| |
C © updated 01022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
J. Kristiadi
Lahir:
Yogyakarta, 24 Maret 1948
Agama:
Katolik
Istri:
Anastasia Soemiyati
Anak:
1. Rosa Maria Dianing Dyah Maharani
2. Josef Rahadiyan B. Wicaksono
Ayah:
R.P. Pronojono Pujowinarto
Ibu:
Sulastri
Pendidikan:
- SD Komendaman Yogyakarta
- SMP Pangudi Luhur Yogyakarta
- SMA De Brito Yogyakarta
- Fisipol Universitas Gadjah Mada (S1), (1976)
- Jurusan Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (S3),
Yogyakarta (1993)
Karir:
- Peneliti di Center for Strategic and International Studies
(1976-sekarang)
- Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
- Dosen tamu di SESKO TNI dan Lembaga Administrasi Nasional (LAN)
Alamat Rumah:
Jalan Dahlia II, Tomang Raya, Jakarta Barat
Alamat Kantor:
Jalan Tanah Abang III/27, Jakarta Pusat
Sumber:
Berbagai sumber, di antaranya PDAT |
|
| |
|
|
|
|
J Kristiadi
Pengamat Politik Berwarna
Pria berkacamata ini dikenal sebagai peneliti senior dari Center for
Strategic and International Studies (CSIS). Sebagai peneliti dan pengamat
yang sudah berkiprah selama kurang lebih 30 tahun, ia akrab dengan topik
penelitian seputar peran TNI, perkembangan politik dan pertahanan. Dia
seorang narasumber bagi berbagai media yang pendapatnya seringkali
dianggap berwarna dan kontroversial.
Pada saat kampanye Pemilu Presiden 2004, komentar-komentarnya dianggap
berbagai pihak sangat menjagokan Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono
daripada Megawati Soekarnoputri.
Berbagai pihak melihatnya sangat dekat dengan politik TNI. Salah satu
pernyataannya yang cukup kontroversial, mengenai peran politik TNI adalah
mengenai sudah seharusnya TNI mempunyai hak pilih dalam pemilu.
Karena, menurutnya, TNI itu adalah warga negara biasa. Maka TNI boleh saja
memimpin sebuah partai politik, asalkan bisa menyesuaikan dengan
habitatnya yang baru. Pernyataan ini terasa sumbang di tengah teriakan
untuk segera mengikis kiprah politik TNI di tengah pemberdayaan masyarakat
sipil.
Namanya semakin mencuat menjelang dan sesudah Soeharto lengser dari
kekuasaan, bahkan hingga kini pun ia masih sering tampil baik di televisi,
radio, seminar, acara peluncuran buku, dan media cetak, membagikan
analisis politik negeri ini. Meski sudah populer, Kris dengan rendah hati
menyikapinya, “Saya merasa biasa saja.”
Nama J. Kristiadi kerap dianggap sama dengan nama J.B Kristiadi yang
menjabat sebagai sekretaris menteri Komunikasi dan Informasi. Meski
Kristiadi yang satu ini tidak disertai huruf “B”, banyak undangan seminar
dan perkawinan, serta permintaan wawancara yang nyasar ke alamatnya.
Begitu pula sebaliknya.
Kris, begitu ia biasa dipanggil, dibesarkan dalam keluarga pegawai.
Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah rumah sakit dan ibunya
seorang guru di sekolah dasar di Yogyakarta.
Sewaktu Kris kelas 3 SD, ia tidak bisa memiliki buku karena orang tuanya
tidak mempunyai uang. Suatu kali, ibunya mengajaknya ke makan neneknya,
dan di sana mereka berdoa. Saat berdoa, Kris minta diberikan buku. Entah
dari mana datangnya uang, doa si sulung dari tujuh bersaudara ini terjawab,
ia dibelikan buku oleh ibunya.
Kehidupan keluarga Kris boleh dibilang pas-pasan. Gaji orangtuanya yang
kecil sudah habis pada pertengahan bulan. Seringkali ia harus naik sepeda
sejauh 15 kilometer ke rumah neneknya untuk mengambil beras. Hal ini
dilakoninya sejak kelas 3 SMP hingga SMA.
Selesai dari SMA, Kris melanjutkan kuliah di UGM. Demi biaya kuliah Kris,
ayahnya menjual sawah dan ibunya bekerja keras mencari tambahan
penghasilan. Meskipun demikian, Kris masih sering terlambat membayar SPP
dan harus melapor ke pembantu rektor II meminta perpanjangan waktu bayar.
Suatu kali, sejarawan Prof. Sartono Kartodirjo mengajaknya ikut penelitian.
Awalnya ia ikut karena ingin memperoleh honor untuk mengisi kantong
sakunya yang sering kembang kempis. Namun, motivasinya ini berubah. Lama
kelamaan ia benar-benar tertarik pada dunia penelitian.
Lulus kuliah dari Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1976, Kris masuk CSIS
dan merasa cocok berkarya di lembaga penelitian tersebut. Oleh Harry Tjan
Silalahi, peneliti di CSIS, ia diminta sekolah lagi. Awalnya ia merasa
bingung, namun akhirnya mendaftar juga di Pascasarjana UGM, awal 1990, dan
dalam waktu tiga tahun enam bulan ia menggondol gelar doktor dengan
predikat cum laude. Disertasinya berjudul “Perilaku Pemilih Masyarakat
dalam Pemilu Kurun Waktu 1971-1992.” Kemudian, ia kembali berdinas di CSIS
sebagai peneliti.
Setelah 30 tahun mengamati perpolitikan, Kris mengakui bahwa menjadi
peneliti tidak hanya sebagai pekerjaan ataupun profesi, tapi merupakan
panggilan hidup. Walau menjadi peneliti tidak bisa kaya, ia merasa sudah
kaya. “Orang bisa kaya asalkan tahu batas kebutuhan. Bisa pakai baju tidak
bermerek tapi enak dipakai, bisa menyekolahkan anak di tempat yang baik,
punya mobil walau pinjaman kantor, itu sudah kaya,” kata ayah dua anak
yang punya prinsip hidup ‘ojo dumeh’ (jangan sok) ini.
Makanya, kepada anak-anaknya, ia ingin mewarisi bukan dengan kekayaan yang
sifatnya materi namun dengan ilmu dan nilai hidup. Ia percaya kedua hal
itu cukup membuat anak-anaknya survive dengan baik dalam menjalani
kehidupan ini.
Selain itu, ia juga mengajarkan kultur berani berargumentasi dan banyak
membaca kepada anak-anaknya, minimal 3-4 jam sehari. “Setelah itu, mereka
boleh main asalkan tidak di night club dan semacamnya,” ujar suami
Anastasia Soemiyati —bekas temannya di Pergerakan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia.
Di usianya yang sudah berkepala lima, Kris tetap berusaha menjaga
kebugaran tubuhnya dengan berolahraga senam dan joging sekitar 25 menit
setiap hari setelah bangun pagi. Menurutnya, senam punya filosofi
tersendiri. “Dengan senam begitu bangun, kita sudah menang satu poin
karena sudah bisa mengalahkan diri kita sendiri dengan memerintahkan organ
kita untuk bangun dan senam.” ►e-ti/mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|