ayahnya mendidik Jaf'ar kecil dengan pola militer.
Kebetulan, ayahnya adalah veteran Perang 10 November di Surabaya. Sehingga,
sejak kecil pria kelahiran Malang, 29 Desember 1961 itu sudah terbiasa
dihukum bahkan dirotani kalau berbuat salah. "Belajar bahasa Arab dari
ayah sama dengan naik ring tinju," kenang alumni Pesantren Persis Bangil
itu.
Sikap kritisnya sudah tumbuh sejak muda. Beberapa pilihan-pilihan hidupnya
yang bagi sebagian orang dianggap tidak lazim sebetulnya merupakan akibat
sikapnya yang selalu merasa tidak puas.
Ayah sembilan anak dari keempat istrinya ini misalnya, lari dari
lingkungan pesantren Al-Irsyad milik ayahnya setelah lulus Pendidikan Guru
Agama (PGA) tahun 1981 ke Pesantren Persis, Bangil.
Merasa kurang puas di Bangil, tahun 1983 Ja'far hijrah ke Jakarta dan
masuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab LIPIA). Selama mahasiswa ia
duduk sebagai Ketua DPP Pelajar Al-Irsyad yang menentang Asas Tunggal
bersama teman-temannya dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Di LIPIA, ia
cuma betah tiga tahun. Ia gagal mencapai Sarjana Syariah karena bertengkar
dengan salah satu dosen yang dikritiknya habis-habisan.
Kemudian, oleh direktur LIPIA ia disekolahkan ke Maududi Institute di
Lahore, Pakistan.
Ia mengaku baru mengenal kegiatan dakwah Salifiah ketika berkunjung ke
Peshawar, daerah Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afganistan. Di
sana ia bergaul dengan tokoh-tokoh pemuda kalangan Salaf dari Suriah.
Saat itu ia berkenalan dengan buku-buku kritik tentang berbagai pemikiran
Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokohnya, khususnya Sayyid Quthub. "Saya
semula sangat kaget karena sebelumnya saya adalah pengagumnya," ujar
Ja'far dalam perbincangannya dengan Tempo News Room beberapa waktu lalu.
Ia gusar melihat kenyataan itu. Tapi kemudian ia dinasehati oleh
teman-temannya yang berasal dari Suriah. Kata mereka, kita membaca sesuatu
yang bersifat ilmiah harus bersikap intelek. Akhirnya, Ja'far mulai
mengenal aliran pemikiran yang baru itu. "Di situlah akhirnya saya mulai
berfikir lebih merdeka dan memang di sinilah sesungguhnya dasar pandangan
para Salaf."
Ia juga tak lama berada di Pakistan. Tak sampai setahun, pada 1987,
lagi-lagi ia ribut dengan dosennya yang ia tantang berdebat tentang hadiz.
Akhirnya, ia memutuskan untuk ikut berjihad di Afghanistan, 1987-1989. "Ya
itu semata-mata didasari rasa solidaritas ukkuwah Islamiyah."
Konflik yang terjadi di Afganistan saat itu adalah invasi pasukan Uni
Soviet dengan partai Komunisnya. Perlawanan umat Islam di Afgan sangat
gigih dan serentak sehingga mengundang simpati besar umat Islam di dunia.
"Di antara umat Islam yang simpati terhadap perjuangan mereka ya saya
sendiri, dan saya langsung berangkat ke sana."
Di sana, ia berkenalan dengan sejumlah kelompok radikal Islam. Ia
mengambil hal yang positif dari mereka, tidak semuanya. Sebab seperti
diakuinya sendiri: "Saya tidak radikal. Saya lebih bersikap intelektual,
ilmiah dalam memandang berbagai permasalahan. Artinya prinsip politik yang
saya anut itu bisa didiskusikan secara ilmiah dan bisa
dipertanggungjawabkan."
Sekembali dari sana tahun 1989, ia diamanahkan memimpin pesantren Al-Irsyad
di Salatiga. Almamaternya itupun dikritiknya habis-habisan hingga ia cuma
betah satu setengah tahun.
Tahun 1991 ia terbang lagi keliling Timur Tengah untuk berguru kepada
sejumlah ulama Salafy. Salah satu ulama yang menjadi guru utama beliau
adalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad'i di Dammaz, Yaman Utara.
Sepulangnya dari Timur Tengah pada tahun 1993, ia mendirikan Pesantren di
Yogyakarta yang bernama "Ihya'us Sunnah" dan ia sendiri yang menjadi
pemimpinnya. Antara tahun 1994-1999 waktunya dihabiskan untuk belajar dan
mengajar melalui dakwah Salafiyah yaitu dakwah yang berdasarkan Al-Quran
dan As-Sunnah dengan pemahaman para Sahabat nabi.
Kegiatannya di Pesantren Ihya'us Sunnah adalah mengajar kitab-kitab para
ulama Salaf seperti Al-utsul tsalasah (3 pedoman dasar), Syarah Kitabut
Tauhid (penjelasan tentang kitab Tauhid) karya Imam Muhamamd bin Abdul
Wahab kemudian kitab Al-Aqidah Al-Washitiyah karya Imam Ibnu Taimiyah.
Ketika situasi politik dan ekonomi di Indonesia sedang bergejolak di awal
1999, Ja'far memandang perlu untuk ikut berpartisipasi menyelesaikan
kemelut bangsa ini. Maka 14 Februari 1999, ia tampil dalam suatu tabligh
akbar yang dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah dengan tujuan memperingatkan
kepada Umat Islam tentang bahayanya berpecah belah karena akan menghadapi
Pemilu.
Berlanjut dengan tabligh akbar di Yogyakarta 30 Januari 2000, untuk
menyikapi kondisi pembantaian Umat Islam di Maluku yang sudah berusia satu
tahun tapi tidak ada upaya-upaya penyelesaiannya. Akhirnya Ja'far
mengeluarkan resolusi Jihad dengan deadline 3 bulan.
Ternyata deadline sudah lewat tapi tetap tidak ada kejelasan mengenai
konflik Maluku. Maka pada 6 April 2000 bersama seluruh muridnya ia
mendeklarasikan akan berangkat ke Ambon dan meresmikan berdirinya Laskar
Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kemudian digelarlah Tabligh Akbar di Stadion Senayan, dilanjutkan dengan
latihan perang di Bogor yang dinamakan "Latihan Gabungan Nasional Laskar
Jihad". Beberapa bulan kemudian, ia mengutus 29 orang untuk pergi ke Ambon
pertama kali.
Ia sendiri tidak begitu peduli dengan adanya tanggapan dari sebagian
masyarakat yang menyatakan kedatangan Laskar Jihad di Maluku justru tidak
menyelesaikan masalah. Ia sendiri menerima adanya kondisi pro dan kontra
soal itu, tapi ia sangat yakin dengan apa yang sedang ia perjuangkan.
"Yang terjadi sekarang di Maluku adalah manipulasi peta konflik," ujarnya.
Menurut Ja'far, manipulasi peta konflik di Maluku yang terjadi adalah
bahwa TNI/Polri selalu, sampai sekarang sudah tiga tahun lebih, berpegang
teguh bahwa peta konflik di sana adalah kerusuhan SARA, kerusuhan antara
umat Islam dan umat Kristen. "Padahal sesungguhnya ini adalah manipulasi.
Yang ada di sana bukan pertikaian Islam - Kristen, tetapi yang ada adalah
pemberontakan RMS atau Neo RMS terhadap negara kesatuan RI. Yang dilawan
oleh umat Islam adalah pemberontakan itu."
Karenanya, menurutnya lagi, upaya pemerintah untuk mengatasi problem di
Maluku, sampai sekarang, tidak berhasil. "Karena dengan adanya manipulasi
peta konflik itu, mereka seolah-oleh mengobati orang sakit perut dengan
obat sakit kepala - jadi tidak tepat sasaran.*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
Repro Tempo Interaktif/Suseno/Budi Putra)
|
|